
Narra terus memandang ponselnya. Dia menunggu kabar dari asisten Mike.
Andra sesekali melirik kearah Narra.
"sayang, semuanya baik-baik saja ?" tanya Andra.
"iya ka Nda, semuanya baik" jawab Narra.
Dia kembali berbohong. Dia akan bicara pada Andra tentang apa yang mengganggunya tapi nanti. Dia tidak ingin berdebat sekarang, dia lelah.
"yakin sayang ?" tanya Andra lagi.
"iya ka Nda" ulang Narra.
Mobil Andra berhenti di depan rumah Narra. Andra ikut turun bersama Narra.
"aku mau mengundang ayah dan ibu" kata Andra.
Narra memandang Andra. Tapi dia tidak ingin bertanya, nanti juga dia akan tahu. Pikirnya.
Mereka pun masuk kedalam rumah bersama.
Narra menyampaikan maksud Andra pada kedua orang tuanya dan Rayyan. Mereka menemui Andra di ruang tamu.
"ayah ibu, saya datang kesini menyampaikan pesan ayah dan bunda. Kami mengundang ayah dan ibu sekeluarga makan malam di rumah. Ayah dan bunda bilang sebagai pertemuan keluarga sebelum acara lamaran nanti" jelas Andra.
"baik, terima kasih atas undangannya. Kami akan datang" sahut ayah Sasmita.
"aku akan datang menjemput kesini" kata Andra.
"tidak usah, kami akan datang sendiri" sahut Rayyan.
"iya nak Andra, kami akan datang kesana. Tidak usah dijemput" sahut ibu Flanella.
"baik ayah ibu, Rayyan.. jangan lupa Rania dan Adryan juga kami tunggu kedatangannya" ujar Andra.
"baik, nanti ayah akan memberi tahu Rania dan Adryan" sahut ayah Sasmita.
Setelah menyampaikan maksudnya, Andra pamit pulang.
Narra mengantarnya sampai kemobilnya.
"dandan yang cantik ya" pesan Andra.
"memangnya selama ini aku tidak cantik ?" tanya Narra.
"cantik sayang, kamu selalu cantik di mataku" ucap Andra.
Narra tersenyum, "terima kasih ka Nda" katanya.
"aku pulang ya, bye sayang" pamit Andra.
"bye ka Nda sayang" balas Narra.
*
Arsen memandang Arini.
Wanita yang duduk didepannya itu baru saja memintanya untuk menculik seorang wanita.
Katanya temannya itu suka membullynya hanya karena dia memiliki seorang kekasih yang kaya, mapan dan terkenal.
Arini tidak memiliki itu.
"kenapa kamu ingin aku melakukannya ?" tanya Arsen.
"karena hanya kamu yang mengerti aku Arsen, dia menyakitiku. Aku hanya ingin dia tidak ada di acara lamarannya nanti. Setelah itu kita pulangkan dia" kata Arini.
"tapi itu melanggar hukum Arini.. kamu bisa dapat masalah" tegur Arsen.
"kenapa kamu perduli itu ? bukannya waktu menjadi anak buah papa, kalian juga melakukan hal yang melanggar hukum tapi kalian bisa lolos karena koneksi papa" jelas Arini.
"itu berbeda Arini.. itu tuan Raihan. Ini kamu" kata Arsen.
"aku ingin melakukannya Arsen" Arini memegang tangan Arsen.
Arsen yang masih sangat mencintai Arini memandang wanitanya lekat.
"apa yang aku dapat kalo aku membantumu ?" tanya Arsen.
"aku akan memberikanmu uang yang banyak" jawab Arini.
Arsen lalu menarik tangannya dari genggaman Arini.
"bukan itu yang aku mau Arini" katanya.
"apa maumu ?" tanya Arini terkejut.
"kamu" jawab Arsen datar.
Arini terdiam.
Dia tahu Arsen sangat mencintainya, hal itu yang membuat dia yakin kalau Arsen pasti akan membantunya. Tapi tentang Arsen menginginkan dia sebagai bayarannya, dia sangat terkejut.
"aku mencintaimu nona" tegas Arsen.
"aku setuju Arsen" ucap Arini akhirnya. Dia seolah tidak mendengar pernyataan Arsen tadi yang kembali mengungkapkan cinta untuknya.
Arsen hanya memandang Arini datar. Arini tidak menjawab pernyataan cintanya tapi wanita itu setuju dengan persyaratannya.
"baik, katakan apa yang harus aku lakukan. Kapan dan dimana" kata Arsen.
Arini lalu memberitahu rencananya. Dia tidak tahu kalau gerak gerik mereka dari tadi diawasi.
__ADS_1
Arsen juga bukan orang bodoh. Dia tahu sedang diamati karena itu saat Arini menceritakan detail rencananya, Arsen meminta Arini untuk bicara lebih pelan lagi nyaris tak terdengar.
"kita pulang sekarang" ajak Arsen, dia menarik tangan Arini.
