
Imel menarik tangan Rea agak jauh dari depan kamar Narra.
"aku tidak mengerti Mel, katanya dia sudah tidak ada rasa sama Ardhan tapi kenapa sekarang..." Rea menghembuskan nafasnya kasar.
"Re, ini namanya rasa bersalah" sahut Imel.
"maksud kamu ?" tanya Rea.
"selama ini kita membenci Ardhan, padahal yang bersalah dalam hal ini adalah orang tuanya. Ardhan juga korban" jelas Imel.
"jadi menurutmu, Narra merasa bersalah karena sudah membenci Ardhan. Dan rasa bersalah itu membuat dia meragu pada cintanya untuk kak Andra" sergah Rea.
Imel mengangguk.
"Narra seharusnya bisa lebih bersikap" komen Rea.
"biarkan dia tenang dulu, aku yakin Narra tau apa pilihan terbaiknya" sahut Imel.
Rea mengangguk.
Rayyan menghampiri mereka.
"bagaimana, apa Narra mau menemui Andra ?" tanyanya.
Rea dan Imel kompak menggeleng.
Rayyan menghela nafas.
Ayah Sasmita datang bersama ibu Flanella. Mereka dari mengantar Rania, Adryan dan Rishi kemobilnya yang sudah berpamitan pulang.
Ayah Sasmita memandang Rayyan.
Seakan tahu arti tatapan ayahnya, Rayyan menggelengkan kepalanya.
"pergilah, temui Andra. Bilang kalo Narra belum mau keluar kamar. Dia bisa datang lagi nanti" kata ayah Sasmita.
Belum sempat Rayyan menjawab, pintu kamar Narra terbuka.
"aku akan menemui ka Nda yah" kata Narra.
Ayah Sasmita mengangguk.
"selesaikan masalahmu dengan baik, jangan menghindar" nasehat ayah seraya mengusap puncak kepala putrinya.
"iya yah, Narra tidak mau ini jadi beban dihati Narra" ucap Narra pelan.
Narra melewati mereka menuju teras. Di ruang tivi, dia melewati para sahabat cowoknya yang melihat dengan tatapan tanya. Dia hanya tersenyum tipis.
"aku jadi merasa kasian sama Narra" bisik Desta setelah Narra melewati mereka.
"iya, seharusnya dia sudah bahagia tapi cobaan itu datang lagi" sahut Erga dengan berbisik juga.
"semoga saja Narra bisa melewatinya" ujar Faya terus memandang Narra sampai melewati pintu depan.
"Aamiin" sahut Sheva. Pandangannya juga tertuju pada Narra.
*
Narra memandang Andra. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang, terus terang dia bingung.
Andra meraih jemari Narra.
"apa semua baik-baik saja ?" tanya Andra.
Narra menggeleng.
"aku tidak baik-baik saja kak" katanya.
"ada apa ?" tanya Andra.
"aku merasa tidak adil" kata Narra.
"maksudnya ?" Andra tidak mengerti.
"aku menjalin hubungan dengan ka Nda saat Ardhan pergi. Dan hubungan kami belum berakhir. Tapi di sisi lain aku nyaman dengan ka Nda, aku bahagia dengan ka Nda. Aku merasa sedang menjalani hubungan cinta yang tidak seharusnya. Aku merasa aku sedang selingkuh" jelas Narra.
"jadi kamu masih memikirkan perasaan Ardhan ? kamu tidak memikirkan perasaanku dan apa yang kita jalani sekarang. Ardhan pergi meninggalkanmu tanpa kabar. Seharusnya itu cukup untuk buat hubungan kalian berakhir" Andra tidak tenang tapi dia masih menahan emosinya.
"bukan hanya Ardhan, aku memikirkan kita juga. Kita tidak bisa terus menjalani ini diatas hubungan yang belum berakhir" balas Narra.
"jadi kamu mau bagaimana ?" tanya Andra.
__ADS_1
"aku ingin menyelesaikan urusanku dulu dengan Ardhan. Aku harap ka Nda mengerti" ucap Narra lirih.
