FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 7.1


__ADS_3

Narra sibuk di dapur. Pagi ini dia membuat bekal untuk dirinya dan Andra.


Rencananya selesai meeting, dia akan ke rumah sakit untuk mengantarkan bekal untuk Andra.


Narra akan meminta maaf pada Andra tentang sikapnya kemarin.


Seharusnya dia bahagia, Andra mengajaknya menikah. Berarti Andra betul-betul mencintainya tapi dia masih meragukannya hanya karena kisah masa lalunya.


"hmmm baunya enak. Kakak mau dong" seru Rayyan.


"iya, nanti sarapan bersama. Aku buat banyak" kata Narra seraya membuat kopi untuk Rayyan, teh untuk ayah Sasmita dan ibu Flanella serta susu coklat untuk dirinya.


Pandangan mata Rayyan tertuju pada dua kotak bekal dekat meja kompor.


"satunya lagi untuk siapa ?" tanya Rayyan.


"untuk kak Andra. Kakak mau bekal juga ?" tanya Andra.


"iya, tentu saja. Hmmm sepertinya adikku melupakanku" Rayyan sedih yang dibuat-buat.


"kakak....." Narra memeluk kakaknya.


"kakak sangat sayang sama kamu. Berbahagialah" ucap Rayyan memeluk adiknya erat.


Narra mengangguk.


"kalian kenapa ?" tanya ibu Flanella.


"tidak apa bu, hanya seorang kakak yang takut perhatian adiknya terbagi" Rayyan sedikit berlebihan.


"ayah juga takut hal yang sama" sergah ayah Sasmita muncul dibelakang ibu Flanella.


"ayah..." panggil Narra cemberut.


"kalian berdua ini selalu saja menggoda Narra. Putri bungsumu sudah dewasa, dia juga akan menikah seperti Rania" ibu Flanella memandang suaminya.


"adik kecilmu sudah punya seseorang yang akan menjaganya. Kamu harus bisa melepasnya" ibu Flanella memandang Rayyan.


"Narra akan tetap dalam pengawasanku. Selamanya" tegas Rayyan.


Ibu Flanella geleng kepala. Anak lelakinya ini sangat protektif terhadap adiknya, beda kepada Rania kakaknya.


Dengan Rania, Rayyan cukup tahu saja. Tapi kepada Narra, Rayyan melakukan pengawalan ketat yang kadang buat adiknya tidak nyaman. Bahkan kepada sahabat cowok Narra, Rayyan masih banyak bertanya kalau mereka datang menjemput Narra pergi.


"sudah, ayo kita sarapan bersama. Kali ini sarapannya buatan putri bungsu ayah" ajak ibu Flanella.


Ayah mengusap kepala Narra.


Semua menuju ke meja makan. Narra membawa nampan berisi minuman yang tadi dibuatnya.


*


"pagi Pak Alex" sapa Narra beranjak berdiri.


Alex tersenyum. Hari ini dia akan meeting dengan boss Narra untuk pembuatan iklan perusahaan farmasi 'HW Farma' perusahaan farmasi milik dokter Hadinata Wijaya.


"pagi Na, kenapa kamu jadi formal begini ?" balas Alex.


"ini masih jam kantor kak" kata Narra sambil tersenyum.


"baiklah, setelah itu panggil seperti biasanya" kata Alex mengalah.


Narra mengangguk.


"Pak Indra tidak ikut meeting ?" tanya Narra.


"tidak, Indra ada praktek pagi ini" jelas Alex.


Narra mangut.


Setahu Narra, Alex asisten Indra. Selain bekerja di rumah sakit A Medika, Indra juga mengurus perusahaan farmasi keluarganya.


Narra akrab dengan Alex sejak Indra dan Rea jadian.


"silahkan masuk Pak Alex, Pak Arjuna sudah ada didalam. Aku keruang rapat dulu" pamit Narra.


Alex mengangguk. Dia masuk kedalam menemui atasan Narra.


Narra beranjak keruang meeting. Setelah mengatur draf yang nantinya akan dia presentasekan diatas meja, Narra kembali menemui atasannya.


Narra mengetuk pintu.


Setelah mendapat jawaban dari dalam, Narra pun masuk.


Betapa kagetnya dia, di dalam ruangan tampak Andra duduk diantara bossnya dan Alex.


Tatapan mata Andra begitu datar. Tapi ada satu hal yang lebih mengganggu Narra.


Dia melihat tangan kanan Andra yang diperban.


Kenapa, apa yang terjadi ? tanya Narra dalam hati.


"maaf Pak, semuanya sudah siap di ruang meeting" lapor Narra.


"Terima kasih Na. Mari Pak Andra, Pak Alex kita keruang meeting" Arjuna mempersilahkan tamunya untuk beranjak.


Narra membuka pintu dan membiarkan ketiga pria berjas itu keluar lebih dulu.


Tiba-tiba langkah Andra terhenti di meja kerja Narra. Dia melihat sekilas lalu mempercepat langkahnya di ikuti Arjuna dan Alex dibelakangnya.

__ADS_1


Narra berhenti di tepi mejanya.


