
Jam makan siang, Narra segera merapikan meja kerjanya. Dia akan menemui Andra di rumah Hadinata Wijaya.
Tadi begitu selesai meeting, Indra bilang akan menjemputnya karena tahu Narra tidak membawa motor hari ini.
"kamu sudah mau pergi ?" tanya Arjuna yang baru keluar dari ruangannya.
"iya pak, ada yang bapak butuhkan ?" tanya Narra.
"aku sebenarnya ingin mengajak kamu dan Erick untuk makan siang bersama tapi sepertinya kamu ada urusan" katanya.
"maaf pak, saya janjian dengan pak Indra" jawab Narra.
"pasti tentang pak Andra" tebak Arjuna.
Narra mengangguk.
"tidak apa, tapi bagaimana kalo makan malam. Aku ingin makan bersama kalian, andalan aku" kata Arjuna.
"baik pak, nanti bapak share tempatnya" sahut Narra.
"ok, terima kasih" balas Arjuna.
"maaf pak, saya duluan. Saya menunggu pak Indra di lobby"
Arjuna mengangguk.
Narra pun segera berlalu.
*
Narra mematung memandang Ardhan yang duduk di sofa lobby utama.
Tiba-tiba Ardhan menoleh dan tersenyum kearahnya.
Narra mendekat.
Ardhan beranjak berdiri.
"aku jemput kamu untuk makan siang bersama" katanya.
"tapi aku ada urusan" tolak Narra.
"bukannya kamu sudah janji akan memberi aku ruang untuk dekat dengan kamu dan tidak lagi menghindariku" katanya.
"kamu yang meminta begitu tapi aku belum setuju" Narra memandang Ardhan.
"ingat Na, semua yang terjadi itu bukan keinginanku. Aku terpaksa. Kamu masih pacarku" ujar Ardhan lagi.
"tapi aku tidak menganggapnya begitu" balas Narra.
Indra datang menghampiri Narra dan Ardhan yang berdebat.
"kita pergi Na" kata Indra tanpa menghiraukan Ardhan.
"Narra tidak akan pergi denganmu, dia akan bersamaku" balas Ardhan.
"kenapa kita tidak tanyakan pada Narra, dia mau pergi dengan siapa" balas Indra.
"maaf, aku sudah janjian duluan dengan Indra. Ayo kita pergi" ajak Narra pada Indra.
Narra hendak berlalu tapi Ardhan menahan tangannya.
"kamu makan siang denganku" kata Ardhan dengan tatapan tajam.
Narra balas menatapnya.
"aku tidak harus mengikuti kata-katamu" tegasnya.
"kamu masih pacarku dan Andra itu bukan siapa-siapa karena kamu masih terikat sama aku" balas Ardhan dengan sedikit menaikan nada bicaranya.
Semua mata kini memandang kearah mereka.
"baiklah, aku makan siang denganmu tapi hanya kali ini" tegas Narra.
"maaf In, aku akan mengirim pesan" Narra memberi kode dengan anggukan kepalanya.
"baiklah, aku pamit" Indra beranjak pergi.
"terima kasih sayang, ayo kita pergi" Ardhan tersenyum penuh kemenangan.
Narra muak melihatnya.
*
Indra mengemudi menuju rumahnya. Dia sangat mengkhawatirkan kakaknya.
Tadinya dia berharap dengan membawa Narra, bisa membuat kakaknya lebih baik.
Indra tiba dirumahnya, dia bergegas masuk kedalam rumah setelah mendengar teriakan Andra.
__ADS_1
"ada apa ?" tanya Indra pada pelayan di depan kamar Andra.
"tadi pagi tuan muda Andra menolak sarapannya, sekarang menolak makan siangnya" jelas pelayan itu.
Indra menghela nafas.
"tolong buatkan susu dan roti isi, aku akan mencoba membujuknya" katanya.
"baik tuan muda Indra" pelayan itu pun pergi dengan membawa nampan berisi makan siang Andra.
Peristiwa ini seperti beberapa tahun lalu, saat Andra patah hati karena Jeniffer. Dan kali ini karena Narra.
