
Narra mendatangi kantor Andra. Dia menepati janjinya untuk membawakan makan siang untuk suaminya itu.
Rupanya Andra sedang menerima tamu di ruangannya bersama Alex. Pantas saja panggilan dan pesannya belum di balas oleh suaminya.
Narra pun menunggu di sofa depan meja kerja Mia.
Tak lama, pintu ruangan Andra terbuka. Seorang wanita dengan tinggi bak supermodel dan memiliki pesona kecantikan blasteran dengan setelan kerja wanita karier keluar dari ruangan Andra dengan diikuti Alex.
"terima kasih pak Alex, mungkin nanti saya akan mengajak pak Andra untuk makan di luar. Makan siang atau makan malam misalnya" kata wanita itu.
"saya akan membicarakannya dengan pak Andra tapi saya rasa pak Andra tidak akan menerimanya kalo cuma berdua saja nona Monalisa" sahut Alex.
Tiba-tiba pandangan Alex teralih pada Narra yang beranjak berdiri.
"nyonya Narra sudah lama ?" tanya Alex pada Narra.
Wanita disebelahnya pun menoleh.
"baru saja kak Alex, apa suamiku masih sibuk ?" tanya Narra.
"pak Andra selalu punya waktu untuk istri yang sangat dicintainya" kata Alex.
Dia sengaja berkata demikian untuk mengenalkan Narra secara tidak langsung pada wanita disebelahnya.
Narra tersenyum.
Wanita itu memandang Narra dari atas hingga ujung sepatunya. Dia seolah menganggap remeh Narra.
"dia istri pak Andra ?!" tanyanya.
"iya nona, dia nyonya Ranarra Andra Hadinata" jelas Alex.
"biasa saja" gumamnya tapi terdengar jelas oleh Narra.
Narra hanya bisa menghela nafas. Dia mencoba bersikap tenang.
"silahkan nyonya, pak Andra sudah menunggu" kata Alex seraya membuka pintu untuk Narra.
Narra melangkah dan melewati wanita itu. Dia bahkan tidak menyapa atau mengucapkan kata permisi.
Setelah Narra masuk, Alex menutup kembali pintu ruangan Andra lalu mengajak Monalisa menuju lift.
*
Andra beranjak berdiri dari sofa begitu Narra masuk. Dia merentangkan tangan menyambut istrinya.
Narra masuk kedalam pelukan suaminya.
"aku selalu merindukanmu" ucap Andra tepat di telinga Narra.
Narra hanya terdiam.
Mereka berpelukan beberapa saat kemudian Andra melepaskannya dan membawa Narra duduk di sofa.
"kamu kenapa sayang ?" tanya Andra.
Dia melihat perubahan raut wajah Narra saat mengeluarkan kotak makanan di atas meja.
"aku tidak apa ka Nda" ucap Narra tanpa menoleh pada suaminya.
Sejujurnya dia masih kesal. Ucapan tamu suaminya itu masih terngiang jelas di telinganya. Dan lebih membuatnya malu karena hal itu bisa didengar oleh Alex dan Mia.
Andra menghentikan gerakan tangan Narra. Dia tahu ada sesuatu yang salah.
"sayang, ceritakan padaku" kata Andra.
Narra menatap suaminya.
__ADS_1
"apa aku biasa saja ka Nda ?" tanya Narra.
"kamu luar biasa, kamu sempurna. Kenapa sayang ? apa ada yang mengatakan hal tidak-tidak padamu" kata Andra.
Narra menggeleng.
"lupakan saja" katanya.
Andra menyentuh dagu Narra.
"katakan, jangan memendam semuanya sendiri" kata Andra.
"aku ke kamar mandi dulu"
Narra beranjak berdiri menuju kamar dalam ruangan suaminya. Dia masuk ke dalam kamar mandi lalu menyalakan air keran. Dia memandang wajahnya di cermin wastafel. Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dia cegah.
Sementara Andra yang merasa ada yang tidak beres segera menyusul istrinya. Dia membuka pintu kamar mandi tapi terkunci.
Andra mengetuk.
"sayang, buka pintunya" teriak Andra.
Dia merasa khawatir sekarang.
Narra keluar dari kamar mandi, dia memeluk suaminya erat.
"sayang, ada apa ?" tanya Andra lembut.
"aku baik-baik saja" ucap Narra seraya melepaskan pelukannya.
"aku lapar" katanya lagi.
Andra mengangguk lalu membawa istrinya kembali ke sofa untuk menikmati makan siang mereka.
