FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 14.1


__ADS_3

Narra mendatangi Sheva di restorant hotelnya. Sahabatnya itu mengajaknya bertemu berdua sekalian makan siang.


"hai Shev, kenapa pake rahasia ketemunya ?" tanya Narra seraya duduk di kursi pada meja yang sudah Sheva siapkan.


Sheva yang sudah menunggu hanya memamerkan senyumannya. Dia memanggil pelayan untuk menyiapkan menu yang sudah dia pesan untuk mereka berdua.


"aku sudah pesan menunya, kamu tidak keberatan kan ?" tanya Sheva.


Narra menggeleng, "kamu sudah tau aku sukanya apa" katanya.


"tentu saja, aku sudah pesan paket makan siang untuk dua orang" ujar Sheva.


Narra mangut.


"Shev, Faya bagaimana ?" tanya Narra.


"Faya baik, dia sudah mulai kembali masuk kerja. Dia bersemangat dengan proyeknya dan mengesampingkan pencarian orang tuanya. Hanya saja, dia blum mau pulang kerumahnya" jelas Sheva.


"aku mengerti, ini berat untuk Faya" Narra mangut.


Dua orang pelayan datang dengan makanan yang tersusun di meja dorong. Mereka menyajikan hidangan lalu pamit pada CEO mereka.


"makan dulu Na" Sheva mempersilahkan.


Narra mengangguk.


Tiba-tiba ponsel Narra berdering. Dari private number lagi.


Narra mengganti nada deringnya ke mode silent. Panggilan itu mengganggunya, dia tidak ingin menjawabnya.


Sheva memperhatikan sahabatnya, "siapa Na ?" tanyanya.


"Ardhan" jawab Narra pendek.


"masih berani dia hubungi kamu ?" tanya Sheva emosi.


"aku sudah blokir nomornya, sekarang dia pake private number" kata Narra.


"apa maunya ?" tanya Sheva antusias.


"dia mau ketemu, katanya ada yang mau dia jelaskan" Narra mengangkat bahu.


"trus kamu mau ketemu dia ?" tanya Sheva.


"aku tidak tau tapi ka Nda melarangku untuk bertemu dengan Ardhan. Bahkan dia yang mau ketemu Ardhan" jelas Narra.


"kak Andra sayang sekali sama kamu Na" komen Sheva.


"iya Shev, aku merasakannya. Hanya saja aku tidak mau kisah ini sama seperti dengan Ardhan. Perbedaan kami sangat jelas Shev" ucap Narra lirih.


"Na, percaya sama aku. Kali ini tidak akan sama, karena kak Andra akan pertahankan kamu" jelas Sheva.


"iya Shev, ka Nda sudah sering meyakinkan aku tapi aku masih meragukannya" ucap Narra memandang Sheva.


"jangan terpuruk dengan masa lalu. Kamu punya keluargamu dan kamu punya kami. Semua akan baik-baik saja" nasehat Sheva.


Narra mengangguk.


Sementara itu,


Andra dan Alex memasuki Italiano Hotel tempat Narra dan Sheva bertemu. Mereka akan bertemu relasi bisnis yang baru datang dari negara C untuk membicarakan kerjasama. Relasi itu menginap di salah satu kamar VVIP dan pertemuannya akan dilakukan di cafe dekat kolam renang hotel yang melintasi restorant. Andra tidak tahu kalau hotel ini milik keluarga Sheva, sahabat Narra.


Mereka juga tidak saling melihat karena Narra tengah menikmati makan siangnya sementara Andra melihat file yang diperlihatkan Alex.


"jadi apa tujuan makan siang ini ?" tanya Narra akhirnya.


"kamu tidak sabaran, selesaikan dulu makan siangnya baru kita bicara" kata Sheva.


"baiklah" Narra melanjutkan makannya.


*


Narra memandang Sheva tidak percaya.


Sheva membuat pengakuan yang mengejutkan. Dia menyukai salah satu dari trio cewek Friends. Dari dulu dia memendam perasaannya.


"selama itu Shev ?!" komen Narra seraya menikmati es cream coklat mocca favoritnya yang menjadi sajian penutup makan siang mereka.


"iya, dan sepertinya sekarang aku akan terus terang. Kamu bantuin aku ya" katanya seraya mengenggam tangan Narra.


Narra hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa.


Andra dan Alex selesai dengan pertemuannya. Mereka melintasi restorant hotel.


Langkah Andra terhenti karena apa yang dilihatnya.


Alex yang berada di belakang Andra ikut berhenti dan melihat apa yang membuat bossnya berhenti tiba-tiba.


Sheva mengenggam tangan dan menatap Narra seraya tersenyum.


"Narra ?!" ucap Andra.

