FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 11.1


__ADS_3

Jam makan siang.


Narra merapikan meja kerjanya karena dia akan bersiap makan siang dengan Andra. Tadi kekasihnya itu sudah menelfon sementara dalam perjalanan untuk menjemputnya.


Nada ponselnya berdering. Dari Faya.


"iya Fay" jawab Narra.


"maaf bu, saya yang bertugas membersihkan apartement Tuan Andra" sahut suara diseberang.


"oo iya, ada apa ?" tanya Narra khawatir.


"Tuan Faya sakit. Sepertinya beliau demam" terangnya.


"apa ?! iya, saya segera kesana. Terima kasih banyak" kata Narra khawatir.


Panggilan dimatikan.


Dengan bergegas Narra meraih tas dan kotak bekalnya. Dia bergegas menuju lobby.


Saat mobil Andra sampai, Narra bergegas menghampiri dan langsung membuka pintu mobil.


"ada apa sayang ?" tanya Andra khawatir melihat Narra buru-buru.


"petugas kebersihan apartementmu telfon pakai ponsel Faya, Faya demam" terang Narra.


Raut wajah Andra berubah.


Narra sangat khawatir pada Faya, membuat gejolak emosi Andra perlahan muncul membuat dia panas terbakar cemburu. Padahal semalam dia berjanji pada dirinya sendiri dan juga bundanya akan berusaha untuk meredam emosinya.


"baik kita kesana" ucap Andra seraya fokus mengemudi.


Narra memandang Andra sekilas. Andra mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


Narra mencengkram kursinya. Dia takut.


"ka Nda, aku takut" teriak Narra memejamkan matanya.


Andra merem mendadak. Dia menoleh pada Narra yang memejamkan mata. Ada rasa bersalah tapi cemburunya lebih besar.


Tanpa bicara, Andra melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang. Narra membuka matanya. Dia memandang Andra yang fokus mengemudi.


Apa yang terjadi pada Andra. Pikirnya tapi dia tidak mau bertanya karena raut wajah Andra sedang tidak senang sekarang.


Narra memalingkan wajahnya kearah jendela di sisi kirinya. Dia terdiam sepanjang perjalanan.


*


Narra membuka pintu kamar Faya. Dia mendapati Faya terbaring dan berselimut. Narra menyentuh kening Faya. Badan Faya panas.


"maaf Na, aku jadi merepotkan kamu" ucap Faya seraya membuka matanya.


"jangan bicara begitu, aku justru marah kalo kamu tidak hubungi aku" sahut Narra seraya duduk diatas tempat tidur disisi Faya.


Andra masuk dengan membawa tas dokternya. Dia akan memeriksa Faya. Walaupun dia sangat cemburu pada Faya, apalagi ditambah tadi dia sempat melihat Narra menyentuh Faya tapi dia tidak boleh melupakan profesinya sebagai dokter yang membantu menyembuhkan orang sakit.


"aku periksa dulu Fay" ucap Andra permisi sebelum memeriksa.


"iya kak" ucap Faya lemah.


Narra beranjak memberi ruang pada Andra untuk memeriksa.


Andra pun melakukan tugasnya.


"bagaimana ka Nda ?" tanya Narra begitu Andra selesai memeriksa.


"dia demam, sepertinya dia kelelahan. Setelah makan dan minum obat, sebaiknya banyak istirahat" jelas Andra seraya merapikan peralatannya.


"terima kasih kak" sahut Faya.


"kamu dari mana Fay ?" tanya Narra menatap tajam pada Faya.


"aku berusaha mencari orang tua kandungku" ucap Faya.


Narra menggeleng kuat.


"kenapa kamu bertindak sendiri ? apa kamu lupa kalo kita itu bersama. Sekarang mereka marah sama aku karena menyembunyikan kamu" jelas Narra.


"tapi Na, aku butuh waktu sendiri untuk bisa menerima ini semua. Aku kecewa Na" balas Faya.


Andra yang sedikit tidak mengerti dengan pembicaraan mereka hanya bisa diam.


