FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 48.1


__ADS_3

Narra duduk di bangku taman. Dia masih memikirkan permintaan Andra untuk acara lamaran mereka diganti dengan akad nikah mereka.


Faya duduk disebelah Narra.


"kenapa ?" tanya Faya.


"aku masih belum bisa untuk menikah Fay" ucap Narra.


Faya memandang Narra.


"kalian akan bertunangan dan pastinya akan menikah" katanya.


"iya, tapi menikah sekarang.. ini masih terlalu cepat" kata Narra.


"sekarang ?!" Faya kaget.


Narra mengangguk. Dia lalu menceritakan tentang permintaan Andra.


Faya mengerti. Andra sangat takut kehilangan Narra. Tapi memaksakan Narra untuk menikah sekarang juga tidak tepat. Narra harus siap untuk memulai hidup baru dengan Andra.


Dan juga Faya berpikir, apa dia sanggup untuk melihat Narra menikah secepat ini.


"Fay, kamu kenapa ? aku cerita tapi kamu hanya diam saja" sergah Narra manyun.


"aku hanya kaget Na" elak Faya, dia mengusap kepala Narra gemas.


"kamu kenapa belum siap menikah sekarang ?" tanya Faya kemudian.


"kebebasan. Aku takut ka Andra akan mengekang aku. Kamu liat sendiri, aku tidak salah saja dia sudah bersikap protektif.. bagaimana sekarang, aku sudah buat salah. Pasti dia akan mengikat aku dengan kuat" jelas Narra.


Faya terdiam.


"Na, kamu cinta sama kak Andra ?" tanyanya kemudian.


"aku cinta, aku tidak meragukan itu" jawab Narra cepat.


"seharusnya cinta itu buat kamu bahagia, bukan tersiksa" komen Faya.


Narra menoleh, "aku tidak tersiksa, hanya saja aku kadang tidak nyaman dengan sikapnya padaku dan pada kalian" balasnya.


"trus sekarang apa yang kamu pikirkan ? keputusanmu tinggal beberapa jam lagi" kata Faya seraya melirik jam tangannya.


"aku tidak tau" Narra menggeleng.


Faya tambah bingung. Dia terdiam.


*


"Reyang, kamu kenapa disini ?" tanya Indra.


"Reyang ?!" Rea memandang Indra yang menghampirinya.


"Rea sayang" sahut Indra.


Rea menggelengkan kepalanya, "bucin banget" komennya.


Indra hanya tersenyum. Dia menghampiri Rea dan mengusap kepala kekasihnya itu.


"aku mencarimu, katanya ke toilet tapi lama jadinya aku susul" jelas Indra.


"iya, tadi toilet atas penuh jadi aku cari toilet lantai dasar" alasan Rea.


"kenapa kamu tidak ke toilet ruanganku saja ?" tanya Indra.


Rea tidak menjawab, dia hanya tersenyum karena dia tidak punya kalimat alasan untuk membalasnya.


"ya sudah, kita kembali keruang perawatan kak Andra yuk" ajak Indra.


Rea mengangguk.


Mereka beranjak kembali keruang perawatan Andra.


Sementara di balik tembok tidak jauh dari tempat Rea berdiri tadi, Erga muncul dengan penuh tanya.


Tadi dia juga menyusul Rea yang lama ke toilet belum kembali. Tapi begitu hendak mendekat, dia mendapati hal yang tak biasa selama persahabatan mereka.


"kenapa Rea mengintip Faya dan Narra ?!" pikirnya.


Tanya itu terus muncul di kepalanya tapi dia tidak menemukan jawabannya. Sampai Indra datang dan membawa Rea pergi dari sana.


*


Andra gelisah dalam kamarnya karena Narra belum juga kembali. Dia mencoba turun dari tempat tidur tapi kepalanya masih terasa pusing.


"bro, kenapa turun sendiri ? kamu bisa memanggilku" sergah Alex.


"dimana Narra ?" tanya Andra.


"Narra masih menenangkan diri, Faya bersamanya" jelas Alex.


"aku ingin kesana" ucap Andra.


Dia merasa cemburu begitu Alex bilang kalau Faya bersama Narra. Walaupun dia mencoba berusaha memahami kalau Narra dan Faya itu bersahabat tapi tetap saja dalam pemikirannya, tidak boleh ada seorang pun lelaki yang berada di dekat Narra kecuali dia.


Andra terlalu egois karena traumanya yang tidak mau kehilangan lagi.


"apa tidak sebaiknya kita biarkan Narra dulu" kata Alex.


"aku mau kesana" ulang Andra. Dia tidak ingin dibantah.

__ADS_1


Alex hanya menggelengkan kepalanya. Dia pun meminta Andra untuk duduk dulu di tempat tidur. Dia akan meminta kursi roda pada perawat untuk Andra.


