FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 8.1


__ADS_3

Andra mengantarkan Narra kembali ke kantor advertising milik Arjuna.


Motor Narra akan diurus oleh asisten Alex.


Narra menurut karena pasti dia akan kalah dengan keras kepalanya Andra.


"nanti aku jemput lagi jam pulang kantor, jangan kemana-mana sampai aku datang" Andra memberi pesan panjang.


"iya ka Nda" Narra hanya menjawab singkat.


Andra mencium kening Narra lalu membelai pipi kekasihnya itu.


Andra menatap lekat Narra yang memandangnya.


"jangan khawatir, aku baik-baik saja" kata Andra meyakinkan.


"tapi aku takut. Tadi ka Nda kenapa ?" tanya Narra pelan.


Andra mencium kening Narra sekali lagi.


"aku mencintaimu, itu saja" kata Andra menempelkan keningnya pada kening Narra.


"aku juga cinta sama ka Nda, maaf aku masih menunda pernikahan kita" Narra menatap mata Andra yang sangat dekat.


Andra tersenyum. Jawaban Narra menghilangkan keraguannya.


Tapi kenapa Narra masih ragu tentang pernikahan ? tanyanya dalam hati.


"aku akan menunggu sampai kamu siap" ucap Andra seraya melepaskan keningnya.


"terima kasih" Narra mencium pipi Andra.


Andra tersenyum senang.


Narra pun turun dari mobil. Dia bergegas masuk kedalam gedung kantornya. Karena kejadian tadi, dia sudah terlambat kembali ke kantor.


Dia mendapati Arjuna berdiri disamping meja kerjanya.


"maaf Pak Juna, saya terlambat. Ada yang bisa saya bantu ?" ucap Narra.


"tidak apa Na, saya cuma sedang menunggu OB yang membelikan makanan. Lama sekali" gerutu Arjuna.


Narra teringat kotak bekalnya. Dia sudah makan siang dengan Andra, tidak ada salahnya dia memberikan bekalnya daripada mubazir.


"maaf Pak Juna, kalo Bapak mau.. Bapak bisa makan bekal saya. Saya sudah makan di luar" terang Narra.


Arjuna melihat Narra yang menyodorkan kotak bekalnya.


"tidak apa ? nanti Pak Andra marah" ujar Arjuna.


Narra kaget, dari mana bossnya tahu tentang hubungannya dengan Andra. Apa Indra yang memberi tahunya ? pikir Narra.


"aku tahu" Arjuna tersenyum melihat Narra yang bingung.


"iya, tidak apa Pak" Narra yakin.


"terima kasih Na, kalo OBnya datang kamu bilang untuk dia saja makanannya. Bilang juga saya tidak marah. Nanti dia pikirnya saya marah" jelas Arjuna meraih kotak bekal Narra lalu masuk kedalam ruang kerjanya.


"baik Pak" kata Narra lalu duduk dan melanjutkan pekerjaannya.


*


Seperti janjinya, Andra datang menjemput Narra di jam pulang kantor.


Narra meminta Andra untuk membawanya ke apartement. Narra mau bicara dengan Faya karena mama Maya terus menelfonnya menanyakan putra tunggalnya itu.


Andra mengiyakan walaupun hatinya masih saja ada rasa cemburu tapi dia berusaha melawan gejolaknya demi hubungannya dengan Narra.


Dia tidak mau Narra melihat emosinya, dia tidak ingin membuat Narra semakin takut padanya.


Tadi saja Narra sudah takut, bagaimana kalau emosinya benar-benar meledak ? Andra tidak mau membayangkan yang nantinya akan terjadi. Dia tidak mau kehilangan Narra. Dia tidak bisa.


Dalam perjalanan, Narra mengirim pesan pada Faya.


Aku dan kak Andra menuju apartement, kita harus bicara


Tak lama Faya membalas.


Aku masih ada di luar Na, mungkin sejam lagi aku balik ke apartement. Maaf..

__ADS_1


Narra menoleh sekilas pada Andra.


Salahnya juga, langsung menuju apartement tidak tanya Faya dulu.


Narra kembali menulis pesan.


Baiklah, nanti kita bicara. Bye


"ka Nda, Faya lagi ada diluar. Jadi bagaimana ?" tanya Narra.


"ya sudah, kita tunggu disana atau kamu mau jalan-jalan dulu" jawab Andra sambil menyetir.


"bagaimana kalo kita pulang dulu. Nanti baru kita keluar lagi" kata Narra.


Andra menurut. Dia pun memutar arah menuju rumah Narra.


"terima kasih ka Nda" ucap Narra sesampainya di depan rumahnya.


"boleh aku ikut turun ?" tanya Andra.


Narra tersenyum, "boleh ka Nda, kenapa harus ditanya" katanya seraya menggelengkan kepala.


Mereka turun dan masuk halaman rumah yang menyatu dengan parkiran untuk kedai. Seperti biasanya, kedai 'Ranira' ramai.