"ada apa ?" tanya Arini bingung.
Arsen tidak bicara lagi. Dia terus menarik tangan Arini keluar dari cafe.
Sesampainya didalam mobil, Arsen lalu memasangkan sabuk pengaman pada Arini dengan sedikit terburu-buru.
"ada apa Arsen ?" tanya Arini.
"ada yang sedang mengawasi kita" kata Arsen seraya melajukan mobil Arini pergi dari pelataran parkir cafe.
"apa suruhan papa ?" sahut Arini seraya menoleh kebelakang.
"tuan Raihan ?!" Arsen melirik spion dalam untuk melihat apakah ada yang mengikuti mereka.
"iya, papa mengawasi gerik-gerikku seperti aku anak kecil saja" kata Arini berusaha menutupi yang sebenarnya.
"tapi aku rasa itu bukan anak buah tuan Raihan. Sepertinya mereka orang lain" kata Arsen lagi.
Arini kembali bersandar di kursinya, dia berpikir kalau itu bukan anak buah papanya terus siapa ?
Mobil Arini memasuki kawasan parkir F-teleradio yang terkenal karena mengelola stasiun televisi dan stasiun radio dalam satu gedung.
Arini memandang Arsen.
"kenapa kita kesini ?" tanyanya seraya memandang gedung tinggi di depannya.
"aku ada pekerjaan disini" kata Arsen.
Arini mangut.
Arsen keluar dari mobil. Arini juga mengikutinya.
"jaga dirimu" Arsen menyerahkan kunci mobil pada Arini.
"sampai ketemu Arsen. Terima kasih kamu mau mendengarku" ucap Arini.
Arsen hanya mengangguk.
Arini masuk kedalam mobilnya dan pergi.
*
Andra pulang kerumah dan memberi tahu pada ayah dan bundanya kalau keluarga Narra menerima undangan mereka.
Bunda Serena langsung menghubungi restorant favorit mereka untuk menyediakan menu istimewa dan mengantarkannya sebelum jam delapan malam ini.
"semua sudah beres bun ?" tanya ayah Hadinata saat bunda Serena masuk kedalam kamar.
"sudah yah, kita tinggal menyambut calon besan dan keluarganya" sahut bunda Serena.
"iya yah" ucap bunda Serena.
*
Desta membuka pintu pantry, dia tersenyum pada seseorang disana yang sedang menikmati secangkir kopi hitam.
"kamu bertugas jaga malam Arsen ?" tanya Desta.
"iya tuan Desta" sahut Arsen.
"jangan panggil aku dengan formal, panggil Desta saja kalo kita hanya berdua" kata Desta.
"baiklah" ucap Arsen.
Desta lalu mengambil cangkir di lemari penyimpanan. Dia hendak membuat kopi untuk dirinya sendiri.
"biar saya buatkan Desta" tawar Arsen.
"tidak apa, aku bisa sendiri kalo hanya secangkir kopi" Desta terkekeh.
"kalo begitu saya permisi kembali ke pos" pamit Arsen.
"oh iya Arsen, beberapa hari lagi sahabatku akan mengadakan acara lamaran. Aku memesan sebuah meja rias yang cantik sebagai kado. Kamu bisa membantu membawanya ke tempat acara ? soalnya kurirnya lagi di rawat di rumah sakit" jelas Desta.
"baik, anda bisa mengingatkan saya lagi nanti" kata Arsen.
"terima kasih Arsen" ucap Desta.
Arsen keluar dari pantry. Dia menuju pos jaga tempat dia bertugas sebagai security hampir tiga bulan ini. Destalah yang memasukan dia kerja disana. Mereka ketemu secara tidak sengaja sewaktu Desta hampir saja tertabrak mobil di depan kantor F-teleradio sewaktu hendak menyeberang dari membeli makanan. Arsen yang menyelamatkannya.
Dari situlah mereka akrab karena Desta menganggap dia bukan sebagai pegawai tetapi sebagai teman.
*
Acara makan malam berlangsung akrab. Keluarga Andra menyambut keluarga Narra dengan sangat hangat. Seperti pertemuan antar saudara, bukan calon besan.
Setelah makan malam selesai, mereka lanjut berbincang di ruang keluarga dengan di temani secangkir teh dan kopi.
Narra mendapat permintaan membuat jus karena Vinand ingin jus tapi pelayan membuatnya tidak sesuai selera Vinand.
Rishi langsung memberi tahu kalau jus buatan tante Narranya yang terbaik.
Rania dan Rayyan juga menimpali kalau di kedai, jus buatan Narra paling laris. Mereka bahkan menyetok banyak di lemari pendingin agar pelanggan tidak kecewa karena Narra sibuk di kantor.
"sudah jusnya sayang ?" tanya Andra menyusul Narra ke dapur.
"sedikit lagi ka Nda. Oh iya, Vinand dan Rishi mana ?" tanyanya karena setahunya kedua bocah itu bermain bersama Andra.
