
Semenjak kejadian di cafe, hubungan Narra dan Faya renggang. Bahkan mereka sudah tidak saling bertanya kabar. Biasanya Faya mengirim pesan sekedar 'say hello' pada sahabatnya itu dan begitu juga sebaliknya tapi sekarang baik Narra dan Faya sama-sama menahan diri. Bahkan grup chat mereka juga sepi. Tidak ada pembahasan atau sekedar bercanda disana.
"sayang, kamu jadi hari ini ke kantor Juna ?" tanya Andra. Dia tengah bersiap di ruang ganti.
Narra yang duduk di meja rias untuk memoles wajahnya menghentikan kegiatannya.
"iya sayang, karena aku ingin segera menyelesaikan proyek Ardhan" jawab Narra.
"baiklah, nanti aku akan minta Alen untuk mengantar dan menjemput kamu" katanya.
"tapi sayang, aku bisa pergi sendiri" sergah Narra.
Andra mendekat. Dia menggelengkan kepalanya.
"aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Kamu aman. Aku percayakan Alen untuk itu semua" katanya.
"memangnya Alen tidak ada pekerjaan lain ?" tanya Narra.
"Alen itu team kerja Alex. Jadi aku memberikan kerjaan untuk menjaga kamu itu juga termasuk tugasnya" terang Andra.
"baiklah" sahut Narra akhirnya.
Kata-kata suaminya tidak bisa dibantah. Akan percuma.
Andra mengangkat dagu Narra dengan telunjuknya. Dia menatap istrinya itu lama.
"sayang, maafkan aku. Tapi aku lakukan ini untuk diriku juga agar aku tenang jauh darimu" ucapnya.
Narra hanya mengangguk mengerti. Dia tidak ingin bicara apa-apa lagi karena nantinya akan menimbulkan pertengkaran.
*
Narra memasuki gedung kantor advertising Arjuna. Semua yang mengenalinya menyapanya dengan ramah. Narra langsung menuju ruangan Arjuna dimana dia harus memberi tahu kedatangannya pada sekretaris baru Arjuna pengganti dirinya.
"silahkan nona Narra, pak Arjuna sudah menunggu anda" kata sekretaris itu.
Narra hanya tersenyum. Dia sudah bukan lagi nona melainkan nyonya karena semenjak menikah, otomatis statusnya berganti.
Narra masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.
"masuk Na, pak Ardhan masih di jalan. Kita akan segera membahas semuanya di ruang meeting. Teman-teman masih menyiapkan segala sesuatunya" jelas Arjuna.
"terima pak Juna" sahut Narra seraya duduk di sofa tamu ruang kerja Arjuna.
Pertemuan mereka berlangsung akrab. Serius tapi santai. Apalagi team kerjanya adalah orang-orang andalan Narra ketika masih bekerja dengan Arjuna.
Jeniffer juga hadir, dia datang bersama Ardhan. Dia lebih banyak diam dan hanya menjawab singkat apa yang ditanyakan. Narra tidak ingin menanyakan tentang kesiapan Jeniffer karena itu menjadi tanggungjawab Ardhan. Narra hanya akan melakukan tugasnya dengan baik.
Dan sesekali juga Narra bertemu pandang dengan Jeniffer. Sepertinya wanita itu memperhatikannya. Entah dia benar-benar mendengarkan penjelasan Narra atau ada pikiran lain.
"terima kasih Na, aku sangat menghargai kamu mau menyelesaikan proyek ini" ucap Ardhan seraya menjabat tangan Narra.
"sama-sama, setelah ini kita tidak ada hutang apa-apa" balas Narra seraya tersenyum.
Narra lalu menjabat tangan Jeniffer.
"mohon kerja samanya" katanya.
"aku lakukan ini karena ingin profesional dalam karierku" balas Jeniffer membalas jabat tangan Narra lalu melepaskannya dan berlalu pergi.
Ardhan hanya menggelengkan kepalanya.
"maaf Na" ucapnya.
"tidak masalah tapi aku harap dia bisa menepati kata-katanya" sahut Narra.
