
Andra memasuki ruangan dokter Firza.
Dia ingin menanyakan tentang keputusan dokter Firza memulangkan Narra padahal dari hasil pemeriksaan, Narra masih menginap semalam lagi untuk memulihkan kondisinya.
"permisi dokter Firza" Andra menerobos masuk setelah mengetuk pintu.
"dokter Andra, silahkan masuk dok" dokter Firza mempersilahkan Andra masuk.
"kenapa Narra bisa pulang, padahal dokter bilang dia masih tahap pemulihan ?" tanya Andra seraya duduk didepan dokter Firza.
"nona Narra sendiri yang meminta pulang dan dia bilang akan memberitahu dokter Andra" sergah dokter Firza.
Andra tidak mengerti, kenapa Narra tidak memberitahu dia.
"baiklah dokter, saya permisi" Andra pamit seraya beranjak.
"dokter, tunggu" cegah dokter Firza seraya berdiri.
"efek alerginya masih belum pulih, nona Narra bisa saja masih mengalami mual dan muntah berlebihan" jelas dokter Firza.
"apa dokter memberikan obat untuk menghentikan efeknya ?" tanya Andra.
"iya dokter, dan nona Narra bilang kalo dia akan mengatasinya" ujar dokter Firza.
"baiklah, terima kasih dokter. Permisi" Andra pamit.
*
Andra masuk kedalam ruangannya, masih ada sejam lagi untuk dia mulai observasi pasiennya.
Dia kini kepikiran Narra.
Andra menghubungi Diandra.
"Halo kak Di" sapa Andra saat panggilannya masuk.
"iya An" sahut Diandra.
"apa tadi kak Di menemani Narra ?" tanya Andra.
"iya" jawab Diandra pelan.
"trus kakak tau Narra keluar dari rumah sakit ?" tanya Andra
"apa ? Narra sudah pulang ?" Diandra kaget.
"iya kak, tadi aku langsung ke kamarnya tapi suster bilang Narra sudah pulang atas persetujuan dokter Firza. Aku tanya dokter Firza, katanya Narra yang memintanya" jelas Andra.
"maafkan aku An, sebenarnya terjadi sesuatu tadi sewaktu aku menemui Narra" jelas Diandra.
"ada apa kak ?" Andra tidak mengerti.
Diandra lalu bercerita kepada adiknya semua kejadian tadi.
Tangan Andra mengepal mendengar cerita kakaknya.
Ardhan menemui Narra, dia tidak suka hal itu.
"maaf An" ucap Diandra.
"tidak apa kak, aku akan bicara dengan Narra" Andra lalu mematikan panggilan ponselnya.
Dia mencoba menghubungi Narra tapi panggilannya tidak mendapat jawaban dari Narra.
Dia mengetik pesan.
[sayang, aku sudah di RS tapi kamunya sudah pulang. Aku akan menemuimu nanti setelah praktekku selesai ya. Love u ❤]
Andra melihat dua centang yang belum terbaca.
Dia menunggu tapi centangnya tidak berubah biru, Andra pun memasukan ponselnya di saku.
Pekerjaannya sudah menunggu, dia akan menyelesaikan tugasnya lalu secepatnya menemui Narra.
*
Narra memandang pesan Andra yang belum di bukanya.
Sepulang dari rumah sakit dia berdiam diri dalam kamar.
Imel sudah kembali ke toko karena ada klien besar order seragam olahraga.
Kecintaan Imel pada dunia olahraga khususnya basket membuat dia membuka toko olahraga, selain membantu papanya mengurus klub basket milik yayasan keluarganya.
"maaf ka Nda, aku blum bisa ketemu ka Nda" gumam Narra.
Pesan masuk grup Chat Friends.
[Rea : Na, kamu sudah pulang dari rumah sakit ?
