
Narra memandang Andra yang dari tadi mengaduk ice lemon teanya. Sepertinya ada yang mengganggu pikiran calon suaminya itu.
"ka Nda masih banyak kerjaan ?" tanya Narra.
"sudah selesai sayang, kenapa ?" Andra balas tanya.
"dari tadi ka Nda seperti ada yang dipikirkan" kata Narra.
"hmm aku terganggu dengan pernyataan Faya tempo hari dan sekarang kalian akan bertemu" Andra berusaha jujur pada Narra.
Narra meraih tangan Andra, "aku sering bilang sama ka Nda kalo aku hanya bersikap sebatas sahabat dan saudara karena begitu juga orang tua kami" jelasnya.
"tapi itu sangat menggangguku, aku takut dia merebutmu dariku karena dia dekat denganmu" sahut Andra lagi.
Narra menggelengkan kepalanya.
Andra begitu takut kehilangannya. Dia bersyukur memiliki Andra yang sangat mencintainya dan tidak pernah meninggalkannya.
"aku tidak akan kemana-mana, aku akan selalu bersama ka Nda" kata Narra.
Andra memeluknya dan sesekali mencium puncak kepala Narra. Dia begitu mencintai Narra, tidak ada lagi tempat untuk orang lain. Hanya Narra dan dia berharap Narra begitu juga.
Untungnya dia memilih ruang VIP untuk pertemuan Narra dan para sahabatnya sehingga tidak ada yang melihat kemesraan mereka.
Setelah makan siang berdua, mereka menunggu para sahabat Narra datang karena mereka berhalangan untuk makan siang bersama.
Suara ketukan pintu melerai pelukan mereka.
Pelayan membuka pintu dan terlihat Imel masuk kedalam.
"duduk Mel" kata Narra.
"aku tunggu di luar ya" kata Andra seraya mengusap pipi Narra.
Narra mengangguk.
Hening setelah Andra keluar. Narra dan Imel hanya saling memandang canggung.
"kamu mau pesan apa ?" tanya Narra.
"milkshake coklat saja" jawab Imel.
Narra meraih phone yang terletak di meja mereka. Dia meminta pelayan membawa minuman pesanan Imel.
Tak lama pesanan Imel datang.
"Mel, bagaimana perasaanmu sekarang ?" tanya Narra setelah pelayan itu pergi.
"aku menginginkannya Na, dari dulu rasa itu begitu dalam" Imel lirih.
"kenapa kamu merahasiakannya dariku ?"
"karena ini Erga, orang yang sangat dekat dengan kita. Aku tidak ingin dia menjauhiku kalo tau semuanya tapi aku ingin dia melihatku sebagai wanita yang mencintanya bukan sebagai sahabat" jelas Imel.
"Mel sekarang kamu tau kalo Erga ternyata tidak memiliki rasa yang sama, dia ..."
"aku ingin dia Na" potong Imel.
"kamu tidak bisa begitu, kamu harus memikirkan perasaan Erga juga dan ada Sheva yang suka sama kamu"
"aku tidak suka Sheva, aku ingin Erga" balas Imel.
Narra hanya menggelengkan kepalanya. Cinta membuat Imel egois. Narra tidak punya kata-kata lagi untuk memberitahu Imel.
"maaf Na, aku ada janji dengan pejabat pengadaan kantor keuangan. Aku harus pergi" pamit Imel.
"baiklah, terima kasih sudah datang" ucap Narra tanpa bisa menahan Imel. Dia ingin pertemuannya dengan para sahabatnya itu kejutan untuk mereka semua.
"maaf ya" sahut Imel seraya meminum milkshakenya sampai habis.
Mereka beranjak berdiri dan saling berpelukan.
"jangan terlalu capek, kamu baru pulih. Ingat sebentar lagi nikah" kata Imel.
"iyaaa, terima kasih kamu sudah ikut menyebarkan undanganku" balas Narra.
"aku pasti bantu-bantulah, aku pergi ya" Imel pun pamit.
Setelah Imel pergi, Andra masuk lagi kedalam. Sesuai kesepakatan dengan Narra, dia akan membiarkan Narra bicara dengan para sahabatnya tanpa didampingi.
