
Faya berlari cepat menuruni tangga dengan menyandang ransel di punggungnya.
Dia keluar dari rumahnya entah mau kemana, dia juga belum tahu. Mama Maya mengejarnya, sementara Papa Farid mengikuti mama Maya dari belakang.
"Faya, dengarkan mama sayang" teriak mama Maya mencoba menahan langkah putranya.
"biarkan Faya menenangkan dirinya dulu ma" papa Farid memeluk istrinya.
Faya menaiki motor racingnya lalu melaju tanpa memperdulikan panggilan mamanya.
"mama tidak bisa kehilangan Faya pa... mama tidak mau" isak mama Maya menatap Faya yang sudah melewati gerbang rumah.
"iya, papa juga. Nanti kita bicara dengan Faya setelah dia tenang"
Papa Farid memeluk istrinya. Dia sangat mengerti apa yang dirasakan istrinya.
Ini hal yang selama ini mereka takutkan. Sesuatu yang mereka simpan rapat-rapat, terbongkar karena mereka sendiri.
Faya mendengar pembicaraan mereka.
*
Faya menyusuri jalanan. Dia tidak tahu mau kemana.
Dia tidak mungkin kerumah sahabat-sahabatnya, papa dan mamanya pasti bisa menemukannya karena mereka satu kompleks.
Akhirnya dia menepi di cafe tempat biasa dia dan bandnya manggung.
Di dalam cafe Faya duduk di meja bar dan memesan kopi pahit, sepahit kenyataan yang dia rasakan sekarang sambil membuka ponselnya. Terdapat beberapa pesan chat.
Faya membaca grup chat. Para sahabatnya menanyakan keberadaannya karena papa dan mamanya menelfon mereka.
Faya menghela nafas. Dia tidak ingin membahasnya dulu dengan sahabat-sahabatnya, dia masih ingin menenangkan dirinya.
Ponselnya berdering, para sahabatnya mulai bergantian menelfonnya. Dia mengaktifkan mode silent pada ponselnya.
"maaf semua" ucap Faya lirih.
*
Narra menimang ponselnya. Faya belum mengangkat telfonnya.
Narra menghela nafas, dia melihat sofa panjang di terasnya. Tempat biasanya para sahabatnya duduk.
Ada apa dengan Faya, apa yang sedang terjadi. Pikir Narra.
Sebuah mobil sedan warna hitam berhenti di depan rumah. Narra sangat tahu siapa pemilik mobil itu.
Tadi Narra sudah mengirimkan pesan tentang kejadian sore tadi tapi tidak mendapat balasan.
Andra mengucapkan salam lalu duduk di kursi teras setelah Narra menjawab salamnya.
"maaf kak, aku ketiduran. Ponselku mati, batreinya habis" jelas Narra sekali lagi sesuai dengan isi pesan chat yang dikirimnya seraya duduk di kursi satunya yang dipisahkan meja.
"kamu tau, aku khawatir sekali" kata Andra seraya meraih jemari Narra. Tangan yang satunya mengusap kepala Narra.
"maaf kak" ucap Narra lagi.
Nada pesan pada ponsel Narra berbunyi. Dengan segera dia melihat nama pengirimnya lalu segera membaca pesannya.
Na, aku baik-baik saja. Hanya saja aku belum mau membahas apa yang terjadi.
Narra mengetik.
Setidaknya kamu balas mereka di grup chat. Supaya mereka tidak khawatir. Kamu dimana ?
Faya mengetik.
Sekarang aku ada di cafe biasa tapi jangan bilang pada yang lain.
Narra mengetik.
Kamu tunggu disitu, jangan kemana2. Aku kesitu.
Narra menutup pesan chatnya.
"aku kedalam dulu kak" pamit Narra.
Andra melepaskan genggamannya.
Narra bergegas masuk kedalam rumah. Dia keluar lagi dengan mengenakan jaket jeans dan tas selempang kecilnya.
Andra bingung, Narra mau kemana ?
"ka Nda, aku minta tolong antar aku ya" pinta Narra.
"mau kemana ?" tanya Andra.
"nanti aku ceritakan tapi kakak yang pamit mau ajak aku pergi. please..." Narra mendekap tangannya di dada.
