
Andra pamit pada Narra untuk ikut ayah Hadinata, papa Farid dan om Richard Davidson melapor ke kantor polisi dan akan langsung melakukan pencarian Faya.
Sementara mama Maya dan tante Melani masih belum pulih kondisinya diminta untuk menjalani perawatan dulu. Narra meminta izin pada suaminya untuk menjaga kedua ibu Faya itu di rumah sakit.
"kamu jangan kecapean ya, kalo kamu mau istirahat di ruanganku saja" kata Andra.
Narra mengangguk.
"ka Nda hati-hati ya" ucapnya.
Andra mengangguk lalu mencium kening istrinya.
"bunda, Andra titip Narra ya. Jangan sampai dia kecapean" kata Andra pada bunda Serena.
"iya, kamu dan ayah hati-hati ya. Kalo benar ini perbuatan tuan William. Dia bukan orang sembarangan" kata bunda Serena mengingatkan.
"iya bunda, Andra mengerti. Andra pergi dulu" pamit Andra.
Bunda Serena mendekati menantunya, dia merangkul Narra.
"jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja" katanya.
Narra mengangguk.
Dia beranjak berdiri diantara tempat tidur mama Maya dan tante Melani. Narra memperbaiki selimut mereka lalu duduk di sofa bersama ibu mertuanya.
"bunda tidak praktek ?" tanya Narra.
"hmmm iya, sebentar lagi. Kamu tidak apa bunda tinggal ?" tanya bunda Serena.
"iya, Narra akan baik-baik saja bunda" ucap Narra.
Bunda Serena mengusap kepala menantunya. Dia lalu beranjak dan keluar dari ruang inap mama Maya dan tante Melani.
"semoga kamu baik-baik saja Fay" ucap Narra.
*
Sementara itu Faya yang masih tidak sadarkan diri berada di sebuah ruangan dengan sedikit cahaya. Disekitarnya tampak beberapa orang menjaga.
"tuan besar" sapa salah satu penjaga seraya membungkuk hormat.
"bagaimana keadaannya ?" tanya yang dimaksud tuan besar seraya duduk di kursi dengan sandaran tinggi.
Satu-satunya kursi dalam ruangan itu.
"kata dokter, dia sudah lebih baik hanya saja dia masih belum bisa bergerak dari tempat tidur" jelas penjaga itu.
Tadi sebelumnya mereka memanggil dokter pribadi kepercayaan tuan besar untuk memeriksa Faya.
"trus kenapa dia belum sadar ?" tanya tuan besar.
"maaf tuan besar, mungkin efek obat bius yang kami berikan" kata penjaga itu seraya menunduk.
"oo baiklah, aku akan menunggu disini" kata tuan besar.
__ADS_1
*
Friends berkumpul di tepi kolam renang hotel Sheva. Mereka mencoba mengira-ngira dimana keberadaan Faya.
"kenapa kita tidak coba tanya kak Andra. Secara, kak Andra pasti tau siapa musuh Richard Davidson" sahut Desta.
"iya benar, kita harus segera menemukan Faya. Kondisinya belum pulih. Dia belum bisa bergerak dari tempat tidur" sahut Erga lagi.
Sheva menghela nafas lalu menelfon Narra. Dia menanyakan tentang perkembangan informasi tentang Faya.
"ka Nda, ayah Hadinata, papa Farid dan om Richard pergi ke kantor polisi untuk melapor hilangnya Faya" jelas Narra.
"trus kemana mereka akan mencari Faya ?" tanya Sheva.
"mereka curiga ini perbuatan kakek kandung Faya, tuan William. Mereka akan menemuinya" kata Narra.
"baiklah, bilang pada kak Andra kami siap kalo dia memerlukan bantuan" kata Sheva.
"iya" balas Narra.
Narra menutup panggilan dari Sheva. Dia langsung mengirim pesan pada suaminya.
[Friends siap kalo ka Nda perlu bantuan. Tadi Sheva menelfonku]
Narra mengirim pesannya.
[aku akan mengirim sharelocknya, bilang pada mereka untuk standby tidak jauh dari tempat itu. Tunggu kode selanjutnya]
Balas Andra disertai alamat maps pada pesan selanjutnya. Narra lalu meneruskan alamat itu pada Sheva.
"wah tempatnya kayak di film-film mafia. Banyak sekali penjaganya" komen Desta begitu melihat sekeliling rumah yang menjadi target mereka.
"kak Andra dan semuanya ada didalam. Kita diminta menunggu kode selanjutnya" kata Sheva.
"oke !" koor Erga dan Desta.
