FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 12.1


__ADS_3

Sementara itu, dokter Hadinata Wijaya menerima tamu teman lamanya.


"Rayhan.. lama tidak ketemu" ujar dokter Hadinata Wijaya seraya berjabat tangan.


"iya semenjak perjodohan anak kita batal" sahut Rayhan Kusuma seraya menghempaskan badannya di sofa.


"kamu masih mengingatnya, sekarang Diandra sudah memiliki putra. Aku yakin putramu pasti sudah menemukan wanitanya" sahut dokter Hadinata Wijaya.


"belum, anak itu masih sibuk dengan kariernya. Justru aku kemari dengan membawa perjodohan yang lain" kata Rayhan Kusuma.


"maksud kamu ?" tanya dokter Hadinata Wijaya tidak mengerti.


"Arini putri bungsuku ternyata menyukai salah satu dari putramu"


"siapa ?" tanya dokter Hadinata Wijaya.


"dokter Andra, dia sudah menunggunya selama tiga tahun. Aku kesini untuk meminta kamu menyetujuinya"


Dokter Hadinata Wijaya tertegun. Dia dan istrinya tidak pernah mengekang putra putrinya. Mereka bebas memilih yang terbaik selama mereka bahagia dan masih di jalur yang benar.


Begitu juga dengan jodoh, baik dia dan istrinya hanya memberi restu pada pilihan putra putrinya karena mereka yang menjalani kehidupan bersama nantinya.


"maaf, aku lagi lagi tidak bisa. Baik Andra dan Indra sudah memiliki kekasih masing-masing. Aku dan Serena sudah bertemu mereka dan kami setuju" jelas dokter Hadinata Wijaya.


"aku sangat mengetahui calon Indra, Andrea Galardy. Seorang artis, putri dari Irvan Galardy. Bisnisman bidang transportasi. Istrinya Aleandra mempunyai butik brand mewah yang kini di kelola juga oleh Andrea. Trus calonnya Andra siapa ? apa dari keluarga bisnisman juga ?" tanya Rayhan Kusuma.


"aku dan Serena tidak mempermasalahkan latar belakang calon menantu kami. Yang penting anak kami saling mencintai dan bahagia" ucap dokter Hadinata Wijaya.


Terdengar pintu di ketuk. Dokter Serena Hadinata masuk dan bergabung dengan mereka.


"apa kabar Ray ?" tanya dokter Serena Hadinata basa basi.


Terus terang dia tidak suka dengan sikap teman suaminya itu. Bersikap seenaknya dan sombong.


"aku baik, main-mainlah ke rumah kami. Siera baru saja membeli tanaman mahal di negara B. Kalian kan suka tanaman" ujar Rayhan Kusuma.


"kapan-kapanlah, akhir-akhir ini aku sibuk" dokter Serena tersenyum hambar.


*


Seorang gadis tinggi dengan kulit putih mulus yang terlihat jelas dibalut pakaian seksi yang dia kenakan, berjalan menyusuri lorong lantai tiga perusahaan HW Farma. Dia memandang sinis pada sekretaris yang berdiri menahan langkahnya masuk ke ruang CEO.


"maaf, anda ada keperluan apa ?" tanya sekretaris Amy.


"aku mau menemui kak Andra" katanya dengan nada manja sedikit dibuat-buat.


"maaf Pak Andra sedang tidak ada. Beliau ada meeting di luar"


"bohong !" Bentaknya.


"maaf nona, saya sudah berkata yang sebenarnya" sekretaris Amy mencoba untuk sabar.


Alex keluar dari ruangan Andra. Dia mendengar kegaduhan di depan ruangan Andra.


"ada apa Amy ?" tanya Alex.


"maaf Pak Alex, nona ini mencari Pak Andra" lapor sekretaris Amy.


"maaf ada keperluan apa ? bisa beritahu pada saya" Alex memandang gadis didepannya.


"aku mau ketemu kak Andra. Ini urusan pribadi" katanya.


"anda bisa menemuinya nanti saat beliau kembali. Maaf permisi, Amy kembali kerjakan tugasmu" ujar Alex seraya masuk kembali kedalam ruangan Andra.


Sekretaris Amy pun melanjutkan pekerjaannya. Dia bersikap acuh kepada tamunya.

__ADS_1


Gadis itu mendengus kesal. Tanpa bicara lagi dia pun pergi.


*


Andra mengantar Narra pulang menjelang sore.


Faya sudah pindah tinggal di rumah Sheva. Walaupun dekat dengan rumah orang tua adopsinya tapi lebih baik daripada mendatangkan salah paham bagi hubungan Narra dan Andra jika dia berlama lama di apartement Andra.


Meskipun Andra bilang mereka baik-baik saja tapi Faya mengerti keadaannya.


Andra pencemburu karena begitu sayangnya pada Narra.


Faya bilang itu pada Narra dan hanya di balas senyuman oleh Narra.


Dalam mobil, Narra terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia seperti melupakan hal penting.


Andra menoleh kearah kekasihnya, "ada apa sayang ?" tanyanya dalam keadaan fokus mengemudi.


"aku lupa ka Nda, aku janji mau belikan Rishi mainan hari ini" Narra menepuk jidatnya.


"ya sudah aku bawa kamu ke tempat aku biasa beli mainan untuk Vinand" sahut Andra.


Narra mengangguk.