__ADS_1


Narra tidak memberitahu dia tentang ini. Setahunya Narra berada di kantor.


Andra meraih ponselnya, dia menghubungi Narra tapi kekasihnya itu tidak merespon. Dia masih berbincang dengan Sheva begitu akrab.


"kenapa kamu tidak jawab telfonnya ?! apa karena bersamanya, kamu melupakan aku ?!" ucap Andra lagi.


Alex hanya mendengarkan. Dia tidak berani memberi komentar.


Andra berjalan cepat menghampiri mereka.


"sayang" sapa Andra.


Narra menoleh, Andra kini berdiri disampingnya.


"ka Nda ada disini ?" tanya Narra.


"aku ada meeting disini" jawab Andra, nadanya begitu datar.


Perasaan Narra mengatakan, ada yang salah pada dirinya. Sheva merasa ada aura tidak baik melalui tatapan tajam Andra padanya.


"kamu sudah lama disini ?" tanya Andra.


"iya, Sheva mengundang makan siang" jawab Narra.


"berdua ?" tanya Andra memandang Sheva.


"iya, karena ada yang aku bicarakan dengan Narra" Sheva menjawab.


"baiklah, aku kembali ke kantor duluan. Kamu baik-baik sayang" Andra pamit.


"iya ka Nda" ucap Narra.


Dia mengelus rambut Narra kemudian mencium kening Narra lalu berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi bahkan dia tidak pamit pada Sheva.


Alex tersenyum pada Narra dan Sheva lalu mengikuti Andra.


Narra dan Sheva saling pandang. Mereka menyadari ada sesuatu yang salah.


*


Andra menghempaskan badannya dengan kasar di kursi belakang.


Alex yang duduk di bangku kemudi memandang Andra lewat kaca spion dalam.


"kita ke kantor sekarang Lex" pinta Andra.


"baik" sahut Alex.


Kali ini Andra meminta Alex jadi supirnya karena semalam dia kurang tidur.


Semalam juga dia hanya mengucap selamat tidur pada Narra. Tidak ada pembicaraan lain lagi.


Mobil Andra berhenti di depan lobby HM Farma. Andra segera keluar dan menutup pintu mobil dengan kasar. Para keamanan dan karyawan yang berada disitu kaget dan memandang boss mereka yang masuk dengan langkah cepat dan acuh.


Alex menghela nafas, dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


*


Andra kembali membuat ruang kerjanya berantakan. Dia menyapu meja kerjanya dengan kedua tangannya.


Alex segera masuk. Ini seperti dugaannya. Kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi. Andra sangat marah sekarang.


Sebagai orang yang dari kecil sudah diberi tugas untuk mendampingi Andra, Alex tahu tentang masa lalu dan tentang trauma Andra.


"bro tenang" kata Alex.


"keluar Lex !!" bentak Andra.


"boleh aku bicara" ujar Alex.


Andra memandang Alex tajam.


"bicara apa ?" tanyanya kasar.


"Narra itu sangat sayang sama kamu, tidak mungkin dia main-main sama kamu" ujar Alex.


"bagaimana kamu tau, tadi kamu liat sendiri bagaimana mereka berdua disana" balas Andra.


"mereka bersahabat. Hanya itu" sahut Alex.


"tapi Narra membiarkan dia menyentuhnya. Mereka saling mengenggam" bentak Andra lagi.


Alex menghela nafas. Tidak mudah bicara dengan orang yang sudah diselimuti emosi.


"kamu masih ingat saat dia datang membawakan bekal ?"


Andra memandang Alex.


"dia berlari dari dalam gedung ke parkiran dan mengejar mobil kamu yang melaju mendekati gerbang. Dia terus berlari sampe akhirnya dia kecapean. Kalo saja aku tidak ada disana, mungkin dia akan terus mengejar mobil kamu" jelas Alex.


"dia bisa sesak nafas, kenapa kamu tidak kasih tau aku" sergah Andra.

__ADS_1


"Narra yang tidak mau aku bilang sama kamu, sekarang aku jelaskan karena aku tidak mau kamu salah" lanjut Alex.


Andra terdiam.


"kalo kamu ingin menyakiti diri kamu sendiri tanpa bertanya, Narra bisa lebih sakit lagi" Alex menepuk pundak Andra lalu beranjak keluar ruangan.


Andra menyapu pajangan di dekatnya dengan tangannya. Emosinya meledak sekarang. Tepi tangannya berdarah terkena serpihan kaca tapi Andra tidak merasakan nyerinya. Hatinya yang nyeri sekarang.