Narra : iya Re, aku sudah di rumah
Desta : syukurlah kamu sudah pulih Na
Sheva : aku bawakan nasi goreng daging sapi untuk kamu ya
Narra : terima kasih Shev 😊
Imel : hmmm hanya Narra, semuanya dong Shev 😑
Sheva : iya, aku bawakan untuk kalian semua. Kita makan bersama di rumah Narra 👍🏻
Faya : aku masih di kantor, ada pekerjaan tapi aku usahakan secepatnya selesai
Erga : aku masih di pabrik bahan baku. Aku akan segera meluncur
__ADS_1
Sheva : cepat selesaikan tugas kalian, kita ketemu di rumah Narra
Friends : ok
Rea : jangan lupa milkshakenya
Sheva : iya, pastinya artisku yang cetar membahana
Rea : banyak rejeki CEOku
Friends : Aamiin 🤲🏻]
Narra menutup chatnya, dia lalu mematikan daya dan mencharge ponselnya.
Narra lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia merasa gerah karena selama di rumah sakit dia hanya membasuh badannya seperlunya saja, cuci muka dan sikat gigi.
*
Kediaman Raihan Kusuma.
"pa, Arini tidak mau tau ! kak Andra harus mau di jodohkan sama Arini" Arini terus merengek pada papanya.
"iya, kamu pasti akan jadi nyonya Andra Hadinata Wijaya" sahut Raihan Kusuma mengusap rambut putri bungsunya.
"mama mau tau, siapa wanita itu sampai Andra berani menolak anak mama yang cantik ini" sahut Siera Raihan, mamanya seraya duduk disebelahnya.
Sekarang Arini diapit oleh kedua orang tuanya.
"dia kalangan biasa-biasa saja ma" sahut Raihan Kusuma.
"papa tau dari mana ?" tanya Arini.
"papa sudah bicara dengan Hadinata. Sama seperti kepada Diandra, lagi-lagi Hadinata menyerahkan keputusan kepada anaknya" terang Raihan Kusuma.
"ihhh mau ya Serena punya mantu yang biasa-biasa saja" sahut Siera Raihan lagi.
Ponsel Raihan Kusuma berdering. Dia segera menerima panggilan.
"iya, apa ? Ardhan masih menemui wanita itu ? kamu terus awasi dia" Raihan Kusuma menutup panggilan ponselnya.
"ada apa pa ?" tanya Siera.
"putramu masih menemui anak tukang warung itu" semprot Raihan Kusuma kesal.
"aku akan bicara dengan Ardhan, aku tidak mau punya menantu anak tukang warung" sahut Siera Raihan Kusuma.
"aku ikut ma, aku sudah lama tidak bertemu kakak" sahut Arini.
"iya, kalian bujuk Ardhan agar mau membantu perusahaan kita dan yang terpenting agar dia mau papa jodohkan dengan putri rekan bisnis papa" Raihan Kusuma tersenyum licik.
"papa tenang saja, aku akan berusaha tapi kalo aku berhasil papa belikan aku tas branded limited edition ya" komen Arini.
"jangankan tas, papa belikan kamu mobil keluaran terbaru" Raihan Kusuma tersenyum meyakinkan putrinya.
"mama juga dong pa, tambahkan koleksi berlian mama" sergah Siera Raihan.
*
Ardhan datang kerumah Narra saat semuanya berkumpul disana. Ada Rania, suami dan anaknya. Ada para sahabat Narra.
Ardhan meminta maaf atas semua yang terjadi. Atas semua perlakuan keluarganya dan atas kepergiannya.
Tadinya semua sempat emosi dan menginginkan Ardhan pergi tapi Narra meminta mereka untuk mendengarkan penjelasan Ardhan.
"Na, kenapa kamu masih mau mendengarkan dia ?" tanya Rania.
"kak, biarkan dia menjelaskan agar semuanya tau apa yang sebenarnya terjadi. Hanya itu saja" jawab Narra.
"baiklah, kami semua akan mendengarkan penjelasanmu" ujar ayah Sasmita.