Indra tidak ingin kakaknya kembali seperti dulu, kakaknya harus lebih kuat lagi untuk cintanya. Jeniffer hanya masa lalu dan trauma itu harus berakhir. Narra masa depan kakaknya. Apalagi Narra bilang kalau sebenarnya ini hanya salah paham.
"kak, bisa kita bicara ?" tanya Indra setelah mengetuk pintu kamar Andra.
"aku mau sendiri" balas Andra dari dalam.
"ini tentang Narra" sahut Indra.
Tak lama pintu kamar terbuka.
Indra tersenyum, dia tahu kakaknya pasti akan luluh mendengar nama Narra.
"kenapa Narra ?" tanya Andra.
"sebaiknya kakak makan dulu supaya bertenaga" sahut Indra.
"aku baik-baik saja" kata Andra.
"hmm kalo kakak seperti ini terus, Narra akan semakin jauh dari kakak. Kakak seharusnya menjaganya, bukan mengurung diri disini" lanjut Indra.
"Narra kenapa ? kamu habis meeting dengan mereka kan ?! kamu pasti ketemu Narra" desak Andra.
Pelayan yang tadi datang dengan membawa nampan berisi susu dan roti isi sesuai apa yang dikatakan Indra tadi.
Indra mengambil nampan itu serta mengucapkan terima kasih pada pelayan rumahnya.
"makan dulu rotinya trus minum susunya" kata Indra santai setelah tinggal mereka berdua di depan kamar Andra.
"aku tidak mau" balas Andra.
"kalo begitu aku tidak akan beritahu kemana Narra pergi" sahut Indra.
"kemana Narra ?" tanya Andra.
Andra menuruti Indra walaupun masih dengan tanda tanya, kenapa dengan Narra.
Setelah semuanya habis, Indra meletakan nampan diatas rak pajangan dekat kamar Andra. Dia lalu meraih ponselnya lalu mengirim pesan ke ponsel Andra.
"aku sudah mengirim lokasi tempat Narra makan siang bersama Ardhan. Bawa dia dari sana kak, kamu yang dia mau" ujar Indra.
Begitu hendak turun dari mobil, Indra mendapat pesan dari Narra memberitahu lokasi makan siangnya dan Ardhan. Tapi belum sempat Indra membalas, dia mendengar teriakan Andra lalu bergegas masuk kedalam rumah.
Tanpa bicara lagi, Andra masuk kedalam kamarnya. Dengan segera dia masuk kedalam kamar mandi membersihkan dirinya lalu meraih jaketnya serta mengantongi dompet, kunci mobil serta ponselnya.
"minta pelayan membersihkan kekacauan itu, aku tidak mau Narra melihatnya" pesannya pada adiknya lalu bergegas pergi.
Indra hanya bisa geleng kepala lalu masuk kedalam kamar kakaknya.
"astaga, ini bukan kamar tapi kapal pecah Andra Hadinata Wijayaaaaa !" teriaknya melihat semua pecahan kaca dilantai.
Indra lalu turun menuju dapur.
"bik Suri, minta beberapa pelayan membersihkan kamar kak Andra secepatnya" kata Indra.
"baik tuan muda" sahut bik Suri, kepala pelayan.
"oh iya bik, aku minta tolong gantikan yang pecah. Lakukan secepatnya, serapinya" Indra menyerahkan kartu pembayaran pada bik Suri.
"baik tuan muda" ucap bik Suri.
Kepala pelayan itu menerima kartu dari Indra lalu pamit pergi.
*
Sementara di restorant, Narra mulai gelisah.
Ardhan memesan privat room dan sekarang di sela makannya, tangan Ardhan terus saja menyentuhnya. Entah itu mengusap tangannya, memainkan rambutnya dan bahkan Ardhan berani meletakan tangannya diatas paha Narra.
"Ardhan jangan tidak sopan" bentak Narra, dia tidak suka dengan perlakuan Ardhan.
"kenapa sayang, aku begitu merindukanmu" kata Ardhan tidak perduli.
