FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 83


__ADS_3

Narra memasuki kamarnya, dia merasa lelah. Baru saja hendak memejamkan matanya, pintu kamarnya diketuk.


"iya, sebentar" kata Narra setengah berteriak.


Dia membuka pintu kamarnya. Tampak kakaknya berdiri diambang pintu.


"kamu lagi istirahat ya" katanya.


"tidak apa, kakak baru pulang ?" tanya Narra.


"iya, tadi kakak antar mobil ke klien. Kamu menginap disini ?" tanya Rayyan.


Narra menggeleng.


"aku tidak tau, aku masih menunggu ka Nda datang kesini" jawab Narra.


"kita makan di luar yuk, kakak rindu dengan adik kakak" kata Rayyan.


Narra tersenyum.


"ayok, kita ajak ayah dan ibu ya" kata Narra.


"boleh" kata Rayyan.


Mereka menuju ke dapur, tampak ibu mereka bersama bibik tengah masak untuk makan malam.


"ibu sudah masak ?" tanya Rayyan.


"iya kenapa ?" tanya ibu Flanella.


"kami mau makan di luar" sahut Narra.


"ooo, ya sudah kalian pergi saja tidak apa" kata ibu Flanella.


Ayah Sasmita memasuki dapur, dia ikut bergabung dalam pembicaraan istri dan kedua anaknya.


"kalian tidak makan malam bersama disini ?" tanya ayah.


"aku sudah rindu jalan bersama adikku yah, boleh ya kami keluar ?" kata Rayyan.


"ayah sebenarnya ingin kita makan bersama, apalagi Narra baru datang. Bagaimana nanti setelah makan malam kalian keluarnya ? Kalian keluar makan es cream saja" kata ayah Sasmita.


Narra dan Rayyan saling pandang.


"oke, setuju !" kata mereka.


"Narra bantu ibu dan bibik ya" kata Narra.


"tidak usah, ayah dan kakakmu rindu berat sama kamu. Sudah, temani mereka nonton tivi saja" kata ibu Flanella.


"iya ibu" jawab Narra.


Dia mengikuti ayah dan kakaknya menuju ruang tengah. Mereka menonton bersama sambil bercerita tentang kehidupan Narra berumah tangga.


Nada pesan ponsel Narra berdering. Dia segera melihat pesannya.


Dari suaminya.


[sayang, aku minta maaf. Sepertinya aku tidak bisa makan malam bersamamu karena pekerjaanku masih banyak. Aku makan dengan Alex dan Alen di kantor]

__ADS_1


Narra segera membalasnya.


[iya, tidak apa ka Nda. Aku juga sekalian mau minta izin. Setelah makan malam aku mau keluar makan es cream dengan kak Rayyan]


Andra pun membalas.


[iya boleh tapi ingat, jangan banyak-banyak sayangku]


[iya sayang, love you ❤] balas Narra.


[love you more ❤] balas Andra.


Narra kembali meletakan ponselnya.


"dari Andra ?" tanya ayahnya.


"iya katanya dia tidak bisa makan malam bersama, masih banyak kerjaan" jawab Narra.


"dia pekerja keras" komen Rayyan.


Narra mengangguk.


*


Di ruangan Andra ...


"jadi mereka mau pergi liburan ?" ulang Andra pada Alen setelah meletakan ponselnya sehabis mengirim pesan untuk istrinya.


"yang aku tangkap, tadinya itu hanya alasan agar Faya mau ikut tes kesehatan tapi karena sekalian Sheva akan pergi sekolah Chef mungkin mereka akan benar-benar mengatur liburannya" jelas Alen.


"dan laki-laki itu tidak ingin aku ikut" sahut Andra.


"dia sepertinya belum melepaskan Narra" komen Alex.


"iya, dia menjadi bayang-bayang dalam rumah tangga kami" sahut Andra.


"tapi mereka bersahabat, bagaimana pun Faya akan selalu ada di kehidupan Narra. Kecuali...." Alex tidak melanjutkan kalimatnya.


"kecuali apa ?" tanya Andra.


"mereka tidak bersahabat lagi" sahut Alen.


Alex mengacungkan jempolnya pada adiknya.


Andra bersandar pada kursinya. Dia memikirkan ucapan Alex dan Alen. Bagaimana bisa membuat mereka tidak bersahabat, itu sesuatu yang tidak mungkin.


"tapi ya tergantung Faya, kalo dia melepaskan perasaannya dengan ikhlas. Mungkin Narra akan merasa nyaman bersahabat dengan dia. Dan kalian bisa hidup berdampingan tanpa ada masalah" sahut Alex.


"apa menurutmu Narra akan melepaskan persahabatannya ?" tanya Andra.


"bisa, sekarang saja dia sudah menjaga jarak karena dia menjaga perasaanmu sebagai suaminya. Narra itu sadar dengan statusnya sekarang, hanya saja... Dia masih berharap Faya bisa berubah" jelas Alex.