"semua baik-baik saja ?" tanya Andra.
Narra mengangguk.
__ADS_1
Andra memegang kedua bahu Narra, "kamu tidak bisa menyembunyikan sesuatu padaku. Aku calon suamimu" katanya. Dia mengulang kembali kata-kata Rayyan untuk Narra.
Narra memandang Andra.
"Imel tidak bisa di kasih tau, dia tidak mendengarkanku. Seharusnya dia memikirkan perasaan Erga dan Sheva. Dia tidak hanya memikirkan perasaannya yang tidak berbalas itu" cerita Narra.
"pelan-pelan dia akan mengerti, kamu sabar ya" ucap Andra.
Narra hanya mengangguk.
*
Rea memandang Narra. Mereka membicarakan tentang Indra dan Faya.
"beberapa hari ini aku sangat sibuk jadi aku belum menemui Indra. Aku berharap dia yang menemuiku agar masalah kami cepat selesai tapi tidak ada. Dia sama sekali tidak melanggar kata-katanya" jelas Rea.
"Indra ingin kamu menemuinya ?" tanya Narra.
"iya, dia bilang kalo aku sudah yakin dengan pilihanku.. Temui dia tapi kalo aku tidak datang, dia sudah tau apa pilihanku" Rea tertunduk.
"dan pilihanmu ?" tanya Narra.
"tentu saja Indra karena aku tau sekeras apapun aku berusaha, Faya hanya menganggapku sahabatnya. Dia menyukaimu" kata Rea.
"tapi aku akan segera menikah dengan ka Nda" sergah Narra.
Rea mengangguk, "tapi cinta Faya masih untukmu" katanya.
"kamu ingin bertemu Indra ?" tanya Narra.
"iya, tapi jadwalku betul-betul berantakan. Untung saja kak Andra yang meminta bertemu pada manajerku jadi dia berusaha untuk menjadwalkan semua karena kak Andra klien penting. Aku masih brand ambasador perusahaan mereka" terang Rea.
Pintu terbuka, Indra dan Andra masuk kedalam.
"kalian bicaralah, aku sudah memesan ruangan di sebelah untuk kalian bicara dan manajermu sudah aku urus" kata Andra.
Rea memandang Narra.
"pergilah, selesaikan urusanmu" sahut Narra.
Rea beranjak, dia keluar dan disusul Indra di belakangnya.
Andra kembali duduk di sebelah Narra.
Narra mengangguk, "mereka saling mencintai" katanya.
"seperti kita" goda Andra seraya merangkul Narra.
"iya..." Narra menyandarkan kepalanya di bahu Andra.
"sekarang menunggu kedatangan para cowok.. Hmmm semoga mereka bisa saling menerima" ucap Narra.
"termasuk Faya ?" tanya Andra.
Narra mengangguk.
"tapi ka Nda janji ya, akan baik-baik saja" Narra duduk menghadap Andra.
"iya sayang, aku akan berusaha menahan diri" jawab Andra.
"terima kasih, aku cinta ka Nda" Narra mencium pipi Andra.
Andra tersenyum. Dia menunjuk bibirnya.
Narra memutar bola matanya, Andra langsung menangkup wajah Narra dan bibir mereka pun bertautan.
"kamu milikku" ucap Andra setelah melepaskan tautan mereka.
"iya, tuan posesif" Narra menjulurkan lidahnya.
Andra mengusap puncak kepala Narra.
"jangan menggodaku lagi sayang" katanya.
Narra tersenyum lalu kembali bersandar pada bahu calon suaminya.
*
Para sahabat cowok Narra datang bersamaan. Narra pun meminta mereka untuk memesan minum lebih dulu sebelum mereka berbicara.
"kalian belum berbaikan ?" tanya Narra memandangi sahabat cowoknya satu persatu setelah pesanan mereka sudah datang.
"kami baik-baik saja" jawab Erga.
__ADS_1
"kamu tidak berbakat bohong Ga, aku tau kalian mendiamkan Desta" kata Narra.
Mereka memandang Desta.
"aku tau semuanya, jangan menuduhnya mengadu padaku" tegas Narra.
