FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 90


__ADS_3

Mereka sampai di pelataran parkir khusus rumah sakit. Narra hendak turun dari mobil tapi Andra melarangnya. Dia segera keluar lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"terima kasih ka Nda" ucap Narra.


Andra lalu mengulurkan tangannya. Narra tersenyum, lalu meraih tangan suaminya. Mereka masuk kedalam dengan bergandengan tangan.


Security dan perawat yang mereka jumpai menyapa dengan sopan. Andra dan Narra membalas sapaan mereka lalu tersenyum satu sama lain. Mereka lalu masuk kedalam lift khusus.


"kamu mau ikut keruanganku atau langsung keruang inap Faya ?" tanya Andra sebelum menekan tombol panel.


"aku langsung kesana saja ka Nda. Boleh ya" kata Narra.


"baiklah" kata Andra mengusap puncak kepala Narra


Dia lalu menekan lantai ruang inap Faya.


Andra terus menggenggam tangan istrinya sampai lift itu terbuka. Dia juga mengantar Narra sampai ke pintu ruangan Faya.


Tampak dua orang bodyguard duduk di bangku koridor ruang inap Faya. Begitu melihat Andra, mereka beranjak berdiri lalu membungkuk hormat.


"sore tuan Andra" sapa mereka.


Andra membalas sapaan mereka seraya mengangguk.


"masuklah, nanti aku akan kesini untuk memeriksa Faya" katanya pada Narra.


Narra mengangguk.


Andra lalu mencium kening Narra lalu menatapnya seraya mengusap pipi istrinya itu.


"nanti kita bicara ya, aku tidak mau kamu kepikiran sesuatu" katanya.


Lagi-lagi Narra mengangguk.


"aku masuk ya ka Nda" ucap Narra.


Kali ini Andra yang mengangguk.


Narra masuk kedalam ruang inap Faya. Setelah Narra masuk, Andra pun masuk kembali kedalam lift. Dia menuju ruang kerjanya setelah itu menuju ruang praktek untuk menerima pasien. Setelah prakteknya selesai baru dia akan berkeliling melihat pasiennya yang dirawat.


*


Narra masuk kedalam ruang inap Faya. Disana sudah ada Sheva dan mama Maya.


Setelah mengalami kritis dan operasi yang begitu menegangkan, Faya akhirnya sadar. Dia juga sudah memberi keterangan pada polisi tentang kecelakaan yang menimpanya.


Dia minta maaf pada Narra dan Narra memaafkan. Hanya satu yang belum Faya ketahui, tentang kedua orang tua kandungnya.


Walaupun Richard dan Melani sudah datang menjenguk tapi mereka belum mau bicara apa-apa sebelum hasil tes DNA keluar.


Dan tentu saja Faya merasa sedikit heran karena sepasang suami istri itu datang menjenguknya. Tapi mama Maya menjawab karena Richard yang sudah mendonorkan darah pada Faya.


"Na, kak Andra baik-baik saja kamu kesini ?" tanya Faya.


"tidak apa, kenapa ?" tanya Narra.


"tidak apa, aku hanya tidak ingin ada masalah. Aku minta maaf pada kalian berdua" kata Faya.


"sudahlah Fay, kita lupakan semuanya" kata Narra.

__ADS_1


Faya mengangguk.


Sekarang, Faya hanya ditemani Narra dan Sheva karena mama Maya tadi pamit pulang kerumah untuk memasak makanan kesukaan Faya. Sedangkan papa Farid, mengurus usaha percetakannya.


Pintu ruangan Faya diketuk. Tampak Andra masuk bersama dua orang suster. Mereka akan memeriksa Faya.


Andra bersikap profesional, dia menjalankan tugasnya dengan baik.


"apa ada keluhan ?" tanya Andra.


"hanya sedikit pusing dan nyeri di dada dok. Tapi apa kaki dan tangan saya bisa normal kembali dok ? Soalnya saya masih susah untuk menggerakkannya. Masih terasa ngilu" ujar Faya.


"mengenai pusing dan nyeri di dada itu wajar karena benturan yang kamu alami. Dan untuk tangan dan kakimu, kamu akan menjalani terapi agar bisa berjalan normal kembali" jelas Andra.


"terima kasih dok" ucap Faya.


"saya akan memeriksa pasien lain, permisi" pamit Andra.


Sebelum dia keluar, dia berbalik kepada istrinya.


"kamu tunggu disini saja, nanti aku jemput kesini" katanya.


"iya ka Nda" ucap Narra.


*


Narra dan Sheva duduk di bangku koridor depan ruangan Faya. Tadi setelah Faya tertidur, mereka meninggalkannya untuk bicara.


