FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 45.1


__ADS_3

Andra memakai topi dan kacamata hitamnya terus mengikuti Ardhan dan Narra masuk kedalam restorant yang lagi ramai. Hampir semua meja telah terisi. Andra bisa dengan mudah bersembunyi di antara pengunjung resto.


Ardhan dan Narra menuju meja kosong. Ardhan memperlakukan Narra layaknya kekasih dengan terus menggenggam tangannya serta menarik kursinya sewaktu hendak duduk.


Setelah memesan makanan pada pelayan yang menghampiri mereka, Ardhan duduk bersandar seraya terus menatap Narra di depannya.


"setelah ini kita nonton sayang" katanya.


Andra yang berada tidak jauh dari mereka sangat kaget mendengar panggilan Ardhan pada Narra.


Begitu juga Indra dan Alex yang juga tengah mengamati Ardhan dan Narra. Mereka juga dengan penyamarannya, memakai topi dan kacamata hitam.


"gila, dia panggil sayang" komen Indra.


Alex menggelengkan kepala tidak percaya.


"setelah ini selesai, aku harap kamu jangan ganggu aku lagi. Aku muak dengan sikapmu" kata Narra.


Indra dan Alex saling pandang. Kecurigaan mereka benar, ada sesuatu yang terjadi.


"kamu tidak bisa mundur sekarang sayang" kata Ardhan santai.


Narra hanya memandang malas.


"sayang..." Andra menghampiri mereka.


"ka Nda ?!" Narra kaget. Dia beranjak berdiri.


Indra dan Alex saling pandang, mereka tidak menduga Andra berada disana.


"jangan ! biarkan bro menyelesaikan masalahnya" cegah Alex pada Indra yang hendak beranjak.


"brengsek !" Andra menarik kerah kemeja Ardhan, dia menatap marah.


"aku sudah bilang, Narra itu milikku" tegas Ardhan seraya berdiri.


"Ardhan !" bentak Narra, dia menggelengkan kepalanya.


"kamu jangan menyangkalnya, kamu menikmati waktu kita seharian ini" balas Ardhan, dia sengaja ingin memanas-manasi Andra.


"tidak seperti itu" kata Narra, dia memandang Andra sendu.


"jelaskan padaku sayang" kata Andra.


"aku aku.. aku melakukannya...." belum sempat Narra menjelaskan, Ardhan melayangkan bogem mentah pada Andra.


Andra jatuh tersungkur tapi dia segera berdiri lalu membalas pukulan Ardhan.


Indra dan Alex lalu mendekat. Mereka melerai perkelahian Andra dan Ardhan.


Orang-orang yang berada disekitar mereka hanya berdiri mematung bahkan beberapa dari mereka mengambil gambar dan video kejadian tadi.


Security pun datang lalu meminta Andra dan Ardhan untuk tenang.


"maaf pak, sebaiknya kalian jangan membuat keributan disini" katanya.


"kita pergi dari sini" Andra menarik tangan kanan Narra tapi Ardhan mencegahnya, dia menarik tangan kiri Narra.


"tidak bisa, Narra masih harus bersamaku" kata Ardhan.


"sayang.. aku tidak bisa seperti ini, aku benci situasi ini" ujar Andra dengan raut memelas menahan amarah yang sangat besar.


Narra terdiam, dia tidak tau harus bagaimana. Dia teringat surat perjanjiannya.


"maafkan aku ka Nda, aku tidak bisa ikut ka Nda sekarang" ucap Narra pelan.


"sayang, kenapa ?" tanya Andra dengan perlahan pegangan tangannya terlepas.


Narra hanya menggelengkan kepalanya.


"aku tidak bisa sekarang ka Nda" ulang Narra.


Indra dan Alex bingung, kenapa Narra bertahan bersama Ardhan.


Andra beranjak pergi, Narra hanya bisa memandang punggung kekasihnya yang menjauh dengan derai air mata.


"Na..." panggil Alex.


Narra lagi-lagi menggelengkan kepalanya, dia terisak.


Indra pun menarik lengan Alex beranjak dari situ, dia sangat khawatir dengan kondisi kakaknya.


Ardhan memegang bahu Narra dan memintanya duduk.


Narra benci, dia muak tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia telah sepakat dengan perjanjian yang dibuatnya bersama Ardhan.

__ADS_1


Tinggal beberapa jam lagi dan semua ini selesai.


