
Andra datang menemui Narra di rumah Rania.
Sebelumnya dia datang kerumah keluarga Sasmita ternyata Narra menginap di rumah Rania.
"dia menelfon ayah untuk memberitahu, memangnya dia tidak bilang sama kamu ? kalian tadi pergi bersama" tanya ayah Sasmita sedikit bingung.
Andra berusaha untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.
"maaf ayah, tadi Narra meminta pulang duluan. Aku tidak tau kalo dia akan pergi kesana" ucap Andra.
Ayah Sasmita memandang Andra. Biasanya Andra selalu mengantar Narra kemanapun Narra pergi, kenapa kali ini Andra tidak tahu dimana putrinya.
"kalian ada masalah ?" tanya ayah Sasmita.
"iya yah, Andra minta maaf" ucap Andra.
Ayah Sasmita mengerti. Beliau menepuk pundak Narra.
"Narra itu sedikit keras kepala, tapi hatinya lembut jadi yakinkan dia dan buktikan kesungguhan kamu. Dia pasti akan memaafkan" ucap ayah Sasmita.
"terima kasih banyak yah, Andra janji akan berusaha" ucap Andra.
Dan sekarang disinilah Andra. Di depan gerbang rumah Rania.
"tuan mau bertemu non Narra ?" tanya penjaga rumah Rania. Dia mengenal Andra karena pernah datang bersama Narra.
"iya pak, tolong sampaikan Andra datang" ujar Andra.
Penjaga rumah itu meminta Andra untuk menunggu sebentar, sementara dia masuk kedalam untuk memberitahu.
"permisi tuan dan nyonya, di luar ada tuan Andra ingin bertemu non Narra"
Rania dan Adryan saling pandang.
"persilahkan dia masuk pak" sahut Adryan.
Penjaga itu pun berlalu.
"panggil Narra" Adryan menoleh pada istrinya.
Rania beranjak menuju kamar Rishi dimana Narra berada menemani Rishi menggambar.
"Na, Andra datang" ujar Rania.
"padahal aku sudah bilang untuk beri aku waktu, kenapa tidak mengerti juga" Narra menghela nafas.
"Na, temui dia dulu dan bicarakan baik-baik" nasehat Rania seraya mengusap kepala adiknya.
"baiklah" sahut Narra malas.
Dia beranjak keluar dari kamar Rishi.
Di ruang tengah dia mendapati Andra tengah berbincang dengan Adryan.
"kalian bicaralah di taman belakang, biar lebih nyaman. Antar Andra kesana Na" ujar Adryan.
Narra hanya mengangguk lalu melangkah duluan. Dia tidak perduli, Andra mengikutinya atau tidak.
Dengan tergesa, Andra menyusul Narra.
Kini mereka duduk berdua di bangku taman. Andra hanya terdiam karena menyadari Narra masih marah dengannya.
"aku sudah bilang, kasih aku waktu. Kenapa ka Nda datang menemui aku ?" Narra manyun.
"aku ingin minta maaf, aku takut kamu semakin menjauh dari aku" sahut Andra.
"aku masih menenangkan diri.. tolong kasih aku waktu" pinta Narra.
"tapi jangan berpikir ulang tentang pernikahan kita" sahut Andra.
"aku akan memikirkannya" ucap Narra seraya beranjak.
Andra menarik tangan Narra.
"aku masih rindu sayang" ucap Andra pelan.
"besok jemput aku pulang kerumah. Aku mau tidur, bye ka Nda" pamit Narra tapi Andra tetap menahannya.
Dia mencium kening Narra.
"selamat tidur sayang" ucapnya.
Narra hanya terdiam. Dia tidak bicara apa-apa lalu pergi meninggalkan Andra.
Andra bernafas lega. Dia bersyukur, Narra masih memintanya bertemu besok.
"aku mencintaimu Ranarra Sasmita" balas Andra pelan memandang Narra yang beranjak menjauh darinya.
*
Andra datang tepat jam delapan pagi. Adryan yang sedang menikmati pagi bersama Rishi di halaman mempersilahkan dia masuk.
