
Andra selesai menjelaskan hasil penyelidikannya yang kemudian dilanjutkan dengan cerita versi keluarga Farid Angkasa dan keluarga Richard Davidson.
Kedua pasangan suami istri itu saling berpandangan dan tidak percaya kalau cerita mereka memiliki keterkaitan.
"dan sekarang Faya dalam kondisi kritis, dia memerlukan donor A negatif. Sama seperti golongan darah om Richard" kata Andra seraya menoleh pada Richard Davidson.
Richard Davidson memandang Andra.
"walaupun kita belum melakukan tes untuk membuktikan kalo dia Regan, tapi aku akan melakukannya atas nama kemanusiaan. Kita seharusnya saling tolong menolong" katanya.
"terima kasih banyak Tuan Richard" ucap mama Maya.
"sama-sama nyonya" balas Richard Davidson.
"sekarang aku mengerti kenapa aku merasa tidak asing begitu bertemu Faya. Dia sangat mirip denganmu sayang" sahut tante Melani menatap suaminya.
"kita harus membuktikannya dulu sayang, karena bagaimana pun juga Faya sekarang memiliki keluarga yang merawatnya dari kecil. Kita harus menghargai pak Farid dan nyonya Maya" jelas Richard Davidson seraya mengenggam tangan istrinya.
"kami sebagai orang tua adopsi Faya tidak akan menghalangi niat anda kalo terbukti Faya adalah putra anda, kami akan berusaha ikhlas demi kebahagiaan Faya karena dia sangat ingin bertemu dengan orang tua kandungnya" sahut papa Farid.
"terima kasih pak Farid" ucap tante Melani.
Melani memandang mama Maya.
"nyonya, terima kasih telah membawa Faya kedalam keluarga kalian dan menjadikannya seperti sekarang" ucapnya.
"sama-sama nyonya, Faya anak baik" kata mama Maya.
Pintu ruangan Andra di ketuk. Dia segera berteriak meminta yang diambang pintu untuk masuk.
"permisi dokter Andra, dokter Hadinata bilang operasinya harus segera dilakukan karena kondisi pasien menurun" kata suster yang masuk itu.
Semua saling berpandangan. Andra segera beranjak berdiri.
"kita tidak punya waktu lagi om, suster tolong kamu bawa tuan Richard untuk diambil darahnya. Beliau pendonor untuk Faya dan juga kamu cek lagi bank darah siapa tau ada pendonor lainnya untuk berjaga-jaga" jelas Andra.
"baik dok, silahkan tuan" ucap suster itu dengan sopan mempersilahkan tuan Richard untuk ikut dengannya.
"kamu disini saja dengan Narra, aku akan segera kembali" ucap Richard pada Melani.
Nyonya Melani mengangguk.
Sebelum beranjak Richard mencium kening istrinya lalu pergi mengikuti suster.
"aku akan kembali keruang operasi" kata Andra.
"baiklah kami keluar duluan" ujar papa Farid. Dia mengajak istrinya untuk keluar dari ruangan Andra.
Tinggallah Andra, Narra dan nyonya Melani disana.
"sayang sebaiknya kamu istirahat" kata Andra seraya mendekati Narra.
"aku baik-baik saja ka Nda, aku mohon" pinta Narra.
"Na, Andra benar kamu kelihatan lelah. Tante temani kamu istirahat disini" kata tante Melani.
Narra memandang tante Melani lalu beralih pada suaminya.
"baiklah aku akan disini" ucapnya.
Andra tersenyum. Dia mengusap pipi Narra lalu mencium kening istrinya itu.
"aku pergi ya" pamitnya.
Narra mengangguk.
__ADS_1
Andra segera bergegas menuju ruang operasi. Dia sedikit lega karena istrinya mau menurut untuk beristirahat.
*
Richard Davidson terbaring di ranjang dengan selang transfusi melekat pada lengannya. Dia mengingat pertemuannya dengan Faya. Selama ini dia merasa dekat dengan Faya tapi dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi padanya.
"kalo benar Faya itu Regan, aku akan mencurahkan seluruh perhatianku padanya untuk mengganti waktu yang tidak kami lalui bersama" ucap Richard pelan.
Tanpa disadari Richard, ada seseorang yang terus mengawasi gerak geriknya dan sekarang orang itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Dia menghubungi orang yang menyuruhnya.
"maaf tuan besar, semua rahasia akan terbongkar. Mereka sudah megetahui ceritanya hanya saja mereka masih akan melakukan tes DNA untuk memastikan kebenarannya" lapornya.
"trus bagaimana sekarang kondisi anak itu ?"
"masih dalam kondisi kritis tuan besar, mereka akan melanjutkan operasinya setelah mendapat transfusi darah dari tuan Richard"
"terus awasi mereka, laporkan setiap kejadiannya padaku"
"baik tuan besar"
*
Narra dan nyonya Melani kini berada di kamar dalam ruangan Andra. Narra berbaring sementara nyonya Melani duduk bersandar sambil membelai rambut Narra. Tampak tatapannya kosong, seperti ada yang sedang dipikirkannya.
"tante baik-baik saja ?" tanya Narra.
Melani tersentak. Dia tersenyum pada Narra.
"tante baik-baik saja. Hanya sedikit bingung" katanya.
"bingung kenapa tante ?" tanya Narra lagi.