Narra menutup matanya. Dia membiarkan air matanya jatuh untuk beberapa saat.


Maafkan aku, ka Nda. Ucapnya dalam hati.


*


Andra melaju dengan kecepatan tinggi, dia benci dengan dengan keadaannya yang sangat mencintai Narra tetapi kekasihnya itu malah memilih bersama Ardhan.


"apa salahku sayang.." Andra berucap dalam emosi, dia menahan tangis sekuatnya.


Sementara itu..


Indra berusaha untuk terus berada di belakang mobil Andra. Dia tidak mau sampai kehilangan jejak.


"aku masih yakin ada yang Narra sembunyikan" kata Alex.


"aku tau, tapi yang penting sekarang kita harus bisa menenangkan kak Andra. Aku tidak mau sampai hal itu terjadi lagi" kata Indra.


Masih jelas di ingatannya bagaimana kondisi psikologis Andra waktu itu.


Andra tidak sampai mengalami gangguan jiwa sudah membuat mereka sangat bersyukur dengan depresi yang dialami Andra. Andra tidak bisa mengendalikan dirinya untuk terus melukai dirinya dan menghancurkan benda apa saja di sekitarnya.


Indra menggeleng kuat. Dia tidak mau hal itu sampai terjadi lagi.


Mobil Andra memasuki pelataran basement parkir apartement.


Dia segera keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam lift.


Indra dan Alex segera turun dari mobil dan mengejar Andra tapi mereka kalah cepat. Lift segera tertutup.


Indra dan Alex mendapati pintu unit apartement Andra tertutup. Mereka tidak punya kartu akses untuk masuk.


"bagaimana ini ? kita harus masuk kak" Indra mondar mandir di depan pintu.


"aku juga tidak bisa meminta kunci dari pengelola karena harus dengan izin Andra baru kita bisa mendapatkannya" jelas Alex.


Indra memukul tembok dengan frustasi. Dia akhirnya terduduk di lantai.


"kita sebaiknya menunggu disini sampai emosi Andra mereda" nasehat Alex seraya duduk disebelah Indra.


"aku lapar kak, tolong pesankan makanan untuk kita bertiga. Siapa tau begitu kak Andra membuka pintu, dia lapar" kata Indra.


*


Narra duduk menatap layar besar di depannya. Dia berada di dalam studio bioskop, duduk bersebelahan dengan Ardhan.


Narra merasakan jemari Ardhan mulai bermain-main di lengannya.


Dia menggerakkan badannya, agar Ardhan tahu dia tidak nyaman.


"jaga sikapmu !" tegur Narra.


"kita balikan lagi ya Na" kata Ardhan.


"tidak akan !" kata Narra tidak perduli. Dia menatap tajam pada Ardhan.


Pikiran Narra kacau, hatinya tidak tenang tertuju pada Andra. Dia sangat tahu kalau kekasihnya itu pasti sangat terluka.


Aku telah melukai hati ka Nda. Ucap sedih Narra dalam hati.


*


Andra menghancurkan segala benda yang ada di depannya, dia merasa seperti benda-benda itu. Dia mati, dia hancur, semua karena Narra.


"besok acara kita, kenapa kamu berubah sayang" isak Andra.


Badannya mulai terasa sakit, entah karena perkelahiannya tadi dengan Ardhan atau karena benda-benda yang dia hancurkan. Tangannya mulai membiru dan berdarah. Mukanya lebam.


Andra terduduk di tangga. Dia meratapi kisah cintanya.


*


Rayyan terus menelfon Narra tapi adiknya itu belum juga mengaktifkan ponselnya. Dia juga menghubungi Andra tapi tidak ada jawaban.


"apa aku telfon Alex saja, sebagai asisten dia pasti tau dimana Andra"


Rayyan mencari nomor Alex yang di dapatkannya sewaktu Alex datang untuk memberitahu tentang segala keperluan acara lamaran Andra dan Narra.


Mereka saling memberi nomor ponsel agar lebih mudah untuk saling koordinasi.


"iya pak Rayyan" jawab Alex yang sedang menikmati makan siang yang terlambat bersama Indra di depan pintu unit apartement Andra.


"jangan terlalu formal, panggil nama saja" kata Rayyan.

__ADS_1


"baik, ada apa Ray ?" tanya Alex.


