FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 62.1


__ADS_3

Narra bangun dari tidurnya, dia hendak bangkit tapi entah kenapa badannya terasa sakit digerakan, tangan dan kakinya juga terasa ngilu.


Narra meringis kesakitan.


"ibuuuu" panggil Narra.


Dengan tergesa, Rayyan masuk kedalam kamar adiknya.


"kenapa Na ?" tanyanya.


"kenapa badanku sakit semua ? Ngilu kak" kata Narra.


Rayyan mendekat, "kamu pelan-pelan, duduk bersandar dulu. Tidak usah turun dari tempat tidur" katanya.


Narra mengangguk.


Rayyan lalu membantu adiknya bersandar pada bantal yang sudah dia tegakkan.


"tunggu sebentar, kakak telfon Andra dulu. Kenapa kamu bisa rasa begitu"


Rayyan lalu mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi Andra.


"Narra kenapa ?" tanya ibu Flanella, dia tadi sedang mengurus suaminya sarapan sehingga Rayyan yang menghampiri Narra.


"badan Narra ngilu semua bu" ucap Narra.


Ibu Flanella memandang Rayyan.


"aku lagi telfon Andra bu" jawab Rayyan seolah mengerti arti pandangan ibunya.


Tak lama terdengar sapaan di ujung telfon.


Rayyan lalu menceritakan tentang keluhan Narra. Terdengar suara Andra panik, dia akan segera kerumah Narra.


"Andra akan kesini" kata Rayyan.


"seharusnya kakak tidak usah telfon ka Nda dulu, dia jadi buru-buru kesini. Aku hanya bikin khawatir" kata Narra tertunduk.


"justru kalo kakak tidak hubungi Andra, kita tidak tau apa yang terjadi dengan kamu. Kalo dia sampai disini, dia bisa langsung memeriksamu" balas Rayyan.


"kami khawatir karena kami sayang sama kamu" ibu Flanella mengusap kepala Narra.


*


Andra memeriksa Narra, dia terlihat sangat serius tapi ada gurat kekhawatiran disana.


"hal ini terjadi karena otot teregang secara berlebihan saat terjadi kecelakaan sebagai upaya pertahanan tubuh untuk menghindari terjadinya cedera yang lebih berat. Atau bisa juga akibat cedera atau benturan langsung pada otot" jelas Andra setelah selesai memeriksa Narra.


"trus bagaimana ?" tanya Rayyan.


"sebaiknya kita bawa kerumah sakit untuk pemeriksaan CT scan" kata Andra.


"baiklah, kita bawa sekarang" kata Rayyan.


"kakak tidak ke bengkel ?" sergah Narra.


Rayyan menggeleng, "kamu lebih penting, aku akan minta Rasta untuk menghendel kerjaanku" katanya.


"tapi kakak sudah terlalu lama meninggalkan kerjaan kakak karena merawatku" Narra sepertinya tidak suka dengan keputusan kakaknya.


"Na.... " ibu Flanella mendekati putrinya.


"Rayyan ingin menjagamu, kamu kenapa bersikap begitu ?" tanya ibu Flanella.


"aku merepotkan semua orang, kakak tidak kerja karena aku. Nanti kalo aku kerumah sakit, ka Nda juga tidak kerja lagi karena aku" sahut Narra.


Andra memandang Narra, pandangan keduanya beradu.


"trus bagaimana dengan ayah selama ini ?" sergah ayah Sasmita yang duduk di sofa single santai yang terdapat di dalam kamar Narra.


Narra terdiam, dia menunduk.


"ayah sebulan lebih dirumah sakit dan begitu pulang kerumah masih harus pemulihan, belum diizinkan dokter untuk melakukan apa-apa dulu. Ayah selama itu merepotkan kalian" terang ayah Sasmita.


"maafkan Narra yah, Narra tidak bermaksud buat ayah merasa begitu" ucap Narra.


Ayah Sasmita beranjak berdiri, Rayyan membantunya berjalan menuju tempat tidur Narra. Dia duduk di sebelah putrinya.


"kamu jangan merasa begitu juga, semua itu karena mereka sayang sama kamu. Kami semua sayang sama kamu dan lagipula kondisi kamu harus segera membaik. Kalian akan segera menikah" nasehat ayah Sasmita mengusap puncak kepala putrinya.


"iya yah, maafkan aku" Narra mengangkat wajahnya, dia memandang kakaknya lalu Andra.