Entah kenapa para sahabatnya takut kalau melihat Narra marah karena Narra itu hampir tidak pernah marah dan sekalinya dia marah pasti hal itu di luar batasnya.
"Na, kami tidak ada masalah. Yang kami pikirkan adalah perasaan Imel dan Rea. Mereka pasti malu karena ini dan Desta yang memulainya" jelas Sheva.
"aku hanya ingin kalian jujur dengan perasaan kalian" sergah Desta.
"apa kamu memikirkan bagaimana perasaan Imel, sekalinya dia jatuh cinta tapi tidak berbalas" sahut Sheva.
"Imel baik-baik saja, hanya saja dia masih belum menerima kenyataan perasaannya. Ga, dia menginginkanmu. Maaf Shev, perasaan Imel tidak bisa dipaksa" kata Narra.
"bagaimana dengan perasaanku" Faya menimpali.
Narra memandang Faya, "Fay, aku akan segera menikah. Sudah cukup Ardhan, kamu jangan membuatnya kacau lagi" balasnya.
"aku hanya ingin waktu berdua denganmu Na" ucap Faya lirih.
"mana bisa begitu Fay, kak Andra pasti tidak akan setuju" balas Desta.
"sekali saja, setelah itu aku akan melepaskanmu dengan ikhlas" ucap Faya.
Narra menggelengkan kepalanya. Dia tahu Andra pasti tidak setuju. Tadi saja dia sebenarnya keberatan kalau Narra bertemu Faya, apalagi harus memberinya waktu untuk bersamanya.
Andra bisa emosi lagi, dan Narra tidak ingin hal itu terjadi. Calon suaminya itu sudah bisa meredam emosinya dan menahan diri.
"aku tidak bisa Fay, ka Nda pasti tidak setuju. Kamu jangan seperti Ardhan. Ingat tindakan bodohku menuruti Ardhan, apa yang terjadi pada hubunganku dan ka Nda ? Aku tidak bisa Fay" terang Narra.
Faya terdiam. Dia beranjak lalu keluar meninggalkan mereka.
"Fay, aku belum selesai" panggil Narra tapi Faya tidak menghiraukannya.
"biarkan saja Na, dia harus menerima" kata Sheva.
"bagaimana dengan kamu ?" tanya Narra.
"aku akan menerima demi persahabatan kita" kata Sheva.
"Ga, bicaralah dengan Imel. Buat dia mengerti" kata Narra.
"aku sudah bicara sama dia tapi dia tetap ingin aku bersamanya. Aku tidak bisa Na, bukan karena Rea. Aku akan merelakan dia tapi karena memang perasaanku tidak bisa di paksakan" jelas Erga.
"Ga.." panggil Sheva.
"jangan paksa aku Shev, kamu mencintainya pasti kamu ingin dia bahagia tapi jangan korbankan bahagiaku" kata Erga.
"maafkan aku" ucap Desta.
"berhenti menyalahkan dirimu lagi Ta, semua sudah terjadi" kata Narra.
"sekarang, mari kita perbaiki semuanya demi persahabatan kita" ucap Narra.
Semua mengangguk.
"aku ingin persahabatan kita seperti dulu lagi. Aku ingin kalian semua ada di hari pernikahanku" terang Narra.
"Rea ada di ruang sebelah sedang memperbaiki hubungannya dengan Indra sedang Imel tadi harus pamit, ada urusan pekerjaan yang harus dia selesaikan" lanjut Narra lagi.
"aku yang memulainya, aku akan berusaha memperbaikinya. Maafkan aku semuanya" ucap Desta.
Narra menggeleng, "aku sudah bilang jangan terus meminta maaf Ta, semua sudah terjadi" katanya.
Sheva menghadap pada Desta. Dia mengulurkan tangannya.
"maafkan aku" katanya.
Desta terharu, dia langsung memeluk Sheva.
"terima kasih Shev, terima kasih" ucapnya.
Erga yang berada di sebelah Sheva menepuk pundak Desta lalu merangkul keduanya.
"aku juga minta maaf Ta" kata Erga.
Narra tersenyum. Dia memotret para sahabatnya lalu mengirimkannya di grup chat mereka.
"terima kasih, sayang kalian"
***
__ADS_1