__ADS_1
"kita tunggu disini, para wanita sedang siapkan sarapan. Kamu sudah sarapan ?" tanya Adryan.
Andra menggeleng, "aku takut salah lagi kalau terlambat" jawabnya.
"kamu yang sabar, Narra itu hanya butuh waktu untuk berpikir" nasehat Adryan.
"iya, tapi aku tidak bisa kalo harus menjauh dari dia. Sudah cukup LDRan lalu" ujar Andra.
Adryan tersenyum.
"kamu sangat cinta sama dia" ucapnya.
"dia segalanya untuk aku" balas Andra.
"dia bukan hanya adik Rania tapi juga adikku. Selesaikan masalah kalian dengan baik" kata Adryan.
"iya, aku mengerti" ucap Andra.
Narra kaget mendapati Andra bersama Adryan.
"kak Ryan, sarapannya sudah siap. Tamunya bisa sekalian diajak" kata Narra.
Adryan menoleh pada Andra. Dia menggelengkan kepalanya.
"kenapa bukan kamu sendiri yang ajak dia ?" tanya Adryan.
Narra manyun. Dia tahu Adryan sedang menggodanya.
"ayo Rishi, kita masuk duluan" ajak Narra ada keponakannya.
"iya, tapi Rishi mau om dokter juga diajak tante" kata Rishi.
Adryan mengusap kepala putranya.
Narra memandang Rishi dengan memamerkan senyumnya.
"iyaaaa... mari masuk kedalam om dokter" katanya.
Andra tersenyum. Adryan menepuk pundaknya lalu mengajaknya masuk. Sementara Narra masuk dengan menggandeng tangan Rishi.
*
Dalam perjalanan, Narra hanya terdiam sementara Andra konsentrasi mengemudi.
"kamu tidak ingin kesuatu tempat sayang ? hari ini aku libur" ucap Andra.
"aku tidak, ka Nda mau kemana ?" Narra balik tanya.
"aku ingin kita melanjutkan rencana nonton kita dan jalan-jalan di mall" ujar Andra.
Andra tersenyum. Dengan cepat dia mengubah haluan menuju mall.
Narra melirik Andra lalu kembali ke mode tidak perdulinya.
"terima kasih sayangku" ucap Andra.
Walaupun Narra bersikap acuh padanya tapi kekasihnya itu tidak menolak untuk bersamanya. Andra akan menghabiskan waktu bersama Narra untuk membuat kekasihnya itu kembali bersikap penuh sayang padanya.
*
"aku antri tiketnya dulu" pamit Andra.
Narra hanya mengangguk.
Narra melihat sekeliling, pandangannya tertuju pada cowok yang sedang antri coffee. Dia pun mendekat lalu menepuk pundaknya. Cowok itu berbalik.
"Na ! kamu disini ?" tanyanya.
"kamu dengan siapa Fay ?" tanya Narra.
"dengan teman bandku, kamu ?" tanya Faya seraya mencari-cari.
"aku dengan ka Nda, dia lagi antri tiket" ujar Narra.
Pandangan Faya tertuju pada Andra di antrian tiket.
"ooo aku pikir kamu bisa nonton bareng aku" sahut Faya.
Narra hanya tersenyum.
"kapan-kapanlah Fay.. bareng Friends ya. Sudah lama kita tidak pergi bersama" sahut Narra.
"iya, tapi mungkin lain kali hanya kita berdua saja" ujar Faya.
Narra mendelik, "kenapa ?" tanyanya.
"tidak apa-apa, kan sekali kali" Faya tersenyum.
Andra menghampiri mereka dengan snack dan minuman serta tiket di tangannya. Setelah menyapa Faya dan berbincang sebentar, Andra mengajak Narra pamit pada Faya menuju studio film mereka. Faya menonton film yang berbeda sehingga tidak satu studio.
Andra mengenggam tangan Narra. Mereka berdiri bersandar di dinding poster film karena bangkunya full.
__ADS_1
"terima kasih sayang, kamu sudah mau temani aku nonton" ucap Andra senang.
Narra hanya mengangguk.
