FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 71.1


__ADS_3

Pasangan pengantin baru berjalan bergandengan tangan menuju restorant hotel dimana keluarga mereka sudah menunggu.


Andra menarik kursi untuk istrinya, mereka mendapat tempat kosong diantara kedua ibu mereka.


"cie... Segarnya manten baru" goda Diandra.


Narra memandang malu-malu.


"semalam aku tidak melihat kakak ipar di kamar, hanya kak Andra yang keluar" kata Indra.


"semalam waktu kamu datang, aku hanya pake baju mandi" jawab Narra tapi dia tiba-tiba teringat kalau semuanya akan berpikir tidak-tidak tentang itu.


Andra menoleh pada Narra.


"ooo kak Andra juga habis mandi soalnya rambutnya basah" balas Indra.


"Indra jangan menggoda mereka terus, liat wajah Narra memerah" tegur Diandra.


Indra langsung menutup mulutnya karena selain teguran Diandra, Andra juga memandangnya tajam.


"baiklah, aku diam" kata Indra lagi seraya menangkup tangan di depan dada.


Semuanya menggelengkan kepala. Maksud mereka bercanda tapi tampaknya Andra tidak nyaman dengan itu.


"mari kita mulai sarapannya" sahut ayah Hadinata Wijaya akhirnya mencoba mencairkan suasana.


Mereka pun sarapan tanpa ada yang bersuara.


Setelah menikmati sarapan, mereka kembali ke kamar untuk bersiap-siap keluar dari hotel. Andra membereskan barang-barang mereka dan mengajak Narra pulang kerumah keluarga Sasmita. Tadi kedua orang tua mereka sepakat agar mereka menginap dulu beberapa hari di rumah keluarga Sasmita setelah itu kerumah keluarga Hadinata Wijaya nanti selanjutnya terserah mereka untuk memutuskan tinggal dimana.


"sayang, sudah tidak ada lagi yang ketinggalan ?" tanya Andra.


Narra menggelengkan kepalanya.


"kita pergi sekarang, Alex sudah menunggu kita di lobby" ajak Andra.


Lagi-lagi Narra mengangguk lalu mengikuti langkah suaminya keluar kamar.


"ehem !"


Narra menoleh kebelakang saat mendengar suara suaminya. Andra berhenti melangkah.


"bersama sayang" Andra maju beberapa langkah agar sejajar dengan Narra lalu dia meraih tangan istrinya itu dan melingkarkannya di lengannya.


"begini sayang" kata Andra seraya tersenyum.


Narra menatap suaminya lalu berjalan bersama.


*


Narra memeluk Agatha, istri Ardian.


"aku pikir kalian sudah pulang" serunya.


"tidak mungkinlah... kami tidak akan pulang sebelum memberi kado kejutan pada manten cantik ini" kata Agatha setelah melepas pelukan Narra.


"kejutan ?!" Narra mengerutkan keningnya.


"kamu sudah siap dengan kejutannya ? Ada di kamarmu" kata Ardian seraya keluar menghampiri Narra dan Andra.


"oh iya, kenalkan ka Nda. Ini kak Ardian dan kak Agatha. Mereka keluarga kami di negara J" jelas Narra.


Andra pun bersalaman dengan sepasang suami istri itu. Kemudian mereka menuju kamar Narra. Disana tampak ada Rayyan sebagai pembuka pintu.


Tampak ayah Sasmita dan ibu Flanella duduk di sofa depan tivi menunggu Narra membuka pintu kamarnya.


Rayyan membuka pintu kamar Narra. Narra melangkah perlahan. Dia terkejut tidak percaya, ada sosok bayi mungil kini tertidur di atas tempat tidurnya.


"kalian tidak memberi tahunya padaku ?!" Narra melotot kearah Ardian dan Agatha.

__ADS_1


"sebenarnya kami ingin memberi tahunya sesampainya kamu di rumah kami tapi kenyataannya kami yang harus membawanya kesini" jelas Ardian.


"dia cantik.... Siapa namanya ?" tanya Narra.


"Ranira" ucap Agatha.


"kak Ardiiiiiiiii" sergah Narra.


Ranira itu singkatan dari nama mereka bertiga. Rayyan, Rania, dan Ranarra. Nama itu menjadi nama restorant nusantara mereka dulu dan sekarang kedai menggunakan nama yang sama.


"aku tidak bisa seperti sekarang tanpa ayah, ibu, kalian dan resto eh kedai Ranira" terang Ardian.


"Ranira sayang" ucap Narra mengusap pipi gembul bayi cantik itu.


"sekarang dia akan pindah ke kamar tamu" kata Agatha seraya mengangkat Ranira.


"ihhhh aku masih ingin bersama Ranira" Narra manyun.


"hmmm urus dulu suamimu. Baru ketemu Ranira, kamu sudah melupakan suamimu" tegur Rayyan.


Semua tersenyum. Andra mendekat dengan dua koper di tangannya.


"aku tutup pintunya ya" kata Rayyan seraya menutup pintu kamar Narra.


Andra meletakan koper mereka di depan pintu lemari. Dia lalu menghampiri Narra yang duduk di tepi tempat tidur.


"kamu ingin bayi lucu seperti Ranira ?" tanya Andra.


