
Andra menghampiri istrinya. Dia mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"maafkan aku sayang, aku pulang terlambat" katanya.
Narra mengeliat. Dia terbangun.
"ka Nda sudah pulang ? sibuk sekali ya" kata Narra dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"bangun dulu, kita makan malam bersama. Aku tau kamu pasti juga belum makan" kata Andra seraya membantu istrinya bersandar.
Narra mengangguk, dia beranjak dari tempat tidur lalu masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Setelah Narra keluar kamar, dia melihat suaminya berdiri di sebelah meja makan dengan buket bunga mawar putih di tangannya.
Narra tersenyum. Sebenarnya tadi dia kesal pada suaminya karena pulang terlambat dan tidak membalas pesannya tapi sekarang perasaan itu menguap karena suaminya membawa bunga yang pasti untuknya.
"maafkan aku sayang, begitu aku menerima pesanmu aku langsung bertindak bahkan aku tidak membalas pesanmu" ucap Andra dengan perasaan bersalah.
"seharusnya kalo ka Nda tidak menghubungiku, ka Nda bisa meminta kak Alex untuk memberi kabar padaku" kata Narra.
"maaf sayang, kami berdua sangat sibuk tadi" kata Andra.
Dia menyerahkan buket bunga itu pada Narra lalu mengecup bibir istrinya itu.
"aku janji tidak akan mengulanginya lagi" katanya.
Narra mengangguk lalu memeluk suaminya.
"aku sangat mencintaimu" bisik Andra.
"aku juga" balas Narra.
Mereka melepaskan pelukan lalu duduk untuk menikmati santap makan malam yang sedari tadi disediakan Narra.
Andra mengambil buket bunga dari tangan istrinya lalu meletakannya di atas kursi di sebelahnya. Nanti dia akan mengurusnya menatanya kedalam vas.
"maaf ka Nda, makanannya sudah dingin" ucap Narra.
"tidak apa sayang, kamu sudah masak untukku. Terima kasih ya" ucap Andra seraya mengusap pipi Narra.
Merekapun makan malam yang tertunda bersama.
"terima kasih istriku sayang" ucap Andra.
"sama-sama suamiku" balas Narra.
__ADS_1
*
Narra membuka matanya pelan. Pandangan matanya langsung bertemu dengan tatapan cinta suaminya. Semalam setelah membersihkan diri selesai melakukan moment penuh cinta mereka, Narra tertidur pulas dalam pelukan dan belaian suaminya.
"pagi istriku sayang" sapa Andra.
"pagi juga suamiku sayang" balas Narra.
"sekarang kita mandi ya, karena kita akan menghadiri undangan" kata Andra.
"kemana ?" tanya Narra.
"kita akan mengunjungi vila om Richard dan tante Melani" kata Andra.
Narra menatap Andra tidak percaya karena disana ada Faya dan Ardhan. Kalau Ardhan mungkin Andra akan baik-baik saja tapi kalau Faya, Narra tidak yakin kalau Andra akan bisa menguasai emosinya.
Tapi Narra tidak ingin bertanya pada suaminya, dia lalu beranjak menuju kamar mandi.
*
Tibalah mereka di vila pribadi Richard Davidson dan Melani. Tampak pasangan suami istri itu menyambut mereka dan tampak juga di belakang mereka Faya dan Ardhan. Kedua arsitek pembangunan villa itu sudah beberapa hari berada di tempat ini karena tahap pembangunan yang sudah hampir selesai.
"tante..." sapa Narra.
Melani memeluknya. Mereka layaknya seperti ibu dan anak saja.
"senangnya kalian bisa datang kesini, ayo kita masuk tante sudah masak untuk kita semua" kata Melani.
"terima kasih banyak tante, kami jadi merepotkan" kata Andra seraya merangkul pinggang istrinya.
"tidak merepotkan, kami senang suasana disini semakin ramai" kata Melani.
Mereka pun masuk kedalam vila. Mereka langsung masuk menuju meja makan. Tampak menu istimewa telah di siapkan para pelayan di atas meja.
"ini semua yang masak Melani dibantu oleh Faya dan Ardhan" terang Richard.
