
Bunda Serena mendengar suara barang pecah satu persatu dari kamar Andra. Dengan penuh kekhawatiran, bunda mengetuk pintu kamar putranya.
Ayah Hadinata belum pulang dari rumah sakit. Diandra menjemput suaminya yang baru tiba dari negara S di bandara bersama cucunya. Sedangkan Indra, tadi dia menelfon langsung menuju rumah Rea setelah dari rumah sakit.
"An, buka pintunya ! An ! bunda bilang buka pintunya !" teriak bunda Serena.
Perlahan Andra membuka pintu. Dia tampak lusuh, kamarnya berantakan.
Bunda Serena memandang putranya. Penampilan Andra sama seperti enam tahun lalu, dimana Andra ditinggalkan saat sangat dalam mencintai Jeniffer.
"apa yang terjadi ? kamu kenapa ?" tanya bunda Serena seraya menyentuh wajah tampan putranya.
"Narra mementingkan mereka ! aku bukan apa-apa untuknya" ucap Andra pelan.
Begitulah Andra. Dia terlihat kuat dan diam pada semua orang tapi kepada bundanya, Andra menunjukan kelemahannya dan selalu terbuka.
Bunda Serena memeluk Andra. Rasanya tidak mungkin, pasti Narra punya alasan untuk itu. Dan mereka, siapa mereka. Pikir bunda Serena.
"baiklah, kamu tenang. Ceritakan sama bunda" bunda Serena mengajak Andra duduk di sofa dalam kamar.
*
Sementara itu, Friends duduk terdiam di lantai teras rumah Narra.
Kedai Ranira sudah tutup karena kedua orang tua Narra hanya membukanya dari jam sepuluh pagi sampai jam lima sore.
"kasian Faya" gumam Imel.
semua mengangguk.
"Na, dimana Faya sekarang ?" tanya Erga.
Narra menggeleng. Dia tidak tahu karena Faya tidak bilang dia dimana dan apa yang dilakukannya.
"kita harus bantu Faya untuk mencari tahu orang tua kandungnya, kalo memang itu yang dia mau" usul Sheva.
"tapi bagaimana kita bisa bantu dia kalo sekarang saja kita belum ketemu Faya" sergah Desta.
"Na, kalo Faya pulang.. bawa kami ke apartement. Kita harus bantu dia. Kita sahabat, harus sama-sama" komen Sheva.
"iya" jawab Narra pendek.
Tiba-tiba dia teringat Andra. Sampai sekarang Andra belum menghubunginya lagi.
Narra menulis pesan.
Ka Nda baik-baik saja ?
Pesannya terkirim tapi belum dibaca.
"Re, apa Indra nanti mau kesini ?" tanya Narra.
"iya katanya begitu. Selesai praktek langsung kesini. Kenapa kakak ipar ?" goda Rea.
"cie cieeeee" koor semuanya.
Wajah Narra merona malu.
"tidak, tidak apa. Nanti saja" elak Narra.
Semua tersenyum.
Narra begitu, dia masih saja malu-malu kalau di goda tentang hubungannya dengan Andra.
*
Narra semakin gelisah dalam kamarnya. Entah mengapa dia masih kepikiran Andra. Pesan yang dikirimnya belum dibaca Andra.
Narra meraih ponselnya. Dia mencoba menghubungi Andra tapi pria itu tidak mengangkat ponselnya.
"apa kak Andra sibuk ?" pikir Narra karena selain berprofesi sebagai dokter, Andra juga mengurus perusahaan ayahnya.
Narra melirik jam. Sekarang jam sembilan malam. Biasanya Imel main basket di taman.
"aku curhat sama Imel saja" Narra tersenyum. Dia mengambil jaketnya lalu pamit pada Rayyan yang sedang nonton tivi.
"hati-hati Na" pesan Rayyan.
__ADS_1
"ok kak. Bye" Narra berlalu menutup pintu.