"baiklah" Andra beranjak masuk kedalam rumah dengan ditemani Narra menemui kedua orang tuanya yang sedang menonton tivi di ruang tengah.
*
Andra melajukan mobilnya menuju cafe sambil terus mendengarkan penjelasan Narra tentang apa yang terjadi.
Mereka akan pergi menemui Faya yang keluar dari rumah. Papa dan mamanya mencarinya. Narra juga tidak tahu apa yang terjadi, dia akan membahasnya dengan Faya kalau Faya sudah mau bercerita.
"aku sengaja minta kakak untuk pamit mengajak aku keluar, karena Faya tidak mau orang tuanya tau keberadaannya. Kalo aku pamit mau ketemu Faya, nanti ayah dan ibu tau" jelas Narra.
Andra hanya mengangguk.
Seharusnya dia senang karena kekasihnya punya rasa peduli pada sahabatnya. Tapi disisi lain dia merasa cemburu karena saat bersamanya, Narra memikirkan orang lain.
Andra mengamit jemari Narra memasuki cafe. Mereka mencari sosok Faya.
Lalu Narra menunjuk kearah meja bar. Dia menarik tangan Andra menuju kesana.
"Fay" Narra memukul pundak Faya pelan.
"Na, kak Andra, silahkan duduk. Kalian mau minum apa ?"
"aku lemon tea, kamu sayang ?" tanya Andra pada Narra.
"jus alpukat" Faya yang menjawabnya.
__ADS_1
"Narra sangat suka jus alpukat" Faya seolah ingin memberitahu Andra.
"terima kasih Fay" Narra tersenyum.
Andra hanya memandang mereka. Ada gejolak didalam dadanya yang sangat kuat, sekuat dia menahan dirinya.
Setelah beberapa lama terdiam dan minuman sudah tersaji di meja bar, Narra membuka pembicaraan.
"sekarang kamu mau kemana ?" tanyanya.
"aku tidak tau" jawab Faya.
Narra memandang Andra dengan tatapan bingung. Dia tidak mungkin meninggalkan Faya tidak jelas.
Andra tidak bisa melihat Narra gelisah seperti itu. Dia pun mengambil keputusannya.
"begini saja, kalo kamu mau.. kamu bisa menginap di apartemenku. Aku hanya sekali-kali berkunjung kesana" tawar Andra.
"terima kasih banyak kak, tapi aku takut merepotkan. Aku bisa cari penginapan atau hotel saja" tolak Faya.
"Fay, ayolah... aku mohon" Narra mengenggam tangan Faya.
Andra menatap tajam pada tautan tangan didepan matanya. Narra memegang tangan cowok lain, walaupun itu sahabatnya sendiri tapi tetap saja itu orang lain.
"iya, aku mau" ucap Faya akhirnya.
*
Andra membuka panel kunci lalu mengesekan id cardnya dan menekan tombol angka sandinya.
Pintu apartemen terbuka. Narra masih tidak percaya dengan yang dilihatnya, angka sandi apartemen ini adalah tanggal, bulan dan tahun lahirnya.
"silahkan masuk" ajak Andra.
Narra tersadar saat Andra merangkul pinggangnya untuk mengajak masuk bersama.
Faya tersenyum melihatnya. Andra begitu perhatian pada Narra.
"kamu bisa tidur di kamar itu. Kamarku ada di lantai atas" terang Andra.
"rencananya nanti jadi kamar kita" lanjut Andra lagi seraya memandang Narra.
Narra tersipu malu, dia mengerti maksudnya.
"Aamiin" ucap Faya.
"terima kasih Fay" ucap Andra.
Andra mempersilahkan Faya masuk kedalam kamar untuk meletakan tasnya. Sementara dia mengajak Narra untuk melihat lantai atas.
"ini kamarku, nanti jadi kamar kita" kata Andra.
Mereka sekarang berdiri di depan pintu kamar.
"kak, boleh aku minta waktu untuk itu ?" ucap Narra pelan.
"sampai kapan sayang ?" Andra meraih jemari Narra dan mengusap punggung tangannya.
Narra hanya terdiam. Sejujurnya dia juga tidak tahu apakah dia sudah siap untuk mendampingi Andra.
