
Imel dan Narra tiba di klub basket milik keluarga Imel.
Langkah Narra terhenti, dulu dia sering ketempat ini menemani Imel dan juga Ardhan latihan.
Banyak kenangan bersama Ardhan di tempat ini.
"kenapa Na ?" tanya Imel.
Narra hanya menggeleng, "tidak apa" katanya lalu mengikuti langkah Imel masuk kedalam.
Mereka menghampiri papa Wisnu, papanya Imel yang lagi mengawasi pelatih Edgar melatih teamnya.
"sore pa" sapa Narra.
"sore Na, sudah lama kamu tidak datang kesini" seru papa Wisnu.
Narra hanya tersenyum.
Dia memang sudah lama tidak datang kesini, tepatnya semenjak Ardhan pergi meninggalkannya.
"sana pemanasan dulu" tegur papa Wisnu pada Imel.
"iya pa" Imel menyahut lalu mencari tempat untuk meletakkan tasnya.
"aku duduk disana pa" pamit Narra.
"iya Na" jawab papa Wisnu.
Narra mengambil tempat duduk di bangku penonton. Dia memperhatikan Imel yang mulai pemanasan.
Tiba-tiba sebuah tepukan tepat di pundaknya.
Narra menoleh. Ardhan memakai seragam latihan sedang tersenyum manis kepadanya.
"hai sayang, kita ketemu disini" sapa Ardhan.
"jangan ganggu aku" balas Narra ketus.
Bukannya pergi, Ardhan malah duduk disebelahnya.
"kamu ingat, dulu kita sering menghabiskan waktu disini" katanya.
Narra hanya memandang malas.
"aku tidak ingin mengingatnya" sergahnya.
"aku selalu mengingatnya" ujar Ardhan seraya memamerkan senyum manisnya.
"hey senior !!!" teriak Imel.
Dia lalu melemparkan bola basket dan ditangkap tepat oleh Ardhan.
Ardhan beranjak berdiri.
"aku menantangmu" seru Imel.
"aku terima junior !!" balas Ardhan.
Dari dulu Ardhan memang merupakan patner latihan Imel karena mereka sama-sama atlet nomor satu di klub papa Wisnu.
Ardhan menoleh kepada Narra lalu berjalan menuju lapangan, dimana semua orang sudah berada di tengah lapangan mengelilingi Imel. Termasuk papa wisnu dan pelatih Edgar.
Narra hanya memandang mereka, kejadian itu sudah biasa.
Ardhan dan Imel sering saling menantang untuk mengetahui kemampuan masing-masing.
"pilih teammu Ardhan" ujar papa Wisnu.
Ardhan memilih teman untuk masuk teamnya terlebih dahulu. Lalu kemudian Imel. Mereka melakukannya secara bergantian.
Pertandingan pun di mulai. Pertandingan berlangsung seru dengan pertahanan yang ketat. Lima belas menit kemudian, team Ardhan berhasil mencetak skor unggul sementara.
Ardhan mendekati Imel.
"kalo aku menang, kamu harus memberiku kesempatan bersama Narra. Hanya berdua" bisiknya.
"jangan mimpi !!" balas Imel ketus.
Dia kembali fokus dan tidak memperdulikan Ardhan.
Sementara Narra yang duduk di bangku penonton menerima pesan dari Alex.
Hati-hati dengan sekitarmu, ada yang sedang mengawasimu.
Kemudian Alex mengirim pesan gambar. Foto Narra duduk bersebelahan dengan Ardhan tadi.
Narra melihat sekitarnya, tidak ada yang mencurigakan. Dia kemudian membalas pesan Alex.
Kak Alex dapat foto ini dari mana ?
Pesan terkirim. Tak lama kemudian Alex membalas pesan Narra.
Ada yang mengirimkannya padaku. Aku rasa tujuannya adalah Andra, mungkin dia tidak memiliki nomor Andra atau bagaimana. Yang jelas, dia ingin aku memperlihatkan foto ini pada Andra.
Narra menghela nafas.