*
"Narra !" panggil seseorang dari belakang.
"Ardhan ?!" Narra menoleh lalu mempercepat langkahnya.
Dia sudah jauh dari rumahnya menuju taman dan sialnya dia bertemu Ardhan di jalanan sepi. Walaupun Ardhan memakai masker, tapi Narra masih sangat mengenali suaranya dan sepertinya Ardhan memang sengaja menunggunya.
Tangan Ardhan menyambar tangan Narra dan memegangnya kuat.
"lepas !" teriak Narra.
"tidak ! kita harus bicara" Nada suara Ardhan meninggi.
Narra menggeleng kuat, "aku tidak mau" Narra meronta.
"lepaskan dia !" terdengar teriakan seseorang.
Narra dan Ardhan menoleh kearah suara.
Indra Hadinata Wijaya berdiri disamping mobilnya. Dia kebetulan melintas menuju rumah Rea.
Awalnya dia melihat Narra yang berjalan sendiri. Dia ingin menyapanya tapi ternyata yang terjadi di luar dugaan. Ada yang mencegat Narra. Indra tidak bisa tinggal diam. Narra butuh pertolongan.
"Indra... tolong aku !" teriak Narra.
"pergi dari sini, ini bukan urusanmu" teriak Ardhan.
Indra semakin mendekat. Tiba-tiba tamparan keras mengenai wajah Ardhan.
"Imel ?!" Narra kaget.
"kamu pergi atau kami semua teriak !" bentak Imel.
Ardhan menatap Imel tajam lalu perlahan melepaskan Narra kemudian pergi.
"Imel.... aku takut" Narra memeluk Imel.
"aku tadi jemput kamu, kak Rayyan bilang kamu sudah duluan. Ya aku cepat-cepat susul kamu eh ternyata ada kejadian tadi" jelas Imel.
"siapa dia ?" tanya Indra.
"iya, terima kasih In. Kamu lanjut saja, kamu mau kerumah Rea kan ?!" ujar Narra.
Indra mengangguk, "tapi yakin kamu baik-baik saja ?" tanyanya lagi.
"iya, aman. Narra sama aku" sergah Imel.
Dia lalu memandang Narra.
"Lain kali kamu hubungi aku dulu baru ke taman. Kalo misalnya aku gak ada di taman bagaimana ?" tanya Imel pada Narra.
"iya maaf.." ucap Narra.
"baiklah, aku duluan ya. Kalian berdua hati-hati" ucap Indra.
Narra dan Imel mengangguk.
Indra pun masuk kedalam mobilnya lalu beranjak menuju rumah Rea.
*
Narra dan Imel duduk di bangku taman. Imel tidak jadi main basket, dia hanya menonton saja bersama Narra.
"dia masih berada di sekitar aku Mel. Aku sering melihatnya dari jendela kamarku" ucap Narra pelan.
"trus kenapa kamu baru bilang sekarang ? kami bisa berjaga di sekitar rumah kamu" terang Imel.
Narra menggeleng, "aku tidak mau merepotkan kalian. Lagipula aku yakin dia tidak akan berani mendekati aku. Ternyata aku salah" Narra menunduk.
"trus kak Andra tau tentang Ardhan ?" tanya Imel.
Narra menggeleng.
"Mel, kak Andra mengajak aku nikah" ucap Narra pelan.
__ADS_1
Imel membulatkan matanya. Dia menyentuh pundak Narra.
"kamu terima kan Na ?" tanyanya antusias.
"aku masih menundanya" ucap Narra pelan.
Tangan Imel terlepas begitu saja dari pundak Narra.
"kenapa Na ? kamu masih cinta sama Ardhan ?" tanya Imel tidak mengerti.
"sudah tidak ada Ardhan lagi dalam hati aku. Semua sudah untuk kak Andra hanya saja aku takut kalo keluargamya tidak menerima aku" Narra menunduk.
