FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 18.1


__ADS_3

Narra terpaksa harus menjalani rawat inap karena kondisinya yang lemah akibat kekurangan cairan.


Narra mengalami alergi makanan.


Ayah, ibu dan Rayyan sempat kaget begitu Andra bilang kalau tadi pagi mereka sarapan bubur ayam.


Narra tidak bisa makan bubur. Dia bisa mengalami sering BAB, mual dan muntah. Dia tahu hal itu.


"maafkan aku ayah, ibu, Rayyan, aku tidak tau kalo Narra alergi bubur" ucap Andra lirih.


Semua ini salahnya.


"tidak apa nak Andra, kamu belum tau" ujar ayah Sasmita.


Rayyan menepuk pundak Andra. Dia tidak bisa berkata, yang paling penting untuknya adalah adiknya sudah tidak mengkhawatirkan lagi. Hanya tinggal menunggu kondisinya pulih, mereka bisa membawa Narra pulang besok.


Rania datang dengan tergesa-gesa.


"jadi bagaimana Narra ?" tanyanya.


"adikmu harus di rawat" jelas ibu Flanella.


"Narra kenapa sih, sudah tau tidak bisa tapi di makan juga" gerutu Rania.


"maafkan aku, aku tidak tau" ucap Andra.


Rania menoleh pada Andra.


"kalian makan bersama ?" tanya Rania.


Andra mengangguk.


"sekarang kamu sudah tau, nanti kamu jangan biarkan dia begini lagi" ujar Rania.


Tapi dia belum bisa mengerti kenapa Narra tidak memberitahu Andra tentang alerginya. Bahkan ikut makan bersama Andra.


"pasti, aku sangat khawatir padanya" ujar Andra.


Andra bersandar di dinding. Ingin rasanya dia memukuli dirinya sendiri tapi dia sudah berjanji pada Narra akan baik-baik saja.


Andra benci pada dirinya sendiri karena dia lalai sebagai kekasih.


"Rayyan, ayah dan ibu pulang dulu menutup kedai. Kamu jaga adikmu" ucap ayah Sasmita.


"aku mau menutup bengkel yah, Rasta masih di kampung" sergah Rayyan.


"kamu Ran ?" tanya ayah.


"aku mau kembali ke kantor yah" ujar Rania.


Mereka saling pandang, sebenarnya mereka ingin menunggu Narra tapi pekerjaan mereka juga butuh perhatian untuk diselesaikan.


"tidak apa ayah, ibu, aku yang akan menjaga Narra" sahut Andra yang mengerti dengan situasinya.


"terima kasih nak Andra, maaf merepotkan" sahut ibu Flanella.


Andra menggeleng, "tidak repot ibu, Narra itu calon istri Andra" katanya tersenyum.


Ayah Sasmita tersenyum seraya menepuk pundak Andra.


Tak lama ayah Sasmita dan ibu Flanella pamit pulang lalu disusul Rania dan Rayyan. Tinggalah Andra dalam ruangan Narra menemani kekasihnya yang masih tertidur.


Andra memandang botol infus Narra, cairannya sudah mulai habis.


"maafkan aku sayang, aku tidak tau tentang ini" ucap Andra. Dia mengenggam jemari Narra.


Suara ketukan. Andra menoleh kearah pintu.


Tampak Faya, Rea, Imel, Erga, Desta, dan Sheva setelah pintu terbuka.


"sore ka Andra" sapa mereka.


"sore, masuklah" ujar Andra.


Mereka melangkah masuk dan mendekat di sisi tempat tidur Narra.


"bagaimana keadaannya kak ?" tanya Imel.


"dia masih harus dirawat beberapa hari, tubuhnya masih lemah karena kekurangan cairan" jelas Andra.


Mereka mangut mengerti.


Tiba-tiba seorang suster masuk kedalam ruangan.


"permisi dokter Andra, pasien kamar dua belas mengalami sesak nafas pasca operasi dok"


"baiklah, aku segera kesana" kata Andra.


Suster itu hendak pergi tetapi Andra mencegahnya. Dia meminta suster itu untuk memberitahu suster jaga ruangan Narra agar mengecek cairan infus Narra.


"baik dok, saya permisi" pamitnya.


"bisa kalian temani Narra sebentar ? aku harus melihat pasienku" kata Andra.


"tenang saja kak, kami akan menjaga Narra" ujar Rea.


Andra mengelus kepala Narra, "aku pergi dulu sayang, nanti aku kesini lagi" katanya pada Narra yang masih tertidur.


Andra lalu mencium kening Narra kemudian pamit keluar pada para sahabat Narra dan menutup pintu.