"kamu ingin memberi dia kesempatan bersama kamu ?" tanya Andra tajam, genggaman tangannya semakin erat.
"aku ingin bersikap adil" kata Narra.
"tapi aku tidak suka" bentak Andra, genggaman tangannya terlepas.
"apa karena aku tidak tau bunga apa yang kamu suka, tidak tau apa alergimu sehingga kamu ingin pergi dari aku" terang Andra.
"apa cintaku tidak cukup ?! aku sangat mencintaimu, sangat" lanjut Andra lagi.
"aku tidak pergi dari ka Nda, aku hanya minta ka Nda mengerti situasinya kalo Ardhan ada diantara kita" sergah Narra.
"aku tidak bisa melihatmu bersamanya, dia akan berusaha memisahkan kita. Aku tau bagaimana dia" Andra beranjak berdiri lalu menghadap Narra yang masih duduk ditempatnya.
Andra meraih kedua tangan Narra lalu mengecup punggung tangan Narra.
"aku mencintaimu" katanya seraya mencium kening Narra lalu beranjak pergi.
"ka Nda" panggil Narra tapi hal itu tidak menghentikan langkah Andra yang menjauh menuju pintu pagar.
Narra beranjak berdiri. Ada rasa sakit karena dia sadar dia telah menyakiti hati Andra. Air mata Narra jatuh menetes di pipinya.
"padahal aku hanya meminta waktu untuk menyelesaikan semua ini, aku meminta pengertian ka Nda" ucap Narra dalam derai air matanya menatap Andra yang masuk kedalam mobilnya dan melaju.
Rayyan keluar dan memeluk adiknya.
"Andra cemburu, kecewa, dan sakit hati karena dia merasa kamu lebih memikirkan tentang perasaan Ardhan sekarang" ucap Rayyan mencoba memberi pendapatnya.
Rayyan dan para sahabat Narra melihat dan mendengarkan semuanya dari balik jendela. Bukan karena mereka ingin tahu tapi karena mendengar nada Andra dan Narra yang mulai meninggi. Mereka takut terjadi sesuatu karena itu mereka berjaga-jaga dari balik jendela.
Untung saja kedua orang tua Narra sudah masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Mereka mempercayakan Narra pada Rayyan. Mereka yakin Rayyan bisa mendampingi adiknya menyelesaikan masalahnya dengan Andra.
"tapi aku tidak bermaksud begitu kak" ucap Narra dalam pelukan kakaknya.
"kakak mengerti. Kalian butuh waktu untuk lebih tenang dalam menghadapi masalah kalian. Kalo sudah tenang, baru bicarakan berdua bagaimananya" Rayyan mengusap kepala adiknya.
Rea perlahan menjauh dari semuanya, dia menghubungi Indra karena khawatir dengan Andra.
*
Kediaman Hadinata Wijaya.
Diandra dan Smith hanya datang menyapa lalu pamit untuk menidurkan Vinand.
Sedangkan Indra duduk sebentar lalu pamit menuju ruang kerja.
Sebagai wakil CEO HM Farma, Indra juga bertanggung jawab menyelesaikan tugas-tugasnya bersamaan dengan pekerjaannya sebagai dokter. Seperti yang dilakukan kakaknya, Andra Hadinata Wijaya.
"kak Andra kok blum datang juga om ?" tanya Arini.
Dia terlihat gelisah, dari tadi dia menunggu Andra.
"maaf Arini, Andra mungkin ada keperluan" ujar Serena Hadinata.
"tapi kan bisa di hubungi bahwa Arini menunggunya" sergah Siera Raihan.
"mungkin Andra sudah di jalan, aku takut nanti mengganggu fokus mengemudinya" balas Serena lagi.
Arini semakin cemberut. Dia tidak bisa menghubungi Andra karena pria itu telah memblokir nomornya.
Raihan Kusuma yang melihat ekspresi putrinya, lalu meraih ponselnya.
"biar papa yang telfon Andra" katanya.
Arini sumringah tapi dokter Serena terlihat tidak senang.