*


Alex keluar kamar, di depan kamar tinggal Rayyan, Imel, Desta dan Sheva. Kedua orang tua Andra pamit keruangan mereka masing-masing karena ada yang harus mereka cek sebentar.


"mau kemana Lex ?" tanya Rayyan.


"aku mau minta kursi roda karena Andra ingin menemui Narra" kata Alex.


"sementara kamu ambil kursi roda, boleh aku masuk bicara sama Andra ?" tanya Rayyan beranjak dari kursinya.


"silahkan" kata Alex.


"Mel, minta tolong kamu liat Narra dan Faya" pinta Rayyan.


"iya kak" Imel pun beranjak.


"aku ikut" kata Sheva seraya menyusul Imel.


"aku juga" sahut Desta.


Alex pun berlalu, sementara Rayyan masuk kedalam ruang perawatan Andra.


*


Rayyan menarik kursi di sebelah tempat tidur Andra.


"ada apa ?" tanyanya.


"adikmu meragu padaku Ray" ucap Andra.


"jelaskan padaku" kata Rayyan.


Andra lalu menceritakan tentang permintaannya pada Narra.


"Narra itu keras kepala tapi berhati lembut. Kalo kamu memaksakan kehendakmu, dia berontak tapi dia tidak bisa berkata apa-apa sama kamu karena dia tidak ingin menyakitimu. Kalo aku bisa kasih saran, biarkan Narra mengikuti kata hatinya. Tanya apa maunya, aku yakin setelah ini Narra tidak akan membuat kesalahan. Percaya sama dia" jelas Rayyan.


"aku takut kehilangan dia Ray, aku tidak bisa" ucap Andra.


"kamu tidak akan kehilangan dia, justru kalo kamu tetap memaksa.. bisa jadi kamu akan kehilangan dia" kata Rayyan.


"aku..."


"percaya sama Narra" Rayyan menepuk pundak Andra sebelum Andra menyelesaikan kalimatnya.


"baiklah" ucap Andra akhirnya.


Alex masuk dengan membawa kursi roda untuk Andra.


"aku tidak jadi keluar, aku akan menunggunya disini. Dan teman-teman yang ada di luar, bisa masuk kesini. Aku sudah baik-baik saja" kata Andra.


Kedua orang tua Andra menyusul kemudian.


"bagaimana sayang ?" tanya Andra pada Narra yang duduk di kursi sebelah ranjangnya.


Andra duduk bersandar pada sandaran ranjang. Sedangkan yang lain duduk menempati sofa tamu. Mereka semua menunggu keputusan Narra.


Narra menghela nafas.


"aku minta maaf ka Nda, aku tidak bisa menikah secepat ini. Bagaimana kalo kita teruskan saja rencana semula. Bukan karena aku tidak ingin menikah.. tapi karena kita harus membicarakan ini dengan keluarga kita dalam keadaan tenang. Lagipula, aku mempunyai pernikahan impian. Apa ka Nda tidak ingin mewujudkan impianku ?" tanya Narra.


"mau sayang, tentu saja aku akan melakukannya. Baiklah, aku mengerti dengan keinginanmu. Kita akan bertunangan saja hari ini" kata Andra mengalah.


"terima kasih ka Nda" balas Narra.


"baiklah kalau begitu kita siap-siap untuk kerumah Narra. Kamu akan berganti dari sini dan calon istrimu tentu saja akan pulang duluan untuk menyambut kita disana" kata ayah Hadinata pada Andra.


"kami akan pulang. Tenang saja, aku yang akan menjaganya" kata Rayyan pada Andra.


"terima kasih" ucap Andra.


Rayyan, Narra dan Friends berpamitan. Mereka akan mempersiapkan semuanya.


Andra terus memandang Narra.


Rayyan benar, dia jangan memaksakan kehendaknya atau dia akan kehilangan Narra.


Andra tidak ingin itu terjadi.


*


Arini sampai di lobby rumah sakit. Dia menghampiri meja jaga untuk menanyakan ruang rawat Andra.


"terima kasih" ucapnya setelah mendapat jawaban yang menjadi tujuannya.


"Arini !!" panggil seseorang.


Arini menoleh, Arsen berdiri di belakangnya.


"Arsen ?! sedang apa disini ?" tanya Arini tergagap.


"aku mau menemui seseorang, kamu sendiri ?" tanya Arsen penuh selidik.


"aku menjenguk keluargaku" jawab Arini.


"kenapa kamu tidak menjawab telfonku ?" tanya Arsen lagi.


"maafkan aku, tadi aku lagi berendam. Ponselku diatas tempat tidur. Lagipula aku sudah tidak berminat menjalankan rencanaku, biarkan saja. Seperti katamu, kita bisa bermasalah dengan polisi" kata Arini dengan senyum yang sedikit dibuat-buat.

__ADS_1


"baguslah kamu sadar konsekuensi rencanamu" ucap Arsen walaupun itu artinya dia tidak bisa meminta sesuatu pada Arini.