"terlihat jelas kan kalo kak Andra itu sangat cinta sama Narra" ujar Imel.


"iya, sampai dia cemburu pada kami" sergah Sheva.


"maksudnya Shev ?" tanya Erga.


Sheva menceritakan kejadian di hotelnya pada para sahabatnya. Dia tidak bilang kalau dia yang mengajak Narra bertemu, dia bilang kalo Narra ada pertemuan dengan klien di resto hotelnya.


"hmmm bukan cuma kamu Shev, aku juga waktu menginap di apartement. Kak Andra terlihat jelas cemburu" jelas Faya.


"kak Andra bersikap begitu karena kak Andra tidak mau kehilangan Narra. Indra cerita kalo kak Andra itu pernah patah hati yang dalam dan kembali move on begitu bertemu Narra. Jadi Indra bilang semoga kalian semua mengerti kalo nanti kalian semua akan merasa di cemburui karena ya begitulah kak Andra" jelas Rea.


"tapi susah, soalnya kita dekatnya sama Narra kayak bagaimana. Dekat sekali jadi kalo tiap kita berlaku pegang tangan, pelukan, usap kepala kak Andra cemburu kan susah untuk kitanya. Sudah terbiasa" komen Erga.


"iya, jadi kayak kaku nantinya kalo ketemu Narra tapi mesti jaga jarak" balas Desta.


"mau bagaimana lagi, Narra bahagia ya kita harus ikut bahagia juga. Sebaiknya kita memang menjaga sikap kalo ada kak Andra supaya kak Andra tidak cemburu" ujar Sheva bijak.


"iya supaya hubungan mereka baik-baik saja" sahut Rea.


Semua mangut.


*

__ADS_1


Dalam ruangannya, Andra duduk terdiam di sofa.


Setelah menangani pasiennya, Andra tidak langsung menemui Narra tapi dia keruangannya dulu untuk menghilangkan emosinya.


Emosi marah pada dirinya sendiri karena dia tidak tahu kalau sarapan tadi pagi mereka mendatangkan bahaya untuk Narra.


Seandainya Andra tahu kalau Narra alergi, Andra pasti tidak akan membiarkan Narra untuk memakannya.


Andra meninju meja kaca di depannya, dia melampiaskan emosinya. Meja itu pecah, dan kepalan tangan Andra kembali berdarah. Darahnya menetes kelantai.


Andra membiarkannya.


Seharusnya dia lebih hati-hati menjaga kekasihnya.


Indra masuk dalam ruangan kerja Andra. Dia melihat darah pada kepalan tangan kakaknya. Dengan segera Indra mengambil kotak P3K dan mengobati luka kakaknya.


"aku tau pasti kakak akan melakukannya setelah tadi menahan diri" ujar Indra seraya membalut luka kakaknya.


"semua karena aku In" ucap Andra.


Indra menggeleng, "ini bukan salah kakak, kakak tidak tau kalo Narra alergi" katanya.


"tapi sebagai kekasihnya, aku seharusnya tau" balas Andra.


Indra terdiam. Benar juga, selama tiga tahun pacaran LDR-an setidaknya kakaknya mulai mengetahui hal-hal tentang Narra.


"aku tidak tau apa-apa In" ucap Andra lagi.


"kak, sudah.. kita lupakan saja. Sekarang yang terpenting Narra baik-baik saja dan pelan-pelan kakak akan tau semua tentang Narra" ujar Indra.


"terima kasih" ucap Andra setelah Indra selesai mengobati lukanya.


"kakak sebaiknya temui Narra. Temani dia" Indra menepuk pundak kakaknya.


"iya, kamu duluan saja. Disana ada Rea dan sahabatnya yang lain. aku akan menyusul" kata Andra.


"baiklah, kakak jangan melampiaskan emosi kakak lagi. Kasian Narra kalo dia tau kakak merasa bersalah" Indra mengingatkan seraya berjalan keluar dari ruangan Andra.


Andra hanya memandang Indra yang menghilang di balik pintu yang tertutup.


Andra meraih ponselnya.


"bro, aku mau kamu cari tau semua hal tentang Narra. Apa saja, semuanya. Seharusnya aku melakukan ini dari awal tapi aku terlalu bahagia sampai aku melupakannya. Aku belum terlambat kan Lex ?"


"belum bro, memangnya Narra kenapa ?" ujar Alex diseberang telfon.


Andra lalu menceritakan semuanya pada Alex.


"bukan salah kamu, aku akan segera mendapatkan datanya. Kamu tenang, jangan merasa bersalah" sahut Alex.