*
Andra merasa tidak tenang mengerjakan berkas di depannya. Sementara Alex yang duduk di sofa mengerjakan tugas dari Andra di laptop memandang aneh pada bossnya itu.
"aku merasa tadi Narra aneh, aku jadi tidak tenang memikirkannya" sahut Andra.
"memangnya Narra kenapa ?" tanya Alex.
"dia bertanya padaku apakah dia biasa lalu dia banyak diam. Aku tanya tapi dia bilang baik-baik saja" ujar Andra.
Alex terdiam. Dia teringat ucapan Monalisa tadi, rupanya Narra kepikiran hal itu.
"aku tau kenapa" ujar Alex.
Andra memandang Alex.
"kenapa ?" tanyanya.
Alex lalu menceritakan tentang kejadian di depan ruangan Andra tadi. Walaupun pelan tapi dia mendengar jelas ucapan Monalisa tadi.
Dia menyebut Narra biasa.
Tangan Andra mengepal. Dia tidak terima ada yang merendahkan istrinya. Apalagi orang itu bukan siapa-siapa.
"aku rasa sebaiknya kita pikirkan kembali untuk menjadi pemasok di supermarket miliknya" kata Andra.
"kamu yakin ?! Nilai kontraknya besar" kata Alex.
"kenapa sekarang kamu berani mempertanyakan keputusanku ?" tanya Andra.
"maksudku, orang seperti Monalisa bisa kita beri peringatan lebih dulu" sergah Alex.
"tunda dulu kerjasamanya" sahut Andra lagi.
__ADS_1
"baik" jawab Alex.
Menurutnya lebih baik menundanya daripada langsung membatalkannya.
*
Narra membuat minuman pesanan pengunjung kedai. Minuman yang dia sajikan tidak hanya aneka juice tapi juga berbagai racikan minuman varian kopi, buah dan sirup segar.
Banyak pengunjung kedai yang menjadi pelanggannya. Bahkan terkadang mereka memesan lewat aplikasi jastip online.
Ayah Sasmita juga sudah menambahkan jualan Narra kedalam aplikasi orderan delivery kedainya. Sehingga kurir kedai tidak hanya mengantarkan pesanan kedai tapi juga pesanan Narra.
"boleh minta ice lemon tea"
Narra yang sedang meracik cappucino segera berbalik.
Suaminya duduk di kursi bar di depannya.
"ka Nda ?" kata Narra seraya melirik jam dinding kedai.
Ini masih sejam dari jam pulang kantor dan biasanya suaminya langsung menuju rumah sakit.
"aku ingin racikan istriku" katanya.
"tunggu ya ka Nda, aku selesaikan ini dulu" kata Narra.
Walaupun Andra suaminya tapi dia harus sesuai antrian pemesan duluan agar konsumennya tidak kecewa menunggu lama.
Setelah racikannya selesai, Narra memanggil pelayan kedai untuk mengantarkan minumannya.
Narra lalu membuat ice lemon tea untuk suaminya.
"silahkan ka Nda" kata Narra seraya menyuguhkan minumannya depan suaminya.
"terima kasih sayang" ucap Andra.
"ka Nda tidak kerumah sakit ?" tanya Narra.
"aku akan kesana setelah melihat istriku, aku sangat mengkhawatirkannya" kata Andra.
"aku baik-baik saja" kata Narra.
"hmmm kamu selalu bilang untuk saling jujur. Kenapa sekarang kamu yang tidak jujur padaku. Tidak terbuka padaku" sindir Andra.
Narra terdiam.
"An.." sapa ayah Sasmita.
Andra langsung beranjak berdiri. Dia menyalami ayah mertuanya.
"maafkan Andra yah, tadi Andra langsung berniat mengagetkan Narra jadi tidak menyapa ayah lebih dulu" ucap Andra.
"tidak apa, ayah mengerti" sahut ayah Sasmita.
"yah, Narra tutup duluan ya soalnya Narra mau ikut ka Nda kerumah sakit" kata Narra.
"iya, nanti ayah dan ibu menyusul. Kami akan menjenguk Faya" terang ayah Sasmita.
"iya, Narra akan bertemu Imel dengan Rea disana. Kalo Erga, Desta dan Sheva sudah disana duluan" kata Narra.
"baiklah ayah kedapur dulu" pamit ayah Sasmita.
Andra menghabiskan minumannya.
"kita pergi sekarang" katanya.
Narra mengangguk.
__ADS_1
Setelah memastikan tempat jualannya aman. Dia beranjak mengikuti Andra kedapur untuk berpamitan pada ayah Sasmita lalu masuk kedalam rumah untuk berpamitan kepada ibu Flanella.
***