FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 28.1


__ADS_3

Andra menjemput Narra dengan penampilan setelan semi resminya. Narra yang sudah siap dengan dress selututnya memandang kagum pada kekasihnya itu.


Dokter Andra Hadinata Wijaya begitu sempurna. Banyak yang sangat mendamba Andra untuk menjadi kekasih tetapi pria itu memilihnya.


Setiap Narra menanyakan kenapa Andra memilihnya, Andra menjawab karena dia cinta. Dan tidak ada alasan kenapa bisa karena hatinya yang memilih.


"kamu tambah cantik malam ini sayang" puji Andra.


"terima kasih ka Nda sayang, ka Nda juga tambah tampan mempesona" Narra balas memuji kekasihnya.


Andra tersenyum mengusap pipi Narra.


"kita pamit pada ayah, ibu dan Rayyan dulu" ajak Andra.


Narra mengangguk.


Mereka masuk kedalam untuk berpamitan.


*


Andra membukakan pintu mobil dan menahan kepala Narra dengan telapak tangannya agar tidak terbentur atap mobil. Narra hanya tersenyum dengan perlakuan Andra. Kekasihnya itu mengitari mobil lalu masuk kedalam dan duduk di balik kemudi.


"jangan terpesona seperti itu, pria tampan ini milikmu" ucap Andra penuh percaya diri tanpa menoleh pada Narra.


Narra spontan mencium pipi kiri Andra. Dan Andra pun menoleh pada Narra lalu mencium bibir Narra sekilas.


"kita berangkat sayang, jangan menggodaku" ucap Andra.


"aku hanya menegaskan milikku" Narra bersandar di kursinya dengan senyum tidak perduli.


Andra tersenyum senang seraya mengusap sayang pipi Narra. Kekasihnya itu semakin lama semakin menunjukkan perasaan sayang padanya.


"iya, aku hanya milikmu dan kamu juga hanya milikku. Boleh kita jalan sayangku, cintaku, bahagiaku ?" ujar Andra.


"iya ka Nda sayang" ucap Narra dengan memamerkan senyumannya.


Andra membalas tersenyum lalu melajukan mobilnya menuju lokasi makan malam mereka.


*


Sesampainya di pelataran parkir, Andra mengeluarkan kain hitam. Narra memandangnya heran. Andra lalu memintanya untuk menutup mata menggunakan kain yang dia bawa.


Narra hanya mengangguk.


Andra pun membantu mengikatkan kain hitam yang menutupi mata itu di belakang kepala Narra. Kemudian dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Narra serta menuntun kekasihnya itu keluar.


Andra merangkul Narra masuk kedalam restorant.


Seorang pelayan menunggu mereka di depan resepsionist. Dia mengantarkan keruangan yang Andra pesan.


Pintu ruangan VVIP itu terbuka lebar, Andra meminta Narra untuk siap karena dia akan membuka penutup matanya.


Narra memandang kagum setelah penutup matanya dilepas.


Ruangan luas dengan cahaya temaram itu dihiasi foto-foto kebersamaan mereka dan diatas meja terdapat buket bunga foto-foto mereka.


Narra memandang Andra.


Pintu ruangan itu tertutup, kini hanya ada mereka berdua disana.


"ka Nda, ini indah" komen Narra takjub.


"aku senang kamu suka sayang, ini untukmu" Andra menyerahkan buket bunga itu pada Narra.


"happy anniversary sayangku" serunya.


"terima kasih" ucap Narra seraya menerima buket bunga dari Andra.


"aku pikir ka Nda lupa" sahut Narra.


"selama tiga tahun kita LDRan aku tidak lupa, masa kali ini setelah kita bersama aku lupa" sergah Andra.


Narra hanya tersenyum.


Andra pun mengajak Narra duduk.


Dan tak lama beberapa pelayan datang membawa makanan dan mengaturnya di atas meja.


"terima kasih, menu penutupnya nanti saja. Aku ingin dalam keadaan dingin" pesan Andra pada pelayan.


"mau es cream coklat mocha sayang ?" Andra menoleh pada Narra.


"mauuuu" jawab Narra dengan mata berbinar-binar karena es cream coklat mocha adalah favoritnya.


