
Mobil Andra berhenti di depan Lobby.
Narra memandang Andra, "ka Nda, maaf kalo nanti aku tidak bisa makan siang bersama ka Nda" katanya hati-hati.
"kenapa sayang ?" tanya Andra.
"aku makan siang bersama kak Rayyan. Boleh ya" Narra memamerkan senyumannya.
"ada apa ?" tanya Andra, dia seperti tidak ingin waktunya bersama Narra terganti.
"tidak ada apa-apa, mungkin kak Rayyan rindu makan berdua adiknya" jawab Narra terkekeh.
Padahal dia berbohong. Dia tidak ingin Andra tahu maksud sebenarnya dari rencana makan siangnya dengan Rayyan.
"hmm baiklah" jawab Andra pelan.
Narra mencium pipi Andra lalu gantian Andra mencium kening Narra.
"beritahu aku kalo kamu sudah selesai kerja" kata Andra.
"iya ka Nda, aku turun ya. Bye" pamit Narra.
Mobil Andra melaju begitu Narra turun.
Narra hanya menghela nafas, biasanya Andra menunggu dia masuk dulu baru pergi.
Hmmm masalah baru lagi. Gumam Narra dalam hati.
Langkah Narra terhenti. Ardhan berdiri menghalangi jalannya.
Narra ingat, hari ini dia ada meeting dengan Ardhan.
"jangan halangi jalanku" kata Narra.
"aku ingin naik sama-sama kamu" kata Ardhan.
"baiklah" Narra melangkah duluan, dia tidak ingin memperpanjang pembahasan dengan Andra.
"silahkan masuk tuan putri" Ardhan mempersilahkan Narra masuk lebih dulu kedalam lift.
Narra hanya diam dan terus masuk kedalam lift. Untungnya bukan hanya mereka berdua di dalam. Ada dua orang karyawan lagi.
*
Meeting berjalan lancar dan Ardhan bersikap profesional, dia memperhatikan pemaparan Narra selaku perwakilan team creative.
Meeting selesai, Narra merapikan kembali berkas diatas meja.
"bisa aku makan siang bersamamu ?" tanya Ardhan.
Narra memandang, Ardhan bukan mengajak tetapi menawarkan diri.
Cara baru biar terlihat lebih sopan. Pikir Narra.
"maaf, aku makan siang bersama kak Rayyan" sahut Narra.
"hmm lain kali ?" tanya Ardhan lagi.
"tidak ada lain kali Ardhan" ucap Narra seraya berlalu, dia pamit kepada Arjuna untuk meninggalkan ruangan meeting.
Arjuna mempersilahkan sementara dia akan menemani Ardhan sampai klien mereka itu pamit.
"dia masih saja menghindariku" ucap Ardhan.
"maaf, saya tahu tentang kisah anda dan Narra tapi sekarang dia sudah bersama pak Andra. Kenapa anda tidak membiarkan itu ?" sahut Arjuna.
"saya sangat mencintainya" ucap Ardhan.
"tapi cintamu tidak bisa memiliki. Mereka akan melangsungkan acara lamaran beberapa hari lagi" jelas Arjuna.
"apa ? itu tidak akan terjadi" Ardhan beranjak pergi tanpa permisi.
Arjuna hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap Ardhan.
*
Rayyan menunggu Narra di lobby. Dia melihat Ardhan keluar dari lift dan berjalan melewatinya.
"apa yang kamu lakukan disini ?" tanya Rayyan seraya beranjak berdiri.
Ardhan menoleh, langkahnya terhenti.
"aku ada urusan disini" katanya.
"apapun urusanmu disini, jangan ganggu adikku lagi. Dia sudah bahagia, jangan rusak kebahagiaannya" kata Rayyan.
"bagaimana dengan kebahagiaanku ? Narra itu kebahagiaanku" balas Ardhan.
"kamu dimana saat dia terpuruk ? ok, kamu pergi tapi kenapa tidak ada kabar sama sekali. Itu artinya kamu pengecut Ardhan !" balas Rayyan.
Ardhan terdiam.
"kak, sudahlah.. kita pergi sekarang" Narra datang menghampiri mereka.
"iya, kita tidak punya urusan dengan dia" kata Rayyan seraya menarik tangan adiknya pergi dari situ.
Ardhan hanya bisa terpaku melihat kakak beradik itu.
Kenapa susah bagi mereka untuk memaafkannya. Dia hanya ingin kembali seperti dulu, bersama Narra. Wanita yang sangat dia cintai.
*
Rayyan masih menunggu adiknya memulai pembicaraan.
Makanan mereka sudah tersaji diatas meja. Mereka sudah mulai menyantapnya.
"kak, aku ingin minta bantuan kakak" kata Narra seraya menyantap makanan dalam piringnya.
"bantuan apa ?" tanya Rayyan.
Narra lalu menceritakan kecurigaannya tentang hubungan keluarga Richard Davidson dan Faya.
"jadi menurutmu Faya bisa jadi putra keluarga itu ?" terang Rayyan.
