
Narra terdiam di sofa ruang inap ayahnya.
Setelah ayah Hadinata melakukan pemeriksaan lanjutan, dia membolehkan semua keluarga untuk masuk kedalam ruang inap ayah Sasmita.
Mereka sangat berterima kasih karena keluarga Hadinata memberi mereka fasilitas terbaik.
Di dalam ruangan itu terdapat dua tempat tidur. Satu untuk pasien dan satu lagi ukuran besar bisa muat dua orang. Ibu Flanella dan Rania yang tidur disana. Sementara Narra dan Rayyan tidur di sofa tamu dalam ruangan itu yang tidak kalah nyaman dan empuk.
Rayyan sudah terlelap di sofanya dengan menutup selimut sebatas lehernya. Hanya Narra yang masih terjaga. Ini sudah hampir jam satu dini hari.
Narra meraih ponselnya, dia melihat sosmed miliknya sampai ponselnya bergetar karena ada pesan masuk.
Pesan dari Andra.
Pasti dia lihat aku online. Pikir Narra.
Dia segera membaca pesan tunangannya.
[belum tidur sayang ?]
Narra segera membalas.
[belum bisa tidur, ka Nda kenapa blum tidur ?]
Tak lama Andra membalas.
[aku kepikiran kamu trus liat kamu online]
[aku baik-baik saja ka Nda]
[aku kesitu ya ?]
[ini sudah malam ka Nda]
[aku ada di ruanganku]
Ternyata Andra tidak pulang, padahal Narra sudah memintanya untuk pulang dan istirahat di rumah saat tunangannya itu menawarkan untuk menemaninya menjaga ayahnya.
Narra menolaknya karena sudah ada ibu dan kedua kakaknya yang bersama menjaga ayah mereka.
[sayang...]
Narra kemudian membalas.
[baiklah ka Nda sayang]
[kamu tunggu sebentar, lima belas menit lagi aku kesitu. Ada yang aku ambil di lobby]
[iya ka Nda]
[iya apa...]
Narra menggelengkan kepalanya. Tunangannya itu pasti menunggu kelanjutan kalimatnya.
[iya ka Nda sayang]
balas Narra akhirnya.
Andra tersenyum membaca balasan Narra. Dengan segera dia keluar dari ruangannya menuju lobby rumah sakit.
*
Narra menemui Andra di depan ruang inap ayahnya setelah tunangannya itu mengirim pesan kalau dia sudah ada di depan.
Mereka duduk di kursi tunggu.
Andra membuka bungkusan yang dibawanya lalu mengeluarkan kotak makanan berwarna putih.
"makanlah" katanya seraya menyuapi Narra nasi goreng daging sapi, favorit kekasihnya itu.
"aku sudah makan ka Nda" tolak Narra.
"aku liat kamu tadi makan hanya sedikit. Makan lagi ya" kata Andra.
"karena itu ka Nda beli nasi goreng daging sapi ? karena favoritku, aku pasti makan ?" tanya Narra.
Andra hanya tersenyum lalu menyuapi Narra lagi. Narra pun membuka mulutnya menerima suapan Andra.
"aku tau kamu pasti mau makan lagi kalo menunya nasi goreng daging sapi" kata Andra seraya membersihkan sisa makanan di sela bibir Narra.
Narra hanya tersenyum. Dia senang dengan perlakuan Andra padanya.
"ka Nda, aku mau berhenti kerja" ucap Narra setelah beberapa suap.
Andra kaget, "kenapa ?" tanyanya seraya terus menyuapi Narra sampai makanannya habis.
Narra menghela nafas.
"karena aku tidak ingin merugikan perusahaan Arjuna. Dia sudah sangat baik padaku jadi aku tidak mau dia mengalami kesulitan karena aku menolak menangani proyek Ardhan" jelas Narra.
"kamu yakin dengan keputusanmu ?" tanya Andra seraya memberi Narra minum kemudian memasukan kotak makanan sekali pakai yang sudah kosong kedalam plastik lalu membuangnya ke tong sampah tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Narra mengangguk.
"walaupun aku merasa berat karena setelah aku di pecat secara tidak hormat di perusahaan sebelumnya karena papanya Ardhan, Arjuna yang menerimaku karena dia yakin dengan kemampuanku tapi sekarang... aku merasa muak kalo harus bertemu Ardhan untuk melanjutkan proyek iklannya" jelas Narra.
"apa kamu pikir Arjuna tidak merasa bersalah sama kamu ?! dia menyadari kesalahannya, hanya saja dia belum menemuimu karena kondisi ayah" terang Andra.
"dari mana ka Nda tau ?" tanya Narra.
"Indra sudah bicara dengan Arjuna tentang semuanya. Dia merasa bersalah dan menyerahkan keputusan proyek itu sama kamu. Dia juga akan mengadakan meeting intern untuk membahas proyek itu" jelas Andra.
"bukan salah Arjuna, aku yang memasukan diriku kedalam permainan Ardhan" ucap Narra.
"sudahlah sayang, kita bicarakan ini nanti kalo semuanya sudah tenang. Sekarang kita fokus pada kesehatan ayah" kata Andra membelai pipi Narra.
