
Narra menjalani hari-harinya berdiam di rumah. Sangat membosankan, apalagi ponselnya juga disita ibunya. Dan ternyata begitu juga Andra disana. Kedua ibu mereka kerja sama menyita ponsel mereka. Mereka boleh saling menelfon atas izin ibu mereka.
"calon manten, kenapa manyun ?" Rania masuk dalam kamar.
"Narra bosan kak" ucap Narra merebahkan kepalanya di pangkuan kakaknya.
"kenapa ?" tanya Rania seraya mengusap kepala adiknya.
"hanya berdiam di kamar tanpa ponsel, dan laptop juga disita sama ibu" kata Narra.
Rania menggelengkan kepalanya.
Hal yang sama, seperti yang dilakukan ibunya kepadanya saat akan menikah dulu. Dia dan Adryan tidak bisa berkomunikasi tanpa izin dari kedua ibu mereka.
"itu demi kebaikanmu, menghindari emosi yang berlebihan" kata Rania.
"tapi aku bosan" balas Narra.
"sudah, sebaiknya kamu bersiap-siap karena kita akan ke salon untuk perawatan. Aku dan Diandra sudah janjian di salon langganan mereka" terang Rania.
"baiklah kak" jawab Narra lalu bangkit dan beranjak membuka lemari pakaiannya. Dia memilih pakaian yang akan dia kenakan.
"kakak tunggu di luar, takutnya Rishi belum siap" kata Rania.
Narra hanya mengangguk.
Rania beranjak keluar. Sementara Narra melanjutkan siap-siapnya.
*
Sementara itu, hal yang sama terjadi juga pada Andra. Dia mendekati bundanya yang sedang mengecek daftar persiapan pernikahan pada Tabnya.
"bun, boleh aku minta ponsel ?" kata Andra seperti anak kecil yang meminta mainan.
"jangan dulu An, Narra masih bersiap-siap" kata bunda Serena.
"bersiap ? memangnya Narra mau kemana ?" tanya Andra.
"kami hari ini mau kesalon langganan kita cabang mall karena Vinand dan Rishi sekalian kewahana bermain. Kamu nanti kesananya sama Alex" kata bunda Serena.
"kenapa tidak bersama bunda saja" sergah Andra karena dengan begitu dia bisa bertemu Narra.
"ini ladies time. Bunda, ibu Flanella, Diandra dan Rania trus Narra" jelas bunda Serena.
"aku ikut ya bunda.. Aku mau ketemu Narra. Rindu" rajuk Andra.
Bunda Serena menggeleng.
"tidak bisa An, kamu akan menyusul nanti. Bunda sudah kasih tau Alex. Dia akan menjemputmu setelah ada kabar dari bunda" Bunda Serena pun beranjak.
Tak lama Diandra turun bersama Vinand.
"Smith sudah berangkat ke kantor ?" tanya Andra.
"iya, dia akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum acaramu karena dia harus ikut prosesinya" terang Diandra.
Andra mengangguk.
Smith Sanders membuka kantor baru disini dengan toko di lantai dasarnya sehingga memudahkan dia mengurus pekerjaannya serta mendesain produknya dari negara S.
"kamu kenapa ?" tanya Diandra.
"aku rindu Narraku" ucap Andra.
"hmmm bucin akut" ledek Diandra.
Andra hanya manyun, dia tidak berniat membalas kakaknya.
Diandra menggelengkan kepalanya, sosok Andra yang kaku, tegas, dan berwibawa hilang seketika karena kebucinannya pada Narra.
Bunda Serena pun turun, dia mengajak Diandra dan Vinand pergi.
"katanya ladies time, tapi Vinand boleh ikut" kata Andra.
Bunda Serena dan Diandra hanya geleng kepala.
"bunda sudah bilang tadi kalo Vinand dan Rishi akan berada di wahana bermain selama kami merawat diri. Mereka akan di temani pengasuh mereka dan supir. Kamu pokoknya kesana setelah Alex jemput. Tidak ada tapi" tegas bunda Serena.
"iya..." Andra berbalik menuju tangga. Dia segera masuk kedalam kamarnya.
*
"bun, kasian Andra. Dia sepertinya tersiksa sekali tanpa komunikasi dengan Narra" ucap Diandra dalam mobil.
"iya, bunda mengerti tapi dengan begini dia akan mengontrol emosinya. Tidak ada lagi curiga yang berlebihan dan lain sebagainya. Bunda tidak mau Narra marah lagi sama dia dan membatalkan semuanya" terang bunda Serena.