"mereka bodyguard yang ditugaskan ayah mertuamu ?" tanya Sheva.


Narra mengangguk karena Andra sudah menceritakan tentang kekhawatiran bahaya yang mengancam Faya.


Mereka lalu membicarakan tentang tes Faya dan juga tentang cerita Desta adanya orang yang terus mengawasi Faya.


"aku juga berharap begitu dan sepertinya mereka sudah tau kalo kita curiga. Kata Desta dia sudah tidak melihat orang itu lagi dalam rumah sakit tapi dia masih terlihat di taman rumah sakit" jelas Sheva.


Mereka berdua memandang sekelilingnya, mereka merasa Faya aman karena ada bodyguard yang menjaga di luar ruangannya.


"hmmm tentang kak Andra, aku melihat dia sudah tidak seposesif dulu lagi" kata Sheva.


"masih sama cuma sekarang dia bisa mengendalikan emosinya" kata Narra.


"aku harap kamu selalu bahagia" kata Sheva.


"terima kasih, aku harap kamu juga" balas Narra.


Imel datang menghampiri mereka.


"kalian kenapa di luar ?" tanyanya.


"Faya sedang tidur jadi kami duduk santai di luar" jawab Sheva.


Imel mangut.


"kalo begitu, aku duluan ya. Aku keruangan ka Nda dulu" kata Narra seraya beranjak.


"tadi bukannya kak Andra bilang kalo dia akan menjemputmu disini ?" sergah Sheva.


"aku saja yang kesana soalnya aku mau cepat pulang, ada yang mau aku beli" kata Narra.

__ADS_1


Dia lalu menempelkan pipinya pada pipi Imel.


"kamu kok pulang Na, aku baru datang" Imel cemberut.


"maafkan aku, tapi aku ada keperluan. Ada Sheva juga, kamu ada temannya disini. Salam untuk Faya, aku pamit ya" katanya.


Dia melirik pada Sheva seraya melambaikan tangan lalu berjalan menuju lift.


Narra sengaja meninggalkan Sheva dengan Imel karena mereka sepertinya perlu bicara. Dia ingin sikap keduanya bisa seperti biasanya. Seperti dulu lagi sebelum kejadian tentang perasaan itu.


*


Sesampainya di ruang kerja suaminya, ternyata suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya mencatat di beberapa berkas data pasien. Dia pun menunggu sambil main ponsel di sofa.


Andra memandang istrinya.


"aku bilang, aku akan menjemputmu kesana" katanya.


"aku ingin memberi ruang Sheva dan Imel bicara" kata Narra.


Andra mangut.


"kita akan pulang kerumah Hadinata. Tadi bunda minta kita makan malam disana dan mungkin akan menginap" jelas Andra dengan posisi masih fokus membaca berkas di depannya.


"baiklah" sahut Narra lagi.


*


Narra dan Andra sampai di rumah Hadinata. Ternyata bukan hanya ada mereka berdua yang di minta datang tapi ada Rea juga.


Rea menarik tangan Narra untuk bicara sebentar di taman sebelum makan malam.


"ada apa Re ?" tanya Narra.


"media sudah tau tentang kecelakaan Faya. Aku dan bang Keenan sudah dimintai konfirmasi. Aku takut kalo tentang Faya dan kedua orang tua kandungnya juga akan tercium media" ujar Rea.


"kita harus menyimpan masalah ini sampai hasil tesnya keluar dan juga Faya jangan dulu sampai tau karena dia pasti akan shock dengan cerita sebenarnya tentang dia" sahut Narra.


"aku mengerti tapi media pasti akan terus mencari informasi di rumah sakit" kata Rea.


"tenang saja, ayah Hadinata sudah mengatur semuanya. Media tidak akan bisa menerobos masuk kedalam rumah sakit" balas Narra.


Rea mangut.


"kenapa kamu tidak ingin Indra mendengar pembicaraan kita ?" tanya Narra.


"dia masih sensitif jika aku membahas Faya. Sepertinya sifat cemburu kak Andra menular pada Indra" Rea terkekeh.


"hus ! Nanti kak Andra dengar" sergah Narra.


Andra menghampiri mereka. Dia merangkul pundak Narra.


"kalian berdua di panggil bunda, kita makan malam bersama" katanya.


"oo aku masuk duluan Na" pamit Rea.


Narra mengangguk.


"ayo" ajak Andra pada istrinya.

__ADS_1


Narra mengikuti langkah suaminya masuk kedalam rumah. Mereka makan malam bersama.


***


__ADS_2