Narra pun menghubungi ayahnya untuk memberitahu kalau dia akan singgah sebentar kerumah Rania untuk mengantar mainan yang dia janjikan pada Rishi.


"ayah bilang apa ?" tanya Andra.


"ayah bilang baik-baik trus titip peluk cium untuk Rishi" jelas Narra.


Andra mangut.


Andra menepikan mobilnya di pelataran parkir mall. Dia mengenggam erat tangan Narra begitu mereka turun hendak berjalan masuk mall.


"kenapa sayang ?" tanya Andra semakin memperat genggamannya. Dia tidak rela Narra melepaskan tautan mereka.


"mereka melihat kita ka Nda" bisik Narra.


Andra memandang sekelilingnya. Narra benar, beberapa orang tengah memperhatikan mereka.


"aku tidak perduli, yang aku mau cuma kamu sayang" Andra mencubit gemas hidung Narra.


Narra tersenyum. Begitulah Andra, dia tidak perduli dengan orang lain saat dia ingin bersikap romantis pada Narra.


Baginya hanya mereka berdua saja, yang lain tidak ada.


Mereka masuk ke toko mainan. Memilih-milih dan akhirnya pilihan Narra jatuh pada mainan pesawat tempur yang memakai remote. Harganya terbilang lumayan mahal tapi Narra bersyukur tabungannya cukup untuk membelinya.


Narra mengajak Andra menuju kasir. Dia mengeluarkan kartunya tapi Andra mencegahnya.


"aku yang bayar sayang" katanya.


"tapi ka Nda, aku bisa bayar sendiri" tolak Narra.


"baiklah tapi pakai kartu yang aku kasih ke kamu" Andra menambahkan.


Narra terdiam. Itu sama saja, artinya membeli mainan itu pakai uang Andra.


"tapi kak...." Narra memandang Andra.


"kalo begitu aku yang bayar" Andra menuju kasir yang sudah kosong dari pengantri.


"iya.. aku pakai kartu dari kakak" Narra manyun.


Langkah Andra terhenti lalu berbalik dan tersenyum seraya mengusap kepala Narra yang melewatinya menuju kasir.

__ADS_1


"yang itu batalkan saja mbak, ganti yang ini" tiba-tiba Andra menyodorkan mainan sama persis tapi harganya jauh lebih mahal.


Narra memandang Andra tanpa berkedip. Itu mainan yang disukainya tadi tapi dia tidak jadi mengambilnya setelah melihat label harganya. Uangnya tidak cukup untuk membeli mainan itu.


Andra yang memperhatikan Narra memilih, melihat raut kecewa Narra sehingga dia berniat menukarnya saat membayar di kasir.


Andra mengusap kepala Narra membuat Narra hanya bisa tersenyum, "terima kasih ka Nda" ucapnya.


*


Rania sangat senang adiknya datang berkunjung. Dan pas, suaminya berada dirumah. Dia dan suaminya bisa lebih mengenal Andra, calon adik ipar.


"senang bisa berkenalan secara pribadi dengan Pak Andra. Biasanya kita bertemu di acara seminar para pengusaha" ujar Adryan.


"iya, saya ingat Pak Adryan termasuk deretan lima besar pengusaha yang kompeten di bidangnya" sahut Andra.


"anda terlalu memuji Pak Andra, anda deretan pertamanya" balas Adryan.


"bisakah kalian tidak memanggil Pak, sepertinya aku berada di kantor bukan di rumah" sergah Rania.


Andra dan Adryan tertawa.


"baiklah, saya memanggil nama atau calon ipar pak Andra ?" canda Adryan menoleh pada Andra.


"panggil nama saja" jawab Andra.


Adryan mengangguk.


"mamaaa.. lihat mainan aku" Rishi berlari menghampiri mamanya di ruang tamu diikuti Narra dibelakangnya.


Narra duduk disebelah Andra. Andra menyingkirkan beberapa helai rambut Narra yang menghalangi matanya.


Narra memandang Andra dan tersenyum.


"bagus mainannya" Rania mengamati mainan Rishi.


Spontan mata Rania tertuju pada label harga yang belum dicopot.


"sayang, mainan ini mahal. Kamu terlalu memanjakan keponakanmu" ujar Rania menunjukan mainan itu pada Adryan.


"iya ini gaji kamu sebulan Na" komen Adryan setelah melihat label harganya.


"tadinya aku beli yang setengah gajiku tapi ada yang minta pakai kartunya trus menukar mainannya dengan yang mahalan itu, ya sudah aku menurut. Padahal aku merasa tidak enak" jelas Narra pada kakak dan iparnya.


Andra mengelus rambut Narra.


"tapi tadi kamu suka sama mainan ini kan ?! hanya saja batal membelinya karena harganya" sergah Andra.


Narra mengangguk pelan. Dia sudah menduga kalau Andra menyadari perubahan sikapnya tadi di mall.


Rania dan Adryan memandang mereka lalu mengucapkan terima kasih pada Andra.


"sama-sama, aku sering belanja mainan disana untuk keponakanku. Harga segitu tidak ada artinya dengan senyum senang Rishi" terang Andra.


"Rishi suka dengan mainannya ?" pandangan Andra beralih pada Rishi.


"iya om, Rishi suka sekali. Terima kasih" ucap Rishi tersenyum.


Narra menatap Andra.


"kenapa ?" tanya Andra begitu bertemu mata dengan Narra.


"tidak apa ka Nda. Terima kasih" jawab Narra.


***

__ADS_1


__ADS_2