Narra menggeleng.
"kamu belum makan ? maaf.. aku tidak ajak kamu makan dulu" Andra merasa bersalah.
"tidak apa ka Nda, aku yang tiba-tiba ajak ka Nda pergi" sergah Narra.
"aku mau pesan makanan, kalian mau makan apa ?" tanya Faya.
"kamu apa sayang ?" tanya Andra.
"aku seperti biasa saja Fay" ujar Narra.
"ok, nasi goreng daging sapi. Trus kak Andra ?" tanya Faya melihat kearah Andra.
Andra terdiam. Dia tidak tahu makanan biasanya Narra. Lagi-lagi Faya tahu hal itu. Dan seolah memberi tahu dengan jelas bagaimana kedekatan mereka.
"kak, Faya tanya.. kakak mau makan apa ?" Narra memegang lengan Andra.
"sama dengan kamu" jawab Andra mencoba bersikap biasa.
"baiklah, aku turun dulu. Na, aku sudah mengirim pesan di grup chat Friends" kata Faya seraya pamit.
Narra mengangguk.
"kamu turunlah duluan, aku mau kedalam dulu" pamit Andra seraya melepaskan tangan Narra dilengannya lalu masuk kedalam kamar dan langsung menutup pintunya.
Narra menatap pintu yang tertutup.
Kenapa kak Andra bersikap begitu. Apa kak Andra marah ? pikir Narra.
Dia pun melangkah turun dan memilih duduk di sofa tamu bersama Faya.
"kak Andra mana ?" tanya Faya.
"masuk dalam kamarnya" jawab Narra datar.
"ada masalah ?" tanya Faya.
Narra hanya menggeleng, "tidak ada apa-apa" katanya.
"dia sangat perhatian sama kamu" komen Faya.
"iya, tapi aku takut kalo hal itu terjadi lagi" jawab Narra lirih.
Faya memperbaiki posisi duduknya. Dia memandang sahabatnya lekat.
"lupakan masa lalu. Aku merasa kak Andra pasti mempertahankan kamu" ucap Faya seraya mengusap kepala Narra.
Narra mengangguk, "aku berusaha mengingkari perasaanku" katanya.
"apa yang kamu rasakan ?" tanya Faya.
"aku takut" jawab Narra singkat.
"semua akan baik-baik saja" Faya kembali mengusap lembut puncak kepala Narra.
__ADS_1
Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang melihat pemandangan itu dengan tatapan tajam dan tangan mengepal.
Setelah makan malam bersama, Andra mengajak Narra pulang. Mereka membiarkan Faya untuk beristirahat. Andra tidak lupa memberi id card cadangan pada Faya yang diambilnya dari dalam kamarnya di lantai dua.
*
Sepanjang perjalanan pulang, Andra hanya diam. Narra merasa bersalah. Tapi dia tidak ingin merusak suasana dengan memulai pembicaraan.
"setelah mengantar kamu, aku langsung pulang" ujar Andra tanpa memandang Narra. Dia tetap fokus kearah depan.
"iya" jawab Narra.
Mobil Andra berhenti tepat didepan pintu pagar. Narra bersiap untuk turun.
"terima kasih kak" ucap Narra seraya membuka pintu mobil.
Andra menahan tangan Narra lalu mencium keningnya.
"istirahatlah" kata Andra.
"iya kak" ucap Narra lalu memeluk Andra.
"maafkan aku" ucapnya lagi lalu turun dari mobil.
Andra hanya terdiam memandang Narra dari balik kaca mobil. Setelah kekasihnya itu masuk kedalam rumah, dia pun melajukan mobilnya.
*
Dalam kamarnya, Narra terus saja berpikir. Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi sikap Andra yang terus saja mengajaknya menikah.
Memang tujuan menjalani hubungan adalah pernikahan tapi tidak sekarang. Narra masih butuh waktu untuk menata hatinya, mencoba menerima semua keadaan yang nantinya akan mereka hadapi karena perbedaan mereka.
Ya, Narra masih trauma dengan kejadian lalu. Hanya saja dia tidak ingin menunjukkannya pada siapapun.
Narra meraih ponselnya. Tidak ada pesan dari Andra. Biasanya Andra akan memberi kabar setelah tiba dirumah.