Apa kak Andra melihat bekalku ? pikir Narra.


Nanti saja aku kasih ke dia setelah meetingnya selesai. Narra tersenyum.


*


Narra berusaha konsentrasi penuh pada pemaparannya. Tatapan tajam Andra padanya betul-betul membuatnya tidak nyaman.


"demikian presentase saya. Terima kasih" Narra mengakhiri pemaparannya dan kembali duduk disebelah Arjuna berhadapan dengan Alex.


"bagaimana Pak Andra ?" tanya Arjuna.


"saya setuju, nanti kalian bisa atur jadwal syutingnya dengan asisten Alex" kata Andra Hadinata Wijaya.


"baik Pak Andra, nanti saya akan meminta Narra untuk mengatur semuanya dengan team produksi kami" ucap Arjuna.


"saya rasa sudah cukup, saya permisi" Andra beranjak berdiri lalu menjabat tangan Arjuna dan pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun pada Narra.


Alex yang berada dibelakang Andra melihat pada Narra lalu menepuk pundaknya.


"aku permisi" pamitnya pada Narra.


"terima kasih Pak Alex" ucap Narra.


Alex menjabat tangan Arjuna lalu berlalu dari ruangan itu.


Tiba-tiba Narra tersadar.


"permisi Pak, saya duluan" Narra bergegas menuju ruangannya tanpa menunggu Arjuna yang masih berada di ruang meeting sendirian.


Dia mengambil kotak bekal untuk Andra lalu berlari masuk kedalam lift menuju ke lobby.


Dia tidak mendapati Andra di lobby. Dengan bergegas dia menuju ke parkiran. Berharap Andra masih ada disana.


Tapi terlambat. Mobil Andra sudah melaju hendak meninggalkan parkiran. Narra memanggil Andra dan berlari mengejar mobilnya tapi tidak ada respon. Mobil itu terus melaju menuju pintu keluar.


"Na, kamu bisa jatuh lari-lari begitu pake hak tinggi" suara Alex mengagetkan Narra.


"kak Alex" ucap Narra.


"kamu ada perlu sama Andra ? telfon saja" kata Alex.


Narra menggeleng.


"kak, aku bisa minta tolong ?" tanyanya dengan nafas terengah-engah setelah lari tadi.


"apa yang bisa aku bantu ?" tanya Alex.


Narra menyodorkan kotak bekal yang di bawanya pada Alex.


Narra hanya mengangguk.


"sebaiknya kamu kasih sendiri sama dia. Dia pasti senang" ujar Alex.


"aku takut dia masih marah, buktinya tadi dia masih bersikap dingin sama aku" Narra menunduk.


Alex tersenyum.


"percaya sama aku, lain di mulut lain di hati. Andra seperti itu sama kamu" Alex menepuk pundak Narra.


Setelah mengucapkan itu Alex pamit pada Narra.


*


Jelang jam istirahat, Narra meminta izin pada atasannya untuk keluar makan siang sebelum waktunya karena dia ada urusan. Arjuna mengizinkan karena sebagai atasan, dia tahu dari Indra sahabatnya kalau Narra calon istri Andra. Arjuna merasa ada sesuatu yang terjadi pada dua sejoli itu selama meeting berlangsung.


Dia yakin urusan Narra ada hubungannya dengan Andra.


Narra memasuki gedung perusahaan HW Farmasi. Berkat Alex, Narra tahu di lantai berapa ruangan Andra.


Narra menemui sekretaris Andra. Wanita cantik dengan setelan blezer dan rok span itu masuk kedalam untuk menemui atasannya.


Narra tahu Andra ada di perusahaan dari Alex.


Kata Alex seharian ini Andra akan berada di perusahaan karena jabatan CEO yang di sandangnya. Selama dia melanjutkan studinya, Indra sebagai wakil CEO mengambil alih semua tugas-tugasnya. Karena itu dari awal membicarakan kerjasama, Alex mendampingi Indra karena Alex asisten Andra yang melaporkan perkembangan perusahaan pada Andra.


Selama ini Narra salah duga. Dia mengira Alex asisten Indra.


"nona Narra silahkan masuk" ucap sekretaris itu ramah.


"terima kasih" kata Narra seraya masuk kedalam.


Tampak Andra duduk di meja kerjanya sedang membaca berkas dihadapannya. Dia memandang Narra masuk. Tatapannya masih sama seperti tadi pagi. Masih datar dan dingin.


"maaf ka Nda kalo aku ganggu" Narra masih berdiri dekat pintu yang tertutup.


"kamu duduklah. Aku selesaikan ini dulu" kata Andra lalu kembali fokus pada berkas di atas mejanya.


Narra mengangguk. Dia duduk di sofa ruangan Andra seraya melihat sekelilingnya. Ruangan ini tampak rapi, sesuai dengan kepribadian Andra. Sambil menunggu, Narra membaca majalah bisnis yang terletak di laci bawah meja.


Setelah agak lama menunggu, Andra merapikan berkas diatas meja. Tanda dia selesai dengan pekerjaannya.