Siapa orang yang sedang mengawasinya. Pikirnya.
Dia mengamati ulang foto itu. Melihat dari foto, yang memotretnya berada di sisi kanannya dari jarak jauh. Dia kemudian mengamati jendela di sisi kanan gedung olahraga.
Ya, pemotretnya kemungkinan berada di luar jendela itu. Serunya dalam hati.
Dengan bergegas Narra beranjak, dia keluar dari gedung olahraga menuju jendela tadi.
Tidak ada siapa-siapa, mungkin orangnya sudah pergi. Pikir Narra.
"sayang..." terdengar suara dari arah belakang.
Narra menoleh. Andra tersenyum kearahnya.
"kamu kenapa di luar sayang ?" tanya Andra seraya mendekat lalu menyelipkan rambut Narra di telinga.
"aku hanya jalan-jalan saja ka Nda" jawab Narra.
Dia tidak ingin Andra mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"ini baju siapa ?" tanya Andra mengamati pakaian Narra yang sudah berganti.
"Imel yang meminjamkannya" jawab Narra.
Andra mangut.
"masih mau disini atau kita pulang ?" tanya Andra lagi.
Narra berpikir, Andra tidak boleh tahu kalau di dalam ada Ardhan. Nanti kekasihnya itu akan berpikir yang tidak-tidak. Bisa emosi lagi.
"kita pulang saja ka Nda sayang, tapi ka Nda tunggu di mobil ya. Aku hanya sebentar ambil tas" kata Narra.
Andra sedikit merasa aneh tapi dia tidak mau menaruh curiga kepada kekasihnya.
"baiklah" dia mencium kening Narra kemudian berlalu menuju mobilnya.
Narra menghela nafas. Dia bergegas masuk kedalam.
Pertandingan antara team Ardhan dan Imel masih berlangsung. Narra menunggu momen Imel menoleh kearahnya. Saat Imel menoleh, Narra melambaikan tangan dan memberi tanda akan menelfonnya. Imel mengerti lalu membalas lambaian tangan Narra.
Narra segera pergi karena dia melihat kalau Ardhan juga menoleh kearahnya.
Narra bergegas masuk kedalam mobil.
"sudah sayang ?" tanya Andra.
__ADS_1
Narra mengangguk, dia mencoba bersikap biasa.
Andra pun melajukan mobilnya keluar dari area parkir gedung olahraga milik klub basket keluarga Imel itu.
*
Mobil Andra menepi di depan rumah Narra.
"terima kasih ka Nda, mau masuk dulu ?" tawar Narra.
"tidak usah sayang, kamu baru pulang pasti capek. Bersih-bersih dulu trus istirahat sedikit. Nanti setelah makan malam aku hubungi kamu ya. Aku mesti balik kerumah sakit, pasienku masih belum stabil jadi masih perlu pengawasan khusus" jelas Andra.
"kalo ka Nda sibuk, aku tadi bisa pulang naik taksi online atau pulang sama-sama Imel. Aku tidak mau kerjaan ka Nda terganggu karena aku" Narra merasa bersalah.
"justru aku senang bisa antar jemput kamu karena waktu ketemu kita yang terbatas jadi begitu ada kesempatan sedikit waktu ketemu ya aku akan usahakan sayang" balas Andra.
"aku mengerti ka Nda" ucap Narra.
Andra menangkup wajah Narra.
"aku baik-baik saja, kamu itu semangat aku" katanya.
"terima kasih ka Nda" ucap Narra.
Andra mencium kening Narra kemudian Narra membalas mencium pipi Andra.
"bye sayang" ucap Andra.
"bye ka Nda sayang" balas Narra.
Narra pun turun dari mobil kemudian melambaikan tangan pada Andra. Dan seperti biasanya, Andra akan melaju begitu Narra masuk kedalam rumah.
