FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 88


__ADS_3

Andra mengetuk pintu kamar yang berada dalam ruangannya. Dia menahan diri untuk langsung masuk kedalam karena dia tahu ada tante Melani di dalam menemani istrinya.


"pagi tante" sapa Andra.


"pagi An. Narra masih tidur, kalo bisa kamu jangan bangunkan dia ya. Dia semalam gelisah" jelas tante Melani.


Andra mengangguk.


"tante akan menemui om di ruangan ayahmu" kata Melani.


Lagi-lagi Andra mengangguk. Dia mengantar tante Melani sampai ke pintu. Setelah Melani pergi, Andra mengunci pintu ruangannya. Dia kembali masuk kedalam kamar dimana istrinya masih tertidur pulas.


Andra memperbaiki posisi selimut Narra lalu masuk kedalam kamar mandi.


Setelah bersih-bersih dan mengganti bajunya, Andra memesan sarapan untuknya dan istrinya melalui aplikasi.


*


Sementara itu di dalam ruangan dokter Hadinata tampak om Richard dan tante Melani masih berbincang dengan di temani suguhan teh panas.


"hasil tes DNAnya akan keluar dalam lima hari. Sebaiknya kita pulang untuk beristirahat" kata dokter Hadinata.


Richard Davidson mengangguk setuju.


"aku harap tesnya berjalan dengan lancar, aku merasa ada orang tidak ingin rahasia ini terkuak" sahut Richard.


"Andra sudah memberitahuku hal itu dan kita sama-sama tau siapa orang yang bisa dicurigai bersikap demikian karena itu aku sudah menempatkan beberapa penjaga untuk mencegah hal yang tidak di inginkan" jelas dokter Hadinata.


"terima kasih Hadinata, untuk hasilnya aku harap bisa di bacakan bersama keluarga Farid" kata Richard.


"itu pasti karena mereka berhak mengetahuinya" kata dokter Hadinata.


"kalo begitu kami pamit" kata Richard.


"kita sama-sama keluar, aku juga ingin pulang" kata dokter Hadinata.


Mereka bertiga beranjak keluar dari ruang kerja dokter Hadinata.


Sementara itu seseorang yang terus mengikuti Richard dan istrinya berusaha menghubungi bossnya. Dia melaporkan tentang penjagaan ketat yang dilakukan pihak rumah sakit di ruangan tes dan ruang perawatan Faya.


"terus awasi"


"baik tuan besar" katanya seraya menutup panggilan.


Desta yang berada tidak jauh dari situ langsung menyembunyikan dirinya di balik tembok. Dia tadinya hendak menuju lobby untuk mengambil pesanan sarapan mereka tapi langkahnya terhenti begitu mendengar nama Faya disebut dalam pembicaraan orang yang dia tidak kenal.


"apa hubungan orang itu dengan Faya ? Apa mau mereka ?" gumam Desta.


Dengan bergegas dia menuju lift agar orang itu tidak mencurigainya.


Setelah sampai di ruang inap Faya, Desta membagikan kotak makanan yang di bawanya. Papa Farid dan mama Maya masih tertidur di ranjang yang sudah disiapkan untuk keluarga pasien.


Keenan sudah pamit pulang setelah mengantar Faya keruangannya. Dia akan kembali lagi nanti untuk melihat keadaan Faya.


Tinggallah Erga, Desta dan Sheva berada di ruangan itu untuk menemani papa Farid dan mama Maya.


Erga sudah meminta izin tidak masuk kantor dan akan menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit dan mengirimkannya lewat email.


Sementara Desta, hari ini dia off siaran tapi sebagai salah satu direktur di stasiun penyiaran itu dia juga akan menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit.


Dan Sheva, sebagai CEO hotel dia akan memantau keadaan hotelnya melalui ponselnya.


Mereka bertiga seakan enggan untuk beranjak dari rumah sakit karena mereka sangat mengkhawatirkan Faya. Mereka seakan trauma dengan kondisi Faya sebelum masuk keruang operasi.


"guys, aku punya informasi penting tapi sebaiknya kita bicara di tempat lain" kata Desta setelah mereka bertiga menyelesaikan sarapannya.


"tentang apa ?" tanya Erga.

__ADS_1


"sebaiknya kita keluar" sahut Sheva.


Mereka bertiga segera mengemasi kotak makanan dan botol minuman mereka lalu membuangnya di tempat sampah.


"kita bicara di kantin saja sambil ngopi" usul Sheva.


"ide bagus" sahut Erga.


Mereka bertiga pun menuju kantin rumah sakit.


*


Desta memandang sekitarnya, dia ingin memastikan orang yang tadi tidak ada di tempat itu tapi dia juga mesti berhati-hati siapa tahu orang itu membawa rekannya.


"kenapa Ta ?" tanya Erga.


"entah kenapa aku merasa Faya dalam bahaya" kata Desta pelan.


"maksud kamu ?" tanya Sheva dengan nada yang dipelankan.


Desta lalu menceritakan kejadian tadi sewaktu dia akan menuju lift untuk mengambil sarapan mereka di lobby.


"pantas saja, di depan ruangan Faya ada dua orang bodyguard yang berjaga" sahut Erga.


"tapi siapa orang itu ya ? Trus apa maksudnya dia ingin mencelakai Faya" Sheva mencoba berpikir.


"aku rasa ini ada hubungannya dengan orang tua kandung Faya" sahut Desta.


Mereka bertiga saling pandang. Mereka sepertinya tersadar sesuatu.


