
Narra mendatangi lokasi pemotretan iklan untuk perusahaan property Ardhan dengan diantar Alen. Awalnya masih terasa canggung tapi lama-lama Narra mulai terbiasa. Semenjak panggilan Alen berganti menjadi 'kak' agar terkesan akrab, Narra merasa nyaman. Dia terkadang risih jika seseorang yang dianggap keluarga harus memanggil dia dengan sebutan nyonya.
Tampak team sudah mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Jeniffer juga sudah datang, dia sementara di make up oleh tim make up yang sudah dipercaya oleh perusahaan Juna.
Tampak Frey dan Grey beserta team sibuk mengatur set untuk latar pemotretan.
Narra menghampiri kedua rekannya itu.
"hai kak Narra, cieee berseri-seri" goda Grey.
"hmmm bisa saja. Eh, Raga mana ?" tanya Narra, matanya mencari-cari sekitar lokasi.
"Raga... Tadi ada tapi setelah bicara dengan manajer model trus tidak tau kemana" jelas Frey ragu-ragu.
"hmmm pdkt lagi tuh" sahut Narra.
"ya maklumlah, playboy cap gayung" balas Grey yang diikuti tawa Frey.
Narra hanya menggelengkan kepalanya.
Sudah jadi kebiasaan Raga, dia selalu tebar pesona. Kalau bukan sama model ya orang terdekat model, pokoknya ada saja yang bisa membuat dia betah di lokasi syuting.
*
Pemotretan berjalan dengan lancar tapi yang menjadi fokus mata Narra dan team bukan pada modelnya tapi pada ketua team produksi mereka. Ya Raga dan Eryn manajer sekaligus asisten Jeniffer dari tadi terlihat sangat dekat.
"playboy gayung sudah menebarkan jala" komen Grey.
Kalimat Grey mendapat tepukan di pundak dari saudara sekaligus rekan kerjanya Frey.
"sudah selesaikan saja kerjaan kita" katanya.
Narra menghampiri Raga.
"Ga, setelah ini kita break makan siang dulu bagaimana ?" tanya Narra.
"iya Na, setelah ini kita break trus lanjut lagi untuk take selanjutnya. Aku sudah minta bagian konsumsi untuk mengatur makan siang kita" jelas Raga.
Narra mangut.
Terdengar dering panggilan ponselnya.
"iya sayang" sahut Narra karena yang menelfon adalah suaminya.
Dia berjalan agak menjauh dari Raga dan Eryn.
"kamu sudah selesai sayang ?" tanya Andra.
"iya sudah ka Nda" balas Narra.
"oke, aku jemput sekarang. Kita makan siang bersama" kata Andra.
"iya ka Nda" sahut Narra.
"bye sayang" sahut Andra.
"bye ka Nda sayang" balas Narra. Dia lalu meninggalkan Raga berdua dengan Eryn di tempat kostum.
Dia kembali menghampiri Frey dan Erga di tempat pemotretan.
__ADS_1
"kata Raga setelah ini kita break makan siang dulu. Bagian konsumsi akan mengatur semuanya. Tapi maaf ya, aku tidak makan siang bersama kalian. Suamiku mau jemput kesini" kata Narra.
"yah kak Narraaaa... Kita kan baru ketemu lagi" sahut Grey manyun.
"nanti setelah makan siang aku balik lagi kesini karena lanjut take selanjutnya. Tenang, selama proyek ini kita ketemu terus kok. Ini kan masih tanggung jawabku" jelas Narra.
"iya iya, eh pengawal kak Narra tuh !" tunjuk Grey dengan matanya.
Narra berbalik dan melihat Alen mendekat ke set mereka. Dia lalu pamit pada Frey dan Grey untuk menghampiri Alen.
"maaf kak Narra, kak Andra telfon kalo beliau akan kesini menjemput kak Narra. Jadi begitu beliau datang, saya akan pergi kembali ke kantor" jelas Alen.
"kamu tidak ikut makan siang dengan kami ?" tanya Narra.
"saya makan siang di kantor saja kak" kata Alen.
"baiklah, kita tunggu ka Nda datang baru kamu pergi" kata Narra.
Alen mengangguk.
*
Andra datang menjemput Narra di lokasi syuting. Dia tampak biasa saja bertemu pandang dengan Jeniffer.
Narra yang masih terlibat pembicaraan dengan Raga, Frey dan Grey melihat Jeniffer beranjak dari duduknya untuk menghampiri suaminya. Mereka tampak berbincang tapi Andra masih dengan mode dinginnya.
Narra tersenyum, dia tahu suaminya tidak akan bersikap berlebihan.
*
"An, aku hanya ingin kita bisa bersahabat seperti dulu" kata Jeniffer.
"tidak ada persahabatan yang tulus kalo salah satu masih mengharapkan" katanya.
"An, apa aku salah masih mencintaimu ?" tanya Jeniffer lirih.
