
Rania dan Adryan mengajak Andra dan Narra untuk makan malam bersama.
Tadinya Narra menolak tapi Rishi terus menangis dan memohon, akhirnya Narra setuju. Dia tidak ingin membuat keponakan kesayangannya sedih.
"Na, kamu mandi dan ganti baju di kamar yang biasa kamu tempati ya. Aku sudah menyimpan baju ganti dan handuk" ujar Rania.
"iya kak, aku bersih-bersih dulu trus aku bantu kakak masak" sahut Narra. Dia memandang Andra.
"Andra bisa mandi di kamar tamu, aku sudah menyiapkan handuk. Baju ganti, masih diambil Adryan" sahut Rania pada Andra.
"terima kasih, kalau baju ganti aku ada di mobil. Aku biasa simpan kalau ada panggilan mendadak ke rumah sakit" jelas Andra.
"ooo baiklah, silahkan. Na, tunjukan Andra kamar tamu ya. Kakak keatas dulu" pamit Rania.
Narra mengangguk.
Andra pamit mengambil baju ganti di dalam mobil. Setelah kembali, Narra mengantarkan ke kamar tamu.
"silahkan ka Nda. Aku ke kamarku dulu" pamit Narra.
"iya sayang" ucap Andra tersenyum lalu masuk kedalam kamar.
Setelah mandi dan ganti baju, Narra keluar kamar. Dia menuju dapur, dimana Rania sedang memasak di bantu pelayan.
"apa yang bisa aku bantu kak ?" tanya Narra.
"kamu buatkan Andra minuman sayang, trus antar ke kamarnya sambil menunggu makanan siap. Adryan masih di ruang kerja, ada yang harus dia selesaikan. Kamu temani Andra ya, tidak enak tamu diabaikan" ujar Rania.
"iya kak, tapi aku mau telfon ayah dulu" Narra mengeluarkan ponselnya.
"aku sudah telfon ayah, aku bilang kamu akan makan malam disini" sergah Rania.
"oo ok, aku buat lemon tea dulu untuk ka Nda. Dia suka lemon tea kak" sahut Narra seraya memasukan kembali ponselnya kedalam saku celana panjangnya.
Rania mengangguk lalu tersenyum pada Narra. Dia senang adiknya terlihat bahagia. Semoga semuanya baik-baik saja. ucap Rania dalam hati.
*
Narra mengetuk pintu kamar tamu. Tidak ada sahutan dari dalam. Dengan perlahan Narra membuka pintu.
Tidak ada siapa-siapa tapi terdengar suara air di dalam kamar mandi.
Kak Andra masih mandi, pikir Narra.
"ka Nda, lemon teanya aku taruh diatas meja" teriak Narra.
Tiba-tiba suara air berhenti, Andra keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Bentuk pahatan sempurna dada dan perutnya terlihat jelas.
Narra langsung berbalik, "aku keluar dulu kak" pamit Narra tapi Andra menahan tangannya.
"mau kemana sayang ?" goda Andra tepat di telinga Narra. Dia menempel pada Narra dari belakang.
"mau keluar, aku tunggu ka Nda di luar" Narra gugup.
"baiklah, tapi berikan aku tanda cinta" ucap Andra berbisik.
"apa ?" Narra semakin gugup.
"berbaliklah" ucap Andra.
Narra berbalik, kini mata mereka bertemu.
Andra mendekat lalu mencium bibir Narra lembut. Narra perlahan membalas ciuman Andra.
Andra merasa senang, Narra membalas perlakuannya.
Andra melepas tautan mereka.
__ADS_1
"aku mencintaimu sayang" Andra mengusap pipi Narra.
"aku juga ka Nda, aku tunggu kakak di luar" Narra berbalik lalu menutup pintu.
*
Narra menemani Rishi bermain. Mereka duduk melantai menghadap meja ruang tengah.
Andra duduk di sofa dekat Narra sambil menonton berita di televisi dan sesekali meminum lemon teanya.
"om Andra dokter ?" tanya Rishi.
"iya sayang, kenapa ?" tanya Andra.
"aku takut di suntik" Rishi manyun.
"tidak apa sayang, disuntik itu tidak sakit cuma digigit semut" jelas Narra.
"benar tante ?" tanya Rishi tidak percaya.
"iya sayang" ucap Narra meyakinkan.
"iya sayang, disuntik itu sakit tapi tidak lama. Sakitnya seperti digigit semut" Andra bantu menjelaskan.
Rishi mangut.
Ponsel Narra berdering. Private number. Narra ragu untuk menjawab telfon.
"ada apa sayang ?" tanya Andra.
Narra hanya menggeleng. Dia lalu menjawab telfon.
"iya halo"
"kita harus ketemu Na, aku mau bicara"
Narra mencoba bersikap biasa, dia tidak mau Andra curiga.
"baiklah" sahut Narra pendek. Dia lalu mematikan panggilan.