*
Narra duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Dia memikirkan kejadian tadi, dia sudah menyembunyikan pertemuannya dengan Ardhan. Kalau Andra tahu hal itu dari orang lain, tentu dia akan berpikir yang tidak-tidak tapi kalau dia memberitahu, pastinya Andra akan langsung emosi saat itu juga. Serba salah, semua pilihan hanya membuat Andra emosi.
Pesan masuk dari Alex.
Aku sudah tau siapa yang mengirim foto itu. Arini Purnama Kusuma, adik Ardhan Pratama Kusuma.
Narra menghela nafas.
Mungkin Arini disuruh papanya untuk melakukan itu. Tapi kenapa dia mengirimnya untuk Andra, apa hubungannya. Pikir Narra.
Terima kasih ka Alex.. aku hanya tidak mengerti kenapa Arini mengirim foto itu untuk ka Nda. Setahuku dia dan keluarganya dari dulu tidak suka sama aku, tapi kan sekarang aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Ardhan.
Narra mengirim pesan pada Alex.
Tak lama, Alex membalas.
Aku tidak berhak kasih tahu tentang itu sama kamu. Andra yang lebih berhak dan kamu harus percaya sama dia.
Narra berpikir, apa ada sesuatu antara Arini dan Andra ? Dia harus mencari tahu tentang itu.
Narra kembali mengirim pesan pada Alex.
Terima kasih ka Alex... sebaiknya ka Nda tidak tahu tentang hal ini karena akan membuat dia emosi.
Alex membalas.
Iya, sebaiknya kamu berhati-hati Na.
Narra membalas.
Iya kak, terima kasih..
Narra melihat jam dinding kamarnya, sudah jam sembilan lewat biasanya Andra sudah menghubunginya. Tapi dari selesai makan malam tadi, tidak ada pesan maupun telfon.
Apa sebaiknya, aku ke rumah sakit saja. Pikir Narra.
Dia segera bersiap-siap, setelah itu dia menuju ke kamar ayah dan ibunya.
Narra mengetuk pintu kamar Ayahnya, dia hendak meminjam kunci mobil.
"kamu mau kemana ?" tanya ayah Sasmita.
"aku hanya ingin membawakan makan malam untuk ka Nda. Tidak lama kok yah, setelah itu aku pulang"
"iya, hati-hati" ujar ayah Sasmita seraya menyerahkan kunci mobil.
"iya yah, Narra pergi" Narra mencium punggung tangan ayahnya lalu masuk kedalam mencium punggung tangan ibunya.
Di ruang tengah, dia bertemu Rayyan yang baru saja dari dapur mengambil minum.
"mau kemana ?" tanya Rayyan.
"mau kerumah sakit kak"
"hati-hati" seru Rayyan.
"iya kak" pamit Narra.
*
Narra menuju ruangan Andra tetapi baru saja hendak mengetuk pintu, suster jaga mencegahnya.
"maaf nona, dokter Andra berada di ruang inap nyonya Melani Richard" kata suster itu.
"aku bisa kesana ?" tanya Narra.
"bisa, silahkan. Ruangan VVIP 1" terang suster itu.
"terima kasih" Narra beranjak menuju ruangan yang dimaksud sambil menenteng kotak makanan yang di belinya di restorant favorit Andra sebelum menuju kesini.
Ruangan yang dituju Narra di jaga dua orang bodyguard. Narra ragu untuk melangkah maju.
"maaf, anda cari siapa ?" tanya bodyguard yang berdiri di sebelah kanan Narra.
"mencari dokter Andra" jawab Narra dengan terbata.
"nama anda ?" tanyanya lagi.
"Ranarra Sasmita" efek gugup membuat Narra menyebut nama lengkapnya.
"tunggu sebentar" dia lalu pamit masuk kedalam setelah mengetuk pintu.
Tak lama bodyguard itu keluar dan mempersilahkan Narra masuk kedalam.
Di dalam ruangan ada dokter Hadinata, dokter Serena, Andra, seorang lelaki yang seumuran dokter Hadinata dan wanita berbaju pasien yang sedang terbaring. Semua memandang kearahnya.
"maaf, aku mengganggu. Sebaiknya aku menunggu di luar" ucap Narra.