"baiklah Arsen, aku duluan. Permisi" ucap Arini seraya berlalu.


*


Setelah mengantarkan barang pesanan Desta kerumah Narra. Desta meminta Arsen untuk menemuinya di rumah sakit.


Arsen bertemu Desta saat hendak keluar lift.


Desta pun memperkenalkan Arsen pada Rayyan dan Friends lalu mengajak Arsen untuk pulang bersama mereka kerumah Narra.


Tetapi saat hendak mengikuti Desta, Arsen melihat Arini menuju sebuah ruangan. Dia penasaran siapa keluarga yang hendak Arini jenguk.


"maaf Desta, boleh aku menyusul nanti ? sepertinya aku melihat orang yang aku kenal. Aku ingin menemuinya dulu" kata Arsen.


"baiklah, kami duluan" kata Desta.


Arsen mengangguk.


*


"selamat sore semuanya" sapa Arini.


Semua mata dalam ruangan itu memandang Arini dengan tanya, bagaimana Arini bisa ada disini.


"Arini, kamu dengan siapa ?" tanya ayah Hadinata mencoba berbasi basi.


"sendirian om, aku mau menjenguk kak Andra. Calon suamiku" katanya.


"aku bukan calon suamimu" sergah Andra.


"tapi bagiku demikian" balas Arini lagi.


Dia tidak perduli penolakan Andra yang jelas dia akan terus menempel pada Andra.


"dari mana kamu tau Andra di rawat ?" tanya bunda Serena.


"dari berita. Setelah video itu beredar, media massa menyoroti tentang kak Andra Hadinata Wijaya dan kak Ardhan Pratama Kusuma" jelas Arini.


Pandangan bunda Serena beralih pada Alex, "Alex, jelaskan pada kami ?" tanyanya.


"aku sudah mengurusnya nyonya, nanti di acara pertunangan tuan muda Andra akan ada media massa yang meliput. Setelah itu kita akan konferensi pers untuk menjelaskan apa yang terjadi. Kita perlu melakukannya untuk meluruskan masalahnya dan juga demi citra keluarga dan perusahaan Hadinata Wijaya" jelas Alex panjang.


"terima kasih Lex, kerjakan dengan sangat rapi" kata ayah Hadinata Wijaya.


"baik tuan" sahut Alex seraya membungkuk hormat.


"Arini, terima kasih kamu sudah datang menjengukku tapi sebaiknya kamu pergi karena kami akan pergi" kata Andra.


"dan satu hal lagi, aku bukan calon suamimu. Calon istriku, Ranarra Sasmita" lanjut Andra.


"kak Andra tidak bisa begitu ? kita telah dijodohkan" balas Arini.


"Arini, kami tidak menyetujui hal itu. Itu hanya keinginan papamu dan kak Hera" kata ayah Hadinata mencoba menjelaskan dengan tenang.


"om Hadinata, tapi aku mencintai kak Andra" balas Arini.


"tapi putraku tidak mencintaimu, tolong mengerti Arini" sahut bunda Serena.


Arini terdiam.


"baiklah, tapi kalian mau kemana ?" tanya Arini ingin tahu. Dia masih mencurigai sesuatu.


"acara keluarga" sergah Alex.


Semua memandang Alex, tidak biasanya Alex menyela pembicaraan mereka.


Andra memandang Alex.


Ada sesuatu yang terjadi. Pikir Andra setelah melihat perubahan sikap Alex.


"ooo baiklah, kalo begitu aku permisi" Arini salah tingkah, dia menyadari kehadirannya tidak diinginkan disini.


Ayah Hadinata mengangguk.


Arini keluar dari ruang perawatan Andra. Dia terkejut karena ada yang menarik tangannya.


"Arsen lepaskan aku !" Arini menghentakkan tangannya.


"jadi apa ini Arini ? siapa pria yang di dalam ?" tanya Arsen.


"seharusnya aku dan dia dijodohkan, tapi dia tidak menginginkannya" kata Arini.


"aku mencintainya Arsen" lanjut Arini lalu terisak.


Arsen kaget. Hatinya hancur, walaupun dia tahu kalau Arini tidak pernah menganggapnya ada tapi mendengar sendiri dari mulut Arini kalau dia mencintai orang lain, Arsen merasa sakit.


"aku mencintaimu Arini, dia jelas tidak mencintaimu seperti aku" ucap Arsen dengan tatapan mata berkaca-kaca.


Arini memandang Arsen. Dia tahu perasaan Arsen tapi hatinya tidak merasakan apa-apa terhadap Arsen.


Hatinya hanya untuk Andra Hadinata Wijaya.


Walaupun Andra tidak mencintainya tapi dia akan terus berusaha mendapatkannya.


"maafkan aku Arsen" kata Arini menatap Arsen.


***

__ADS_1


__ADS_2