Narra mengeluarkan kotak bekalnya. Ada lima sandwich di dalamnya. Dia memberi Faya satu dan meletakan kotaknya diatas nakas.


Narra tidak sadar, hal itu terekam jelas dalam pandangan Andra. Dia tidak suka Narra menyiapkan bekal untuk Faya. Narra hanya boleh melakukan itu padanya.


"makan ini dulu, aku akan memesan makanan karena akan terlalu lama untuk kamu minum obat kalo aku masak dulu" kata Narra.


Faya mengangguk. Dia mulai memakan sandwichnya.


"aku akan menyiapkan obatnya" ujar Andra seraya beranjak keluar.


Narra menoleh, menatap punggung Andra yang menjauh.


"Dia cemburu" komen Faya setelah tinggal mereka berdua.


Narra memandang Faya.


"pergilah, aku baik-baik saja. Kak Andra lebih butuh kamu daripada aku" ujar Faya.

__ADS_1


"ka Nda tidak mungkin cemburu" elak Narra.


"Na, aku cowok. Aku tau bagaimana rasanya kalo pacar kita perhatian sama orang lain di depan kita. Walaupun kita sahabat dari kecil tapi kak Andra melihat kita sebagai pria dan wanita yang punya rasa lebih" jelas Faya.


"tapi.." Narra ragu meninggalkan Faya.


"sudah.. aku akan menghubungi Friends untuk datang kesini jemput aku. Aku tidak mau kak Andra salah paham tentang kita" Faya tersenyum.


Narra menggeleng.


"kamu tidak boleh kemana-mana sampai kamu sembuh. Aku akan bicara sama ka Nda untuk membolehkan Friends datang kesini" Narra bergegas keluar dari kamar Faya.


Faya hanya tersenyum.


"tunggu disini, aku akan mengambil air minum untuk kamu" kata Narra lagi seraya beranjak keluar kamar.


Begitulah Narra. Dia sangat perhatian kepada para sahabatnya, dan sekarang perhatian itu sepertinya membuat masalah untuk hubungannya dengan Andra.


*


Setelah mengambilkan air mineral dalam kulkas di dapur untuk Faya, Narra kembali mencari Andra di balkon tapi Andra tidak ada disana. Narra kemudian naik kelantai dua, mungkin saja Andra disana. Dia melihat diruang tivi tapi Andra tidak ada. Berarti kemungkinan Andra ada di dalam kamarnya.


Narra mendengar suara barang pecah.


Kak Andra kenapa, apa yang terjadi. Pikir Narra.


Narra memberanikan diri mengetuk pintu kamar.


"ka Nda.. boleh aku masuk ?" teriaknya tapi tidak ada sahutan dari dalam.


Narra memutar gagang pintu. Pintunya tidak terkunci.


Narra sangat kaget begitu pintu itu terbuka lebar. Kamar itu berantakan, banyak pecahan dimana-mana. Sepertinya pemilik kamar habis membanting barang pecah belah disekitarnya. Narra mendapati Andra duduk diatas tempat tidurnya dengan tertunduk.


"ka Nda.." panggil Narra.


"jangan kemari sayang.. jangan !" teriak Andra tapi tanpa memandang Narra. Dia masih terus saja menunduk.


Narra malah semakin mendekat.


"ka Nda kenapa ? bilang sama aku ada apa ?" Narra duduk disamping Andra.


Tangan Narra terulur menangkup wajah Andra agar memandangnya. Kini Andra memandangnya dengan tatapan sendu.


"bicara kak" tanya Narra pelan.


"aku cinta sama kamu" ucap Andra.


"iya, aku tau. Aku juga sama" Narra meyakinkan Andra.


"tapi kenapa kamu biasa saja sama aku. Kamu tidak perhatian seperti kepada dia. Apa aku bukan prioritas kamu ?" balas Andra.


"Aku merasa kamu tidak ada untuk aku" Andra mengigit bibirnya.


Narra menggeleng.