"terima kasih ayah" ucap Ardhan.
Dia memandang Narra sekilas, dia senang dengan sikap Narra.
Ardhan pun memulai ceritanya. Sama seperti yang Diandra ceritakan pada Narra di rumah sakit.
"kami sudah mendengarkan penjelasanmu, sekarang pergi dari sini. Kami tidak ingin punya hubungan lagi dengan kamu dan keluargamu. Sudah cukup semuanya" sahut ayah Sasmita.
"tapi ayah, aku ingin memulai semuanya kembali seperti dulu. Aku bahkan sudah memisahkan diri dari orang tuaku. Aku memilih tinggal di apartemenku yang kubeli dari hasil jerih payahku sendiri" Ardhan terus berusaha meyakinkan agar dia diterima.
"aku sekarang berdiri diatas kakiku sendiri, usahaku sendiri" Ardhan melanjutkan.
"Narra sudah punya kehidupan baru, kamu jangan ganggu dia lagi. Dia akan menikah" ucap ayah Sasmita lantang.
Semua menoleh pada ayah Sasmita.
Ayah Sasmita memandang Narra.
"Andra sudah meminta kamu pada ayah dan ibu, kami setuju tapi menunggu kamu siap" terang ayah Sasmita.
"ayah, Andra tidak mencintai Narra. Dia hanya menjadikan Narra bonekanya saja" sahut Ardhan.
"apa maksudmu ?"
Semua menoleh kearah pintu.
Tampak Andra berdiri disana. Dia lalu masuk menyalami dan mencium punggung tangan ayah dan ibu Narra.
"maaf ayah, ibu, Andra tidak sopan" ucapnya.
Ayah Sasmita menggelengkan kepalanya.
"memang begitu, kamu hanya mencintai saja tanpa tau apa-apa tentang Narra. Kamu ingin Narra sesuai kemauanmu, bukan maunya Narra" balas Ardhan.
"aku mencintai Narra" bantah Andra.
__ADS_1
"kalo begitu, aku mau tanya. Apa bunga kesukaan Narra ?" tanya Ardhan.
Andra mencoba menyembunyikan rasa paniknya. Dia belum membaca semua file tentang Narra yang dikirimkan Alex padanya.
Dia mencoba berpikir.
"kamu tidak tau kan ?!" desak Ardhan.
"Ardhan sebaiknya kamu pergi, jangan buat masalah disini" sergah Rayyan.
"aku ingin semua orang disini tau Ray, cinta seperti apa yang dia punya untuk Narra. Kita semua tau semua hal tentang Narra, kecuali dia" sahut Ardhan.
"ayah menunggu jawabanmu nak Andra" ayah Sasmita buka suara.
Narra memandang ayahnya. Dia tahu ayahnya begitu mengkhawatirkannya, ayahnya tidak ingin dirinya berada di tangan orang yang salah.
Narra beralih memandang Andra. Dia tahu Andra sedang berpikir keras.
"mawar, Narra suka bunga mawar" jawab Andra akhirnya.
Dia teringat waktu di taman kota, Narra menghampiri hamparan bunga mawar dan mencium aromanya. Dan juga Narra pernah memakai dress motif bunga mawar sewaktu mereka pergi bersama.
"warna apa ? ada satu warna yang paling Narra suka" sahut Ardhan lagi.
"cukup Ardhan ! pertanyaan kamu sudah terjawab. Sekarang pergi dari sini, aku sudah memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan pada orang-orang yang tersakiti oleh ulah keluargamu" Narra setengah berteriak.
"aku rasa pembicaraan ini sudah selesai, aku mau istirahat" lanjut Narra lalu berlari menuju kamarnya.
Semua terdiam.
Mereka memandang Narra yang menghilang di balik pintu kamarnya.
*
Diandra menceritakan semua pada kedua orang tuanya, suaminya dan Indra tentang kejadian di rumah sakit saat makan malam keluarga.