"iya kak, tapi aku tidak bisa untuk bahas ini pada siapa pun karena aku takut kalo aku salah" Narra memandang kakaknya.
__ADS_1
"tapi menurut kakak, tidak ada salahnya kita cari tau daripada tidak sama sekali. Kalo itu benar, kita membantu mereka tapi kalo salah ya setidaknya kita sudah mencari tau" ujar Rayyan.
"itu juga maksudku, karena itu aku tidak bisa memberi tahu mereka dulu. Aku takut kalo aku salah dan mereka sudah berharap" jelas Narra.
"kita perlu Andra dalam hal ini Na" kata Rayyan.
"kenapa kak ?" tanya Narra.
"karena dia kenal dekat dengan keluarga itu dan yang paling kita butuhkan sekarang adalah sampel untuk test DNA" terang Rayyan.
"menurut kakak kita perlu melibatkan kak Andra ?" tanya Narra masih belum yakin karena dia ingin menyelidiki ini sendiri.
"kenapa ?" tanya Rayyan.
"justru karena ka Nda dekat dengan keluarga itu, aku tidak ingin memberi tahu dia tentang pemikiranku. Aku takut salah kak" sahut Narra.
"jelaskan sama Andra. Aku yakin dia mengerti. Dan lagi pula kalian akan segera menikah, tidak baik menyimpan rahasia pada calon suamimu" jelas Rayyan.
Narra mengangguk.
"baik kak, aku akan bicara sama ka Nda" ucapnya.
Rayyan mengangguk.
*
Dan disinilah Narra sekarang. Dia berdiri di depan lobby perusahaan HW Farma.
Setelah makan siang bersama Rayyan, dia minta diantarkan kesini. Dia tak lupa membawa makan siang untuk Andra. Tadinya dia ingin membeli untuk Alex juga tapi dia takut kalau nantinya Andra cemburu lagi.
"selamat siang nona Narra" sapa security. Tampaknya dia sudah mengenal Narra.
"siang pak, pak Andra ada ?" tanya Narra.
"ada nona, mari saya antarkan" kata security itu ramah.
"tidak usah pak, saya sendiri saja. Terima kasih" Narra pun beranjak.
Setelah security tadi, resepsionist dan beberapa karyawan lain juga menyapa Narra.
Narra agak sedikit kaget karena mereka mengenalnya. Dia menangapi mereka dengan senyuman.
"siang nona Narra" sapa sekretaris Mia.
"siang juga Mia, pak Andra ada ?" tanya Narra.
"ada nona, hanya saja..." Mia ragu untuk meneruskan kata-katanya.
"ada apa ?" tanya Narra.
"hari ini pak Andra tidak ingin diganggu, beliau tidak mau menerima tamu" jelas sekretaris Mia.
"oo begitu ? bisa saya bicara dengan pak Alex ?" tanya Narra.
"pak Alex menggantikan pak Andra meeting" ujar Mia.
"baiklah.. saya titip ini untuk pak Andra" Narra menyerahkan bungkusan yang dibawanya kepada sekretaris Mia.
Mia menerimanya dengan ragu-ragu.
*
"Narra !" panggil Indra.
Narra menoleh, Indra menghampirinya.
"kamu dari ketemu kak Andra ?" tanyanya.
Narra menggeleng, "kata sekretarisnya, ka Nda tidak mau diganggu. Hari ini dia tidak menerima tamu, kak Alex saja menggantikan dia meeting" jelasnya.
"apa ada masalah ?" tanya Indra.
"aku tidak tau" Narra mengangkat bahu.
"kamu ikut aku" Indra menarik tangan Narra.
Dia membawa Narra masuk kembali kedalam lift.
"In, aku tidak mau mengganggu ka Nda" sergah Narra.
Mereka berdua sekarang berada di lift khusus untuk petinggi perusahaan.
"tapi kamu calon istrinya, seharusnya kamu itu pengecualian" balas Indra.
Narra diam. Hingga akhirnya mereka sampai di lantai ruangan Andra.
"kamu tunggulah disana" pinta Indra pada Narra.
Narra mengangguk.
Indra berjalan lebih dulu menghampiri sekretaris Mia.
"siang pak Indra" sapa sekretaris Mia.
"saya mau masuk, tolong jangan biarkan Narra kemana-mana atau kamu akan dapat masalah" ancam Indra.
Mia ingin bicara tapi terhenti karena Indra sudah masuk kedalam ruangan Andra setelah sebelumnya mengetuk pintu.
*
Andra memandang Indra lalu kemudian kembali fokus pada berkas di depannya.
"kakak, ada masalah ?" tanya Indra.
"kenapa ?" tanya Andra tanpa memandang adiknya.
"tidak menerima tamu hari ini dan tidak ingin diganggu" jelas Indra.
"ooo itu, aku sedang tidak baik" jawab Andra.
"ooo tamu itu termasuk Narra ?" sahut Indra.
Andra memandang Indra.