Narra mengangguk. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Andra.
"ka Nda, kenapa ayah belum juga sadar ?" tanya Narra seraya melirik Andra.
__ADS_1
"ayah masih dalam pengaruh obat sayang" jelas Andra. Dia merangkul pinggang Narra agar semakin dekat padanya.
"apa ayah akan di operasi besok ?" tanya Narra lagi.
Andra mengangguk, "iya, Rayyan sudah menandatangani persetujuannya. Kamu kasih aku semangat ya soalnya aku akan mengoperasi calon mertuaku, rasanya berbeda" katanya.
"aku selalu berdoa yang terbaik untuk ayah dan ka Nda, semoga operasinya lancar"
"Aamiin.. terima kasih sayangku" ucap Andra seraya mengusap punggung tangan tunangannya itu.
*
Narra membuka matanya pelan, dia kaget karena bersandar pada pundak Andra.
Mereka duduk di sofa dalam ruang inap ayah Sasmita dan tidur dalam posisi duduk dengan saling bersandar.
Perlahan Andra juga membuka matanya.
"ehem !" suara Rayyan dari arah samping dengan membawa bungkusan seraya duduk dekat mereka.
Sementara ibu Flanella dan Rania melihat dari tempat tidur.
Ayah Sasmita juga melihat mereka dari tempat tidurnya.
Narra menutup mulutnya. Dia dan Andra saling pandang. Terlihat Andra salah tingkah karena semua arah pandang tertuju pada mereka berdua.
Semalam Andra ikut masuk kedalam karena ingin menemani Narra sampai dia tertidur lalu rencananya setelah itu dia akan kembali keruangannya untuk beristirahat disana.
"apa ? bagaimana kalian bisa tidur berdua ?" tanya Rayyan dengan tatapan tajam dibuat-buat.
"maafkan aku, aku hanya ingin menemani Narra sampai dia tertidur tapi Narra tertidur di pundakku jadi aku tidak tega beranjak. Aku ikut tertidur disini" jelas Andra.
"maaf kak" sahut Narra.
Rayyan terkekeh.
"sudah, jangan bercanda lagi Ray. Kita sebaiknya sarapan dulu" ajak ibu Flanella.
Rayyan lalu membagi kotak makanan satu-satu pada mereka.
"terima kasih, aku boleh ikut sarapan disini" kata Andra.
"sebenarnya tidak boleh.. tapi karena kalian tidur bersama disini ya mau bagaimana lagi" goda Rania.
"kak Raniaaaa" Narra cemberut.
Andra hanya tersenyum.
Mereka melanjutkan sarapan tanpa ada yang bersuara lagi.
"hmmm dokter Andra, sebaiknya anda bersiap-siap karena sejam lagi operasinya di mulai" tegur Rania setelah mereka menyelesaikan sarapan.
"iya, saya akan segera bersiap" kata Andra.
Dia menoleh pada Narra, "bye sayang" ucapnya.
"bye ka Nda sayang" balas Narra dengan tersipu malu karena dia melihat Rania dan Rayyan menahan senyum kearahnya.
Rayyan mendekati adiknya, "hmmm biasanya pundak kakak, sekarang pundak Andra. Aku terganti. Hiks hiks" sedihnya.
"kak Rayyan..." Narra memeluk Rayyan erat.
Rania dan ibu Flanella menggelengkan kepalanya sementara ayah Sasmita tersenyum hambar.
"bu, ayah tidak usah di operasi ya" kata ayah Sasmita.
Narra dan Rayyan berhenti bercanda, mereka beranjak mendekati ayah mereka.
"kenapa yah ? jantung ayah itu tidak berfungsi dengan baik dan operasi jalan satu-satunya untuk sembuh" kata ibu Flanella.
"ayah tau tapi biayanya tidak sedikit bu" tolak ayah Sasmita.
"ayah tidak usah pikirkan itu, ada kami anak-anak ayah yang akan menangani itu" Rania menekankan.
"tapi Ra..."
Belum sempat ayah Sasmita melanjutkan kalimatnya, Narra bersuara.
"ayah, Narra mohon.. ayah mau di operasi ya" bujuk Narra.
Ayah Sasmita terdiam. Dia menutup matanya.
Sementara ibu Flanella dan ketiga anaknya hanya bisa menghela nafas karena sikap ayah Sasmita.
*
Narra dan keluarganya duduk menunggu di depan ruang operasi. Sudah hampir dua jam tapi operasinya masih berlangsung.
"Ibu, kak Rayyan, kak Rania, Narra..." sapa Faya.
"Fay, kamu disini ?" tanya Narra.
"iya, kerjaanku sudah selesai jadi aku kesini" Faya tersenyum.
"terima kasih Fay" sahut Narra.
"semua akan baik-baik saja" Faya mengusap kepala Narra.
Narra mengangguk.
Setelah beberapa jam Faya berbincang dengannya, Friends lainnya datang tanpa Rea yang masih ada syuting kejar tayang dan Desta yang ada program siaran.
"semua akan baik-baik saja" Imel memeluk Narra erat.
