FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 54.1


__ADS_3

Sheva, Erga, Imel dan Desta saling pandang di taman parkiran. Mereka jadi salah tingkah satu sama lain.


Desta sepertinya menyesali perbuatannya karena sekarang mereka mengkhawatirkan hubungan Narra dan Andra serta Rea dan Indra.


"sekarang kamu liat apa hasil dari perbuatanmu ? Narra dan Rea bermasalah dalam hubungan mereka" tegur Imel pada Desta.


"maafkan aku, aku tadinya hanya ingin diantara kita saja. Aku tidak menyangka kalau Indra dan kak Andra akan ikut mendengarkannya juga" kata Desta.


"sekarang semua sudah terbuka, sudah terjadi. Semoga mereka bisa menyelesaikannya dengan baik" sergah Erga.


"aku mau pulang" kata Imel seraya berbalik tapi Sheva menarik tangannya.


"Mel, kita kesini bersama jadi kita pulang bersama juga" kata Sheva.


"maaf Shev, aku butuh waktu untuk bersikap biasa" balas Imel seraya menepis pegangan Sheva lalu berlalu meninggalkan sahabat-sahabatnya.


Erga menepuk pundak Sheva.


"biarkan dia sendiri dulu. Imel akan baik-baik saja" katanya.


"dia suka sama kamu Ga, sebaiknya kamu yang antar dia pulang. Aku khawatir dia pulang sendirian" kata Sheva.


"aku tidak ingin menambah kecanggungan ini Shev" kata Erga.


"ayolah Ga, antar dia" paksa Sheva.


"baiklah, aku duluan" Erga segera berlari menyusul Imel.


Tinggallah Sheva dan Desta.


"kamu tau, aku sudah merencanakan moment istimewa untuk menyatakan perasaan cintaku. Setidaknya kalo aku di tolak, aku masih mempunyai kenangan indah. Tapi apa yang kamu lakukan, semua berantakan" Sheva beranjak setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Shev, maafkan aku" ucap Desta.


Sheva terus melangkah sambil melambaikan tangan diatas kepalanya pada Desta.


Desta tertegun.


Ya, semua berantakan. Perasaan cinta itu terungkap dan menjadi kehancuran berkeping-keping untuk persahabatan mereka.


Desta hanya ingin kejujuran para sahabatnya tapi dia tidak menyadari kalau hal itu akan membuat banyak perubahan bagi mereka semua. Ada hati yang tersakiti dengan itu.


*


Narra memandang Andra. Dari tadi tunangannya itu tidak berkata sepatah kata pun. Dia hanya terus mengenggam jemari Narra lalu sesekali mencium telapak tangan tunangannya itu.


Setelah kecanggungan yang tercipta karena urusan perasaan mereka terbongkar, satu persatu para sahabat Narra pamit pulang.


Dan dari saat itu Andra terus bersikap seperti sekarang membuat Narra gelisah dengan apa yang ada dalam pikiran Andra.


"ka Nda.." panggil Narra.


"iya sayang" jawab Andra.


"ka Nda tidak ke kantor ?" tanya Narra.


"aku sedang tidak ingin kemana-mana sekarang" kata Andra.


"aku baik-baik saja ka Nda dan lagipula kita harus menjaga jarak sampai emosi ayah reda" kata Narra.


"aku akan menghadapi kemarahan ayah" kata Andra.


Dia enggan meninggalkan Narra, kejadian tadi sangat mengganggunya. Ternyata kecemburuannya terbukti. Faya bukan hanya sekedar sahabat untuk Narra tapi Faya memiliki rasa yang dalam untuk Narra.


Andra tidak suka itu. Hal itu seperti sebuah ancaman dalam hubungannya dengan Narra.

__ADS_1


Narra tidak berkata apa-apa lagi karena raut wajah Andra yang terlihat menyimpan kesal. Dia mengerti, apa yang terjadi sangat mengganggu pikiran Andra.


Pintu kamar Narra di ketuk.


Mereka berdua memandang kearah pintu.


Ibu Flanella masuk kedalam ruang inap Narra bersama Rania. Mereka hanya tersenyum melihat Andra bersama Narra.


"ibu, bagaimana keadaan ayah ?" tanya Narra.


"ayah masih harus di rawat di ICU, kondisinya belum membaik tapi dokter Hadinata akan terus mengusahakan yang terbaik" jelas ibu Flanella.


Narra memandang Andra. Walaupun ayahnya sudah merubah keputusannya tapi keluarga Andra masih membantu keluarga Narra dan memberikan yang terbaik.


Ibu Flanella memegang lengan Andra.


"terima kasih, kamu dan keluargamu masih begitu baik pada kami. Padahal ayah sudah kejam pada kalian" ucap ibu Flanella.


"tidak ibu, itu sudah tugas dan kewajiban kami sebagai dokter. Kami akan mengutamakan pasien" jawab Andra.


"aku sudah tau semuanya dari Rayyan. Kalian akan pergi bersama. Tolong An, jaga Narra dengan baik" ucap Rania pada Andra.


"iya, aku akan selalu menjaga Narra" kata Andra.


"apa kalian sudah bersiap-siap ? besok kalian akan pergi" tanya ibu Flanella.


"kak Rayyan sudah mengurus barang-barang Narra bu, besok Narra akan bersiap dari sini" kata Narra.