*
Dalam mobil, Narra lebih banyak memandang keluar jendela. Dia memikirkan banyak hal. Tentang persahabatannya, tentang sikap Andra yang mengawasi geraknya dan tentang tatapan sinis Jeniffer.
__ADS_1
Dia merasa Jeniffer masih menyimpan perasaan yang dalam pada suaminya. Tapi Narra sangat yakin suaminya akan tetap menjaga cinta mereka.
"Alen, apa hari ini suamiku sibuk ?" tanya Narra.
"seperti biasanya kak, kak Andra pekerja keras" terang Alen.
"hmm antarkan aku kerumah orang tuaku nanti aku tunjukkan jalannya" kata Narra pada Alen.
"baik kak Narra, tidak perlu menunjukannya kak karena aku sudah tau rumah orang tua kak Narra. Kak Alex sudah memberi tau segala sesuatu tentang kak Narra untuk kelancaran pekerjaanku" jelas Alen.
"ooo baiklah" kata Narra. Dia kembali terdiam.
Mobil sedan warna hitam milik Alen berhenti di depan kedai. Narra bergegas turun, dia menemui orang tuanya.
Ayah Sasmita memeluk putri bungsunya dengan erat. Setelah itu giliran ibu Flanella.
"rame yah" komen Narra melihat suasana kedai.
"Alhamdulillah, kamu dari mana ?" tanya Ayah Sasmita.
"aku dari kantor lamaku, masih ada satu tugas yang harus aku selesaikan. Karena tidak ada kerjaan lagi, aku kesini. Aku kan sekarang pengangguran" kata Narra dengan mulut manyun.
Ibu Flanella tersenyum. Dia mengusap kepala putrinya.
"kamu sudah jadi istri, tidak apa kalo kamu tidak kerja di luar yang penting Andra bisa memenuhi semua kebutuhanmu" katanya.
"tapi Narra ingin punya penghasilan sendiri bu, dan lagipula bosan kalo tidak melakukan apa-apa. Karena urusan rumah sudah ada yang mengerjakan. Kak Andra tidak mengizinkan aku melakukan apapun, katanya dia tidak ingin aku terlalu capek" lanjut Narra.
Ayah Sasmita menggelengkan kepalanya, "itu tandanya suamimu sangat mencintaimu" katanya.
Narra mengangguk.
"iya yah, sampai-sampai aku tidak diberi izin pergi sendiri. Ada adik kak Alex yang bertugas mengantarku dan menjagaku" jelas Narra.
"loh, mana dia ? kenapa kamu tidak ajak dia masuk kesini. ayah buatkan makanan dan minuman untuk dia" kata ayah Sasmita.
"aku pikir tadi dia akan ikut masuk. Mungkin dia menunggu di mobil" sahut Narra.
"ooo" gumam Narra.
"kamu panggil dia masuk ya" pinta ibu Flanella.
"iya bu" jawab karyawan itu seraya beranjak.
Alen masuk kedalam kedai mengikuti karyawan kedai yang memanggilnya.
"ayah, ibu, ini Alen adiknya kak Alex asisten ka Nda" Narra memperkenalkan.
Ayah Sasmita dan ibu Flanella berjabat tangan dengan Alen. Ayah Sasmita pun menawarkan makanan dan minuman untuk Alen. Tapi Alen menolak untuk makan, dia hanya ingin minum kopi.
Ayah Sasmita beranjak berdiri, dia sendiri yang akan membuatkannya.
*
Sementara itu..
Di kantor, Andra sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia ingin segera menyelesaikan semuanya agar bisa pulang kerumah tepat waktu.
Andra tidak ingin Narra lama menunggunya. Istrinya itu terbiasa tidur dalam pelukannya semenjak mereka menikah. Dan entah bagaimana ceritanya, itu menjadi kebiasaan untuk mereka berdua. Andra jadi terbiasa tidur dengan memeluk istrinya itu.
Alex masuk kedalam ruangan Andra. Asisten Andra itu memberikan berkas dan meletakannya diatas meja kerja Andra.
