
Andra mengusap puncak kepala Narra. Mereka berdua bersandar di tempat tidur.
Malam ini mereka akan menginap di rumah Sasmita karena tadi ayah Sasmita meminta agar mereka menginap.
Andra tidak bisa menolak keinginan mertuanya, dia setuju.
Setelah membersihkan diri, Andra mengambil pakaiannya yang sudah Narra siapkan. Dia sengaja menyimpan beberapa pakaiannya dalam lemari Narra agar tidak repot kalau mereka akan menginap seperti sekarang ini.
"ka Nda yakin tidak makan lagi ?" tanya Narra.
Andra menggeleng.
"tidak sayang, aku masih kenyang. Kita langsung tidur saja ya" katanya.
Narra mengangguk.
Sebenarnya dia ingin bercerita tentang kejadian hari ini tapi karena Andra pulang larut malam dan kelihatan lelah, dia menundanya esok hari.
Andra merebahkan tubuhnya kemudian disusul Narra disebelahnya. Andra memeluk istrinya. Mereka berbaring miring dalam posisi berhadapan.
"istirahatlah, aku tau kamu ingin menyampaikan sesuatu tapi aku bisa menunggunya" kata Andra.
Narra tersenyum. Dia mengecup bibir suaminya.
"terima kasih ka Nda" katanya.
"sama-sama sayang" balas Andra seraya melakukan hal yang sama.
Andra merapatkan diri lalu meraih Narra kedalam pelukannya. Perlahan Narra memejamkan matanya. Dia tertidur nyenyak dalam pelukan suaminya.
*
Andra sarapan pagi bersama keluarga mertuanya. Narra dengan telaten melayani suaminya seperti ibunya melayani ayahnya.
Rayyan tersenyum melihat perlakuan adiknya.
"kamu jangan hanya senyum saja, kamu itu kapan akan diperlakukan begitu oleh istrimu" tegur ayah Sasmita.
"nanti kalo sudah waktunya yah" sahut Rayyan.
"Ray, sebenarnya ada wanita yang kamu suka ?" tanya ibu Flanella.
"maksud ibu bagaimana ?" tanya Rayyan tidak mengerti.
"ya maksud ibu, kamu lagi menyukai seseorang tapi kamu belum mau memperkenalkan dia pada kami" terang ibu Flanella.
"belum ada bu, nanti kalo ada Rayyan pasti akan membawanya kerumah ini" jawab Rayyan.
"beneran Na ?" tanya ibu Flanella pada putri bungsunya.
Narra yang ditanya langsung tergagap.
"iya bu" jawab Narra.
"kenapa ibu tanya Narra ?" tanya ayah Sasmita.
"ya karena dari kecil mereka berdua selalu kompak menyimpan sesuatu. Rahasia Rayyan ada pada Narra, begitu juga sebaliknya" sahut ibu Flanella.
Andra langsung memandang Narra. Dia juga merasa demikian. Dia setuju dengan perkataan ibu mertuanya.
"ibu jangan menyudutkan Narra begitu. Aku benar lagi tidak menyembunyikan sesuatu" kata Rayyan.
"iya iya, maaf.. Tapi kalo sudah ada, kamu harus segera bawa dia bertemu ayah dan ibu" kata ibu Flanella.
"iya ibu" sahut Rayyan.
__ADS_1
*
Hari ini Narra kembali mendatangi kantor Arjuna untuk melihat perkembangan pekerjaannya. Andra yang mengantarkannya.
"nanti aku usahakan makan siang bersamamu ya" kata Andra.
"iya ka Nda" ucap Narra.
Andra mencium kening dan mengecup bibir istrinya. Narra pun melakukan hal yang sama. Dia mencium kedua pipi lalu mengecup bibir suaminya.
"hmmmm jadi tidak ingin pergi ke kantor tanpa kamu" Andra manyun.
Narra menggelengkan kepalanya.
"ka Ndaaaaaa" katanya.
"baiklah sayangku, jangan nakal" kata Andra mengusap puncak kepala istrinya.
"iya suamiku sayang" balas Narra lalu keluar dari mobil.
Dia melambaikan tangan lalu masuk kedalam kantor. Dia tahu suaminya itu akan pergi kalau dia masuk kedalam.
Langkah Narra terhenti. Faya duduk di sofa lobby, dia tersenyum kearahnya. Sepertinya Faya menunggunya.
"Fay" sapa Narra.
Faya beranjak berdiri.
"Na, aku mau bicara sebentar" katanya.
"dari mana kamu tau aku kesini ?" tanya Narra.
"aku tadi pagi lewat rumahmu dan menyapa ibu. Katanya kamu semalam menginap disana dan pagi ini ada urusan di kantor Arjuna" jelas Faya.
"bisa kita cari tempat untuk bicara ?" tanya Faya.
Narra berpikir sejenak. Dia tidak bisa langsung memutuskan karena nanti akan terjadi salah paham antara dia dan suaminya.
"aku izin dulu sama suamiku" kata Narra.