__ADS_1


"maaf" ucapnya.


Rayyan dan Andra tersenyum.


"mau ya, kita kerumah sakit ? Aku dan Rayyan akan menemanimu" kata Andra.


Narra mengangguk.


"ya sudah kalian keluar dulu, ibu akan membantu Narra siap-siap" kata ibu Flanella.


Rayyan kembali membantu ayahnya berdiri, mereka pun keluar dari kamar Narra diikuti Andra dibelakangnya.


*


Narra kerumah sakit ditemani Rayyan dan Andra.


Selama perjalanan Narra memilih diam, dia memalingkan muka ketika Andra yang menyetir mencuri pandang lewat spion dalam.


Rayyan menyadari hal itu hanya bisa geleng kepala. Dia sangat menyayangi adiknya sehingga rela meninggalkan pekerjaannya demi menemani adiknya tapi ternyata Narra merasa bersalah dengan hal itu. Padahal bengkel itu miliknya, dan ada Rasta yang bisa diandalkan mengelola bengkel jadi tidak masalah bagi Rayyan apabila dia ingin fokus merawat adik dan ayahnya sampai mereka pulih karena kasihan ibu mereka yang mengurus sendirian.


"Na, kamu mau makan es cream ?" tanya Rayyan seraya menengok kebelakang.


"tidak" balas Narra pendek.


Rayyan kembali menegakkan duduknya, dia menghela nafas.


"baiklah, setelah ini.. kakak akan pergi kerja tapi apa kamu tega membiarkan ibu merawat kalian berdua sendiri ?" katanya.


Narra terdiam. Apa yang dikatakan kakaknya benar, ibu mereka pasti sangat repot jika mengurus ayah dan harus mengurusnya juga.


"maafkan aku, kita bahas yang lain saja. Aku hanya tidak ingin kalian bermasalah dengan pekerjaan kalian" kata Narra.


"kami sudah mengatasinya saat kami memutuskan untuk bersamamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir" sahut Andra.


"iya" balas Narra pendek.


Semua terdiam sampai mereka tiba di rumah sakit.


*


Narra akhirnya selesai menjalankan pemeriksaan. Untungnya tidak ada yang mengkhawatirkan. Seperti yang Andra bilang, yang Narra alami efek dari kecelakaan. Dengan beristirahat total di rumah, Narra bisa segera pulih.


Andra terus menggenggam jemari Narra.


Narra langsung memeluk lengan kakaknya sementara jemari tangan kanannya dalam genggaman tunangannya.


"kalo begini serasa aku sedang selingkuh" balas Narra.


Rayyan tertawa lalu menempelkan kepalanya dan kepala Narra.


Andra memandang sekilas. Perasaannya tidak enak ketika Narra bilang selingkuh, serasa kalau benar Narra akan melakukan itu. Tapi dia berusaha untuk meredam emosinya.


"setelah ini, kalian antar aku langsung ke bengkel ya. Tadi Rasta mengirim pesan kalo ada laporan kerja yang harus aku periksa" kata Rayyan.


"baiklah" sahut Andra.


*


Setelah Rayyan turun di bengkel, Andra melaju menuju rumah Narra.


"ka Nda, apa ka Nda juga sibuk hari ini ?" tanya Narra.


"kenapa sayang ?" tanya Andra.


"maaf, aku bukannya mau merepotkan ka Nda tapi aku mau jalan-jalan. Bosan di tempat tidur terus" ujar Narra.


"kamu mau kemana ?" tanya Andra.


"ke perusahaan ka Nda juga tidak apa, aku temani ka Nda kerja. Boleh ya ?" pinta Narra memandang Andra.


"baiklah, kita ke perusahaan tapi janji kamu istirahat dan jangan banyak bergerak dulu" kata Andra.


"iya janji ka Nda sayang" sahut Narra.


Andra pun segera menghubungi ibu Flanella untuk memberitahu tentang permintaan Narra. Ibu Flanella tidak masalah, dia mengizinkan dan akan memberitahu kalau Narra tidak segera pulang pada suaminya.


*


Mereka memasuki ruang kerja Andra.


Narra langsung duduk di sofa sementara Andra menuju meja kerjanya. Dan tak lama, sekretaris Mia masuk dengan membawa tab.

__ADS_1


Dia memberitahu semua jadwal kegiatan Andra serta tidak lupa jadwal pertemuan tadi pagi yang di cancel karena Andra membawa Narra kerumah sakit.