"memangnya mereka begitu ?" tanya Imel.
"mereka baik, ayah, bunda, kak Diandra, Indra semuanya ramah sama aku. Apalagi bundanya, beliau menyayangi aku dan Rea sama" jelas Narra.
"trus apalagi yang kamu ragukan ? semua menerimamu" Imel tidak mengerti.
"aku tidak mau nanti mereka malu karena aku" Narra menunduk.
Imel menggeleng. Narra selalu begitu, dia selalu memikirkan perasaan orang-orang disekitarnya bahkan sampai menepis perasaannya sendiri.
"Na, jangan begitu. Kalo kamu begitu terus, kasian kak Andra. Pikirkan perasaannya juga. Dia sangat mencintai kamu, kamu cinta sama dia tapi ragu untuk bersama dia. Na, jangan buat kak Andra kecewa. Berbahagialah, hadapi orang-orang itu" Imel memberi semangat.
"iya Mel, diantara yang lain aku selalu nyaman cerita duluan sama kamu. Padahal hari minggu lalu aku datang mau cerita eh malah ketiduran" Narra terkekeh.
"ooo aku pikir kamu memang datang mau tidur" Imel ikut tertawa.
Narra pun ikut tertawa.
"kita pulang yuk Mel, aku ngantuk" ajak Narra akhirnya.
Imel mengangguk.
"teman-teman, aku balik duluan" teriak Imel seraya melambaikan tangannya kearah teman-teman kompleks yang masih bermain basket.
Mereka berhenti sejenak untuk membalas lambaian tangan Imel lalu melanjutkan permainan mereka lagi.
Imel dan Narra beranjak pergi dari taman.
*
"jadi laki-laki itu masih berada disekitar Narra ?!" Rea mulai emosi setelah mendengar cerita Indra.
"siapa dia ?" tanya Indra.
"masa lalu Narra, dia senior basketnya Imel di club" terang Rea.
"trus apa yang terjadi ?" Indra penasaran.
Rea memandang Indra. Dia tahu kalau saat ini, Indra bertanya bukan sebagai kekasihnya tapi sebagai adiknya Andra. Indra pasti tidak ingin ada pengganggu diantara kakaknya dan Narra.
"orang tua laki-laki itu tidak setuju. Mereka menghina Narra, menghina ayah dan ibu. Bahkan mereka juga hampir menghancurkan pernikahan kak Rania, usaha bengkel kak Rayyan dan kedai karena itu" cerita Rea.
Indra berpikir, pasti orang tua laki-laki tadi mempunyai kuasa di kota ini sampai bisa melakukan semua itu. Tapi ayahnya juga punya kuasa bukan hanya di kota ini tapi di negara ini bahkan negara sekitarnya, mereka pasti bisa melawan laki-laki itu kalau sampai dia macam-macam pada Narra.
"dia tidak mempertahankan Narra. Dia membiarkan semuanya terjadi, dia pergi meninggalkan Narra. Tapi ada keluarganya dan kami, kami semua bersama Narra" jelas Rea.
"siapa dia ?" tanya Indra.
Tiba-tiba ponsel Indra berdering. Dari bundanya.
"iya bunda" jawab Indra.
"In, kamu pulang sekarang ya. Bunda mau bicara"
"iya bunda"
Indra langsung menjawab tanpa bertanya ada apa. Karena mereka semua tidak pernah menunda kalau ayah dan bundanya yang meminta.
"maaf sayang, bunda bilang ada yang mau dibicarakan. Aku pulang sekarang ya" pamit Indra seraya mencium kening Rea.
"iya sayang" jawab Rea seraya beranjak mengantar Indra sampai ke mobilnya.
"ada apa sampai bunda tiba-tiba minta aku pulang" gumam Indra dalam mobil.
Dia mengemudikan mobilnya menuju pulang kerumah.
__ADS_1
***