"iya terima kasih Mel" sahut Narra.
"sudah lama kita tidak berpelukan teletubys" sahut Erga.
"no !!" koor Narra dan Imel seraya mengibaskan telapak tangan mereka.
__ADS_1
Erga bergerak mundur.
Faya dan Sheva langsung mendekati Erga dan mereka saling berpelukan.
"kita teletubys" sahut Sheva.
Faya terkekeh seraya memukul belakang Erga pelan.
"kalian ini.." ibu Flanella tersenyum memandang mereka.
Rayyan dan Rania hanya tersenyum melihat kelakuan sahabat adik mereka.
*
Narra menatap sendu ayahnya yang terbaring di ruang ICU.
Walaupun operasinya dinyatakan berhasil tapi kondisi ayah Sasmita menurun.
Andra yang berada dibelakang Narra mengelus puncak kepala kekasihnya itu.
"maafkan aku sayang" ucapnya.
Narra berbalik, dia menggeleng.
"ka Nda sudah berusaha, terima kasih" ucapnya.
"kita keluar ya, biarkan ayah istirahat" ajak Andra.
Narra mengangguk.
Setelah mereka keluar, Rania dan Adryan masuk kedalam.
Sementara ibu Flanella duduk di kursi berada dalam pelukan Rayyan.
"nak Andra.." panggil ibu Flanella.
Andra mendekat. Dia berlutut di hadapan ibu Flanella.
Ibu Flanella mengusap pundak Andra.
"kamu sudah berusaha dengan baik, terima kasih. Kami tidak menyalahkan operasinya" katanya.
"maafkan Andra ibu" ucap Andra.
Rayyan menepuk pundak Andra. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menggelengkan kepalanya.
*
Narra masuk dalam kamarnya, dia pulang bersama Rayyan untuk mengambil baju ganti mereka dan ibu karena mereka akan menginap di rumah sakit untuk menjaga ayah.
Tampak rumahnya sudah rapi seperti semula, hanya tinggal pigura foto ukuran besar, potretnya bersama Andra sewaktu fitting baju lamaran di butik miss Brenda.
"Na, kamu siapkan pakaian ibu ya. Aku bingung mau ambil yang mana jadi aku hanya siapkan pakaian ayah saja" kata Rayyan dari ambang pintu kamar adiknya yang terbuka.
"iya, nanti Narra yang siapkan kak. Narra siapkan pakaian Narra dulu" sahut Narra.
"aku ke kamarku dulu" kata Rayyan.
Narra mengangguk.
Setelah menyiapkan keperluannya, Narra masuk kedalam kamar ayah dan ibunya. Tampak diatas tempat tidur sudah ada pakaian ayahnya yang dimasukan Rayyan kedalam tas jinjing besar yang belum tertutup.
Narra membuka lemari lalu mengambil beberapa baju dan terusan ibunya setelah itu menuju kamar mandi untuk mengambil peralatan mandi.
Tak lupa Narra mengambil bedak dan lipstik ibu di meja rias.
"cukup" kata Narra seraya menutup tas.
"sudah ?" tanya Rayyan yang datang membawa ranselnya.
"iya kak, sudah semuanya" sahut Narra.
"ya sudah, kita pergi. Aku sudah periksa pintu dan semua jendela. Aman" kata Rayyan.
Narra mengangguk.
Saat mereka hendak masuk kedalam mobil, Mobil Ardhan berhenti.
Narra memegang lengan kakaknya.
"bisa kita bicara" kata Ardhan memandang Narra.
"disini saja, di depanku" kata Rayyan.
"baiklah" sahut Ardhan lagi.
"jangan berhenti dari proyek ini. Kamu sendiri yang minta sama aku untuk tidak membatalkan proyek ini trus kenapa kamu yang keluar dari proyek ini ?" lanjut Ardhan.
"aku akan mengajukan pengunduran diri dari perusahaan" kata Narra.
Rayyan memandang adiknya.
"kamu serius mau berhenti Na ? kerja di advertising kan salah satu impianmu" sergahnya.
"tidak lagi" Narra menggeleng.
Dia bergegas masuk kedalam mobil yang sudah tidak terkunci dari tadi.
"Na, aku mohon" Ardhan menghampiri kaca mobil tapi Rayyan menghentikannya.
"hargai keputusannya" sahut Rayyan menahan lengan Ardhan. Dia lalu memutar kemudian masuk kedalam mobil.
Mereka pun melaju meninggalkan Ardhan yang masih berdiri di depan rumah mereka.
"Na, sebaiknya kamu pikirkan dulu sebelum mengambil keputusan. Biarkan semua tenang dulu" kata Rayyan melirik adiknya sekilas.
"Narra sudah memikirkannya kak. Narra akan membantu ayah dan ibu di kedai dan menjual jus seperti dulu" sahut Narra.
Rayyan menghela nafas. Tatapannya tetap fokus mengemudi.
__ADS_1
Dia akan memberi waktu untuk Narra setelah itu dia akan bicarakannya lagi karena Narra menyukai pekerjaannya dan kalau dia ingin berhenti, takutnya keputusan itu akan menyakiti dirinya sendiri.
***