Andra terus memperhatikan Narra. Dia merasa ada yang Narra sembunyikan.
"sayang... ada apa ?" tanya Andra seraya mengusap kepala Narra.
"aku baik-baik saja ka Nda. Aku ke dapur dulu" pamit Narra seraya beranjak.
Dia meninggalkan Rishi dan Andra di ruang tengah. Sebenarnya dia hanya ingin menghindari pertanyaan Andra.
Andra menatap Narra yang menjauh. Dia harus mencari tahu apa yang terjadi, hatinya kembali tidak tenang. Dia kembali teringat cerita Indra, dia tidak mau Narra menghadapi masalah sendirian.
Andra meraih ponsel Narra yang tertinggal diatas meja. Dia mulai membukanya tapi ponsel itu terkunci dengan sandi.
Andra mencoba angka kelahiran Narra tapi tidak bisa. Lalu tanggal jadian mereka tapi tidak bisa terbuka juga. Akhirnya Andra mencoba angka kelahirannya. Mungkin saja, pikirnya.
Kunci ponsel itu terbuka. Andra sangat senang, ternyata Narra menganggap dia ada. Ingin rasanya Andra memeluk Narra sekarang tapi bukan itu tujuannya, dia harus mencari tahu siapa yang menelfon Narra tadi.
Andra harus kecewa karena panggilan itu tidak menampilkan nomor penelfonnya. Dia harus menanyakan pada Narra, agar dia tahu kenapa sikap Narra berubah.
*
Setelah makan malam bersama keluarga Rania, Andra dan Narra pamit pulang. Andra akan mengantarkan Narra pulang lalu ke rumah sakit untuk mengecek kondisi pasiennya.
"sayang, boleh kita singgah sebentar di taman kompleks rumahmu ?" tanya Andra dalam perjalanan.
"kenapa tidak di rumah saja ?" tanya Narra.
"aku ingin bicara berdua saja" kata Andra.
__ADS_1
Narra berpikir, mungkin kak Andra tidak nyaman bicara di rumah karena walaupun di ruangan itu hanya mereka berdua tapi di dalam rumah ada ayah, ibu dan kak Rayyan.
Narra lalu mengangguk.
Setelah melewati gerbang kompleks, Andra menepikan mobilnya di taman.
Andra melarang Narra turun dari mobil, dia segera keluar lalu mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Narra.
"terima kasih ka Nda" ucap Narra.
Mereka duduk berdua di taman sambil menonton anak muda kompleks bermain basket. Biasanya ada Imel diantara mereka.
"sayang, siapa yang menelfon tadi ?" tanya Andra.
Narra memandang Andra. Sebenarnya dia tidak ingin Andra tahu kalau Ardhan mau ketemu dengannya tapi dia juga takut kalau Andra akan salah paham dan bisa emosi lagi.
"masa lalu, dia ingin bertemu" ucap Narra akhirnya.
"trus kamu ingin menemuinya ?" tanya Andra.
"aku tidak tau" Narra mengangkat bahunya.
"aku tidak mau kamu menemuinya, bila perlu aku saja yang temui dia" tegas Andra.
Narra hanya diam.
"sayang, aku tidak mau kamu berhubungan dengan dia lagi. Aku sudah tau kejadian kemarin dari Indra. Aku tidak mau itu terulang lagi" Andra meraih jemari Narra. Dia menggenggamnya erat.
Narra mengangguk.
"baiklah, kita pulang. Ayah dan ibu pasti sudah khawatir, apalagi Rayyan. Dia pasti sudah menunggu di teras" ujar Andra mengusap kepala Narra.
Lagi lagi Narra hanya mengangguk.
Mereka beranjak pulang. Dan tepat seperti dugaan Andra, Rayyan berdiri di teras menunggu kepulangan mereka. Dia tampak lega melihat adiknya pulang bersama Andra.
"maaf Rayyan, kami terlambat" ujar Andra.
"yang penting kami tau kalian dari mana" sahut Rayyan.
Andra tersenyum.
"ya sudah, aku masuk duluan" pamit Rayyan.
Andra memandang Narra yang dari tadi menunduk. Dia menaikan wajah Narra dengan menyentuh dagunya agar memandangnya.
"kenapa ?" tanya Andra.
"tidak apa ka Nda" jawab Narra.
"aku sangat cinta sama kamu, kamu tau itu kan ?" tanya Andra meyakinkan.
Narra mengangguk pelan.
"mana senyum sayangku ?" goda Andra.
Narra memandang Andra lalu tersenyum. Tangan Andra megusap pipi Narra lembut.
"aku pulang sayang, bye" Andra lalu mencium kening Narra.
"bye ka Nda" ucap Narra.
Andra kembali mengusap pipi Narra lalu beranjak menuju mobilnya. Dia melajukan mobil setelah Narra masuk kedalam rumah.
Andra pulang menuju rumah sakit. Dia menyelesaikan tugasnya disana setelah itu beristirahat.
***
__ADS_1