FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 81


__ADS_3

Narra mengatur menu sarapan di meja makan, tampak Andra menuruni tangga dengan setelan kerjanya.


Andra mendekati istrinya dan memeluknya erat dan sesekali mencium kening wanita yang sangat dicintainya itu.


"kamu temani aku di kantor ya sayang" pinta Andra.


Narra menggelengkan kepalanya. Dia menatap suaminya.


Entah kenapa lagi dengan mood suaminya pagi ini, padahal semalam mereka tidak ada masalah apa-apa malahan mereka melakukan momen cinta mereka.


"maaf sayang, hari ini aku mau ke pasar untuk beli bahan-bahan jus. Aku mau melanjutkan usaha jus segar di kedai ayah. Kamu kan sudah setuju" terang Narra.


"setelah itu ?" tanya Andra.


"aku masih ada kerjaan dengan team untuk iklan Ardhan" ucap Narra, dia membelai rambut Andra yang tampak rapi dengan gel rambut.


"baiklah, tapi tetap dengan pengawalan Alen" kata Andra mengingatkan.


Narra mengangguk. Dia tidak ingin membantah peraturan suaminya karena mereka sudah sepakat Narra boleh bekerja dengan pengawalan Alen serta pergi setelah Andra pergi kerja dan pulang sebelum Andra ada di rumah.


Narra mengerti dia sekarang sudah menjadi seorang istri yang wajib melayani dan mengurus suami.


Andra duduk di kursi dan Narra segera melayani suaminya sarapan.


"sayang, bagaimana urusanmu dengan Faya ?" tanya Andra.


"aku belum bertemu bahkan belum bicara sama dia" jawab Narra.


"aku sudah bicara sama tante Melani dan om Richard, aku bilang untuk beliau check up rutin. Kamu bisa memikirkan alasan untuk Faya" kata Andra.


Narra hanya mengangguk.


"apa boleh aku minta bantuan Friends ?" tanya Narra seraya duduk di kursi menemani suaminya sarapan.


"boleh, kalo itu menurut kamu baik" kata Andra.


Narra mangut. Mereka pun sarapan tanpa ada yang berbicara.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Andra segera bersiap ke kantor. Narra mengantarnya sampai ke pintu.


Sekali lagi Andra memeluk istrinya setelah memberikan ciuman kening, kedua pipi dan bibir Narra.


"kenapa kamu tidak terima tawaran ayah saja ? Kamu kerja sambil menemani aku" kembali Andra merajuk.


"sayang, kita sudah membahas ini. Aku tidak ingin di bilang memanfaatkan kamu dan keluargamu. Biarkan saja dulu aku menjalani usahaku, kalo memang sudah waktunya ya aku mungkin akan menerima tawaran ayah" jelas Narra.


Andra manyun. Narra tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, dia mengecup bibir suaminya.


"jangan menggodaku" katanya.


Mood Andra yang tadinya tidak bagus entah karena apa yang dia sendiri juga tidak tahu kembali bagus karena perlakuan istrinya.


"itu kalimatku" kata Andra.


"tapi sekarang kamu yang menggoda sayang" balas Narra.


"haruskah aku tidak ke kantor ?" tanya Andra dengan senyuman menggodanya.


Narra tersenyum. Suaminya itu cuek, dingin dan kaku dengan sekitarnya tapi bersamanya suaminya tidak ragu untuk menampilkan sisi romantis dan bercandanya.


Bahkan orang-orang yang sangat mengenal suaminya heran dengan perubahan sikap Andra. Mereka senang, Andra bersama orang yang bisa membuat dia menampilkan sisi dirinya yang lebih berbahagia dan lebih berwarna.


"sayang...." ucap Narra seraya memeluk suaminya.

__ADS_1


"aku tunggu ka Nda pulang malam nanti" bisik Narra di telinga suaminya.


Andra melepaskan pelukannya kemudian dia mencium bibir istrinya, tautan mereka begitu dalam dan lama. Narra menahan dada suaminya sebagai tanda kalau ini harus diakhiri.


"nanti sayang...." kata Narra.


"baiklah, aku pergi ya. Bye sayangku" pamit Andra seraya mengusap kepala istrinya.


"iya ka Nda sayang" balas Narra.


*


Narra berkeliling pasar tradisional, dia sedikit menahan senyumnya melihat bagaimana Alen menemaninya masuk pasar sambil membawa belanjaan dengan setelan kerja.


Padahal Narra sudah memintanya untuk menunggu di mobil saja tapi Alen ingin menemani masuk kedalam dengan sedikit memaksa karena itu sesuai dengan perintah Andra padanya.


"Alen, sudah kamu kembali ke mobil saja" kata Narra.


"tidak apa kak Narra, aman" sahut Alen yang tampak mulai kerepotan dengan tas kresek berisi belanjaan Narra.


Narra hanya mengangguk. Dia pun melanjutkan memilih buah-buahan segarnya.


Setelah dari pasar mereka kembali ke apartement. Narra ingin membersihkan diri lagi karena terlihat keringatan dan tidak fresh setelah pulang dari pasar. Begitu juga Alen, setelah meletakan semua belanjaan Narra di atas meja makan dia pamit menuju unitnya untuk membersihkan diri.


Narra mengirim pesan pada Sheva, dia ingin membahas tentang Faya pada para sahabatnya.


Dia sudah selesai membersihkan diri, tinggal menunggu Alen datang dan mereka akan pergi ke kantor Arjuna untuk mengecek kerjaan iklan Ardhan.