Narra mengangguk.


"kita bisa membuatnya" bisik Andra menggoda.


Narra merona, dia spontan berdiri tapi Andra menahan tangannya.


"mau kemana ?" tanyanya.


"baiklah tapi... " Andra menyentuh kedua pipi dan bibirnya.


Narra memutar bola matanya. Dia mencium kedua pipi dan bibir suaminya.


"aku keluar dulu" kata Narra.


Andra hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya.


"aku akan menyusul setelah membereskan koper kita. Kamu tidak keberatan aku buka lemarimu ?" tanya Andra.


"biar aku saja tapi nanti setelah aku selesai bantu masak makan siang" sergah Narra.


"baiklah, aku akan menemui ayah dan yang lainnya" sahut Andra.


Narra mengangguk.


*


Para wanita sibuk di dapur, sementara para pria duduk di depan televisi menikmati siaran olahraga. Andra tadi juga menyempatkan memeriksa ayah Sasmita. Kini suami Narra itu tengah menjauh dari ruang tengah untuk menerima telfon.


"sayang, bisa bicara sebentar ?" tanya Andra.


Dia menemui istrinya setelah menutup pembicaraannya di telfon.


Narra yang sedang menata meja makan memandang suaminya.


"sudah sana, tidak baik membuat suami menunggu" kata ibu Flanella.


Narra mengangguk lalu mengikuti langkah Andra masuk kedalam kamar, tak lupa dia menutup pintu.


Andra duduk di tepi tempat tidur sambil menimang ponselnya.


"kenapa ? Ada masalah ?" tanya Narra pelan.

__ADS_1


Andra mengulurkan tangan agar Narra mendekat padanya, dia mendudukan Narra di pangkuannya.


"aku ada seminar selama tiga hari di pulau negara P, kamu ikut ya ?" kata Andra seraya melingkarkan tangan di pinggang istrinya.


"hmmm apa boleh aku ikut ?" tanya Narra.


"iya, kamu sekarang istriku jadi seharusnya kamu menemaniku" kata Andra.


"hmmm tapi aku takut bosan disana karena ka Nda kan disana kerja, aku pasti banyak di tinggal" kata Narra hati-hati.


"paling kegiatannya hanya lima jam setelah itu istirahat. Aku bisa temani kamu lagi. Mau ya, setelah itu kita lanjut bulan madu bagaimana ?"


Narra dan Andra saling menatap.


"baiklah, aku mau" kata Narra lagi.


Senyum Andra merekah, dia mencium bibir istrinya.


"terima kasih ya" ucapnya.


Terdengar ketukan pintu lalu suara Rayyan memanggil untuk makan siang bersama. Andra dan Narra pun keluar dari kamar mereka.


*


Malam harinya Narra dan Andra menuju kediaman Hadinata Wijaya. Mereka ingin menyampaikan rencana keberangkatan mereka setelah tadi saat makan siang mereka berbicara pada keluarga Narra.


"sayang, kita menginap atau bagaimana ?" tanya Andra dalam perjalanan.


"aku terserah ka Nda saja tapi aku tidak punya baju ganti" jawab Narra.


"tenang saja, kak Diandra dan bunda sudah menyiapkan semua perlengkapan kamu di kamarku. Semoga kamu suka" kata Andra.


"mereka melakukannya untukku ?" Narra tidak percaya.


"kenapa ?" tanya Andra.


"aku merasa tersanjung dan sekaligus tidak enak" ucap Narra.


"sayang, itu karena mereka menyayangimu" balas Andra.


Narra tersenyum.


Mereka makan malam bersama dan duduk minum teh di ruang keluarga setelahnya. Andra langsung mengutarakan keinginannya pada keluarganya.


"hmmm kenapa kamu mengambil seminar itu ? Kalian kan masih pasangan bulan madu seharusnya kalian liburan" sahut bunda Serena.


"karena itu aku mengajak Narra bun, sekalian bulan madu dan sekaligus memperkenalkan Narra dengan duniaku" kata Andra.


"memangnya kamu sudah berhenti kerja di kantornya Juna Na ?" tanya Diandra.


"aku akan menyelesaikan iklan perusahaan Ardhan setelah itu aku akan berpikir ulang untuk kembali kerja di perusahaan Juna atau membuat usaha sendiri" jelas Narra.


Andra menoleh pada Narra. Istrinya itu tidak bilang tentang usaha padanya.


"kamu mau buka usaha apa ?" tanya ayah Hadinata Wijaya.


"Narra akan berjualan jus di kedai ayah seperti dulu dan juga secara online" jawab Narra.


"kalo begitu, kenapa kamu tidak bergabung di perusahaan ayah bagian minuman sehat. Kamu bisa memegang hak paten atas jus buatanmu tapi di bawah naungan perusahaan" jelas ayah Hadinata Wijaya.


Narra memandang suaminya, tidak ada ekspresi apa-apa disana. Narra lalu kembali berhadapan dengan ayah mertuanya.


"terima kasih ayah atas tawarannya, Narra akan memikirkannya" Narra tersenyum senang.


"iya, nanti aku bantu" sahut Indra.


Narra mengangguk.


***

__ADS_1


__ADS_2