"tadi Andra bilang akan menemui Narra di kantor Ardhan tapi sampai sekarang dia belum memberi kabar. Dimana Narra sekarang ?" tanya Rayyan.


"Narra... Narra...." Alex bingung harus menjawab bagaimana pada Rayyan.


"apa terjadi sesuatu Lex ?" tanya Rayyan.


Alex memandang Indra yang dari tadi mencuri dengar pembicaraannya dengan Rayyan. Walaupun pembicaraan itu tidak di speaker tapi nada volume yang full serta posisi Indra yang bersebelahan dengan Alex membuat dia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


Indra mengangguk sebagai isyarat agar Alex menceritakan semua pada Rayyan.


Dia juga yakin Alex tahu hal mana yang tidak boleh dia ceritakan yaitu kondisi Andra sekarang. Indra takut Rayyan akan khawatir kalau Narra bersama Andra setelah mengetahui bagaimana sikap Andra kalau dia tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Narra masih bersama Ardhan" ucap Alex.


"kenapa bisa ?" tanya Rayyan.


Alex lalu menceritakan semuanya pada Rayyan.


Tangan Rayyan mengepal, dia yakin adiknya dalam pengaruh ancaman Ardhan karena adiknya tidak mungkin sukarela bersama Ardhan.


"dimana mereka sekarang Lex ?" tanya Rayyan.


"mungkin masih di grandmall karena tadi kami mendengar Ardhan mengajak Narra nonton" jelas Alex.


"baik, terima kasih" Rayyan menutup pembicaraan.


Dia segera masuk ke kamar gantinya. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, dia segera meraih kunci motornya.


"Ras, aku ada urusan. Kamu tutup bengkel ya" pesan Rayyan.


"siap boss" sahut Rasta.


"kak Rayyan, lihat ini kak. Ini kak Narra" Bimo, pegawainya menyodorkan ponselnya.


Rayyan mengambil ponsel Bimo lalu melihat video amatir kejadian di restorant.


Rayyan melihat jelas bagaimana raut tertekan adiknya di video itu. Ada yang tidak beres, dia akan menyelamatkan adiknya dari Ardhan.


"dari mana video ini ?" tanya Rayyan.


"video ini tersebar di sosial media kak" jawab Bimo.


"aku pergi" pamit Rayyan seraya menyerahkan kembali ponsel Bimo.


Motor Rayyan melaju menuju grandmall. Dia akan membuat perhitungan dengan Ardhan, dia tidak akan memaafkan Ardhan kalau acara lamaran Narra besok gagal.


Kebahagiaan Narra tidak boleh kembali hancur oleh seorang Ardhan Pratama Kusuma.


*


Alex memeriksa pesan emailnya. Sebuah rekaman cctv telah terkirim.


Demi berjaga kalau Ardhan memperkarakan kejadian di restorant, Alex sudah meminta anak buahnya untuk meminta cctv di restorant tadi karena Alex dan Indra sudah melihat video yang beredar luas dimulai dari Andra yang balas memukul padahal Ardhan yang duluan memukul. Andra hanya membela diri.


"bagaimana kak ?" tanya Indra.


"beres, aku sudah mendapatkan rekaman cctvnya" kata Alex.


Indra mangut.


Ponsel Indra berdering, dari ayah Hadinata Wijaya.


Indra bingung, dia memperlihatkan layar ponselnya pada Alex. Asisten Andra itu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.


Mereka berdua hanya saling pandang sampai nada panggilan itu berakhir.


"aku tidak tau harus menjawab bagaimana pada ayah dan bunda, mereka pasti sudah melihat video yang tersebar itu dan pastinya sangat khawatir sama kak Andra" ucap Indra.


Alex mengerti. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena dia juga sama bingungnya kalau sampai tuan besarnya bertanya kepadanya.


Indra beranjak berdiri, dia mencoba menekan bel dan memandang kearah kamera sensor. Dia tahu, Andra pasti dapat melihat mereka.


"kak buka pintunya, kita bicara. Jangan seperti ini" teriak Indra lewat microphone dekat kamera sensor pada dinding sebelah pintu.


Tidak ada jawaban karena di dalam kedap suara.


Indra menghela nafas. Semoga semuanya baik-baik saja. Ucapnya.


Dia kembali duduk di lantai bersama Alex.


Yang bisa mereka lakukan hanya menunggu dan terus berdoa semoga Andra baik-baik saja di dalam sana.


***

__ADS_1


__ADS_2