FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 23.1


__ADS_3

Andra memasuki kamarnya.


Dia menuju meja pajangan dimana terdapat berbagai bingkai foto yang tertata rapi. Dia melihat satu persatu koleksi foto Narra yang diambilnya secara diam-diam dari sebelum jadian sampai kini telah bersama.


Andra suka melihat semua ekspresi Narra.


Diedarkan matanya melihat kearah nakas samping tempat tidurnya. Terdapat foto berduanya dengan Narra yang tersenyum manis kearah kamera.


Lalu dia melihat lagi nakas sudut sofa kamarnya. Foto dirinya merangkul Narra, menempelkan pipi mereka dan tertawa kearah kamera.


Semuanya begitu indah, begitu bahagia, dan Andra tidak mau itu berubah.


Bayangan nanti Ardhan bertemu dan berjalan bersama Narra terlintas di kepalanya, dia menggeleng kuat. Dia tidak suka karena Ardhan pasti akan memanfaatkan momen itu untuk meminta Narra kembali padanya.


"dengan sikapmu begini sayang, aku jadi ragu kalo kamu cinta sama aku" Andra mengusap salah satu bingkai di meja pajangan.


"tapi kalo benar kamu cinta sama aku, apa kamu bisa bertahan saat Ardhan terus merayumu" Andra terus bergumam.


Dia merasa kepalanya mau pecah, terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.


Andra menyapu bingkai di lemari pajangan dengan kedua tangannya. Semuanya berserakan, pecah, dan meninggalkan luka berdarah pada telapak tangannya.


Dia melangkah menuju nakas sudut sofa, lalu mengambil bingkai yang ada disana dan membantingnya ke lantai.


Dia kembali ingin menghancurkan bingkai di nakas samping tempat tidur tapi langkahnya tertahan karena suara ketukan dan teriakan memanggil namanya di luar kamar.


Sebelumnya ...


"Hadinata, ada apa ini ? kenapa Andra begitu kasar pada putriku" tegur Raihan Kusuma.


"aku minta maaf atas sikap Andra tapi Arini sendiri yang salah, kenapa dia menghalangi Andra yang ingin beristirahat" balas Hadinata Wijaya.


"aku hanya ingin kak Andra menghargai aku yang menunggunya" sahut Arini.


"tapi kondisi Andra lagi capek, seharusnya kamu mengerti" balas Serena Hadinata.


"aku... " Arini tertunduk.


"kenapa kamu menyalahkan Arini, Andra yang sudah tidak sopan" balas Siera Raihan.


"Sebaiknya kita urus kakak dulu ayah, bunda" sergah Indra.


"dengan sangat hormat, sebaiknya kalian pulang. Andra sedang tidak bisa ditemui sekarang. Dan seperti yang aku bilang, aku tidak akan memaksakan hal apapun kepada putraku. Jadi sebaiknya kamu berhenti menjodohkan Andra dengan putrimu karena Andra punya pilihan sendiri" jelas Hadinata Wijaya.


Raihan Kusuma menatap Hadinata Wijaya tajam. Dia tidak percaya, sahabatnya itu akan bicara seperti itu padanya.


"kita pergi dari sini" katanya seraya berlalu.


Siera Raihan mengikuti dari belakang sementara Arini masih berdiri mematung.


"ayo Arini" ajak Siera menoleh pada putrinya.


"tapi ma, Arini cinta sama kak Andra" kata Arini dengan wajah memelas.


"kita pulang" Siera menarik tangan Arini dengan kasar.


Mereka bertiga keluar dari kediaman Hadinata Wijaya.


Setelah tamunya pergi, Hadinata Wijaya memanggil kepala pelayan.


"bi Suri, tolong beritahu keamanan untuk mengunci pagar sekarang juga. Tidak ada lagi tamu untuk malam ini. Setelah itu kunci pintu dan semua jendela. Kita harus menjaga agar Andra tidak pergi kemana-mana" perintah Hadinata Wijaya.


"baik tuan" kepala pelayan itu membungkuk hormat lalu bergegas keluar menemui keamanan yang berada di pos depan, gerbang kediaman Hadinata Wijaya.


Diandra berlari menuruni tangga.


"ayah, bunda, Indra !" teriaknya.


Semua memandang kearah Diandra.


Diandra berhenti di ujung tangga terakhir.


"Andra mengamuk di kamarnya" katanya.

__ADS_1


Semua bergegas menaiki tangga. Indra bahkan melompati beberapa anak tangga agar cepat sampai keatas.


Saat ini ...


"Andra buka pintunya !" Hadinata Wijaya berteriak seraya mengedor pintu putranya.


"ayah, ayah tenang" ucap bunda Serena Hadinata seraya mengusap lengan suaminya.


Hadinata Wijaya mengangguk pelan.


"An ! kita bicara ya sayang" teriak bunda Serena pelan.


Tidak ada respon dari dalam.


Mereka terus mengetuk pintu.


"Andra ingin sendiri !" teriak Andra dari dalam kamarnya.


Semua terdiam.


"sebaiknya, kita biarkan dia sendiri" ujar Hadinata Wijaya.


"tapi aku takut kalo kakak melukai dirinya" Indra khawatir.


"biar aku saja" Diandra maju kedepan pintu.


Diandra terdiam beberapa saat. Kemudian mengetuk pintu kamar Andra.