Dari mana ka Nda tahu kalo aku suka es cream, pikir Narra dalam hati.

__ADS_1


Karena selama mereka bersama Narra belum pernah pesan es cream. Tapi Narra tidak ingin membahasnya, dia tidak mau merusak moment romantis yang Andra rencanakan untuk mereka berdua.


"nanti ya, itu menu penutupnya" Andra mengusap kepala Narra.


Narra mengangguk.


"baik tuan, ada lagi ?" tanya pelayan itu memecah keromantisan pasangan yang sedang merayakan anniversary itu.


"tidak ada, terima kasih" ucap Andra.


Pelayan itu pamit pergi.


Narra teringat sesuatu, dia mencari tempat untuk meletakan buket bunganya. Melihat itu Andra lalu beranjak, dia meraih buket bunga itu lalu meletakannya di salah satu kursi tidak jauh dari mereka. Dan kembali ketempat duduknya.


Narra mengambil kado dari dalam tasnya, untung saja kadonya ukuran bingkai 4 R sehingga muat dalam tas selempangnya.


"happy anniversary ka Nda sayang" seru Narra.


"apa ini ?" tanya Andra menerima kado dari Narra.


"buka saja, semoga ka Nda suka" Narra mengedipkan matanya.


"aku selalu suka kalo kamu yang pilih sayang" ucap Andra.


"manis sekali" komen Narra.


Andra lalu membuka kertas kadonya, dia tersenyum senang begitu membuka kotaknya. Hadiah mereka hampir mirip, sepertinya mereka memiliki chemistry dalam memilihnya.


"kita kompak ya" ujar Andra.


Narra mengangguk, "iya, kado kita sama berhubungan dengan foto" katanya.


Andra lalu beranjak mencari stop kontak, dia menemukannya di dekat kursi tempat dia menyimpan buket bunga untuk Narra. Dia menyalakannya. Terlihat slide beberapa foto mereka.


Kemudian Andra kembali mendekati Narra, dia menaikan dagu Narra dengan tangannya lalu mencium bibir Narra.


Narra membalas ciuman Andra, dia mencoba mengambil nafas karena ciuman Andra yang lama tapi tidak menuntut. Andra memperlakukannya dengan lembut. Sampai akhirnya, kekasihnya itu mengakhiri ciumannya. Kening mereka bertemu.


"aku mencintaimu" ucap Andra.


"aku juga mencintai ka Nda" balas Narra.


Mereka lalu melanjutkan makan malam berdua perayaan empat tahun jadian mereka dengan saling menyuap, saling memegang pipi, berpegangan tangan dan bahkan Andra sesekali mengusap bibir Narra untuk membersihkan sisa makanan disana.


"ka Nda, hiasan ini indah. Boleh di bawa pulang ?" Narra lagi-lagi melihat sekitarnya.


"iya, tadinya aku akan meminta team EOnya untuk membawanya ke apartement dan menghiasnya di ruang makan. Tapi kalo kamu suka, aku akan meminta mereka menghiasnya untuk kamu" jelas Andra.


"tidak apa, ke apartement saja ka Nda" tolak Narra.


"kenapa ? kamu tidak mau ?" tanya Andra dengan raut kecewa.


Narra menggeleng, "bukan ka Nda sayang, ka Nda bilang nanti kita tinggal di apartement. Jadi disana saja hiasan ini" terang Narra.


Andra tersenyum. Kalimat Narra seakan kode bahwa dia telah siap untuk menikah dengannya.


Aku akan tanyakan lagi pada Narra setelah ini. Pikir Andra.


Dia ingin Narra segera menjadi miliknya seutuhnya, agar Ardhan atau siapapun juga tidak bisa untuk mencoba mendekati atau berharap bersama Narra.


"baiklah sayang, lanjut lagi makannya" ujar Andra.


Narra mengangguk.


Mereka menikmati makan malam tanpa suara selain sesekali saling menatap penuh cinta.


Tibalah dengan menu yang paling Narra tunggu. Es cream coklat mocha favoritnya. Dia berbinar melihat es cream itu disajikan.


"aku suapi ya sayang" kata Andra.


