FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 31.1


__ADS_3

"maaf.. " ucap Narra pelan tapi dia yakin Andra bisa mendengarnya karena posisi duduk mereka yang bersebelahan.


Andra menoleh.


"untuk apa ? aku yang salah" katanya.


"karena aku sudah berkata kasar pada ka Nda. Aku sadar, aku sudah terprovokasi oleh mereka" Narra memandang Andra.


Andra mengusap kepala Narra. Dia mencium kening kekasihnya itu.


"kamu segalanya untuk aku. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Tentang ucapan Jeniffer, aku tidak seperti itu. Kita akan membangun komunikasi yang baik setelah menikah. Kita akan terbuka satu sama lain, apa yang baik dan apa yang tidak demi keutuhan rumah tangga kita" terang Andra.


Narra mengangguk.


"terima kasih ka Nda, maafkan aku lagi-lagi meragukan ka Nda" Narra tertunduk.


Andra menaikan dagu Narra dengan telunjuknya.


"kamu tidak salah sayang, aku senang kamu cemburu karena itu berarti kamu mencintaiku tapi melakukan hal tadi itu berbahaya" jelasnya.


"tapi ka Nda juga melakukannya, membahayakan diri ka Nda karena marah sama aku" balas Narra.


Andra tidak bisa berkata lagi. Apa yang dikatakan Narra benar, dia selalu tidak bisa mengontrol gejolak emosinya.


"maafkan aku" ucap Andra.


"aku mau ka Nda berhenti melakukan itu" Narra menangkup wajah Andra.


Andra mengangguk.


"iya sayangku, aku akan berusaha" katanya.


"terima kasih" ucap Narra.


*


Arini dan Siera menemui Ardhan di kantornya. Mereka tentu saja mempunyai maksud tertentu karena terlibat perjanjian dengan Raihan kusuma.


Mereka duduk di sofa tamu ruang kerja Ardhan.


"mama, kenapa tidak bilang dulu sebelum kesini ? sejam lagi aku ada meeting penting" ujar Ardhan.


"kalo mama bilang, kamu pasti menghindari mama" sahut Siera.


Arini mengangguk setuju.


"apa pria itu tahu kalian kemari ?" tanya Ardhan.


"Ardhan, dia papamu. Kamu harus menghormatinya" sergah Siera.


"aku tau tapi itu sebelum dia melakukan segala cara untuk memisahkan aku dan Narra. Dan karena dia, sekarang Narra sudah bersama Andra Hadinata Wijaya" balas Ardhan.


Arini langsung menajamkan mata kepada kakaknya.


"apa maksud kakak ?" tanyanya.


"Narra sekarang kekasih Andra tapi aku akan berusaha memisahkan mereka" balas Ardhan.


"sudahlah Arini... mama tidak akan membiarkan kamu diperlakukan buruk oleh Andra. Papa akan mencarikan pria lain yang jauh lebih kaya untuk menjadi jodohmu" Siera menyela.


"jadi pria itu kembali mengatur perjodohan dengan keluarga Hadinata Wijaya" sahut Ardhan.


"dia papamu Ardhan" tegur Siera.


Ardhan tidak perduli tapi dia memilih untuk tidak membalas ucapan mamanya.


"jadi apa rencana kakak ? aku akan membantu kakak dan kak Andra menjadi milikku" Arini tersenyum licik.


"Arini ! mama tidak mau Ardhan dengan anak tukang warung itu. Mama ingin punya menantu yang standar kelas atas, yang cantik, yang branded, dan keturunan kaya raya" sahut Siera.


"ma, aku tidak mau ! kalo mama ingin memaksaku seperti pria itu sebaiknya mama pulang saja. Aku mau meeting" balas Ardhan.


Siera tercengang. Putra kesayangannya mengusirnya.


"kamu tega sama mama Ardhan" Siera beranjak berdiri lalu keluar dari ruangan.


Tinggallah kedua kakak beradik itu.


"bagaimana kak, walaupun aku juga tidak suka sama Narra tapi aku tidak masalah asalkan kak Andra denganku" Arini mencoba menawarkan kerjasamanya.


Ardhan mencoba berpikir. Baik Jeniffer dan Arini mempunyai kans yang sama untuk menghancurkan hubungan Narra dan Andra sehingga Ardhan tidak ingin melepaskan mereka. Biarlah nanti kedua wanita itu berperang sendiri untuk mendapatkan Andra yang penting Narra sudah menjadi miliknya.