"mereka bermain berdua" jawab Andra.
__ADS_1
Andra memeluk Narra dari belakang.
"ka Nda, nanti ada yang liat" kata Narra, dia melihat sekelilingnya.
Hanya mereka berdua disana.
"tidak ada siapa-siapa, para pelayan sudah kembali ke paviliun dan akan kembali setelah tamu pulang untuk membereskan semuanya" jelas Andra.
"nanti keluarga kita berpikir macam-macam ka Nda sayang"
"macam-macam bagaimana sayang ?" Andra menempatkan dagunya di pundak kanan Narra.
"ya kita belum menikah tapi sudah seintim ini" terang Narra.
"biar saja, supaya lusa itu bukan hanya pertunangan kita tapi pernikahan kita" Andra terlihat senang.
"ka Nda..." Narra manyun.
"sayang..." balas Andra menggoda Narra.
"ehem ! pantas saja jusnya lama, kalian pacaran disini rupanya" goda Indra dari belakang membuat Andra dan Narra menoleh kebelakang.
Pelukan Andra perlahan terlepas.
"maaf, ini sudah selesai" ucap Narra. Dia terlihat salah tingkah.
Dia lalu menuangkan jus alpukat yang dibuatnya kedalam gelas yang sebelumnya sudah di masukan es batu.
Narra lalu mengantar jusnya, dia berjalan melewati Indra menuju ruang keluarga.
"ganggu saja" tegur Andra seraya mengikuti Narra.
Indra hanya terkekeh, dia ikut beranjak kembali keruang keluarga.
"ibu dan kak Rania mana yah ?" tanya Narra pada ayah Sasmita.
"mereka melihat baju seragam acara nanti bersama bunda Serena dan Diandra" ayah Hadinata yang menjawab.
Narra mangut lalu meletakan jusnya kemudian memanggil Rishi dan Vinand untuk mencoba jusnya.
"enak tante, Vinand suka" puji Vinand.
"apa kubilang, jus tante Narraku yang terbaik" balas Rishi memuji Narra.
"terima kasih, habiskan jusnya" sahut Narra mengusap sayang kepala Rishi.
Tak lama ibu Flanella dan Rania menghampiri mereka bersama bunda Serena dan Diandra di belakangnya.
"itu apa bu ?" tanya ayah Sasmita melihat paperbag di tangan ibu Flanella.
"ini seragam untuk keluarga kita yah, gaun untuk ibu seperti punya bunda Serena, juga ada kemeja batik untuk ayah dan Rayyan. Itu di tangan Rania, gaun sama seperti punya Diandra ada kemeja batik untuk Adryan dan Rishi" jelas ibu Flanella.
"maaf, kami jadi merepotkan keluarga Hadinata" ucap ayah Sasmita.
"tidak begitu pak Sasmita, kita akan menjadi keluarga. Tidak ada yang direpotkan" sahut ayah Hadinata.
Narra memandang Andra yang duduk di depannya bersebelahan dengan Indra. Kekasihnya itu tersenyum kearahnya.
"sudah malam, kalau boleh kami langsung pamit pulang. Terima kasih makan malamnya" ucap Adryan.
"iya kami juga pak Hadinata" ayah Sasmita beranjak berdiri.
"sama-sama, kami senang kalian semua bisa memenuhi undangan kami" sahut ayah Hadinata seraya berdiri.
Kedua keluarga itu saling berjabat tangan dan memeluk.
"ayah Sasmita, boleh aku yang mengantar Narra pulang ?" pinta Andra.
Ayah Sasmita memandang kearah putri bungsunya.
"baiklah tapi ini sudah malam, jangan terlalu lama pulangnya" pesan ayah Sasmita.
"iya ayah" sahut Andra.
Setelah keluarganya pulang, Narra pun berpamitan pada keluarga Andra.
"nanti sering datang kesini Na" sahut bunda Serena.
"iya bunda. Narra pulang dulu" pamitnya.
*
Dalam perjalanan, Narra terpikir untuk memberi tahu Andra tentang pembicaraannya dengan Rayyan.
Tapi ada keraguan, dia takut kalau apa yang dia pikirkan salah.
"sayang, kamu kenapa ? dari tadi gelisah" tanya Andra melirik Narra.
"ka Nda kalo aku takut salah dengan pemikiranku, apa yang akan ka Nda lakukan ?" tanya Narra.
Andra menghentikan mobilnya. Dia memandang Narra tajam.
"ada apa ?" tanyanya, perasaannya kini tidak menentu.
"aku makan siang dengan kak Rayyan karena ada pemikiran yang terus menggangguku" jelas Narra.
"ada apa ?" ulang Andra.
"sebaiknya kita cari tempat untuk bicara ka Nda, jangan dalam mobil seperti ini" ujar Narra.
"baiklah kita ke cafe, aku akan memberi tahu ayah Sasmita kalo kita singgah sebentar" kata Andra. Dia melajukan mobil menuju cafe terdekat.
***
__ADS_1