"tidak apa sayang, kami hanya berbincang biasa. Maaf ya, kami menyita waktu Andra" ujar dokter Serena.
"kenalkan Na, ini Richard dan istrinya Melani. Mereka berdua kawan lama kami" ujar dokter Hadinata.
Narra menyalami tuan Richard lalu mendekat pada nyonya Melani untuk melakukan hal yang sama.
Wanita itu mengeluarkan air matanya.
"sayang, kamu jangan bersedih. Mata kamu baru saja sembuh. Jangan membebani pikiranmu" tegur tuan Richard mendekat pada istrinya.
Dia memeluk dan mengusap rambut istrinya.
"maaf nyonya, apa aku menyakiti nyonya ?" Narra tidak mengerti.
Nyonya Melani menggelengkan kepala.
"tidak sayang, kamu mengingatkanku pada putraku. Kalo dia ada disini, usianya sama dengan kamu" katanya.
Narra meraih tangan nyonya Melani.
__ADS_1
"semuanya akan baik-baik saja nyonya" entah kenapa, hanya kalimat itu yang terlintas dalam pikiran Narra. Padahal dia tidak tahu hal apa yang terjadi.
"terima kasih sayang, jangan memanggilku nyonya. Panggil kami tante dan om. Sama seperti Andra memanggil kami" balas nyonya Melani seraya menutup tangan Narra yang memegang tangan kanannya dengan tangan kirinya.
Tuan Richard tersenyum. Dia merasa Narra berhasil membuat istrinya tenang.
Narra tiba-tiba merasa tidak asing dengan senyum tuan Richard. Sepertinya senyum itu sangat familiar baginya.
"ayah bunda, om Richard tante Melani... Andra dan Narra pamit duluan. Sepertinya Narra membawakan Andra makanan" pamit Andra.
"ya ya, pantas saja tadi kamu tidak mau makan bersama kami. Ternyata kamu menunggu makanan dari Narra" seru dokter Hadinata.
Narra hanya tersenyum. Padahal dia tidak memberi tahu Andra kalau mau datang kerumah sakit dan membawa makanan. Semua inisiatif mendadak.
Setelah menyalami semuanya, Andra dan Narra keluar dari ruang inap nyonya Melani.
Andra mengambil alih kantongan yang di bawa Narra di tangan kanannya sementara tangan kirinya mengamit jemari tangan kanan Narra. Mereka berjalan bergandengan tangan sampai depan ruangan Andra.
Andra membukakan pintu dan mempersilahkan Narra masuk duluan.
*
Setelah makan berdua dengan Andra yang memaksa untuk menyuapinya, Narra membersihkan sisa makanan mereka. Dia membuang sampahnya di tempat sampah di sudut ruangan. Lalu melap meja dengan tisu.
Andra menghentikan gerakan tangan Narra.
"sudah sayang, nanti ada yang bersihkan" katanya.
"cuma sedikit ka Nda, tidak apa" sergah Narra.
Andra lalu menarik tangan Narra menuju wastafel. Mereka membersihkan tangan mereka bersama.
"kenapa kamu tidak kasih tau kalo mau kesini, aku bisa jemput" kata Andra saat mereka sudah kembali duduk di sofa.
Andra menarik Narra duduk bersandar padanya.
"aku tiba-tiba saja ingin kesini, mungkin karena rindu" nada suara Narra pelan pada kalimat terakhir.
Andra memandangnya tapi dia menunduk seolah tidak tahu. Dia tersipu malu.
"aku juga rindu" balas Andra.
Dia mengusap kepala Narra. Kekasihnya itu masih saja malu terhadapnya.
"trus kamu kemari naik motor ? bahaya sayang" katanya.
Narra menggeleng.
"aku pinjam mobil ayah" jawab Narra memandang Andra.
Andra kaget, dia terbayang bagaimana Narra mengemudi mobil balap Erga.
Dia menggeleng kuat.
"aku takut membayangkan kamu menyetir sayang" katanya.