"mereka meminta pertemuannya tetap hari ini pak, bagaimana kalo setelah makan siang ?" tanya Mia.


"baiklah, kamu atur dan siapkan berkasnya" kata Andra.


"baik pak Andra, setelah makan siang. Tempatnya tetap di perusahaan atau bapak mau saya reservasi tempat ?" tanya Mia.


"saya tidak mau kemana-kemana, tetap disini saja" kata Andra.


"baik, permisi pak Andra" pamit Mia.


Andra mengangguk.


Tidak lupa dia pamit permisi pada Narra yang sedang duduk sambil membaca majalah.


Andra mendekat pada Narra, dia meraih jemari Narra dan duduk bersebelahan dengan tunangannya itu.


"kamu tidak akan melakukannya kan ?" tanyanya.


"melakukan apa ?" Narra tidak mengerti.


"selingkuh" jawab Andra pendek.


Narra menggelengkan kepalanya. Andra menanggapi serius perkataannya di rumah sakit. Padahal dia hanya bercanda menanggapi perkataan Rayyan.


"ka Nda mencurigaiku ? Lagi ?" balas Narra.


"sayang, aku tidak suka mendengarnya. Kamu hanya milikku" balas Andra.


"ka Nda, aku tadi hanya bercanda pada kak Rayyan. Katanya sudah bisa mengontrol emosi, kenapa begini lagi" Narra beranjak berdiri.


"mau kemana ?" Andra menahan tangan Narra.


"pulang" balas Narra.


"sayang..." Andra memeluk Narra.


"aku minta maaf, jangan marah, jangan pergi dariku. Aku tidak bisa tanpamu" kata Andra bertubi-tubi.


Narra melepaskan pelukan Andra, dia menangkup wajah tunangannya dengan kedua tangannya lalu mengusap pipi tunangannya itu


"aku minta maaf, tadi aku hanya menanggapi perkataan kak Rayyan. Aku tidak akan pernah melakukan hal itu karena aku bersyukur punya ka Nda. Aku cinta ka Nda" terangnya.


Andra melakukan hal yang sama, dia menangkup wajah Narra.


"aku minta maaf, aku sangat takut" katanya.


Narra mengecup bibir Andra.


"diam, kita lupakan saja ya" katanya.


Andra lalu mencium bibir Narra. Sentuhannya begitu lembut, sehingga membuat Narra refleks menurunkan tangannya di leher Andra. Dia mengalungkan tangannya disana.


"kalo seperti itu, aku rela berdiam lama-lama" kata Andra setelah melepaskan tautannya.


Narra tersipu, dia memperbaiki duduknya bersandar di sofa. Andra meraih badan Narra masuk kedalam pelukannya.


"mau makan siang sekarang ?" tanya Andra.


"iya, aku mau makan spagetty tapi maunya buatan ka Nda" Narra manyun.


"nanti aku masakan ya sayang tapi kali ini kita pesan dulu soalnya aku sudah terlanjur setuju dengan jadwal siang ini, tidak bisa di cancel lagi" jelas Andra.


"iya ka Nda.. Aku mengerti" Narra tersenyum menatap mata Andra.


"jangan menggodaku sayang, aku ingin menciummu lagi" Andra mendekatkan wajahnya, hidung mereka bertemu.


"jangan ka Nda, kalo ketahuan nanti kita tidak di izinkan bertemu sampai menikah. Memangnya ka Nda mau ?" tanya Narra.


"ahhhhh aku tidak bisaaaaa" Andra memeluk Narra erat. Keningnya bertumpu di puncak kepala Narra.


"tapi kita tetap harus melakukannya selama seminggu jelang hari H" sahut Narra.


"jangan ingatkan aku" Andra menggelengkan kepalanya.


Narra terkekeh. Dia tidak ingin menggoda Andra lagi.


Andra lalu mengeluarkan ponselnya dan memesan makanan untuk mereka berdua. Dalam hatinya masih belum siap jika harus tidak bertemu Narra jelang pernikahan. Dia pasti akan sangat rindu sentuhan tunangannya itu.


"makanannya akan segera datang" katanya pada Narra.

__ADS_1


Narra mengangguk lalu kembali bersandar pada tunangannya. Andra mengusap puncak kepala Narra dengan sayang. Dia membuat tunangannya itu nyaman bersamanya.


***


__ADS_2