FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 47.1


__ADS_3

Narra memeluk Rayyan di depan IGD. Sementara Alex sibuk dengan ponselnya, sepertinya urusan pekerjaan.


Dia harus menghandel urusan kantor bersama Tobby karena Indra berada di rumah sakit mendampingi Andra.


Sudah hampir sejam Andra di dalam bersama kedua orang tua dan kedua saudaranya tetapi suster yang lalu lalang keluar masuk ruangan itu belum mau berkomentar memberi mereka penjelasan.


Friends datang.


Imel dan Rea menghampiri Narra. Mereka mengusap punggung Narra.


"tenang Na, semua akan baik-baik saja" kata Imel.


"aku salah Mel" ucap Narra seraya memandang Imel dalam pelukan Rayyan.


"kita semua tau, kamu pasti punya alasan untuk itu" sahut Rea.


"bagaimana keadaan kak Andra kak ?" tanya Erga.


"masih dalam penanganan dokter" jawab Rayyan.


Erga mangut.


Dia memandang Narra, dia turut merasakan kesedihan sahabatnya itu.


*


Sementara itu...


Arini tersenyum sinis melihat ponselnya. Dia baru saja melihat video yang tersebar di sosial media.


"ternyata kakakku selalu pintar, aku jadi tidak perlu menjalankan rencanaku. Aku cukup berdandan yang cantik dan datang kerumah sakit untuk menjenguk kak Andra" kata Arini seraya bercermin.


Ponselnya berdering. Dari Arsen.


Arini memilih untuk mengabaikan panggilan Arsen karena dia membatalkan rencananya secara sepihak.


Arini bahkan memilih masuk kedalam kamar mandi dan berendam dalam bathub dengan aroma mawar seolah tidak mendengar panggilan ponselnya.


*


"kenapa dia tidak menjawab telfonnya !" gerutu Arsen.


Arsen mengakhiri panggilannya pada Arini lalu menghubungi Desta.


"iya Arsen"


"aku sudah siap untuk mengantar barang" Arsen lalu mengambil tawaran Desta karena tidak ada kejelasan dari Arini.


"hmmm baiklah, aku akan kirim alamat toko furniturenya dan alamat yang akan kamu tuju" kata Desta.


"baik" Arsen mengakhiri panggilannya.


*


Desta memandang Narra. Niat hati ingin membuat sahabatnya bertambah bahagia dengan kado darinya tapi ternyata sahabatnya itu lagi bersedih dengan masalah yang dialaminya.


"Na, semuanya akan baik-baik saja" ucap Desta.


"terima kasih Ta" balas Narra masih dalam pelukan Rayyan.


Dia nyaman dalam posisi itu seolah tidak ada yang bisa membuatnya tenang selain kakaknya.


*


Pintu ruang IGD terbuka. Ayah Hadinata dan bunda Serena keluar, mereka menghampiri Narra.


Rayyan melepaskan pelukannya dan memberi ruang kepada kedua orang tua Andra.


"dia sudah tidak apa-apa" ucap bunda Serena mengenggam tangan kanan Narra.


"maafkan Narra, bunda" ucap Narra.


"kami tau kamu punya alasan untuk itu. Kita bahas nanti setelah Andra di pindahkan keruang perawatan" sergah ayah Hadinata Wijaya seraya mengusap kepala Narra.


Narra mengangguk.


Tak lama Diandra dan Indra keluar bersama tiga orang perawat yang mendorong brankar.


Andra tampak pucat dengan infus yang tergantung di sisi brankar.


Mereka semua mengikuti menuju ruang perawatan Andra.


*

__ADS_1


Narra, Rayyan dan Friends masih duduk menunggu di depan ruangan Andra.


Mereka memilih untuk tidak ikut masuk kedalam ruang perawatan sebelum diizinkan oleh pihak keluarga.


Imel melihat jam tangannya. Sudah menjelang waktu makan siang. Mereka semua belum ada yang beranjak dan juga semakin dekat waktu acara lamaran Narra dan Andra.