Mungkin ka Nda masih di jalan atau mungkin kak Nda masih marah. Pikir Narra.
Narra menggeleng cepat seolah menghapus prasangka di kepalanya. Dia beranjak masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih lalu bersiap tidur.
*
Andra melempar kunci mobilnya diatas tempat tidur. Dia marah.
Marah pada apa yang terjadi, marah pada apa yang dilihatnya tadi, dan juga marah pada dirinya sendiri.
"bagaimana bisa aku tidak tau apa-apa tentang kekasihku. Bagaimana !!" tangan Andra mengepal, dia meninju dinding di depannya.
"aku mencintainya, aku menjaganya, tapi hanya itu. Lainnya aku tidak tau apa-apa" Andra meninju lagi dinding di depannya untuk kedua kalinya.
"mereka tidak menganggapku ada. Dia mengenggam tangannya, dia mengusap kepalanya dan mereka berdekatan. Padahal itu orang lain. Bukan aku kekasihnya" Andra meninju lagi dinding di depannya untuk ketiga kalinya lalu terduduk bersandar di dinding dengan memanjangkan kakinya.
Darah mengalir disela-sela jari Andra disertai rasa sakit. Dia membiarkan saja. Nafasnya naik turun. Dia telah melampiaskan seluruh emosinya.
"kakak !!" Indra menerobos masuk kamar lalu menghampiri kakaknya yang terduduk di lantai.
Setelah mendengar bunyi begitu keras dari tembok disebelah kamarnya, dia bergegas menuju sumber suara.
"An kamu kenapa ?" Diandra ikut datang dan membantu Indra mengangkat dan memapah Andra menuju tempat tidur.
Kebetulan dia hendak mengambil air minum dan melihat Indra menerobos masuk kamar Andra. Dia pun segera menuju kamar Andra.
Dengan segera Diandra mengambil kotak P3K yang berada di kamar Andra lalu mengobati luka adiknya. Sementara Indra berlari turun ke lantai bawah untuk mengambil minum untuk Andra.
Ini sudah hampir jam sebelas malam, para pelayannya mungkin sudah beristirahat. Begitu juga dengan kedua orang tua mereka yang memilih beristirahat setelah makan malam.
"minum dulu kak" kata Indra.
Andra meraih gelas yang disodorkan Indra lalu meminum airnya.
"selesai" ujar Diandra yang mengobati tangan Andra.
Diandra beranjak berdiri berdampingan dengan Indra dengan tatapan tajam. Ini kejadian pertama lagi setelah beberapa tahun lalu karena patah hati yang berat.
Sekarang kenapa lagi, bukannya Andra sedang kasmaran. Pikir Diandra.
"kakak kenapa ?" tanya Indra.
"aku mau sendiri" hanya itu yang keluar dari mulut Andra.
Indra masih ingin bicara tapi Diandra menahan dengan memegang pundaknya.
"ayo kita keluar. Biarkan dia tenang" kata Diandra.
Indra pun menurut.
"aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku mohon... apapun masalahmu, selesaikan dengan kepala dingin. Jangan gunakan emosimu" ucap Diandra lalu beranjak dan diikuti Indra dari belakang.
"terima kasih" ucap Andra sebelum langkah kakak dan adiknya mendekati pintu.
"sama-sama" koor mereka.
Andra menatap pintu kamar yang tertutup.
Tangan kanannya kini di perban untuk menghentikan aliran darahnya. Dia lalu mengambil ponselnya di saku celana dengan tangan kirinya. Tidak ada panggilan atau pesan apapun dari Narra.
Andra mengetik pesan.
Istirahatlah..
Hanya itu, tidak lebih.
Tidak lama Narra membalas pesannya.
Selamat tidur kak...
Andra tidak membalasnya. Dia meletakan ponselnya diatas tempat tidur lalu berbaring tanpa bersih-bersih, mengganti bajunya, dan melepas sepatunya.
Andra terlalu lelah dengan emosinya sendiri.
Dia pun memilih terlelap.
Sementara itu, Narra melihat layar ponselnya. Tidak ada balasan lagi dari Andra. Dia pun memilih tidur.
***
__ADS_1