"ka Nda, aku cinta sama ka Nda. Yang tadi itu hanya perhatian sebatas kepada sahabat. Faya sedang sakit, dan kebetulan tadi aku dapat sandwich dari Pak Juna" Narra menjelaskan.


Andra melepaskan tangan Narra.


"Juna ? kenapa dia memberimu sandwich ?" tanya Andra dengan tatapan tajam.


Narra lalu menceritakan tentang bekalnya dan balasan ucapan terima kasih dari atasannya itu.


"aku tidak suka" potong Andra sebelum Narra menyelesaikan ceritanya.


"maaf ka Nda, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya bersikap baik. Itu saja" jelas Narra.


"kamu pacarku, aku hanya mau kamu mengurusi aku, semuanya aku" bentak Andra.


Narra kaget. Andra marah. Tatapan matanya tajam, emosinya meledak.


Apa ini sisi buruk yang dikatakan bunda Serena tempo hari ? pikir Narra.


Kenapa dia baru menyadarinya, padahal Andra bersikap aneh dari kemarin.


"maafkan aku sayang, maafkan aku" ucap Andra seraya terus menciumi tangan Narra berkali-kali.


Dia merasa bersalah sudah membentak Narra.


Narra memandang Andra, dia akan mencoba bersikap lembut. Dia tidak boleh ikut emosi dengan sikap Andra ini. Apalagi dia sudah tahu sikap Andra begini karena apa.


"iya, tapi ka Nda jangan marah sampai menghancurkan barang seperti ini. Kalo ada yang salah, kita bicara. Aku akan menurut sama ka Nda" Narra mencoba sabar.


"kamu tidak akan pergi dari aku kan ?!" tanya Andra.


"kenapa ka Nda berpikir begitu ?" Narra balik bertanya.


"karena aku takut kehilangan kamu" ucap Andra.


"aku tidak akan pergi. Ka Nda tidak boleh menyakiti diri ka Nda sendiri. Jangan begitu, aku takut" tekan Narra.


Andra mengangguk lalu memeluk Narra erat.


Setelah berpelukan lama, perlahan Narra melepas pelukannya, "aku minta izin untuk Friends datang kesini. Boleh ?" tanyanya.


"iya sayang" Andra mengusap pipi Narra.


"terima kasih ka Nda sayang" ucap Narra tersenyum.

__ADS_1


"baiklah, aku akan memesan makan siang untuk kita trus kalo boleh ka Nda ke bawah ya. Kasian Faya, dia merasa tidak enak karena sikap ka Nda tadi" lanjut Narra.


"baiklah sayang" ucap Andra.


Andra mengajak Narra beranjak. Mereka bertatapan lalu Andra mencium kening, kedua pipi dan bibir Narra lalu mengajaknya keluar dari kamar.


Kamarnya yang masih berantakan nanti akan diurus oleh petugas kebersihan dari kantornya yang dia percaya untuk beres-beres di apartementnya.


Sebenarnya apartement ini menyediakan petugas kebersihan tetapi Andra lebih suka petugas yang membersihkan apartementnya benar-benar orang yang mengenal dia karena Andra tidak suka satu kesalahan kecil terjadi pada wilayah pribadinya.


*


Andra dan Narra bergabung dengan Friends duduk santai di ruang tamu. Disana ada Indra juga yang datang bersama Rea.


Mereka berdua tidak kembali ke kantor setelah jam makan siang selesai.


Narra meminta izin kepada Arjuna untuk tidak kembali ke kantor karena masih ada pembicaraan kontrak iklan dengan CEO HW Farma.


Andra pun memberitahu hal yang sama pada Alex, kalau dia yang akan menangani sendiri iklan dengan pihak J Advertising.


"apa setelah ini kita bisa membahas kontraknya Pak Andra ?" bisik Narra.


"kapan pun kamu mau sayang" Andra juga berbisik di telinga Narra, tangannya mengusap kepala kekasihnya.


"ehem ! kalian berdua, ingat.... disini banyak orang, pake bisik-bisik" seru Indra.