"aku sudah memiliki cintaku dan aku seharusnya bersyukur kamu pergi karena itu artinya kamu bukan wanita yang tepat untukku. Aku bahagia dengan Narra dan aku sangat mencintainya. Aku terlalu bodoh dulu sampai hampir gila karenamu" jelas Andra.
"An, aku minta maaf.. Aku khilaf. Itu bukan sepenuhnya salahku. Aku...."
Kalimat Jeniffer terpotong saat Andra mengangkat telapak tangan kanannya.
"sudah cukup, aku tidak butuh penjelasan apa-apa. Jangan pernah ganggu kehidupanku lagi" ucap Andra seraya berlalu menghampiri istrinya yang sudah selesai berbicara dengan team kerjanya.
"maaf ka Nda, ada sedikit masalah" ucap Narra. Dia merasa tidak enak suaminya menunggu lama.
"tidak apa, kita pergi sekarang ?" tanya Andra seraya melirik jam tangan mewahnya.
"iya" sahut Narra seraya mengikuti Andra menuju mobil.
Andra membuka pintu mobil dan memasangkan sabuk pengaman pada istrinya itu.
"terima kasih" ucap Narra.
"sama-sama" balas Andra seraya mengecup bibir Narra.
Dia sengaja melakukan itu karena Jeniffer dari tadi masih memperhatikan mereka. Andra ingin menunjukkan pada Jeniffer bahwa dia sangat mencintai Narra dan bahagia memiliki Narra sebagai istrinya.
Andra lalu menutup pintu mobil kemudian mengitari menuju pintu kemudi. Dia menjalankan mesin setelah menutup pintu.
__ADS_1
Mobil yang mereka tumpangi pun melaju meninggalkan lokasi syuting.
*
Jeniffer menatap mobil Andra yang meninggalkan lokasi syuting dengan tatapan nanar. Matanya berkaca-kaca. Dia melihat bagaimana tadi Andra memperlakukan Narra. Dia kesal, dia marah, dan dia cemburu, seharusnya dia yang diperlakukan seperti itu. Seharusnya Andra miliknya.
"sudahlah Jen, lupakan Andra. Kamu cantik, masih banyak pria mapan dan kaya raya yang bisa kamu jadikan kekasih" tegur Eryn.
"tapi aku hanya ingin Andra. Aku menyesal telah meninggalkannya dulu" sahut Jeniffer.
Eryn menggelengkan kepalanya.
"Jen, Andra sudah menikah dan mereka saling mencintainya. Aku lihat mereka sangat bahagia" katanya.
"aku akan merusaknya" balas Jeniffer.
"kamu mau jadi pelakor ?! hey, itu sangat beresiko untuk kariermu" sergah Eryn.
"aku tidak perduli !" balas Jeniffer.
"Jen, tolong jangan bertindak bodoh" Eryn mencoba membujuk Jeniffer. Sebagai manajer, dia tidak ingin kehilangan pundi-pundi emas sumber pendapatan mereka.
"siapkan mobil, aku mau makan siang di luar" perintah Jeniffer.
Eryn menghela nafas, dia langsung melakukan yang Jeniffer perintahkan. Selain sebagai asisten yang merangkap manajer, Eryn masih saudara Jeniffer. Mereka saudara sepupu, karena itu Eryn tahu dengan jelas semua yang terjadi pada saudaranya itu.
"mau kemana Ryn ?" tanya Raga.
"Jeniffer mau makan siang di luar, kami pamit dulu Ga" kata Eryn seraya menghampiri supir untuk bersiap.
Melihat Jeniffer dan Eryn masuk kedalam mobil, Frey dan Grey menghampiri Raga.
"kemana lagi itu model ?" tanya Grey.
"katanya mau makan siang di luar" sahut Raga.
"asal balik lagi, jangan seperti lalu. Kabur" komen Frey.
"hmm kenapa sih, modelnya masih dia. Melihat dari tindakannya kemarin itu bisa membuat di diganti tapi kenapa masih dipake. Bikin repot" sahut Grey.
"karena klien masih memberikan dia kesempatan kedua. Sudah, kalo dia tidak balik.. Kita lapor sama boss dan minta pergantian model saja" balas Raga.
"itu berarti kerjaan kita tertunda lagi dan yang ini sia-sia dong" sergah Frey.
"daripada kita yang susah dan mesti menunggu mood model ya lebih baik ganti saja" sahut Raga.
Frey dan Grey mangut. Mereka juga tidak suka dengan sikap Jeniffer yang semaunya.
Mending ganti model saja. Pikir Grey dalam hati.
"oke fix, kita bicarakan nanti dengan kak Narra kalo itu model berulah" sahut Grey.
Frey dan Raga mengangguk setuju.
"ayo kita lanjutkan makan siangnya, kasian team konsumsi sudah siapkan banyak tapi modelnya malah makan di luar" sahut Raga.
"iya, gak menghargai" lanjut Grey. Dia kesal.
***
__ADS_1