Narra mengangguk, "terima kasih ka Nda sayang, aku senang" katanya.


*


Andra mengantar Narra pulang. Sepanjang jalan dari restorant, dia terus mengenggam tangan Narra dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang kemudi. Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah Narra, Andra menahan tangan Narra untuk turun dari mobil.


"kenapa ka Nda ?" tanya Narra.


"sudah empat tahun Na, kamu masih belum menjawab lamaranku" ucap Andra.


Narra terdiam. Dia belum pernah memikirkan lagi tentang jawaban pernikahan mereka.


Andra menunggu jawaban Narra.


"aku rasa, ka Nda sudah tau maksud aku meminta hiasan tadi berada di apartement kakak daripada di kamarku" Narra menatap Andra.

__ADS_1


Andra tidak mengerti. Dia menunggu Narra melanjutkan kalimatnya.


"aku menerimanya" lanjut Narra akhirnya.


Andra serasa tidak percaya dengan perkataan Narra. Dia memeluk kekasihnya itu lalu mencium kening, kedua pipi bahkan mencium bibir Narra sekilas. Dia sangat senang, gembira, dan bahagia menjadi satu.


"terima kasih sayang, aku akan membicarakan ini dengan ayah dan bunda segera" katanya.


Narra mengangguk pelan.


Andra kembali mencium bibir Narra lama. Narra berusaha mengikuti irama permainan Andra hingga akhirnya Andra melepaskannya.


"terima kasih" ucap Andra sekali lagi.


"aku turun ka Nda, nanti kabari aku kalo ka Nda sudah sampai rumah" pamit Narra.


"iya sayang" ucap Andra.


"bye ka Nda" ucap Narra.


"bye sayangku" balas Andra.


Narra tersenyum lalu turun dari mobil Andra. Dia berhenti sebentar di teras untuk sekedar melambai pada kekasihnya itu.


Andra balas melambai dan masih menunggu Narra masuk kedalam rumah. Dia berlalu setelah Narra masuk kedalam rumah.


*


Narra duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya setelah tadi selesai bersih -bersih. Dia melihat ponselnya, Andra belum mengabarinya.


Tak lama..


Nada pesan masuk. Dari seseorang yang dia tunggu dari tadi.


Aku sudah sampai di rumah sayang. Kamu lagi apa ?


Narra mengetik.


Aku baru selesai bersih-bersih, ini sudah bersiap mau tidur.


Andra membalas.


Boleh video call ? masih rindu.. ❤


Narra membalas.


Iya ka Nda sayang.


Andra tersenyum. Dia segera menghubungi Narra lewat panggilan video.


Narra tersenyum kearah layar ponselnya. Andra juga bersandar pada sandaran tempat tidur seperti yang dia lakukan.


"aku tidak sabar ingin kamu ada disini sayang" ucap Andra seraya memperlihatkan ruang kosong di sampingnya.


"iya ka Nda" ucap Narra.


Andra memandang Narra lama membuat kekasihnya itu salting. Wajah Narra merona.


"ka Nda kenapa ?" tanya Narra.


"tidak apa sayang, ya sudah kita tidur ya" kata Andra.


Narra mengangguk.


"besok aku jemput ya" kata Andra.


"iya ka Nda" sahut Narra.


Andra memberikan kecupan jarak jauh lalu melambaikan tangannya. Narra juga melakukan hal yang sama. Andra pun mengakhiri panggilannya.


Baru saja Narra hendak membaringkan badannya, terdengar bunyi pesan dari ponselnya yang sudah dia letakkan di atas nakas.


Temui aku di cafe dekat kantormu pada jam makan siang.


Pesan dari Ardhan.


Narra menimang ponselnya. Ada apa Ardhan ingin bertemu. Pikir Narra.


Dia pikir setelah kejadian tempo hari dimana dia menegaskan kalau dia memilih untuk bersama Andra, Ardhan akan melepaskannya. Tapi dia salah, Ardhan masih menghubunginya.


Narra meletakkan kembali ponselnya. Dia memilih untuk tidak membalas pesan Ardhan.


Narra memilih tidur.


***

__ADS_1


__ADS_2