"iya bunda, kesalahan Andra terlalu cemburuan yang buat Narra marah" kata Diandra.
Tak lama, mobil mereka sampai di lobby mall. Setelah menemui ibu Flanella, Rania dan Narra di wahana bermain. Mereka meninggalkan Rishi dan Vinand bersama pengasuh mereka disana. Mereka pun menuju salon cabang langganan mereka yang berada dalam mall tersebut.
"silahkan menuju kesebelah sini untuk calon pengantin" kata pegawai salon.
__ADS_1
Bunda Serena menunjuk kearah Narra untuk mengikuti pelayan itu.
"apa nak Andra tidak ikut perawatan juga ?" tanya ibu Flanella.
"dia akan menyusul nanti dengan asistennya. Aku tetap tidak ingin mereka bertemu sebelum hari H" jelas bunda Serena.
Mereka pun menuju ruang perawatannya.
*
Alex mengemudikan mobil Andra dengan kecepatan sedang. Setelah mendapat pesan dari bunda Serena, dia segera bergegas membawa Andra menuju salon langganan nyonya besarnya itu.
"mereka tidak ingin aku bertemu Narra" gumam Andra.
"ini namanya di pingit. Setidaknya sampai nanti akad nikah selesai" kata Alex.
"tapi aku merindukannya" Andra kembali manyun tidak terima.
"aku bisa apa ? Aku tidak bisa menentang perintah nyonya besar" kata Alex.
"iya iya, sudah diamlah" kata Andra kesal. Dia memalingkan pandangannya keluar jendela
*
Setelah selesai perawatan mereka ke butik untuk fitting baju tahap akhir. Dua pasang baju pengantin untuk akad dan resepsi sudah siap pada manekin miss Brenda.
"cantik" puji Rania pada adiknya yang sedang mengenakan baju akad nikahnya.
"terima kasih kak" ucap Narra.
"Andra pasti tambah bucin liat kamu Na" komen Diandra lagi.
Narra merona malu.
Setelah selesai Narra mencoba kedua bajunya, giliran keluarganya yang mencoba seragam mereka untuk kedua sesi acara.
"bagus aku suka" komen bunda Serena.
"aku juga bun" sahut ibu Flanella.
"mommy.... Liat" seru Vinand.
Dia bergaya ala model bersama Rishi dengan seragam mereka.
"anak mommy dan Rishi ganteng banget. Om Andra kalah ganteng ini" komen Diandra.
Rishi dan Vinand tersenyum.
"Vinand dan Rishi suka ? Bagus bajunya ?" tanya Diandra lagi.
"ok, ganti bajunya. Waktunya kita makan es cream" seru Diandra.
"horeeeee !!" seru Vinand.
Rania dan Diandra hanya menggelengkan kepala. Walaupun mereka harus kesana kemari tapi kedua bocah itu tidak terlihat lelah sama sekali.
*
Kedua bocah yang terlihat dekat itu menikmati es creamnya. Narra yang baru dari toilet menghampiri mereka. Kedua pengasuh Vinand dan Rishi beranjak berdiri menuju meja lain tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Narra melihat ke kanan dan kiri, tampak ibu, kakaknya, beserta bunda Serena dan Diandra tidak tampak. Narra mengangkat bahunya. Seraya memanggil pelayan untuk memesan es cream. Tapi Vinand mencegahnya.
"tante Narra belum boleh pesan. Harus tunggu satu orang lagi" katanya.
Narra mengerutkan kening.
"iya tante Narra pesannya nanti setelah orang itu datang" kata Rishi.
"siapa ? Trus oma, nenek, mama dan mommy mana ?" tanya Narra.
Vinand dan Rishi kompak mengangkat bahu membuat Narra gemes.
"baiklah... Kalian pake rahasian sama tante" Narra manyun.
*
Setelah fitting baju pengantin, Alex mengajak Andra makan es cream.
"aku tidak mau, aku mau pulang saja" katanya seraya turun dari mobil.
"kamu harus ikut bro, kalo tidak kamu akan menyesal" tekan Alex.
"aku ingin makan es cream bersama Narra. Sudahlah, kita bungkus dan makan dirumah saja" kata Andra.
"terserah kamu" kata Alex.
Andra mengikuti langkah Alex masuk kedalam kedai es cream. Dia terdiam terpaku di tempat begitu melihat Narra bersama kedua bocah kesayangan mereka.
"ingat ya, kita bungkus trus pulang" goda Alex.