Apakah acaranya akan dibatalkan mengingat kondisi kak Andra. Pikir Imel.


Sheva yang berdiri disebelah Imel, memandang dengan penuh tanya.


"kenapa ?" tanyanya.


"kita belum makan siang" jawab Imel.


"tenang, aku sudah minta delivery dari hotel" kata Sheva.


"untuk semuanya ?" tanya Imel.


Sheva mengangguk.


"makasih Shev" ucap Imel.


Sheva mengangguk.


Alex keluar dari ruangan Andra.


"maaf, Narra diminta untuk masuk kedalam. Kita semua diminta untuk menunggu disini" jelas Alex.


Semua mengangguk paham.


"masuklah Na" ucap Rayyan.


Narra mengangguk.


Alex membukakan pintu untuk Narra dan menutupnya kembali setelah Narra masuk.


*


Narra terdiam di dekat pintu. Dalam ruangan yang luas itu terdapat semua keluarga Andra.


Ayah Hadinata Wijaya dan bunda Serena Hadinata duduk berdampingan di sofa panjang. Sementara Diandra di single sofa dekat bundanya dan Indra berdiri di sisi tempat tidur Andra.


"masuklah Na, duduk disana" tunjuk bunda Serena pada kursi dekat tempat tidur Andra.


Narra melihat Andra tengah memandangnya dari tempat tidur.


Indra memberikan kursi pada Narra.


"kamu ingin menjelaskan semuanya padaku sayang ?" ucap Andra setelah Narra duduk di sisi tempat tidurnya.


Narra mengangguk. Dia lalu menceritakan semuanya. Apa adanya dan tidak ada yang ditutupi.


Mereka semua akhirnya tahu apa yang terjadi sebenarnya. Semua itu karena Narra ingin lepas dari Ardhan dan juga demi menjaga citra perusahaan tempatnya bekerja.


"aku akan menegur Arjuna tentang ini" kata Indra.


"jangan terlalu keras In, cukup peringatan. Tidak seharusnya Arjuna membebankan masalah perusahaannya pada Narra" kata bunda Serena.


"iya bunda, Indra mengerti" sahut Indra.


"aku yang salah, karena ikut permainan Ardhan" sahut Narra.


"Arjuna juga salah, seharusnya dia mendampingimu mengurus masalah perusahaan bukan kamu yang menyelesaikannya sendiri" jelas Indra.


Narra terdiam. Dia tidak ingin membantah lagi.


Dia lalu membuka tasnya kemudian menyerahkan surat perjanjian asli antara dia dan Ardhan pada Andra.


"In, tolong" ucap Andra, gerak matanya tertuju pada kertas yang Narra sodorkan padanya.


Indra mengangguk mengerti.


Dia yang berdiri tidak jauh dari mereka segera mengambil kertas itu.


"minta pengacara kita untuk mempelajarinya agar Ardhan Pratama Kusuma tidak mengganggu Narra lagi dan khususnya hubungan kami" kata Andra.


"baik kak" sahut Indra.


"aku minta maaf ka Nda" ucap Narra, dia mulai terisak.


Diandra beranjak berdiri, dia memegang kedua bahu Narra dari belakang.


Andra berusaha ingin mengusap air mata Narra dengan tangan kirinya karena tangan kanannya terpasang infus tapi jaraknya tidak sampai.

__ADS_1


"jangan menangis sayang, aku mohon" ucapnya.


Narra perlahan mendekat dengan sedikit mengeserkan kursinya. Dia meraih tangan kiri Andra dan menaruhnya diatas telapak tangannya.


Ucapan Andra bukan membuat Narra menghentikan tangisannya tetapi malah semakin menjadi.


"sayang....." panggil Andra seraya menggelengkan kepalanya.


Bunda Serena beranjak berdiri dan mendekat. Dia memutar badan Narra agar menghadapnya.


Bunda Serena memeluk Narra erat.


"sudah sayang, jangan menangis" ucapnya.