"tenang ka Nda, tadi aku bawa mobilnya masih batas normal. Kecepatan sedang" sahut Narra.
"yakin ?!" tegas Andra.
"iya ka Nda sayang" Narra meyakinkan.
"ka Nda sayang, boleh aku bertanya ?" ucap Narra lagi.
"apa sayang ?" jawab Andra seraya merapikan rambut Narra yang menutup sekitar mata. Dia menyelipkannya di telinga.
Dia semakin merapatkan posisi mereka berdua.
"putra tante Melani kemana ?" tanya Narra, dia merasa nyaman dengan posisi mereka sekarang.
"putra mereka hilang saat masih bayi, setelah kejadian itu tante Melani kehilangan penglihatannya karena kondisinya belum pulih setelah melahirkan. Shock yang beliau alami merusak saraf-saraf matanya" jelas Andra.
"kasian tante Melani. Trus apa mereka masih mencari anaknya ?" tanya Narra lagi.
"mereka tidak pernah putus asa mencari. Sampai sekarang mereka berusaha dan harapan untuk bertemu putranya yang membuat tante Melani berobat sampai sembuh" jelas Andra.
"semoga putra mereka segera ketemu" ucap Narra.
"Aamiin" ucap Andra.
Narra teringat Faya, kisah putra tante Melani seperti yang dialami Faya. Tapi hal ini terlalu serius untuk sekedar di duga-duga. Harus perlu dibuktikan dulu. Dan mungkin saja, bukan kejadian yang sama.
"sayang, kenapa ?" tanya Andra.
"tidak apa ka Nda" jawab Narra.
"aku merasa ada yang sedang kamu pikirkan. Kamu tiba-tiba terdiam" jelas Andra.
"aku baik-baik saja, kalo ada apa-apa aku akan bilang ke ka Nda" ucap Narra.
"baiklah, aku hanya khawatir sama kamu" kata Andra.
Narra mengangguk, "aku mengerti ka Nda" katanya.
Narra melihat jam dinding di ruangan Andra.
"sudah hampir tengah malam, aku pamit pulang ya" sahut Narra.
"ya sudah, aku juga siap-siap. Praktekku sudah selesai, aku kawal kamu pulang" kata Andra.
"iya ka Nda sayang" ucap Narra.
Andra pun beranjak menuju ke meja kerjanya, dia merapikan berkas data pasien dan menyusunnya rapi di keranjang file.
"ayo sayang, kita pulang" ajak Andra.
Narra mengangguk.
Mereka keluar dari ruangan Andra.
Andra meminta Narra menunggu sebentar, dia lalu menghampiri meja jaga, menuliskan sesuatu disana pada berkas yang disodorkan perawat jaga.
Tak lama Andra kembali menghampiri Narra dan mengajaknya pulang.
*
Andra mengawal Narra pulang kerumah. Setelah itu dia pamit pulang.
Narra menghela nafas memandang cermin di wastafel kamar mandinya. Dia tidak sempat bertanya tentang hubungan Arini dan Andra. Hal itu menambah penasaran dan mengganggu pikirannya.
"aku bingung harus memulai dari mana" ucap Narra.
Narra hanya menggeleng lalu bergegas bersih-bersih. Dia keluar dari kamar mandi sudah dengan mengenakan piyama tidurnya begitu ponselnya berdering.
Panggilan video dari Andra.
"iya ka Nda" Narra tersenyum.
"dari mana sayang ?" tanya Andra, dia tampak sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"dari bersih-bersih ka Nda" jawab Narra.
Mereka pun berbincang sampai Narra terlihat mengantuk. Andra tersenyum.
"kita tidur sayang, besok aku jemput ya" katanya.
"iya ka Nda sayang" ucap Narra.
Andra lalu meniupkan ciuman kearah Narra dan di balas Narra dengan hal yang sama.
Panggilan dimatikan.
__ADS_1
Narra mengatur bantalnya lalu mematikan lampu serta menarik selimut. Dia terlelap.
***