"terima kasih bro" Andra mengakhiri panggilannya.


Andra akan selalu membuat Narra bahagia karena dia tidak mau Narra sampai meninggalkannya.


Dia juga tahu kalau Ardhan pasti tidak akan tinggal diam. Ardhan akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan Narra lagi, apalagi sekarang dia tahu kalau Narra sekarang bersamanya. Orang yang selama ini menjadi saingannya dalam hal apapun. Ardhan pasti akan semakin berusaha tanpa memperdulikan apapun.


"aku harus berhati-hati pada Ardhan" gumam Andra.


*


Indra masuk kedalam ruang inap Narra setelah mengetuk pintu.


Tampak Faya, Rea, Imel, Erga, dan Sheva masih duduk di sofa menemani Narra.


"Desta mana ?" tanya Indra.


"dia ada siaran, ini kita lagi dengar" Rea menjawab.


Dia duduk di tepi ranjang Narra seraya menyuapi sahabatnya itu dengan apel yang sudah di potong-potong.


Indra beralih melihat ponsel Sheva yang berada diatas meja sebagai media untuk mendengar siaran radio Desta.


Indra mangut lalu duduk bersama yang lain di sofa yang kosong.


"siapa yang menginap disini menjaga Narra ?" tanya Indra.


"tadinya kak Rayyan tapi aku menawarkan diri dan mereka juga ikutan" sahut Imel.


"kalian pulang saja, kalian juga butuh istirahat. Besok juga masih kerja" sergah Narra.


"tapi kami mau temani kamu disini Na" sahut Faya.


"aku mengerti tapi aku tidak apa sendiri. Kan ada suster" balas Narra.


"Na, kamu tidak bisa sendirian. Aku saja kalian temani terus, masa kamu kita biarkan sendirian" sergah Rea.


Semua mengangguk.


"kalo boleh, kak Andra saja yang jaga Narra disini. Bagaimana ?" sahut Indra.


"aku tidak mau merepotkan ka Nda" ucap Narra.


"tidak repot Na, dia pasti senang" sahut Indra.


Semua saling pandang. Sheva memberi kode pada Imel, seolah tanda setuju dengan usul Indra.


"baiklah, kalo kak Andra tidak keberatan kami akan pulang" jawab Imel mengerti dengan maksud Sheva.


Tak lama suara ketukan pintu. Andra masuk kedalam ruangan Narra dan langsung menghampiri kekasihnya yang sedang memandang kearahnya.


Narra melihat perban pada kepalan tangan Andra. Dia tahu Andra kembali menyakiti dirinya sendiri karena merasa bersalah. Narra semakin merasa bersalah, seharusnya dia bilang pada Andra tentang alerginya.


"kamu sudah makan ?" tanya Andra.


Narra mengangguk.


Rea yang berada diantara mereka segera meletakan piring berisi potongan apel diatas nakas lalu menyingkir menuju sofa.


Dia duduk disebelah Indra.


Andra mengambil kursi dekat nakas dan duduk disamping tempat tidur Narra.


"aku suapi apelnya lagi ?" tawar Andra.


Narra menggeleng. Pasti susah dengan kondisi kepalan tangan Andra di perban.


"ka Nda terluka, pasti susah untuk menyuapi aku" jelas Narra.


"hanya luka kecil sayang" jawab Andra.


"karena aku ?" Narra menatap Andra.


Andra hanya membalas tatapan Narra. Dia tidak bisa menjawabnya.

__ADS_1


Indra yang tahu keadaannya akhirnya bersuara.


"karena kakak sudah disini, kami semua akan pulang" katanya.


"baiklah, aku akan menjaga Narra. Aku akan telfon Rayyan agar dia tidak perlu kemari malam ini" sahut Andra.


"tidak perlu kak, nanti aku saja yang bilang pada kak Rayyan karena tadi aku dan teman-teman menawarkan diri menjaga Narra. Kakak tidak keberatan menjaga Narra ?" tanya Imel.


"tidak apa Mel, aku malah senang. Terima kasih banyak semua" ucap Andra pada para sahabat Narra.


Mereka semua tersenyum lalu pamit pada Andra dan Narra.


"aku pulang kak, nanti aku bilang bunda kalo kakak tidak pulang malam ini" kata Indra.


"terima kasih In" ucap Andra.


"cepat sembuh kakak ipar" canda Indra.


Narra hanya tersenyum, dia tersipu malu.


*


Sunyi ...


Setelah Friends dan Indra pamit pulang, Andra dan Narra hanya saling diam dan menatap.


Narra menunggu Andra menjawab pertanyaannya.