"Narra tadi kesini, tapi sekretaris Mia menjalankan prosedur sesuai perintah kakak jadinya Narra pulang" jelas Indra.
__ADS_1
Dia sedikit berbohong tentang Narra yang sudah pulang.
"apa ???" Andra beranjak berdiri.
Dia bergegas keluar dari ruangannya.
Andra sempat berhenti di meja kerja Mia dan memandang marah pada sekretarisnya itu lalu berlari menuju lift.
Indra keluar dari ruangan Andra. Pantas saja Andra langsung menuju lift ternyata Narra tidak berada di sofa tamu dekat meja kerja Mia.
Tadi sebelum dia masuk kedalam ruangan Andra, dia memintanya untuk duduk disana.
"mana Narra ?" tanya Indra.
"nona Narra pamit ke toilet pak" jawab sekretaris Mia yang masih shock dengan tatapan Andra tadi.
Sementara itu...
Nada ponsel Narra berdering. Dia segera melap tangannya dengan tisu lalu meraih ponselnya di dalam tas.
Ka Nda Sayang.
Nama kontak yang tertera di layar ponsel Narra.
"iya ka Nda" jawab Narra sambil memandangi dirinya melalui cermin besar di depannya.
"kamu dimana sayang ?" tanya Andra, nafasnya terengah-engah.
"aku di dalam toilet" jawab Narra.
"toilet mana ?" tanya Andra lagi.
"toilet dekat ruangan ka Nda" jawab Narra lagi.
Panggilan ditutup.
Narra memandangi layar ponselnya yang sudah gelap. Dia mengangkat bahu lalu keluar dari toilet.
Dia tersenyum pada Indra dan Mia yang memandangnya.
Belum sempat Indra bicara, Andra muncul dengan nafas terengah-engah.
"ka Nda dari mana ?" tanya Narra menghampiri Andra.
"aku mencarimu sayang" kata Andra.
Narra hanya ber'O panjang.
Andra lalu meraih tangan Narra, dia menggandengnya menghampiri Mia.
"lain kali, Narra itu pengecualian. Sesuai perintahku tapi kecuali Narra, asisten Erick dan keluargaku. Paham !" tegas Andra.
"baik pak, saya minta maaf" Mia tertunduk.
"kita masuk sayang" ajak Andra.
"nona Narra titipannya" Mia menyerahkan bungkusan tadi pada Narra.
"terima kasih" ucap Narra.
"kalo begitu aku keruanganku dulu kak, bye Na" pamit Indra.
Andra dan Narra kompak mengangguk.
*
Narra menghempaskan badannya di sofa ruangan Andra.
Andra duduk disebelahnya.
"sekarang ceritakan, kenapa hari ini ka Nda tidak mau di ganggu ?" tanya Narra.
"aku sedang tidak baik" jawab Andra.
"karena aku tidak makan siang bersama ka Nda ?" tebak Narra.
Andra hanya terdiam. Apa yang dikatakan Narra benar. Dia tiba-tiba emosi karena Narra tidak mengajaknya makan siang bersama Rayyan. Padahal jam makan siang itu adalah quality timenya bersama Narra.
"maaf..." cuma itu yang bisa Andra bilang. Dia sekarang sangat takut kalau Narra marah padanya.
Padahal tanpa dia tahu, Narra juga takut kalau dia marah.
"aku minta maaf, ka Nda maukan maafkan aku ?" ucap Narra seraya memamerkan senyum manisnya.
"iya, maafkan aku juga karena hanya mau quality time sama kamu" ucap Andra.
"iya, kita lupakan itu ya. Ini aku bawakan makan siang untuk ka Nda. Tapi aku minta maaf.. aku hari ini ada meeting dengan team creative. Boleh aku tinggalkan kakak makan sendiri ?" jelas Narra.
Andra terlihat tidak senang.
"baiklah, aku akan minta waktu sama team creative setengah jam" ujar Narra akhirnya.
Dia meraih ponselnya lalu mengirim pesan kepada ketua team creative untuk menunda meeting setengah jam karena dia ada urusan darurat.
Ya, Andra urusan darurat itu.
"terima kasih sayangku" ucap Andra senang.
Narra mengangguk seraya membuka kotak makanan sekali pakai yang dibawanya untuk Andra.
"buka mulutnya" Narra menyuapi Andra.
Andra dengan senang hati melakukan seperti apa yang diminta Narra. Dia mengusap puncak kepala lalu pipi Narra sebagai tanda bahagianya di perlakukan dengan mesra oleh kekasihnya itu.
Narra akhirnya menemani Andra makan siang. Setelah itu kekasihnya itu mengantarnya kembali ke kantor.
"bye ka Nda" ucap Narra seraya mencium pipi Andra.
"bye sayang" Andra balas mencium kening Narra.
"pulangnya aku jemput ya" ucap Andra lagi.
"iya ka Nda sayang" sahut Narra.
Narra pun masuk kedalam gedung kantornya lalu kemudian Andra beranjak kembali ke kantornya.
__ADS_1
***