"aku tidak suka" Narra menghempaskan tangan Ardhan yang sedari tadi diatas pahanya.
"baiklah" ujar Ardhan mengangkat kedua tangannya.
Narra sungguh tidak berselera makan.
__ADS_1
"kamu kok makannya sedikit, aku suap ya" Ardhan menyodorkan sendok berisi makanannya kemulut Narra.
"aku bisa makan sendiri, terima kasih" tolak Narra.
Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka.
Narra tersenyum begitu melihat siapa yang berdiri diambang pintu.
"sayang, kita pulang sekarang ?" ucap Andra tenang.
"iya ka Nda" Narra mengambil tasnya lalu beranjak.
Ardhan menarik tangan Narra.
"dia tetap disini" tegasnya.
Narra menghentakkan tangannya hingga pegangan Ardhan terlepas.
"aku bukan siapamu lagi. Saat kau pergi, saat itu juga hubungan kita berakhir. Sekarang aku sudah bersama kak Andra. Jangan pernah ganggu aku lagi" balas Narra.
"tapi Na, dia tidak mencintaimu" ujar Ardhan.
"tapi aku mencintainya" balas Narra.
Ardhan terdiam.
Andra tersenyum bahagia. Dia membiarkan Narra menyelesaikan urusannya dengan Ardhan.
Narra menatap Ardhan sinis.
"kamu ingin kesempatan, aku sudah memberinya dulu saat kamu pergi tanpa kabar berita. Sekarang tidak ada lagi kesempatan yang sama" katanya.
Narra lalu memegang tangan Andra.
"kita pulang sayang" Narra tersenyum pada Andra.
Mereka bertatapan lama, Andra seperti tersihir dengan senyum Narra.
"ka Nda sayang" tegur Narra.
"iya sayang, kita pulang" Andra lalu merangkul Narra, mereka pergi dari sana tanpa menoleh pada Ardhan.
Ardhan hanya bisa memandang kepergian Narra bersama Andra dengan kesal. Amarahnya memuncak. Padahal baru saja dia senang bisa berdua saja dengan Narra tapi Andra datang mengacaukan semuanya.
"aku tidak akan membiarkan Andra memiliki Narra. Dia Narraku" ucap Ardhan geram.
*
"maaf ka Nda, aku ..." belum selesai Narra menyelesaikan kalimatnya, telunjuk Andra sudah berada tepat dibibirnya.
"kita bicarakan dirumah sayang, aku sedang menyetir. Maaf ya" katanya tanpa menoleh.
Dia ingin segera sampai di rumah. Dia senang karena tadi Narra mengatakan lagi kalau dia mencintainya dan memanggilnya sayang.
Tangan kiri Andra mengusap kepala Narra.
*
Mereka memasuki gerbang kediaman keluarga Hadinata Wijaya.
"silahkan" Andra membukakan pintu untuk Narra.
"terima kasih" ucap Narra seraya turun dari mobil.
Indra menyambut mereka di ruang tamu. Dia mempersilahkan Narra dan kakaknya untuk makan siang karena pelayan sudah menyiapkannya.
"aku sudah membereskan kekacauan di kamar kakak. Aku balik ke kantor kak" pamit Indra dengan berbisik pada kakaknya.
"jangan lupa transfer ya kak" lanjut Indra dengan berbisik seraya terkekeh.
Andra mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Smith dan Vinand sudah makan ?" tanya Andra pada pelayan.
"tuan Smith membawa tuan Vinand ke rumah sakit menjemput nona Diandra. Mereka akan makan siang di luar" terang pelayan itu.
"terima kasih" ucapnya.
Setelah semuanya siap, semua pelayan beranjak pamit menuju kebelakang. Andra dan Narra makan siang bersama, hanya berdua. Sesekali Andra mencuri pandang kearah Narra.
Narra meraba wajahnya.
"ada sesuatu denganku ?" tanyanya.
"tidak ada sayang, kamu tetap cantik seperti biasanya" puji Andra membuat Narra tersipu.
Narra tersenyum, "terima kasih ka Nda" ucapnya.
***
__ADS_1