Raihan Kusuma mencoba beberapa kali tapi Andra tidak menjawab ponselnya.
"dia tidak menjawabnya" katanya.
"sudahlah, mungkin sebentar lagi dia sampai" kata Hadinata Wijaya.
Raihan Kusuma mengangguk.
"kita tunggu saja" katanya mengusap kepala putrinya.
"iya pa" sahut Arini seraya mengangguk.
Indra datang menghampiri bundanya.
__ADS_1
"maaf bunda, Indra bisa bicara sebentar" bisiknya.
Dokter Serena Hadinata mengangguk.
"aku permisi" pamitnya pada tamunya.
Indra dan dokter Serena menuju taman kolam renang, agak jauh dari tamunya dan juga bisa mengawasi sekitar agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"ada apa In ?" tanya bunda Serena.
Indra lalu menceritakan situasinya sesuai cerita Rea di telfon.
Bunda Serena terlihat khawatir.
"kamu telusuri jalan pulang, bunda takut terjadi apa-apa dengan kakakmu" pintanya.
"baik bunda, Indra pergi" Indra segera bergegas. Dia pun berpamitan pada ayahnya lalu pergi.
Bunda Serena kembali bergabung bersama tamunya tapi raut wajahnya yang terlihat cemas membuat dokter Hadinata Wijaya, suaminya ingin tahu.
"ada apa ?" tanyanya.
"Indra akan mengatasinya" jawab dokter Serena Hadinata seraya mengusap lengan suaminya seakan menegaskan bahwa semua baik-baik saja.
Dokter Hadinata hanya mengangguk padahal dia sebenarnya tidak mengerti maksudnya.
Tak lama Andra memasuki rumah bersama Indra di belakangnya. Semua pandangan tertuju padanya.
Bunda Serena menghampiri Andra.
"kamu tidak apa-apa An ?" tanyanya.
"aku mau ke kamar bunda" ucap Andra.
"iya, istirahatlah" ucap bunda Serena.
Andra menghampiri ayahnya.
"maaf ayah, aku ingin beristirahat" katanya.
Ayah Hadinata memandang tamunya, sebenarnya dia tidak enak pada tamunya tapi Andra terlihat capek sekali.
Walaupun dia tahu Andra tidak suka dengan keberadaan tamunya tapi setidaknya mereka menghargai tamu.
"iya An" jawab ayah Hadinata Wijaya akhirnya.
Andra pun berlalu tanpa menoleh kepada keluarga Raihan Kusuma, dia terus berjalan cepat menuju tangga.
Baru saja hendak menaiki tangga, Arini menghentikannya dengan merentangkan kedua tangannya menghalau Andra.
"kak Andra tidak boleh kemana-mana. Aku dari tadi menunggu kakak" katanya.
"minggir !!" bentak Andra.
"An !" teriak dokter Hadinata Wijaya.
Dokter Serena menghampiri suaminya, dia mengusap lengan suaminya agar suaminya tenang.
"aku tidak mau !" balas Arini.
"aku tidak ada waktu untuk kamu ! pergi dari hadapanku sekarang juga ! minggir !!!" bentak Andra dengan emosi yang meluap.
Raihan Kusuma yang tidak terima putri kesayangannya di perlakukan seperti itu, segera menghampiri Andra.
"kamu bisa sopan kepada putriku" katanya.
Andra menatap tajam Raihan Kusuma.
"bilang padanya untuk menjauhi aku" kata Andra.
"Arini menyukaimu nak Andra" ujar Siera Raihan.
"aku tidak perduli nyonya" sahut Andra.
Dia lalu beralih menatap Arini tajam, tatapannya begitu mematikan membuat Arini memucat tapi gadis itu tetap mematung di tempatnya.
"jangan pernah berharap apapun padaku karena hanya Narra yang aku cinta, sampai kapanpun" kata Andra tegas.
Dia terus berjalan menabrak tangan Arini dengan kasar sehingga gadis itu mengaduh kesakitan.
Andra tidak perduli.
__ADS_1
Dengan langkah cepat dia menaiki tangga menuju kamarnya.
***