Mereka pun fokus mengawasi rumah megah tuan William.
*
Sementara Rea dan Keenan melayani wartawan yang meminta informasi tentang Faya. Mereka menjawab seperlunya saja karena privasi Faya harus bisa terjaga. Mengenai kedua orang tua kandungnya dan juga tentang Faya yang di culik sebisa mungkin mereka menekankan tidak tahu mengenai hal itu. Entah dari mana para pencari berita itu mendapatkan informasi itu.
"Re, aku rasa kita tidak bisa menyembunyikan ini terus. Ini berpengaruh untuk karir Faya" kata Keenan setelah selesai sesi wawancara.
"aku tau bang, tapi kita tidak bisa berbuat apa karena kondisi Faya yang belum pulih dan juga kita tidak tau dimana dia sekarang. Semua sedang bergerak mencarinya. Setelah Faya ketemu, biarkan dia sendiri dan kedua orang tuanya yang menjelaskan pada mereka" sahut Rea.
Keenan mengangguk setuju.
"aku pamit bang, aku mau kerumah sakit ketemu Narra yang menjaga kedua ibu Faya" kata Rea.
"oke, terima kasih Re" sahut Keenan.
"sama-sama bang" balas Rea lalu pergi.
*
__ADS_1
Dalam kediaman William, Richard berbicara sengit dengan ibunya karena ibunya bersikeras tidak memberi tahu dimana suaminya. Dia bahkan tidak perduli tentang Faya sedikit pun.
"jadi kalian kembali karena kalian sudah tau kalo Faya itu putraku ?" tanya Richard.
"kami tau karena kami yang menjauhkannya dari kalian" kata nyonya Helen.
"kenapa kalian tega melakukan itu padaku ?" balas Richard.
"karena Melani dan anak itu menghancurkan semuanya" balas nyonya Helen.
"apa maksud ibu ?" balas Richard.
Nyonya Helen tersenyum sinis.
"kamu bodoh Richard, Melani itu wanita yang dicintai ayahmu !" katanya.
Bagai petir yang menggelegar dikepala Richard, dia shock.
"ibu pasti bohong !" balas Richard.
"kamu bisa tanyakan itu pada Melani, dia pasti mengakuinya karena itu dia selalu diam dan tunduk pada keinginan kami karena dia tidak ingin kamu tau tentang hal itu" jelas nyonya Helen.
"bagaimana bisa ibu membiarkan hal itu ?" tanya Richard.
"itu kecewa, ibu sakit hati tapi ibu sangat mencintai ayahmu. Ibu mengetahuinya tapi ibu menyimpannya dalam diam karena Melani tidak pernah merespon ayahmu. Dia mencintaimu. Jadi ibu sedikit lega mengenai hal itu" cerita nyonya Helen.
"kenapa putraku jadi korban bu ?" kata Richard.
"karena ayahmu sakit hati. Wanita yang dia cintai mencintai putranya dan sedang mengandung anak buah cinta mereka" balas nyonya Helen.
"kalian sangat tega padaku, aku benar karena memutuskan hubungan dengan kalian. Sekarang kasih tau dimana suami anda menyembunyikan putraku ?" tanya Richard dengan geram.
"aku tidak tau" balas nyonya Helen.
"maaf nyonya, apa sebagai seorang ibu dan juga nenek.. Anda tidak punya sedikitpun simpati pada putra dan cucu anda ?" tanya papa Farid.
Nyonya Helen kembali tersenyum sinis
"kamu juga ! Kenapa sampai bisa ketahuan kalo dia bukan putra kalian. Kalo dia tidak tau, selamanya dia akan jadi putra kalian" sergahnya.
"ini semua sudah takdirnya nyonya. Bagaimana pun Faya berhak tau siapa orang tua kandungnya" sahut papa Farid.
Nyonya Helen menggelengkan kepalanya.
"kamu bukan putraku Richard, aku hanya istri yang tidak dianggap ayahmu" ucap nyonya Helen lirih.
Semua tercengang. Sebuah rahasia lagi terkuak. Richard orang yang sangat shock mendengar ini.
Tadi dia sudah dibuat shock dengan kebenaran kalau ayahnya mencintai istrinya dan sekarang ibu yang selama ini merawatnya, memberi kasih sayang padanya dan juga disayanginya ternyata bukan ibu kandungnya.
"ibu... Ada apa dengan semua ini ?" nada bicara Richard mulai melemah.
Ayah Hadinata yang berada disebelahnya memegang pundaknya seakan memberi kekuatan agar Richard tenang.
***
__ADS_1