Raut wajah Faya langsung berubah. Dia terlihat tidak suka mendengar nama Andra.
"kenapa ? sebagai istri aku harus selalu bilang sama suamiku kalo aku mau kemana dan dengan siapa. Apalagi sekarang kamu sudah menorehkan rasa tidak nyaman sama dia. Aku tidak ingin dia salah paham dengan pertemuan kita yang hanya berdua" jelas Narra tanpa mendengar jawaban Faya.
Faya kembali duduk di tempatnya tadi. Narra duduk dan mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi suaminya. Tak lama panggilannya terhubung.
"iya sayang" suara suaminya.
"sayang, Faya datang menemuiku di kantor Juna. Dia ingin bicara. Apa boleh ?" tanya Narra.
Terdengar helaan nafas Andra. Suasana hening sejenak.
"aku sedang sibuk sekarang sayang tapi aku tidak ingin kalo kalian hanya bicara berdua. Kamu tunggu disana sampai Alen datang. Dia yang akan bersamamu" kata Andra.
"iya sayang" ucap Narra.
"love you" ucap Andra.
"love you more sayang" balas Narra.
Hati Faya semakin tersayat mendengar ucapan cinta Narra untuk Andra. Kenapa bukan dia yang dicintai sedemikian oleh pujaan hatinya itu.
"kak Andra mengutus Alen untuk menemaniku. Kamu bisa duluan saja ke tempat yang kamu tentukan, nanti aku menyusul bersama Alen" kata Narra.
"kenapa harus repot begini Na ?" tanya Faya dengan tatapan datar.
__ADS_1
"repot ?" Narra memicingkan matanya. Dia tidak mengerti maksud Faya.
"iya, padahal kita bisa kesana bersama. Yang penting kamu sudah kasih tau Andra" kata Faya. Dia tidak memanggil 'kak' pada Andra seperti biasanya.
"keadaannya sudah berbeda Fay dan itu karena kamu sendiri" kata Narra.
"aku ?" sergah Faya.
"iya seandainya kamu ikhlas melepaskanku, mungkin suamiku tidak akan bersikap protektif seperti itu. Dia akan percaya kalo kamu itu sahabatku seperti yang lainnya" terang Narra.
Faya duduk bersandar. Dia tidak punya kata-kata untuk membalas Narra.
*
Faya dan Narra duduk berdua, sementara Alen duduk tidak jauh dari meja mereka.
"apa yang ingin kamu bicarakan ?" tanya Narra.
"aku minta maaf atas sikapku" ucap Faya.
"kamu benar menyadari kesalahanmu ?" tanya Narra.
"iya, aku salah karena aku bersikap tanpa perasaan pada kalian. Pada kamu dan pada Imel" kata Faya.
"trus..."
"aku minta maaf untuk itu" kata Faya.
"Fay, aku memaafkanmu tapi aku ingin kita membuat batasan karena kita tidak bisa seperti dulu lagi. Ada perasaan suamiku yang harus aku jaga. Aku tau dia sangat cemburuan, karena itu aku membatasi diriku dalam bersikap kepada lawan jenis. Aku harap kamu mengerti" jelas Narra.
"aku belum bisa menerima itu Na" kata Faya.
Narra bersandar pada tempat dudukknya.
"jadi kamu maunya bagaimana ?" tanyanya.
"ya kita seperti dulu, akrab seperti dulu" balas Faya.
Narra menggelengkan kepalanya.
"nanti kalo kamu sudah mempunyai istri, kamu akan melakukan hal ini Fay. Ada batasan antara persahabatan kalo kita sudah berkeluarga" jelas Narra.
"mungkin itu tidak akan pernah ada. Aku masih sangat mencintaimu" kata Faya.
"Fay, kamu baru saja minta maaf dan sekarang kamu mengulang kesalahanmu lagi" tegur Narra.
"maaf" ucap Faya pelan.
"aku harus pergi karena aku masih ada urusan di kantor Juna. Aku harap kamu tidak melanggar batasanmu" kata Narra seraya beranjak.
Narra pergi kemudian di susul oleh Alen yang terlebih dulu singgah di kasir untuk membayar minuman mereka.
Faya bersandar pada tempat duduknya. Mengapa hatinya sakit sekali mendengar permintaan Narra. Dia berharap persahabatan mereka bisa seperti semula. Tapi ternyata Narra meminta batasan karena Andra.
Faya menghabiskan cappucinonya lalu beranjak menuju kasir.
"billnya ?" tanyanya.
"maaf pak, semua sudah dibayar dengan kartu Pak Alen" jawab kasirnya.
"oke, terima kasih" ucap Faya lalu berjalan keluar cafe. Dia menuju mobil kantor yang di pinjamnya karena ingin mengajak Narra keluar tapi ternyata Narra memilih untuk pergi bersama Alen.
"apa aku harus melepaskan ?" ucap Faya lirih. Dia menggelengkan kepalanya. Hatinya masih menolak untuk itu. Narra masih sangat bertahta dalam hatinya.
***
__ADS_1