"jadi Narra mantan kekasih Ardhan" gumam dokter Hadinata Wijaya.
"iya ayah tapi Ardhan masih menganggap Narra kekasihnya karena mereka tidak pernah ada kata berpisah. Ardhan yang terpaksa pergi" Diandra merasa bersalah.
"semoga mereka bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik. Bunda ingin Narra yang menjadi menantu bunda, bukan Arini. Bunda kurang suka" sahut dokter Serena Hadinata.
"Diandra berharap begitu bunda, tapi sepertinya Ardhan begitu mencintai Narra" ucap Diandra.
"malam ini, Narra dan para sahabatnya makan bersama di rumahnya. Aku akan menanyakan pada Rea tentang keadaan Narra" kata Indra.
"ayah berharap Andra bisa menyelesaikannya, ayah juga sudah menyukai Narra. Dia anak yang baik dan pak Sasmita orang baik" ucap dokter Hadinata Wijaya.
"ayah, bunda penasaran. Pak Sasmita begitu gugup bertemu ayah, bunda bisa melihat jelas itu" tanya bunda Serena Hadinata.
"sebenarnya pak Sasmita itu pasien ayah tapi bunda dengar sendiri beliau menyangkalnya. Ayah rasa beliau menyembunyikan penyakitnya pada keluarganya" jelas dokter Hadinata Wijaya.
"trus bagaimana kondisinya yah" tanya bunda Serena Hadinata.
Dokter Hadinata menghela nafas.
"penyakit jantung yang di deritanya sudah parah tapi beliau belum mau untuk melakukan operasi" jelas dokter Hadinata Wijaya.
"tapi sebaiknya kalian tetap sembunyikan masalah ini, biarlah pak Sasmita yang menyelesaikannya. Ayah akan terus melakukan yang terbaik, bukan karena dia calon besan tapi karena semua pasien harus mendapatkan yang terbaik" jelas dokter Hadinata Wijaya.
Semua mangut. Termasuk Smith, dia mengerti maksud mertuanya.
"maaf tuan, tuan Raihan, nyonya Siera dan putrinya mau bertemu" seorang pelayan menghampiri mereka.
Semua saling pandang.
Bunda Serena tidak suka dengan kedatangan mereka.
"baiklah, minta mereka menunggu. Kami selesaikan dulu makan malam kami" sahut dokter Hadinata Wijaya.
"baik tuan" pelayan itu pun pergi.
"kita tetap harus temui mereka, walaupun kita tidak suka maksud kedatangan mereka" dokter Hadinata Wijaya bijak seraya mengenggam jemari istrinya.
"iya ayah" jawab bunda Serena Hadinata.
Semua mengangguk mengerti.
*
Rea dan Imel masuk kedalam kamar Narra.
Mereka mendapati sahabat mereka itu duduk bersandar memeluk bantal stroberrynya.
"apa yang kamu pikirkan ?" tanya Imel.
"kenapa perasaanku meragu begini" gumam Narra.
"maksudnya, kamu masih ada rasa sama Ardhan ?" tanya Rea.
Narra menggelengkan kepalanya, "aku tidak tau" ucapnya lirih.
Imel memegang bahu Rea, seakan memberi tahu agar dia bisa menahan diri.
"Ardhan sudah pulang, tapi kak Andra masih menunggu kamu di teras" terang Imel.
"aku tidak ingin bertemu dia dulu Mel" ucap Narra.
"tapi bukan salah kak Andra, kamu sampai berpisah dari Ardhan. Kak Andra justru hadir mengobati luka hatimu" sergah Rea.
"aku tau Re, tapi entah kenapa aku merasa kosong" balas Narra.
"baiklah, kami keluar dulu" kata Imel pamit. Dia menarik lengan Rea untuk mengikutinya.
"aku belum selesai bicara Mel" Rea tidak terima.
__ADS_1
"kita bicara di luar" kata Imel seraya membuka pintu kamar Narra dan menutupnya lagi.
***