"Ranarra ?!"
Narra menoleh, dia mencoba mengingat-ingat.
"Arvi, kita teman di klub Menulis" katanya.
"astaga.. iya, apa kabar ?" seru Narra.
"aku baik" Arvi menyalami Narra.
"lama sekali tidak ketemu, semenjak lulus SMA" sahut Narra kembali mengingat.
"iya, kamu juga jarang komen di grup" balas Arvi.
Andra hanya melihat Narra dan Arvi berbincang tapi tidak bicara apa-apa.
"kamu dengan siapa ?" tanya Narra seraya melepaskan jabatan tangannya.
"dengan teman kantor, kamu ?" tanya Arvi.
"dengan aku, calon suaminya" Andra menyahut.
Narra hanya memandang Andra, dia merasa tidak enak dengan Arvi. Andra jelas menunjukan rasa tidak sukanya.
"oo maaf, nanti kita bicara lagi Na. Nomor kamu masih yang di grup kan ?" tanya Arvi sedikit salah tingkah.
Narra mengangguk. Arvi pun pamit pada mereka lalu kembali pada teman-temannya.
Narra memandang Andra tetapi cowok itu bersikap seolah tidak perduli. Dia bersikap posessif dengan terus menjaga agar Narra terus berdekatan dengannya.
*
Dalam mobil Narra hanya diam saja. Semenjak dari makan malam di restorant, dia hanya bicara seperlunya saja.
Andra yang tahu Narra kesal terhadapnya hanya bersikap biasa saja karena dia tidak suka ada cowok yang menatap kekasihnya lama bahkan tadi Arvi juga lama melepaskan jabat tangannya dengan Narra.
"sayang, kamu jangan cemberut begitu" tegur Andra.
Narra membuang muka melihat jendela disamping kirinya.
Andra lalu menepikan mobilnya. Dia memutar posisi duduk Narra agar menghadapnya.
"maaf, aku cemburu sayang. Aku tidak suka cara dia memandangmu" ujar Andra seraya memegang pipi Narra dan mengusapnya dengan ibu jarinya.
"tapi dia hanya teman ka Nda, jangan berlebihan begitu" sahut Narra.
"kalo menyangkut kamu, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Jangan marah ya" kata Andra lagi.
"sebaiknya kita pulang, aku mau istirahat" Narra kembali membetulkan posisinya menghadap kedepan.
"baiklah tapi aku mau lihat senyummu dulu, mana ?" ujar Andra.
Narra menoleh lalu tersenyum sekilas.
Andra langsung menahan wajah Narra sebelum kembali berpaling dengan tangannya.
Dia mencium bibir Narra dengan lembut.
Narra begitu menikmati perlakuan Andra. Dia mencoba mengikuti irama permainan Andra.
"aku mencintaimu" ucap Andra setelah melepas tautan bibir mereka dengan posisi sekarang kening mereka masih menempel.
"jangan pernah menyembunyikan sesuatu apapun lagi dan jangan cemburu berlebihan dengan tidak mendengar penjelasanku atau... aku tidak akan pernah kembali" tegas Narra.
Andra memeluk Narra erat, "aku tidak bisa kehilanganmu" ucapnya.
Narra terisak terharu.
Andra melepas pelukannya, dia menghapus air mata Narra.
"jangan menangis sayang, aku tidak mau melihat kamu menangis" katanya.
"aku ingin hubungan yang baik-baik saja ka Nda, jauh dari drama" ucap Narra lirih.
"iya sayang, aku mengerti" jawab Andra.
"aku ingin dipercaya, hanya itu" lanjut Narra.
"maafkan aku yang terlalu berlebihan" Andra mencium kedua tangan Narra.
"jangan pernah tinggalkan aku ya" ucapnya lagi.
Narra mengangguk.
Mereka kembali berpelukan beberapa saat. Hingga Narra mengingatkan untuk pulang.
"ayah dan kak Rayyan pasti sudah menunggu" kata Narra.
__ADS_1
Andra mengangguk dan kembali melajukan mobilnya menuju rumah Narra.
***