"baiklah kamu terus dekati Andra tapi ingat, jangan pernah kamu sakiti Narra. Kalo sampai Narra kenapa-napa, aku tidak akan membiarkanmu walaupun kamu adikku" Andra memberi peringatan.

__ADS_1


"baik kak, aku pergi" Arini pamit.


Ardhan tersenyum licik.


*


Ardhan memasuki ruang meeting perusahaan Richard Davidson. Di dalam ruangan tersebut telah hadir juga perusahaan pesaingnya. Perusahaan property milik Faya dan temannya.


Ardhan tersenyum pada Faya dan dibalas hal yang sama oleh Faya.


"bisa kita mulai" ujar Sam, asisten tuan Richard.


Pembahasan dimulai dari perusahaan Faya. Entah kenapa, Faya merasa tuan Richard terus memperhatikannya. Dia berharap itu pertanda tuan Richard menyukai idenya.


Setelah Faya selesai di lanjutkan dengan pemaparan dari Ardhan.


Tuan Richard memandang gambar yang di tampilkan dengan mangut. Beberapa kali dia bersandar di kursinya dengan menyilang tangan di dada.


"saya sudah melihat pembahasan kalian, hasilnya akan disampaikan oleh asisten saya dua minggu lagi. Terima kasih" tuan Richard beranjak dari kursinya.


Dia melewati Faya dengan tersenyum, Faya menunduk hormat.


Sam asisten tuan Richard menutup pertemuan mereka dengan menyalami tamunya lalu pamit.


Ardhan menghampiri Faya saat mereka sedang berjalan keluar menuju lift.


"apa kabar Fay ?" tanya Ardhan.


"baik, seperti yang kamu liat" jawab Faya.


Ardhan dulu sangat dekat dengan para sahabat Narra bahkan saking dekatnya, Ardhan tidak mau ada embel panggilan kak di depan namanya. Dia hanya mau dipanggil namanya saja supaya lebih akrab, katanya.


"mau makan siang bersama ?" tawar Ardhan.


"terima kasih, aku janjian sama Sheva" tolak Faya.


"ow di Italiano Hotel, boleh aku bergabung bersama kalian ?"


Faya memandang Ardhan, dia antara setuju dan tidak karena dia tahu Ardhan sedang bermasalah dengan Narra.


"aku hubungi Sheva dulu" Faya sedikit menjauh dari Ardhan untuk menghubungi Sheva.


Setelah Faya memberi tahu maksud Ardhan, Sheva tidak keberatan. Biar bagaimanapun juga Ardhan teman mereka.


"baiklah, kami datang" balas Faya seraya mematikan panggilannya.


Ardhan tersenyum dan mengikuti langkah Faya.


*


Sementara itu...


Narra menemui asisten Erick di ruangannya setelah tadi dia berada di ruangan Arjuna untuk menjelaskan kenapa kemarin dia tidak kembali setelah makan siang dan tanpa pemberitahuan.


Narra hanya bisa bilang kalau dia kemarin tidak enak badan dan Arjuna percaya itu.


"pak Erick mencari saya, ada apa pak ?" tanya Narra.


"iya Na, duduklah. Kamu tidak keluar makan siang ?" tanya Erick.


"sebentar lagi pak, menunggu di jemput" kata Narra.


Sekarang dia terbiasa diantar jemput ke kantor dan makan siang bersama Andra.


Erick mengangguk. Kemudian dia mengambil berkas di lacinya.


"ini proyek yang datang langsung pada pak Arjuna. Kamu bisa melihatnya" terang Erick.


Narra membuka lembaran pertama. Dia mendapati logo perusahaan 'ARRA Property'. Kemudian kembali melihat sampai halaman terakhir, tertulis nama Ardhan Pratama disana.


Narra memandang asisten Erick.


"pak Arjuna meminta pendapatmu karena beliau sudah tau hubungan masa lalu kalian. Beliau tidak ingin kamu merasa tidak nyaman dan terpaksa menjalani proyek ini" jelas Erick.


"walaupun aku tau maksudnya melakukan ini tapi kembali lagi kita harus profesional. Aku tidak apa pak Erick, hanya saja aku tidak ingin meeting hanya berdua dengan dia agar tidak ada kesalahpahaman" pinta Narra.


"baiklah, aku akan mengaturnya" janji Erick.


"terima kasih pak Erick, saya permisi" Narra beranjak keluar dari ruangan asisten Erick.