"aku ingin Narra bahagia bersamaku tapi aku juga harus mengerti mereka sudah bersama sebelum ada aku" sahut Andra lirih.


Alex menganga, mulutnya membentuk huruf O besar.


"bro ini nyata ?!" katanya seraya menepuk pipinya.


Andra memandang Alex.

__ADS_1


"kenapa ?" tanyanya.


"Andra yang aku kenal, tidak luluh begini. Dia selalu keras mempertahankan apa yang dia miliki" sahut Alex.


"karena Narra. Aku sangat mencintainya, aku tidak mau kehilangan dia dan ingin dia selalu bahagia bersamaku. Dan aku hanya mengikuti nasehat yang datang padaku kalo aku harus mengalahkan egoku dan meredam emosiku atau aku akan kehilangan Narra" terang Andra.


"memang begitu seharusnya. Pantas saja aku tidak pernah melihat lagi memar atau luka pada dirimu" sahut Alex dengan terkekeh.


Andra melempar Alex dengan kertas coretan yang tidak terpakai lagi yang sudah dia remas sampai membentuk bola.


"sudah kerja lagi, aku tidak ingin kita tidur di kantor" katanya.


Alex hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus pada laptopnya.


Alen juga kembali duduk di sofa bersama Alex dan meraih laptopnya untuk membantu menyelesaikan pekerjaan mereka.


*


Narra menceritakan semua tentang sikap Faya pada Rayyan.


Awalnya Rayyan hanya merespon biasa saja karena dia sebenarnya sudah menduga kalau Faya ada rasa pada adiknya tapi setelah Narra menceritakan secara keseluruhan apa yang sudah Faya lakukan dan katakan, dia geram.


"kalo begitu kalian tidak usah bantu dia" kata Rayyan.


"tapi kak, kasian tante Melani... Beliau sangat merindukan putranya. Masa aku yang mengetahui hubungannya hanya diam saja" balas Narra.


"ya kakak kesal saja, Faya itu tidak bisa di kasih tau. Ini masalah hati, kamu tidak suka sama dia dan kamu juga sudah menikah dan memiliki suami ya sudah, hapuskan perasaanmu toh kalian masih bisa dekat sebagai sahabat" terang Rayyan emosi.


"tapi justru Faya memanfaatkan persahabatan kami agar bisa memanas-manasi ka Nda" sahut Narra.


"apa perlu kakak bicara sama Faya ?" tanya Rayyan seraya menyuapi es creamnya.


"terserah kakak saja tapi untungnya ka Nda masih belum terpancing emosi jadi aku masih merasa baik-baik saja dan tidak perduli. Tapi aku tidak suka dia tidak menghargai suamiku" jelas Narra seraya menikmati es creamnya.


"kakak berharap kamu selalu bahagia" Rayyan mengusap puncak kepala adiknya.


"kak, aku sudah ada yang menjaga.. Kakak tidak ingin memiliki seseorang yang menemani kakak ?" tanya Narra.


"aku masih nyaman dengan keadaanku" kata Rayyan.


"tapi dia sudah pergi bertahun-tahun dan tanpa kabar, apa kakak akan tetap terus menunggu ?" ucap Narra hati-hati.


Selama ini Rayyan terlihat sendiri tapi sebenarnya dia sudah memiliki kekasih sejak kuliah, hanya saja setahun setelah jadian kekasihnya itu menghilang dan sampai sekarang tidak tahu kabarnya sama sekali. Terhitung sudah lima tahun dia pergi dan Rayyan masih sendiri sekarang.


Semua itu hanya Narra dan Rasta yang mengetahuinya karena Rayyan hanya bercerita pada Narra dalam keluarganya. Dia lebih nyaman bercerita pada Narra dibandingkan Rania atau kedua orang tuanya karena mereka berdua sangat dekat dari kecil dan juga Narra tidak memberi nasehat-nasehat yang membuat pusing kepalanya, adiknya itu hanya menyimpannya tanpa memberikan komentar seperti yang dia mau karena dia hanya ingin di dengarkan.


"aku hanya menjalani hidupku saja, kalo memang nanti ada yang menggerakan hatiku... mungkin aku akan mencobanya" ucap Rayyan.


"aku juga berharap kak Rayyan selalu bahagia" ucap Narra. Dia meletakan kepalanya di pundak kakaknya.


Rayyan merapatkan duduknya dan mengelus lembut rambut Narra.


"kamu lihat, semua memandang kita. Mereka pasti berpikir kita adalah pasangan" kekeh Rayyan.


"biarkan saja, aku hanya mau bermanja pada kakakku" balas Narra.


Rayyan menggelengkan kepalanya.


Mereka berdua terdiam lama dengan posisi seperti itu. Narra merasa nyaman. Dia berharap semoga semua masalah segera berlalu.

__ADS_1


***


__ADS_2