"namanya juga masih melepas rindu" komen Rea.


"ihh apaan Re" Narra tersipu malu, dia menyembunyikan wajahnya dipundak Andra.


Andra memperbaiki posisinya dan merangkul Narra.


Semua tersenyum maklum dengan kemesraan pasangan baru itu.


"jadi setelah ini rencana kamu apa Fay ?" tanya Sheva kembali ke topik pembahasan awal mereka.


"aku juga tidak tau Shev, aku tidak menemukannya. Tidak ada yang tau wanita itu. Dia hanya menaruh aku di teras Mesjid trus pergi begitu saja. Sampai papa dan mama datang meminta aku pada Pak Ustad disana untuk mengadopsi aku. Karena mereka disana tidak ada yang tau aku dari mana" Faya menjelaskan hasil penelusurannya di desa M.


Tempat dulu keluarga mereka liburan bersama di villa pantai dan pulang menemui kerumunan warga yang penasaran adanya bayi tanpa identitas.


Papa Farid dan Mama Maya yang saat itu belum di beri momongan, merasa kalau itu adalah jawaban dari doa mereka. Mereka lalu meminta bayi itu untuk di adopsi.


"apa sebaiknya kamu pulang saja dulu Fay, kasian mama dan papamu" ujar Desta.


"iya, aku setuju" sergah Erga.


"tapi, aku kecewa sama mereka kenapa mereka menyembunyikan ini dari aku" balas Faya.


"karena mereka mencintai kamu. Malah bukan hanya mereka, orang tua kami juga melakukan hal yang sama karena alasan yang sama" sahut Imel.


Faya tidak percaya. Dia memandang para sahabatnya bergantian untuk meyakinkan dengan apa yang didengarnya.


"orang tua kalian tau tentang aku ?!" ulang Faya.


Semua mengangguk.


"mereka liburan bersama saat itu" ujar Rea menambahkan.


Faya duduk bersandar di sofa.


"kami sangat mengerti perasaanmu karena kami juga baru tau hal itu" sahut Imel menimpali.


"dan kalau memang kamu tidak mau pulang, kamu bisa tinggal dirumahku. Orang tuaku masih di negara I, supaya aku ada temannya" sahut Sheva.


"tapi itu artinya aku dekat dengan rumah" sergah Faya.


"setidaknya mereka bisa lihat kamu Fay, aku yakin mereka tidak akan memaksa kamu tapi biarkan mereka didekatmu. Kasian papa dan mama, mereka sangat menyayangi kamu" jelas Narra.


"iya, Narra benar Fay" sahut Desta.


"hmmm baiklah. Kak Andra, maaf kalau merepotkan kakak. Terima kasih untuk obatnya, aku sudah merasa lebih baik" ucap Faya pada Andra.


"tidak masalah, aku senang. Maaf tadi aku hanya lagi pusing saja" bohong Andra.


"aku mengerti kak. Tenang saja, semuanya baik-baik saja" Faya mengacungkan jempolnya.


Andra tersenyum. Narra yang berada disebelahnya ikut tersenyum melihat senyuman Andra.


"kalo cemburu bilang saja kak" sergah Indra bercanda.


Semua menoleh, fokus pada Andra.


Narra yang tahu kalau tebakan Indra benar hanya bisa menahan diri agar tidak ikut mengoda Andra.


Spontan Indra mendapat ketukan kepalan tangan di kepala dari kakaknya. Semua yang berada disitu hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kakak beradik itu.


"kita akan menemukannya Fay" ucap Narra memandang Faya.


"aku berharap begitu" sahut Faya.


Sheva menepuk pundak sahabatnya seolah memberikan kekuatan dan keyakinan kalau apa yang dikatakan Narra benar adanya.


"terima kasih semuanya" ucap Faya memandang kearah sahabat-sahabatnya.


"kami selalu ada untuk kamu, jangan bertindak sendiri" kata Erga.


Faya mengangguk.


***

__ADS_1


__ADS_2