"An, Narra saat ini sedang shock. Biarkan dia tenang, aku yakin di hatinya hanya ada cinta untuk kamu. Kamu jangan sampai buat Narra sedih justru kalian berdua harus saling menguatkan" ujar Diandra dengan sedikit berteriak.


Tidak ada sahutan dari dalam.


Mereka saling pandang.


"kita biarkan Andra sendiri, aku yakin kali ini dia tidak akan melakukan hal bodoh" kata Diandra.


"baiklah, semuanya istirahat" ucap Hadinata Wijaya seraya menuju kamarnya.


"bunda berharap Andra baik-baik saja" ucap Serena Hadinata seraya mengikuti suaminya.


"iya kak Di" Indra pun berbalik menuju kamarnya.


Diandra menghela nafas lalu menuju kamarnya menemui suaminya yang menemani Vinand.


Tadi dia keluar kamar hendak mengambil mainan Vinand yang tertinggal di ruang keluarga. Begitu hendak menuju tangga, dia mendengar suara barang pecah jatuh dari kamar Andra. Karena panggilan dan ketukannya tidak digubris Andra, dia turun kebawah memberitahu keluarganya.


*


Narra terbangun pagi sekali. Hari ini dia akan kembali masuk kerja.


Seperti pagi biasanya dia ikut membantu ibunya membuat sarapan.


Tiba-tiba Narra merasa mual, dengan bergegas dia berlari masuk ke kamar mandi.


Dia muntah.


"Na, kamu yakin mau masuk kerja ? kamu belum pulih, mualnya masih kambuh" tegur Ibu Flanella.


Mereka sekeluarga sudah tahu efek alergi Narra.


"ibu tenang saja, aku tidak apa. Dokter Firza sudah memberi obat. Aku akan mengatasinya" ucap Narra.


"baiklah tapi kamu jangan bawa motor, biar Rayyan antar kamu" kata ibunya.


"iya ibu" sahut Narra.


*


Kediaman Hadinata Wijaya.


Keluarga Hadinata Wijaya menikmati sarapan mereka tanpa Andra.


Andra tidak keluar kamar, bahkan pintu kamarnya sudah beberapa kali diketuk tapi tidak ada jawaban dari dalam.

__ADS_1


"bik, nanti antar sarapan Andra kekamarnya ya" pesan Serena Hadinata.


"baik nyonya" pelayan itu pun pergi.


"apa kak An baik-baik saja ?" gumam Indra.


"pasti, semoga saja" ucap bundanya.


"hari ini kamu minta Alex untuk menghandel pekerjaan kakakmu. Biarkan dia tenang dulu" ujar ayahnya.


"iya ayah" sahut Indra.


Tidak ada yang bersuara lagi, mereka menikmati sarapannya masing-masing.


Dalam pikiran mereka berharap Andra tidak kembali seperti dulu lagi. Dia harus bisa mengendalikan emosinya sendiri.


*


Narra tiba di kantornya diantar Rayyan.


"terima kasih kak" katanya menyerahkan helm pada Rayyan.


"nanti aku jemput lagi ya" ucap Rayyan.


Narra mengangguk.


"kalo merasa belum sehat, jangan dipaksakan" ucap Rayyan.


"aku sudah merasa sehat kak.. jangan khawatir" sahut Narra.


"baiklah, kabari kakak ya" pesan Rayyan.


Narra kembali mengangguk.


Rayyan pun beranjak pergi.


Narra memasuki lobby utama, langkahnya terhenti melihat Indra duduk di sofa tamu.


Hari ini ada meeting akhir dengan pihak HW Farma, Arjuna sudah mengingatkannya semalam karena hal itu merupakan tanggung jawabnya.


Indra mendekat.


"bisa bicara sebentar sebagai pribadi sebelum kita meeting" katanya.


Narra mengangguk.


Mereka berjalan menuju sofa.


Indra menghela nafas sebelum memulai pembicaraan. Narra yang duduk di sofa sebelahnya hanya bisa menebak isi pembicaraan mereka.


"kak Andra dari semalam tidak keluar kamar. Hari ini aku dan kak Alex yang menangani urusan kantor" cerita Indra.


"ka Nda salah paham" ucap Narra lirih.


"Kak Diandra dan Rea sudah cerita semuanya, kami hanya berharap kamu tidak pergi dari kak Andra. Dia sangat mencintai kamu" Indra menatap Narra.


"aku hanya ingin lepas dari beban ini. Hubunganku dan Ardhan yang menurut Ardhan belum berakhir. Aku harus menegaskan hal itu tapi ka Nda tidak mengerti maksudku" kata Narra.


"aku sebenarnya ingin meminta kamu menemuinya tapi aku mengerti kalo kamu ingin menyelesaikan urusanmu dulu dengan Ardhan" sahut Indra.


"aku akan menemuinya untuk menjelaskan" ucap Narra.


"terima kasih, jangan biarkan kak Andra seperti itu Na" sahut Indra.


"aku mengerti, semoga ka Nda mau mendengarkan aku" ucap Narra.


Narra melirik jam di pergelangan tangannya.


"sebaiknya kita masuk, sudah waktunya meeting" katanya.


Indra mengangguk.


"kak Alex dan Arjuna pasti sudah menunggu" katanya.

__ADS_1


Mereka lalu beranjak menuju lift.


***


__ADS_2