"tante merasa senang sekali akhirnya Regan ditemukan tapi tante juga merasa tidak enak dengan kedua orang tua Faya. Mereka merawat Faya dengan baik, tante bersyukur Regan berada dalam keluarga yang baik dan menyayanginya dan rasanya tidak adil kalo sekarang tante mengambil Faya dari mereka" jelas nyonya Melani.
"karena itu tante menahan diri disini padahal aku tau kalo sebenarnya tante sangat mengkhawatirkan kondisi Faya ?" sahut Narra.
"dan satu hal lagi tante, ka Nda tidak tau hal ini. Faya mempunyai tanda lahir yang sama dengan tante di punggungnya" ucap Narra seraya mengambil ponselnya diatas nakas lalu membuka galerinya.
Dia membuka sebuah foto lama dimana mereka bertujuh berenang di kolam hotel Sheva. Terlihat jelas tanda lahir di punggung Faya yang sedang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek bersama sahabat cowok lainnya.
Nyonya Melani tidak mampu menahan air matanya saat melihat foto itu. Dia yakin kalau Faya adalah Regan.
"tante...." ucap Narra lirih.
Melani mengusap air matanya.
"tante baik-baik saja" katanya.
Ponsel nyonya Melani berdering. Rupanya suaminya menghubungi kalau transfusinya sudah selesai dan dia akan menunggu di depan ruang operasi.
"istirahatlah, kita serahkan semuanya pada kekuatan doa" ucap Melani.
Narra mengangguk.
*
Erga mengulurkan susu kemasan kaleng sekali minum pada tuan Richard.
"silahkan tuan, katanya setelah donor darah sebaiknya minum susu untuk memulihkan kondisi" katanya.
"terima kasih" ucap Richard seraya mengambil susu kaleng itu. Dia segera membuka dan meminumnya.
"duduklah" ujar Richard pada Erga seraya menunjuk tempat kosong disebelahnya.
Erga duduk bersebelahan dengan tuan Richard.
__ADS_1
"apa kamu sudah lama bersahabat dengan Faya ?" tanya Richard.
"iya tuan"
"eits, jangan memanggilku begitu. Panggil om saja" sergah Richard. Dia ingin semua yang ada disana bersikap tidak formal padanya.
"maaf om, iya kami sudah bersahabat dari kecil karena rumah kami yang berdekatan" terang Erga.
"bagaimana keseharian Faya ? Aku ingin mengenalnya" ujar Richard.
Erga lalu bercerita tentang masa kecil mereka bersama Faya. Richard menyimak cerita Erga dengan penuh perhatian, seakan dia tidak ingin melewatkan satu pun cerita tentang Faya yang kemungkinan adalah Regan.
"dia anak yang baik" komen Richard.
Erga mengangguk.
"dia sahabat yang baik" lanjutnya.
*
Operasi Faya berjalan dengan lancar. Mereka menunggu hingga tembus waktu Subuh.
Semua duduk bersandar di kursi dengan mata terpejam. Bunyi pintu di buka membuat mereka terbangun. Tampak tim dokter keluar dari ruang operasi.
Semua bergegas menghampiri.
"bagaimana anak saya dok ?" tanya mama Maya.
"operasinya berjalan lancar dan pasien sudah melewati masa kritisnya. Kami akan segera memindahkan pasien keruang perawatan. Sebaiknya kalian semua beristirahat" ujar dokter Hadinata selaku ketua tim dokter.
"terima kasih banyak dok" ucap mereka semua.
"kami permisi" pamit dokter Hadinata yang kemudian diiringi dokter lainnya.
"Ri, sebaiknya kita bicara di ruanganku" kata dokter Hadinata.
Tuan Richard mengangguk. Dia berjalan bersama dokter Hadinata.
Sementara Andra menghampiri mama Maya dan papa Farid.
"apa tuan dan nyonya mengizinkan kalo kami akan melakukan tes DNA pada Faya ?" tanyanya.
Sepasang suami istri itu saling berpandangan. Mereka seperti saling menguatkan lewat tatapan mata.
Papa Farid merangkul pundak istrinya.
"lakukan dokter, kami mengizinkannya" katanya.
Andra mangut. Dia kemudian pamit dan beranjak pergi.
Erga, Desta dan Sheva serta Keenan yang masih berada disitu menghampiri papa Farid dan mama Maya.
"Faya akan baik-baik saja pa" ucap Sheva.
"iya, terima kasih anak-anak. Terima kasih Keenan, kalian semua selalu ada untuk Faya" ucap mama Maya.
"sama-sama ma" koor Erga, Desta dan Sheva.
"sama-sama tante Maya" ucap Keenan.
Tak lama, para perawat keluar dengan mendorong brangkar Faya yang terbaring dengan berbagai selang yang entah untuk apa.
"kami akan membawa pasien keruang khusus yang di minta oleh dokter Andra. Pasien belum bisa dibesuk sampai dia sadar. Dan kalian semua bisa beristirahat di ruang pasien yang di batasi kaca" terang perawat itu.
"baik suster" kata Keenan mewakili yang lainnya.
__ADS_1
Mereka pun mengikuti brangkar Faya menuju ruang perawatannya. Tidak ada yang bersuara, semua seakan teralihkan dengan pandangan mereka pada Faya yang terbaring lemah.
***