"itu semua laporan tentang Faya. Dan menurut penyelidikan, semua kemungkinan mengarah kepada hasil positif tapi kita tetap harus melakukan tes DNA agar pasti" jelas Alex.
"jadi kemungkinan Faya adalah putra keluarga Richard Davidson yang hilang ?!" tanya Andra.
Alex mengangguk.
Andra bersandar pada kursi kerjanya.
__ADS_1
"tapi orang kita hampir kesulitan mencari tau tentang informasi ini karena ada orang yang tidak ingin ada yang mengetahui kebenaran dari rahasia ini" jelas Alex lagi.
"siapa ?" tanya Andra.
"aku rasa mereka orang tua tuan Richard" sahut Alex.
"apa ?! mereka tega memisahkan cucu kandung mereka sendiri dengan orang tuanya ?" Andra kaget.
Alex mengangguk,"itu karena mereka menentang pernikahan nyonya Melani dan tuan Richard" lanjutnya.
"aku mengerti sekarang. Selama ini pencarian om Richard tentang putranya selalu menemui jalan buntu, itu karena gerak-geriknya diawasi oleh orang-orang suruhan orang tuanya" kata Andra.
"tepat sekali" balas Alex.
Andra menggelengkan kepalanya.
"kamu atur untuk tes DNA. Aku akan membicarakan ini dengan Narra" kata Andra.
"baik bro, aku keluar dulu" pamit Alex.
"terima kasih bro" ucap Andra. Dia kemudian melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya.
*
Selesai makan malam, seperti biasanya Narra membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan mereka.
Sebenarnya Andra sudah sering melarangnya tapi Narra selalu menolaknya karena dia merasa masih mampu melakukannya.
"sayang..." panggil Andra.
"iya ka Nda, sebentar" balas Narra. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas menemui suaminya di ruang keluarga setelah mengeringkan tangannya dengan kain lap yang tergantung di dinding dekat wastafel.
Andra merengkuh tubuh istrinya masuk kedalam pelukannya.
"sayang, kamu sudah baikan dengan Faya ?" tanya Andra.
Narra memandang suaminya.
"kenapa ka Nda tanya tentang Faya ?" tanyanya.
"karena orang-orangku sudah mendapat semua informasi tentang Faya" jawab Andra.
Narra memperbaiki posisi duduknya.
"semua kemungkinan mengarah pada Faya bisa jadi putra keluarga Richard. Untuk itu kita perlu melakukan tes DNA untuk membuktikan hal itu" jelas Andra.
"bagaimana caranya meminta mereka untuk ikut tes DNA ? Itu artinya kita membuka tentang dugaan kita selama ini pada mereka" Narra bingung.
"hmmm sebenarnya aku kesal harus mengatakan ini tapi hanya cara ini yang terpikir" sahut Andra.
"apa sayang ?" tanya Narra penasaran.
"kamu baikan sama Faya dan minta dia untuk melakukan tes kesehatan ya bilang saja untuk check up rutin" jelas Andra.
Narra menghela nafas.
"lalu tante Melani dan om Richard bagaimana ?" tanya Narra.
"aku yang akan mengurus dan memikirkan alasannya" jawab Andra.
Narra mangut.
"tapi ka Nda baik-baik saja kalo aku menemui Faya ?" tanya Narra.
"aku sudah mengatakannya kalo aku kesal memberi usul tadi tapi aku tidak punya cara lain. Kita akan menyelesaikan ini agar semuanya jelas" terang Andra.
"baiklah ka Nda, aku akan mencoba bicara dengan Faya walaupun aku masih kesal karena tidak suka dengan sikapnya" ucap Narra seraya memeluk suaminya.
Andra memeluk istrinya erat. Dia membayangkan bagaimana Faya akan memanfaatkan keadaan saat mereka baikan sebagai sahabat untuk kembali mendekati istrinya dan membuat dia cemburu karena dia tahu sahabat istrinya itu belum bisa menerima perasaannya hanya sebatas sahabat.
__ADS_1
"aku tidak akan membiarkan Faya mengharapkan Narra karena dia istriku. Hanya milikku" ucap Andra dalam hati.
***