"mereka berdua membantu tante memasak makanan favorit Narra. Kata mereka Narra paling suka kuah daging sapi. Mereka membantu eksekusi daging sapinya" jelas Melani.
Narra tersenyum canggung, dia menoleh pada suaminya. Andra tampak memandang datar kedepan. Dia tahu suaminya menyimpan kekesalan dengan penjelasan tante Melani.
"terima kasih, mereka memang sahabat yang baik" kata Narra.
Dia mencoba menekan kata 'sahabat' agar Andra mengerti arti Faya dan Ardhan untuknya.
"silahkan duduk semuanya, kita makan bersama" seru Richard Davidson.
__ADS_1
Suara Richard seakan memecah suasana yang canggung tadi. Narra pun duduk setelah suaminya menarik kursi untuknya. Andra memperlakukan Narra begitu istimewa, bukan karena di depan Faya tetapi memang begitulah Andra. Dia terlalu mencintai Narra.
*
Narra memandang Andra yang berdiri di jendela, dia tahu ada yang mengganggu pikiran suaminya itu.
Dia menghampiri suaminya dan memeluk suaminya, Andra refleks membuka pelukannya dan memeluk Narra dengan erat.
"ka Nda kenapa ? Ada yang dipikirkan ?" tanya Narra.
"aku tidak apa sayang, kamu sudah selesai beres-beresnya ?" tanya Andra.
Narra mengangguk, "iya sudah, kita istirahat ya nanti sore kita jalan-jalan sekitar sini" kata Narra.
"iya, ayo kita istirahat" ajak Andra.
Mereka menuju tempat tidur untuk melepaskan lelah selama perjalanan.
*
Sepasang suami istri menyusuri tepi pantai, mereka terlihat bahagia berpegangan tangan. Sesekali Andra menatap istrinya, Narra lalu menghentikan langkahnya.
"kenapa sayang ?" tanya Andra.
"aku tau ka Nda kepikiran Faya, tapi aku yakinkan kalo aku tidak akan pernah bersikap lebih dari sahabat dengan dia" tegas Narra.
"aku hanya tidak suka kalo dia mencoba menunjukan semua yang dia tau tentang kamu. Aku sangat cemburu" kata Andra.
"ka Nda sayang, kita masih punya misi untuk Faya. Aku harap ka Nda bisa lebih berbesar hati karena ini bukan hanya untuk Faya tapi untuk om Richard dan tante Melani kalo sampai apa yang kita duga itu benar" jelas Narra. Dia tidak ingin Andra berubah pikiran untuk membantu Faya menemukan orang tua kandungnya karena dengan koneksi yang dimiliki Andra akan memudahkan prosesnya.
"kamu sangat menyayangi Faya ?" tanya Andra seraya menyelipkan helai rambut yang menutupi wajah istrinya.
"aku menyayanginya sama seperti kepada sahabatku yang lainnya dan porsinya tidak seberapa dengan rasa sayangku untuk ka Nda yang sangat besar karena ka Nda suamiku" jelas Narra.
Andra tersenyum. Dia memeluk istrinya erat.
Tanpa mereka sadari, pemandangan itu di lihat Faya dari balkon lantai dua vila Davidson.
"lepaskan perasaanmu karena Narra sekarang sudah menjadi istri Andra dan yang paling penting mereka bahagia"
Suara dari arah belakang membuat Faya menoleh. Ardhan mendekat kearahnya dan mereka berdiri bersebelahan.
"jangan sampai Narra membencimu karena telah merusak kebahagiaannya, dari dulu kalian sahabat dan tetaplah seperti itu" lanjut Ardhan lagi.
"aku menyesal tidak mengubahnya dari dulu. Menjadikan Narra lebih dari sekedar sahabatku" balas Faya.
__ADS_1
"berarti kalian memang hanya ditakdirkan sebatas itu. Aku bisa menerima hanya sebatas mantan untuk Narra karena aku melihat dia sangat bahagia bersama Andra. Aku harap kamu tidak melampau batasanmu" kata Ardhan. Dia menepuk pundak Faya lalu beranjak pergi meninggalkan Faya sendiri.
***