Dia menemui Narra dan duduk bersebelahan dengan kekasihnya itu.


"kenapa kamu tidak kasih tau aku kalo kamu mau kesini ?" tanya Andra.


"aku takut ka Nda masih marah" Narra menunduk.

__ADS_1


"liat aku sayang" ucap Andra menaikan dagu Narra dengan telunjuk kirinya.


Narra memandang Andra.


"aku datang bawa bekal makan siang untuk ka Nda" Narra menaikan tas jinjing yang berisi kotak bekal untuk Andra keatas meja.


"bekal untuk aku ?" tanya Andra.


Tadi dia melihat dua kotak bekal diatas meja kerja Narra tapi dia langsung berpikir macam-macam tanpa bertanya dulu pada Narra. Ternyata kotak bekal itu untuk dirinya.


"iya, ka Nda bilang ingin makan masakanku lagi" jelas Narra.


Andra mencium kening Narra lalu memeluknya erat.


"maaf.. aku tadi berpikir itu untuk orang lain" ucap Andra masih dalam posisi memeluk Narra.


"memangnya untuk siapa ?" tanya Narra mencoba mengambil nafas karena Andra memeluknya terlalu erat.


Andra terdiam. Dia tidak bisa bilang kalau dia sedang cemburu pada Faya.


"ka Nda" Narra melepaskan pelukan Andra.


"bukan apa-apa sayang. Sudahlah lupakan saja" kata Andra.


Narra mengangkat bahu. Dia memutuskan untuk tidak bertanya lagi.


"ya sudah, aku kembali ke kantor ya kak. Aku tidak mau ganggu ka Nda kerja" katanya.


Andra meraih jemari Narra, "kamu disini dulu, jangan pergi dulu" katanya.


Narra memandang Andra. Ada raut memohon disana. Narra tidak ingin mengecewakan Andra.


"baiklah, aku akan disini sampai jam makan siang selesai" kata Narra.


"kita makan sama-sama ya" ajak Andra. Dia membuka kotak bekalnya. Menu rumahan sederhana tapi mengugah seleranya.


"pasti enak. Buka mulutnya" Andra menyuapi Narra.


"aku juga punya bekal kak. Tapi aku meninggalkannya di kantor" kata Narra dengan pelan karena masih dalam keadaan mengunyah.


"tidak apa, kita makan berdua saja. Aku akan menyuapimu" kata Andra.


Narra menggeleng. Dia meraih sendok di tangan kiri Andra.


"aku akan menyuapi ka Nda. Tangan ka Nda terluka" Narra menyuapi Andra.


Andra membuka mulutnya, dia mulai mengunyah makanannya.


"rasanya enak, benar-benar enak. Apalagi kamu yang suap" komen Andra seraya tersenyum.


"terima kasih" ucap Narra dengan memamerkan senyumnya, pandangan matanya beralih pada perban di tangan kanan Andra.


Andra melihat perban di tangan kanannya.


"kenapa itu kak ?" tanya Narra seraya memandang Andra lalu mengarahkan pada tangan Andra yang diperban.


"hanya luka kecil. Nanti juga sembuh" bohong Andra.


Dia tidak ingin Narra tahu tentang emosinya yang meledak karena cemburu. Andra tidak ingin Narra takut.


Narra meraih tangan kanan Andra pelan dan hati-hati, seolah tidak ingin Andra kesakitan.


Narra mencium punggung tangan itu.


Andra terkesima.


"biar cepat sembuh" Narra tersenyum.


"aku dokter, tapi kamu dokternya dokter" Andra mengusap kepala Narra.


Tiba-tiba Andra terdiam. Flashback tentang kejadian Faya mengusap kepala Narra terlintas di ingatannya.


Andra menyandarkan kepalanya di sofa lalu menutup matanya. Dia harus segera melupakan kejadian itu agar emosinya tidak memuncak. Dia harus bisa menahan diri.


"ka Nda kenapa ?" Narra meletakan bekal makanan diatas meja.


Narra menangkup wajah Andra. Dia bingung, Andra semakin memejamkan matanya.


"ka Nda, ka Nda kenapa ?" ujar Narra.


Andra membuka matanya lalu berlari menuju ruangan yang letaknya tidak jauh dari tempat duduk mereka.


Dalam ruangan itu Narra mendengar teriakan Andra.


Dengan bergegas, Narra menuju pintu ruangan yang tertutup saat Andra masuk. Dia menarik gagang pintu, tapi Andra menguncinya dari dalam.


"ka Nda.... ka Nda.. jawab aku kak" teriak Narra.


Narra bingung, tidak ada jawaban dari Andra.


Narra terduduk di tembok dekat pintu dengan menopang dagunya. Dia tidak tahu harus bagaimana.


Tak lama, pintu kamar terbuka. Andra keluar lalu duduk dengan menopang pada lututnya. Dia berlutut dihadapan Narra. Dia meraih Narra masuk kedalam pelukannya.


"maafkan aku" ucap Andra pelan.


Narra hanya terdiam, dia membalas pelukan Andra. Dalam hatinya tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang.


***

__ADS_1


__ADS_2