*


Narra mengaduk makanannya, kerjasama Ardhan dengan kantornya menjadi pemikirannya. Dia harus memberi tahu Andra tentang itu. Dia tidak mau nanti terjadi kesalahpahaman antara dia dan Andra.

__ADS_1


Narra memandang Andra yang sedang menikmati makanannya. Kemudian dia melangkah menuju kulkas mengambil dua botol air mineral untuk mereka.


Mereka sekarang berada di apartement Andra. Siang ini Andra ingin makan siang di apartement. Mereka memesan makanan dengan aplikasi online.


"sayang, kamu kenapa ?" tanya Andra sambil membuka kemasan botol untuk mereka berdua.


"ada yang mau aku bilang sama ka Nda" ucap Narra.


"ada apa ?" Andra menyodorkan botol minuman yang sudah dia buka kemasannya kepada Narra.


Narra lalu menceritakan pembicaraannya dengan asisten Erick.


Andra mangut, dia mengerti. Dia tahu kalau ini rencana Ardhan untuk dekat sama Narra. Tapi dia berusaha percaya sepenuhnya dengan Narra bahwa kekasihnya itu mencintainya dan tidak akan berpaling darinya.


"keputusan kamu sudah benar, kamu tidak mungkin mengorbankan nilai kerjasama yang menguntungkan perusahaan Arjuna. Aku harap kamu berhati-hati, kalo ada apa-apa segera hubungi aku" Andra mengusap kepala Narra.


Narra mengangguk.


"kenapa dia tidak berhenti mengganggu" gerutu Narra.


"mungkin dia akan berhenti kalo kita sudah menikah" jawab Andra.


Narra memandang Andra.


Kekasihnya itu menggeserkan badannya agar menempel pada Narra. Andra meraih pinggang Narra.


"kita menikah saja sayang" bisik Andra di telinga Narra.


Narra berdesir hebat ketika Andra membelai rambutnya, menyelipkannya di telinga lalu membalikan wajahnya agar mereka saling menatap dekat.


Andra lalu mencium kening, kedua pipi, dan terakhir bibir Narra setelah sebelumnya dia mengusapnya dengan ibu jarinya. Begitu lembut, Narra mencoba mengikuti irama permainan Andra. Dia menangkup wajah Andra. Lambat laun ciuman Andra begitu dalam, membuat Narra terbaring di ujung sofa.


Narra mendorong dada Andra sehingga kekasihnya itu melepaskan ciumannya.


"ka Nda, kita sudah berlebihan" ucapnya mengingatkan.


"maafkan aku sayang, aku terbawa suasana" Andra mencoba membantu Narra agar duduk kembali.


Andra lalu merapikan rambut Narra.


"kita akan melakukannya lebih setelah kita menikah" katanya.


Narra mengangguk.


Andra membawa Narra dalam pelukannya.


"maafkan aku, aku tidak akan menyakitimu" ucapnya.


Narra melingkarkan tangannya dipinggang Andra.


"aku tau" ucap Narra pelan.


Mereka berpelukan lama, sesekali Andra mencium puncak kepala Narra. Dan Narra sendiri begitu nyaman dalam pelukan Andra.


Sampai Narra melepaskan pelukan Andra. Dia mencium pipi Andra.


"terima kasih ka Nda menerima apa adanya aku" katanya.


"hanya kamu sayang, seseorang yang aku inginkan mendampingiku selamanya" ucap Andra.


Narra tersenyum.


"aku antar kamu kembali ke kantor trus aku dan Alex akan menemui seseorang" kata Andra.


"siapa ?" tanya Narra penasaran.


"wanita yang menyebabkan kekacauan kemarin" jawab Andra.


Narra mengerti, Andra akan menemui Jeniffer.


"untuk apa ?" tanya Narra lagi.


"untuk meminta dia berhenti mengganggu entah karena suruhan Ardhan atau karena dia sendiri" jelas Andra.


"baiklah tapi ingat, aku tidak mau kejadian kemarin terulang. Aku tidak suka" Narra cemberut.


Dia menunjuk pipi Andra yang kemarin di cium Jeniffer.


"ini milikku" katanya.


"iya milikmu, semuanya milikmu" kata Andra seraya mencium pipi dan bibir Narra sekilas.


Mereka merapikan sisa makan mereka lalu menaruh piring dan gelas kotor di wastafel.

__ADS_1


Sebenarnya Narra ingin membersihkannya tapi Andra mencegahnya, dia bilang akan ada petugas kebersihan dari kantornya yang akan membersihkan apartementnya.


***


__ADS_2