"aku juga begitu, semua sudah diurus. Aku akan menunggu Narra di bandara agar ayah tidak curiga" kata Andra.


Ibu Flanella mengangguk. Dia mengusap kepala putrinya.


"maafkan ibu, ibu belum bisa meluluhkan hati ayah" katanya.


*


Sementara itu ...


Dalam mobil sedan mewah berwarna merah metalik, Indra duduk mengemudi dengan Rea disebelahnya.


Rea memandang kearah kirinya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa bersalah pada Indra.


"apa kamu mau ketempat lain ?" tanya Indra.


"tidak, aku ingin langsung pulang saja" kata Rea menoleh kepada Indra.


Indra mengangguk.


Sebenarnya hatinya sangat hancur saat ini tapi dia tidak bisa membenci Rea karena dia sangat menyayangi Rea.


"setelah ini, sebaiknya kita memikirkan kembali perasaan kita. Apa aku hanya pelarian untukmu" ucap Indra dengan pandangan lurus kedepan.


"In, aku sayang sama kamu. Faya sahabatku" kata Rea.


"tapi kamu mencintainya Re" balas Indra.


Rea terdiam.


"aku tidak mau kamu pergi In, aku butuh kamu" kata Rea.


"pikirkan posisiku di hatimu Re. Setelah kamu menemukan jawabannya, datang padaku. Kalo kamu tidak datang padaku, aku sudah tau pilihanmu" kata Indra.


Mobil Indra memasuki halaman rumah Rea. Setelah Rea turun, Indra lalu pamit dan melajukan mobilnya meninggalkan Rea.


Rea terpaku, air matanya menetes.

__ADS_1


Sesaat motor Faya melintas melewati rumahnya.


Faya masuk kedalam halaman rumahnya. Dia turun dari motor dan memandang Rea.


Rea memaksakan senyumnya tapi Faya hanya menanggapinya datar.


Faya masuk kedalam rumahnya yang berjarak hanya berseberangan dengan rumah Rea.


"apa kamu membenciku Fay" ucap Rea.


Dia segera berbalik masuk kedalam rumahnya.


*


Faya masuk kedalam kamarnya. Dia melempar kunci motornya diatas tempat tidur lalu menuju meja kerjanya.


Dia meraih album fotonya.


"kenapa semua jadi begini ?" gumam Faya seraya membuka tiap lembarnya.


Kejadian tadi membuat Faya terkejut, dia tadi berharap kalau Narra akan menjawab perasaannya tapi ternyata Narra memang hanya mencintai Andra. Tidak seperti Rea dan Imel yang menyukai orang lain.


"kenapa perasaanku tidak bisa merelakan kamu Na. Aku tidak bisa menganggap kamu hanya sekedar sahabat, aku menyayangimu lebih dari itu" Faya mengusap potretnya bersama Narra.


Arah pandangan Faya terhenti pada foto dirinya bersama Rea.


Dia tidak menyangka selama ini sahabat sekaligus tetangga dekatnya itu mempunyai perasaan lebih padanya. Padahal Rea sudah mempunyai kekasih yang baik seperti Indra.


"Re, maaf.. hatiku hanya untuk Narra. Aku belum bisa menggantikan tempatnya dengan kisah yang baru dan apalagi itu kamu" ucap Faya.


*


Erga melirik Imel yang duduk disebelahnya. Dia berhasil membujuk Imel untuk pulang bersamanya.


"kamu mau makan bakso ?" tawar Erga.


Bakso adalah makanan favorit Imel dan cewek basket itu tidak akan menolak ajakan kalau menyangkut menu yang satu itu.


"Ga, aku masih malu sama kamu" kata Imel.


Dia tahu Erga berusaha untuk mencairkan suasana.


"Mel, aku sangat menghargai perasaanmu hanya saja aku sudah punya orang yang aku suka. Perasaan kamu atau perasaan aku tidak salah, kita hanya ingin mencari kebahagiaan kita" terang Erga.


"sekarang kita bersikap biasa ya, kita tetap sahabat" kata Erga seraya menoleh pada Imel sebentar lalu kembali fokus memandang kedepan.


"aku ingin kita lebih dari itu Ga" sahut Imel.


Erga terkejut, dia menepikan mobilnya.


Mereka berdua saling menatap sekarang.


"Mel, aku.... maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Erga.


Imel memandang jendela sebelah kirinya. Dia tidak ingin terus menjadi sahabat Erga, keegoisan dari perasaannya ingin lebih dari itu. Dia sudah cukup lama menunggu Erga untuk membalas perasaannya bukan sebagai sahabat melainkan sebagai kekasih.


"kita pulang saja" kata Imel tanpa menoleh pada Erga.


"iya, makan baksonya lain kali saja" kata Erga lalu kembali menjalankan kendaraannya.


Erga hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa mencegah perasaan Imel terhadapnya.


Dan sebenarnya dia tidak ingin bersikap kasar pada sahabatnya itu, hanya saja dia ingin Imel mengerti bahwa dirinya tidak bisa membalas perasaan Imel karena hatinya memilih Rea walaupun dia tahu dia tidak bisa memiliki Rea karena Rea menyukai orang lain dan juga ada seseorang yang mencintai Rea dengan sangat baik.


***

__ADS_1


__ADS_2