"maafkan aku sayang" ucap Andra.


"untuk apa ?" tanya Narra.


"karena aku, kamu jadi begini" Andra menunduk.


"bukan salah ka Nda, aku yang salah. Seharusnya aku bilang" sergah Narra.


Andra mengenggam jemari Narra.


"aku takut kamu kenapa-napa" katanya.


"maafkan aku" ucap Narra lirih.


Andra menggeleng, "aku seharusnya tau kamu sukanya apa, apa yang bahaya untuk kamu" katanya.


"ka Nda, kita lupakan saja ya. Aku mohon, jangan dibahas lagi" ucap Narra.


"baiklah sayang" Andra mengusap kepala Narra.


Dia kembali menyuapi Narra potongan apel.


Narra menyentuh tangan Andra dan mencium punggung tangan yang di perban.


"aku tidak mau kakak begini terus, kakak harus bisa mengontrol emosi kakak" katanya.


"aku akan berusaha sayang, aku tidak mau kehilangan kamu" Andra memeluk Narra.


Narra membalas memeluk Andra serta mengusap punggung kekasihnya itu.


"aku tidak akan kemana-mana, aku akan bersama ka Nda kecuali.." Narra tidak meneruskan kalimatnya.


Andra melepaskan pelukannya, "kecuali apa ?" tanyanya.


"kecuali ka Nda pergi tinggalkan aku dan tidak menginginkan aku lagi maka aku akan melepaskan" Narra menatap Andra.


Andra menggeleng kuat.


"itu tidak akan pernah terjadi, kamu seluruh hidupku. Kamu yang mengembalikan semangatku. Aku bahagia karena kamu" jawab Andra mengusap pipi Narra.


"terima kasih banyak ka Nda" Narra menangkup wajah Andra.


Perlahan Andra mendekatkan wajahnya pada Narra yang bersandar di tempat tidur. Narra memejamkan matanya saat Andra mencium bibirnya lembut. Narra membalas perlakuan Andra.


"aku mencintaimu sayangku" ucap Andra setelah melepaskan ciumannya dan kening mereka bertemu.


"aku juga mencintai ka Nda" ucap Narra dengan nafas yang tidak beraturan.


Andra menarik Narra dalam pelukannya dan membiarkan mereka dalam posisi itu beberapa saat.


"ka Nda, ponselku mana ?" tanya Narra setelah melepaskan pelukan mereka.


Andra membuka laci nakas, dia mengeluarkan tas kantor Narra yang diantar oleh orang suruhan Arjuna.


"katanya semua barang-barang kamu ada di dalam. Kamu cek dulu" kata Andra.


Narra melihat isi tasnya, semua lengkap.


"ada semua ka Nda" ujar Narra seraya mengambil ponselnya.


Dia mengecek panggilan dan pesan.


Ada panggilan tak terjawab dari private number lagi tapi Narra membiarkannya. Dia tidak mau Ardhan merusak moment indahnya bersama Andra.


Kemudian dia mengecek pesannya. Ada email dari bagian produksi, proses syuting lancar dan iklannya dalam tahap editing oleh team creative.


Narra membalas dan mengucapkan terima kasih. Dia menunggu hasilnya segera.


"ada apa ?" tanya Andra.


"iklan perusahaan ka Nda sudah tahap editing oleh team creative, aku akan segera mengatur pertemuan dengan pihak ka Nda lagi untuk koreksi tahap akhirnya" jelas Narra.


"tapi kamu blum boleh terlalu capek dan banyak kerja dulu, harus banyak istirahat" Andra mengingatkan.


"iya ka Nda" Narra tersenyum.


Andra mengusap kepala Narra. Kemudian pandangannya beralih pada jam tangannya. Sudah hampir jam sebelas malam, waktunya Narra untuk istirahat.


Andra melihat cairan infus Narra juga sudah diganti.


"kamu melewatkan jam tidurmu sayang, ayo istirahat" kata Andra.


"iya ka Nda, ka Nda juga istirahat" kata Narra.


"iya, kalo kamu sudah tidur aku akan pindah tidur di sofa" balas Andra seraya membantu Narra berbaring.


Narra mengangguk. Dia berbaring dan Andra menyelimutinya kemudian mencium keningnya.


Andra terus memegang tangan Narra sampai Narra merasa mengantuk.


"selamat tidur ka Nda" ucap Narra perlahan seraya menutup matanya.


"selamat tidur sayangku" balas Andra.


Dia memastikan Narra tertidur lalu mencium kening kekasihnya itu kemudian beranjak menuju sofa. Andra pun tertidur disana.

__ADS_1


***


__ADS_2