[hai Shev, kamu dimana ?] tulis Narra.


[aku ada di hotel tepatnya di dapur resto, kenapa Na ?]


[aku mau ketemuan dengan kalian, bisa minta tolong kamu kasih tau yang lain ?]


[ini tentang Faya, aku tidak mungkin bicarakan ini di grup] balas Narra.


[baiklah, aku atur semuanya. Bagaimana kalo kita ketemu di resto hotelku saja] usul Sheva.


[oke, aku tidak masalah] balas Narra.


[baiklah, sampai nanti Na] tulis Sheva.


[bye Shev]


Narra mengakhiri pesannya.


*


Setelah urusan di kantor Ardhan selesai, Narra menuju ke kedai. Dia kembali berjualan jus disana. Hingga nada pesan masuk dari Sheva membuat dia menghentikan aktivitasnya.


[aku sudah hubungi yang lain, mereka bisanya setelah pulang kantor. Bagaimana ?] pesan Sheva.


Narra bingung, dia harus sudah di rumah sebelum jam pulang kantor. Itu perjanjian dengan suaminya.


[aku bilang sama ka Nda dulu ya Shev, soalnya aku harus ada di rumah jam segitu karena ka Nda pulang kantor] balas Narra.


[baiklah, nanti kamu kabari lagi soalnya semuanya penasaran dengan yang mau kamu sampaikan] jelas Sheva.


[iya, bye Shev] Narra mengakhiri chat via aplikasi hijaunya.


*


Dan disinilah Narra sekarang. Dia datang ke kantor suaminya setelah berjualan jus di kedai ayahnya. Tak lupa dia membawakan makanan dari kedai dan lemon tea buatannya untuk suaminya.

__ADS_1


Andra masih sangat sibuk. Narra melirik jam dinding di ruangan suaminya. Ini sudah lewat dari jam makan siang. Dia segera beranjak lalu mendekati suaminya kemudian membuka tangan suaminya sebagai akses masuk untuk duduk di pangkuan suaminya itu.


Andra menghentikan pekerjaannya. Dia memeluk pinggang istrinya lalu menciumi lengan istrinya.


"kenapa hemmmm ?" tanyanya.


"aku laper... tapi ka Nda dari tadi kerja terus. Katanya sebentar lagi tapi sudah satu jam tidak selesai" Narra manyun.


Andra merasa bersalah. Dia tidak menyadarinya karena memang pekerjaannya menumpuk.


"maaf ya sayang, ya sudah ayo kita makan" ajak Andra.


Mereka beranjak menuju sofa.


Andra membuka kotak makanan yang di bawa istrinya. Kali ini dia yang melayani istrinya. Dia menyuapi istrinya dengan penuh kasih sayang begitu juga Narra, dia balas menyuapi suaminya.


Setelah selesai makan, Narra meminta waktu sebentar sebelum suaminya melanjutkan pekerjaannya.


Narra duduk dengan memeluk manja suaminya.


"kenapa sayang ?" tanya Andra seraya membelai rambut istrinya.


"aku sebentar ada pertemuan dengan Friends tanpa Faya tapi jam pulang kantor. Ka Nda bilang jam segitu aku harus sudah berada di rumah sebelum ka Nda datang" terang Narra.


Andra tersenyum, istrinya mematuhi peraturannya. Dia senang Narra meminta izin terlebih dulu padanya. Dia merasa sangat di hargai dan di cintai oleh istrinya itu.


"kamu boleh pulang terlambat karena sepertinya aku juga akan pulang terlambat hari ini. Pekerjaanku harus selesai hari ini" kata Andra.


Narra tersenyum. Dia mencium pipi suaminya.


"terima kasih ka Nda" katanya.


"tadinya aku mau minta sama Alen untuk mengantarmu kerumah ayah Sasmita atau kerumah Hadinata karena aku khawatir kamu menunggu sendirian di apartement" terang Andra.


"nanti setelah selesai pertemuannya, aku pulang kerumah ayah Sasmita saja ka Nda. Aku tunggu ka Nda disana" kata Narra.


"iya sayang" sahut Andra.


"tapi kamu belum boleh pulang sekarang" bisiknya lagi di telinga istrinya.


Narra mendelik, dia merasakan sesuatu yang mengandung godaan dari kalimat suaminya.


"aku butuh mencharge moodku" kata Andra dengan senyuman terbaiknya.


Narra menggelengkan kepalanya. Dia beranjak berdiri lalu mengunci ruangan Andra. Dia berbalik menghadap suaminya seraya tersenyum.


Andra yang sudah mengerti kalau istrinya tahu maksudnya segera beranjak lalu menggendong istrinya masuk kedalam kamar yang ada di ruangannya.


Mereka sepertinya akan berlama-lama di dalam sana karena Andra sudah menahannya dari pagi tadi.


"pekerjaan ka Nda bagaimana ?" tanya Narra setelah Andra membaringkannya di atas tempat tidur.


"aku bisa menyelesaikannya nanti" kata Andra.


Narra tersenyum lalu bergerak meraih selimut untuk menutupi dirinya.


"aku belum membukanya sayang" goda Andra.


Tidak ada jawaban dari Narra. Andra semakin gemes dibuatnya. Dia segera membuka alas kaki mereka lalu masuk kedalam selimut.


"kamu menggodaku sayangku" kata Andra.


***

__ADS_1


__ADS_2