Tempo hari Faya, mantan Narra, dan sekarang Sheva. Apakah dia akan terus merasa kalau Narra akan meninggalkannya. Dia tidak mau itu terjadi. Dia tidak akan sanggup, kali ini cintanya lebih besar dari sebelumnya. Dia sudah tidak perduli dengan masa lalunya, semua sudah terkubur semenjak dia jatuh cinta pada gadis manis yang dia temui pertama kali bertemu Rea di rumah sakit. Saat kekasih adiknya itu di rawat karena asam lambung yang di idapnya.


Andra jatuh cinta pandangan pertama pada Narra. Dia selalu mencari cara agar bisa bertemu Narra lagi saat Narra datang untuk menemani Rea di rumah sakit. Begitu rumit jalan cerita Andra untuk mendapatkan respon dari Narra karena gadis itu menutup diri.


Sampai akhirnya dia berani untuk meminta Narra menunggunya.


Apa cintanya tidak cukup untuk membuat Narra hanya ada untuknya. Dia tidak mau Narra membagi perhatiannya.


Cinta Andra begitu egois dan posesif.


"aku akan segera melamarnya, menjadikan dia hanya milikku" ucap Andra tegas.


Dia meraih bingkai foto di meja kerjanya. Foto berdua dengan Narra sewaktu di taman kota sebelum dia pergi ke negara J. Andra merangkul Narra dan tersenyum kearah kamera.


Andra sangat bahagia waktu itu karena Narra menerima pernyataan cintanya. Dan rasa itu semakin hari bertambah semenjak bersama Narra.


*


Sheva mengantar Narra ke parkiran motornya.


Narra masih kepikiran Andra dan Sheva tahu itu.


"maaf Na, aku tidak tau akan seperti ini" Sheva merasa bersalah.


"tidak apa Shev, memangnya apa yang salah. Kita sahabat, kita hanya makan siang. Itu saja" sahut Narra seraya memakai helmnya.


"tapi kak Andra melihatnya tidak seperti itu" sergah Sheva.


"sudahlah, tidak usah dipikirkan. Semua akan baik-baik saja. Bye Shev" pamit Narra.


"bye Na" Sheva memandang Narra yang perlahan menjauh menuju gerbang.


Narra berusaha fokus berkendara. Pikirannya terus tertuju pada Andra. Dia takut Andra akan melukai dirinya lagi. Dia sangat khawatir sekarang.


Dan tadi begitu dia membuka ponselnya ada panggilan dari Andra yang tidak di jawabnya karena ponselnya dalam mode silent.


Kak Andra pasti marah sekarang. Pikir Narra.


"aaaaaa !!!" teriak Narra.


Dia hampir saja menabrak kucing yang melintas. Dia mencoba menghindar dan membelokkan motornya hingga akhirnya menabrak pohon.


Narra tidak terjatuh, dia bisa menyeimbangkan motornya lagi. Hanya saja bagian depan motornya rusak.


Dia bersyukur masih baik-baik saja dalam kecelakaan tunggal itu.


Orang-orang mendatangi Narra dan menanyakan keadaannya. Narra mengatakan dia baik-baik saja dan mereka pun pergi setelah memastikan sendiri.


Narra meraih ponselnya. Dia menghubungi kakaknya.


"iya Na" suara Rayyan.


"kak, aku mengalami kecelakaan tunggal" ucap Narra.


"apa ? bagaimana keadaanmu ?" Rayyan terkejut.


"aku baik-baik saja, motorku yang rusak depannya" jelas Narra.


"syukurlah, kamu share lokasi kamu. Kakak segera kesana"


"iya kak, jangan kasih tau ayah dan ibu. Nanti mereka khawatir" Narra mengingatkan.


"iya, kamu tenang saja. Kakak tidak akan kasih tau siapa-siapa sebelum liat sendiri kondisi kamu" ucap Rayyan.


Panggilan dimatikan. Narra segera mengirim lokasinya pada kakaknya.


Selang beberapa lama Rayyan datang dengan salah satu teman kerjanya.


Rayyan memeluk adiknya.


"ada yang luka ?" Rayyan melepas pelukannya lalu memeriksa Narra.


Narra menggeleng, "aku baik-baik saja" ucapnya.


"motornya hanya rusak bagian depannya. Yang lain aman" lapor Rasta, teman kerja Rayyan.


"baiklah, bawa ke bengkel. Kamu mau kemana ?" tanya Rayyan pada adiknya.


"aku mau kembali ke kantor kak" jawab Narra.


"kakak antar kamu ke kantor, Rasta akan membawa motor kamu ke bengkel. Nanti pulangnya kakak jemput lagi. Oke ?"


"iya kak" Narra menurut.

__ADS_1


Narra naik ke motor raccing milik Rayyan lalu mereka pamit pada Rasta dan berlalu dari sana.


***


__ADS_2