"apa ini ada hubungannya dengan tuan Richard dan istrinya ? Karena menurut cerita Narra kalo mereka memang korban kejahatan sampai putra mereka hilang" komen Sheva.


Desta mengangguk.


"kita harus membantu menjaga agar proses tes DNA itu berjalan lancar dan juga menjaga keselamatan Faya" sahut Erga.


"sebaiknya kita kembali keruangan Faya" ajak Sheva.


Erga dan Desta mengangguk.


Mereka bertiga beranjak kembali keruang inap Faya.


*


Narra mengeliat, dia mendapati suaminya memeluknya erat dalam selimut. Dia membelai pipi suaminya lalu perlahan mendekat mengecup bibir suaminya.


"terima kasih sayang" ucap Andra pelan seraya membuka matanya.


"maaf aku baru bangun sayang" kata Narra.


"tidak apa sayang, aku juga masih ngantuk. Sebaiknya kamu bersih-bersih dulu baru kita sarapan bersama" kata Andra.


Narra mengangguk. Dia beranjak menuju kamar mandi.


Sementara Andra beranjak menuju sofa di luar kamar. Dia mengambil pakaian yang sudah di belinya secara online untuk pakaian ganti Narra. Dia meletakkan pakaian ganti itu diatas tempat tidur. Kemudian dia kembali ke sofa untuk menyiapkan sarapan mereka.


"ka Nda tidak mandi ?" tanya Narra, dia sudah selesai mandi dan sudah memakai pakaian gantinya.


"iya, aku mandi dulu sayang" kata Andra. Dia masuk kedalam kamar.


Narra duduk di sofa. Dia menunggu Andra selesai mandi untuk sarapan bersama.


Nada pesan pada ponselnya berdering.


[Na, iklannya sudah jadi. Kamu yang akan bertemu pak Ardhan atau bagaimana ?] tanya Raga.


[kamu saja ya, aku sedang tidak bisa sekarang soalnya aku masih di rumah sakit. Sahabatku kecelakaan] balas Narra.

__ADS_1


[baiklah, aku selesaikan semuanya hari ini] balas Raga lagi.


[terima kasih banyak Ga] balas Narra.


Dia lalu menuju kotak pesan Friends. Tidak ada pesan apa-apa disana.


"sayang.." panggil Andra seraya mendekat duduk di sebelah istrinya.


"bagaimana keadaan Faya ?" tanya Narra.


"operasinya berjalan lancar dengan transfusi darah dari om Richard dan dia juga sudah melewati masa kritisnya. Sekarang kita hanya menunggu dia sadar dan hasil tes DNA sekitar lima hari lagi" jelas Andra.


"entah kenapa perasaanku tidak enak" ucap Narra.


Andra membawa Narra kedalam pelukannya.


"semuanya akan baik-baik saja sayang" katanya seraya mencium kening istrinya.


Narra mengangguk.


"apa aku boleh menjenguk Faya ?" tanya Narra seraya menatap suaminya.


"Faya belum boleh ditemui sampai dia sadar tapi kalian bisa melihatnya dari balik kaca. Aku akan memeriksanya setelah itu aku ke kantor" jelas Andra.


"baiklah ka Nda" ucap Narra.


"kita sarapan dulu sayang. Kamu hari ini mau kemana ?" ajak Andra.


"aku tadinya mau ke kedai ayah karena aku mau mencoba beberapa resep minuman baru" sahut Narra.


"trus...." sergah Andra.


"tapi tadi Raga mengirim pesan untuk menyelesaikan urusan iklan Ardhan hari ini" sahut Narra.


"jadi kamu mau ke kantor Juna atau ke kedai ?" tanya Andra.


"ke kedai saja, sepertinya aku tidak perlu ikut dalam penyelesaian akhir iklan itu. Raga bisa diandalkan" kata Narra.


"ooo aku pikir kamu mau ikut aku ke kantor" sahut Andra.


"sayang, aku tidak mau ganggu kerja kamu" kata Narra.


"tapi kamu tidak ganggu sayang, kamu itu penyemangat aku" kata Andra manja seraya memeluk Narra lebih erat lagi.


Narra menggelengkan kepalanya.


"aku akan membawakanmu makan siang. Bagaimana ?" tanyanya.


"baiklah" ucap Andra seraya melepaskan pelukannya.


Narra membelai pipi suaminya lalu menciumnya. Andra membalas dengan memberi sentuhan pada bibir istrinya. Dia mencium bibir istrinya dengan lembut seakan enggan melepaskan tautan itu.


Narra mengalungkan kedua tangannya di leher Andra. Dia menikmati sentuhan suaminya.


"kita sarapan sekarang sayang, aku akan melanjutkannya nanti saat kita pulang ke apartement" kata Andra setelah melepaskan tautan mereka.


Narra menganggukkan kepalanya. Meskipun mereka sudah sering melakukannya tapi dia masih saja gugup pada suaminya. Dia terkadang hanya merespon apa yang suaminya lakukan dan berharap semoga membuahkan hasil yang tumbuh di rahimnya.


"sayang, kenapa ?" tanya Andra.


"hmmm maafkan aku ka Nda, aku masih belum tau caranya menyenangkan ka Nda" ucap Narra pelan.


"sayang, tidak apa. Ikuti saja nalurimu. Aku tidak mempermasalahkannya, kita tidak perlu yang aneh-aneh. Senyamannya kita saja" sahut Andra seraya membelai puncak kepala Narra.


Narra tersenyum.


Mereka berdua sarapan bersama setelah itu Andra akan mengajak istrinya untuk melihat keadaan Faya.

__ADS_1


***


__ADS_2