Andra menatap tajam pada Alex. Yang di tatap hanya terkekeh. Dia menepuk pundak Andra.
__ADS_1
"duduklah, aku pesan es cream coklat mocca favorit kalian" kata Alex.
Andra mengangguk lalu menuju meja dimana Narra berada.
"sayang..." panggil Andra.
Narra menoleh, sementara Vinand dan Rishi senyum-senyum menggoda.
"ka Nda..." kata Narra seraya melihat sekelilingnya. Dia hanya melihat Alex dan kedua pengasuh Vinand dan Rishi.
"kalo ketahuan ibu dan bunda bagaimana ?" tanya Narra.
"biarkan saja, aku merindukanmu" sergah Andra seraya duduk di sebelah Narra.
Es cream mereka berdua pun datang, Alex memilih duduk di bangku meja sebelah untuk menikmati es creamnya.
Kehadiran Vinand dan Rishi di depannya tidak menghilangkan moment romantis Andra menyuapi Narra es cream.
"hmmm om Andra menodai mata kami yang masih polos dan suci" kata Vinand. Dia segera beranjak dengan membawa es creamnya diikuti Rishi menuju meja Alex.
Narra hanya menggelengkan kepalanya.
*
Setelah makan es cream, Narra pulang bersama Andra dan Alex sementara Vinand dan Rishi serta kedua pengasuhnya pulang dengan supir keluarga Hadinata Wijaya.
Alex duduk sendirian di depan sementara Andra berdua Narra di belakang.
"kalian mau kemana lagi ?" tanya Alex.
"hah ? Memangnya boleh ?" tanya Andra.
"akhirnya berkat bujukan kedua kakak perempuan kalian, kedua nyonya besar luluh tetapi tetap harus bersamaku. Atau tidak sama sekali" jelas Alex.
"terima kasih bro" sahut Andra.
"sama-sama" balas Alex.
"aku ingin ketemu Faya, boleh ka Nda ?" tanya Narra.
Andra terdiam. Narra terus menatap calon suaminya itu menunggu keputusannya.
"baiklah, tapi aku dan Alex harus berada di dekat kalian" kata Andra.
Narra mengangguk, "baik ka Nda, terima kasih" katanya.
*
Mereka memasuki pelataran parkir studio musik Faya. Narra menghubungi Keenan untuk menanyakan Faya karena sahabatnya itu tidak menjawab panggilannya.
"bang, Faya masih di dalam ?" tanya Narra begitu bertemu Keenan di lobby.
"iya, mereka masih ada take dua lagu lagi" jelas Keenan.
Narra mangut.
"selamat ya Na, tinggal menunggu hari H" ucap Keenan.
"terima kasih bang, aku harap abang dan teman-teman bisa datang" kata Narra.
"pastinya, aku sudah mengatur jadwal mereka dan nanti ada persembahan dari mereka untukmu" terang Keenan.
"terima kasih bang" ucap Narra.
Andra menepuk punggung tangan Narra.
"kalian duduk dulu, aku liat mereka" pamit Keenan meninggalkan Narra, Andra dan Alex di sofa lobby.
*
Faya memandang Narra. Dia senang Narra mengajak bicara tapi dia tidak nyaman karena Andra dan Alex berada tidak jauh dari mereka.
"bisa tidak mereka tidak disini ? Atau kita cari tempat lain" kata Faya.
"kami masih dalam masa pingitan jadi harus terus bersama dan dalam pengawalan kak Alex" jelas Narra.
"baiklah, apa yang mau kamu bicarakan ?" tanya Faya to the point.
"kenapa sih Fay ? Kamu seperti tidak senang ketemu aku ?" tanya Narra.
"aku selalu senang ketemu kamu tapi aku tidak nyaman dalam bayang-bayang mereka" jelas Faya.
Narra hanya terdiam.
"Fay, aku minta kamu untuk mencoba mengerti aku dan kita. Kita tidak bisa menjadi lebih" kata Narra.
"masalahnya bukan itu, masalahnya aku tidak bisa bebas bertemu kamu karena selalu ada dia. Dia juga tidak membebaskan dirimu untuk bertemu kami para sahabat cowokmu. Dia terlalu cemburuan" balas Faya.
"aku akan bicara pada ka Nda nanti, aku akan membuat dia mengerti" kata Narra.
"bicaralah dulu padanya baru bicara padaku, tanpa dia" kata Faya seraya beranjak pergi.
__ADS_1
Narra hanya menghela nafas. Dia membiarkan Faya pergi tanpa menahannya.
***