"jadi bagaimana keputusanmu tentang acara kalian ?" tanya ayah Hadinata Wijaya akhirnya.


"boleh Andra bicara berdua sama Narra ?" tanya Andra seraya memandang Narra dalam pelukan bundanya.


Ayah Hadinata mengangguk.


"baiklah, kami akan keluar makan siang. Kalian berdua yang putuskan, tinggal beberapa jam lagi jelang acara kalian" kata ayah Hadinata seraya beranjak berdiri.


"baik ayah" kata Andra.


Semua keluar meninggalkan Andra berdua dengan Narra di ruangan itu.


Belum sempat Andra bicara, Indra masuk lagi membawa kotak makanan.


"ini makan siang untukmu, Sheva sudah memesan dari hotelnya jadi kami semua akan makan di ruang meeting" kata Indra.


Dia pun pamit keluar.


"makanlah dulu, setelah itu kita bicara" kata Andra.


"ka Nda tidak makan ?" tanya Narra.


"jatah pasien sebentar lagi, setelah kamu selesai makan.. bantu aku makan" kata Andra.


Narra mengangguk. Dia menuju meja sofa dan meletakan kotak makanannya disana. Narra menghabiskan makanan dengan perlahan karena Andra terus menatapnya membuatnya salah tingkah.


*


Setelah membantu Andra makan dengan menyuapinya, Narra dan Andra akhirnya memulai pembicaraan mereka.


"aku marah, aku sakit melihat kamu bersama Ardhan, apalagi sampai berpegangan tangan seperti itu. Aku kecewa karena aku tahu kamu punya alasan kenapa melakukan itu tapi kamu tidak memberi tahu dulu padaku, langsung mengambil keputusan yang kamu yakin itu benar" ungkap Andra dengan kemarahan yang tertahan.


"maaf" hanya itu yang Narra ucapkan.


"kamu sudah tahu bagaimana aku, kalo tadi keluargaku tidak menenangkan aku untuk lebih dulu mendengarkan penjelasanmu pastinya aku akan menjadi orang bodoh yang melepaskanmu" ucap Andra lirih.


Narra memandang Andra. Ada rasa haru karena Andra begitu mencintainya dan ada rasa bersalah karena kekasihnya itu terluka karena perbuatan bodohnya menuruti kemauan Ardhan.


"sebaiknya kita langsung menikah saja" kata Andra.


Narra memandang Andra.


"tapi ka Nda, kita belum membicarakan ini dengan keluarga kita" kata Narra.


"keputusan ada pada kita, kalo kamu setuju aku akan minta ayahku untuk bicara pada ayahmu. Kita akad nikah saja dulu disini, untuk pestanya nanti setelah aku keluar dari sini" jelas Andra.


Narra terdiam. Terus terang dia masih merasa ini terlalu terburu-buru.


"beri aku waktu untuk memikirkannya dulu, sebentar saja. Permisi" Narra beranjak tapi Andra mencekal tangannya dengan tangan yang terpasang selang infus.


"sayang... aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kalo sampai harus kehilanganmu" katanya.


"aku tahu, beri aku waktu sebentar. Hanya sebentar" kata Narra menegaskan.


Perlahan Andra melepaskan cekalan tangannya. Dia membiarkan Narra beranjak keluar dari ruang perawatannya.


*


Di luar, Narra disambut keluarga Andra, Rayyan dan Friends. Mereka tidak ada yang meninggalkan tempat itu seakan permasalahan Narra dan Andra yang terpenting sekarang.


"Narra ingin menenangkan diri sebentar ayah, bunda. Permisi" kata Narra lalu melangkah melewati mereka semua.


Rayyan memberi kode pada para sahabat Narra agar mengikutinya.


"biar Faya saja kak" kata Faya.


Rayyan mengangguk. Dia tahu diantara para sahabat Narra, adiknya itu dekat sama Imel dan Faya.


Faya pun bergegas mengikuti Narra.

__ADS_1


Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang melihat kepergian Faya menyusul Narra dengan tatapan sendu.


***


__ADS_2