Narra mempersilahkan Andra duduk di teras, sementara dia masuk kedalam kamar untuk bersih-bersih. Begitu dia hendak menutup jendelanya, matanya menangkap sosok dari jauh di balik pohon dekat rumahnya.


"kenapa dia ada disini ?" gumam Narra bergegas menutup jendela kamarnya.


Dia tidak mau memperdulikannya. Orang itu tidak akan berani datang kerumahnya karena semua orang di rumah ini sudah sangat kecewa dengan dia.


"maaf lama kak. Ini aku buatkan lemon tea" kata Narra.


Dia teringat waktu di cafe, Andra memesan minuman yang sama dua kali. Dia berpikir mungkin saja itu minuman favorit Andra.


"terima kasih sayang, kamu tau aku suka lemon tea ?" tanya Andra.


"aku cuma menebaknya kak, dua kali kita ke cafe dua kali kakak pesannya lemon tea" Narra tersenyum ternyata tebakannya benar.


Andra tertunduk. Dia tidak tahu apa kesukaan Narra. Bahkan menebaknya pun tidak pernah. Dia merasa jadi kekasih yang tidak peka.


Saat menyadari itu, tangan Andra mengepal. Dia marah pada dirinya sendiri.


Narra menyadari perubahan sikap Andra. Dia duduk disebelah Andra dan mengenggam tangan Andra yang mengepal.


"aku baik-baik saja sayang" ucap Andra tanpa memandang kearahnya.


"ka Nda marah sama aku ?" tanya Narra karena Andra tidak memandangnya.


Andra menggeleng, "aku marah pada diriku sendiri" akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Andra.


Narra tidak mengerti apa yang terjadi. Tadi semuanya baik-baik saja.


Andra menghabiskan minumannya dalam sekali teguk.


kemudian...


"aku pulang sayang" Andra mencium kening Narra seperti biasanya lalu beranjak menuju mobilnya.


Narra hanya bisa memandang dan terdiam. Dia tidak mengerti, ada apa dengan Andra tapi dia tidak bisa untuk menahan Andra agar jangan pergi.


Narra membiarkan Andra pulang walaupun hatinya bertanya-tanya kenapa sikap Andra berubah.


*


Friends tanpa Faya berkumpul di teras Narra. Mereka membahas tentang yang tidak ada diantara mereka.


Ya, mereka membahas tentang Faya.


"aku kasian sama mama Maya, matanya sembab" ucap Rea.


"iya, aku juga. Papa Farid sampe kelelahan karena memutuskan mencari Faya sendirian" sahut Erga.


Narra terdiam. Dia merasa bersalah, karena dia tahu dimana Faya berada.


"sebenarnya Faya kemana ? semua telfon, chat tidak ada satu pun yang direspon" gerutu Desta.


"Na, diantara kita kamu yang paling tau tentang Faya. Kamu tau dia dimana ?" tanya Imel.


Narra memandang para sahabatnya satu persatu.

__ADS_1


Kini arah pandangan mereka tertuju pada Narra.


"Faya mengirim pesan, dia baik-baik saja. Dia bilang nanti dia akan bercerita pada kita tapi tidak sekarang" jelas Narra.


"dia dimana ?" tanya Erga.


"Faya meminta aku untuk tidak bilang pada kalian" ucap Narra akhirnya.


"Na....." koor semuanya, tidak terima dengan penjelasan Narra.


"kamu telfon Faya, minta dia kemari sekarang. Atau bawa kami kesana" Sheva memberi ultimatum.


Mau tidak mau, Narra meraih ponselnya. Dia menghubungi Faya tapi Faya tidak mengangkat telfonnya.


Narra mengirimkan pesan.


Kamu sudah dimana Fay ?


Faya membalas.


Maaf Na, urusanku belum selesai. Mungkin aku tidak pulang ke apartement malam ini


Narra mencoba menghubungi Faya tapi ponselnya kini tidak aktif.


"Faya masih ada urusan. Sekarang ponselnya sudah tidak aktif" jelas Narra.


"dia dimana Na selama ini ?" tanya Rea.


Narra lalu menceritakan semua pada sahabatnya. Tentang pertemuannya dengan Faya dan tentang Andra yang menawarkan apartementnya untuk sementara ditinggali Faya.


"sebenarnya ada apa dengan dia ?" gumam Erga.


"apa sebaiknya kita kerumah Faya ? kita minta penjelasan sama mama Maya dan papa Farid" usul Desta.


Semua mengangguk setuju.


Ponsel Narra berdering, semua menoleh. Mereka berharap itu dari Faya.


"dari kak Andra" ucap Narra.


Dia sedikit menjauh dari sahabat-sahabatnya.


"ya ka Nda" jawabnya.


"sayang, aku jemput sekarang ya" ucap Andra.


"maaf kak, kita batal ke apartement. Faya masih ada urusan, dia tidak pulang malam ini" jelas Narra.


"baiklah, kamu lagi apa ?" tanya Andra.


"aku dan yang lain mau kerumah Faya" jawab Narra.


"ooo ya sudah. Bye sayang" Andra menutup pembicaraan tanpa mendengar balasan dari Narra.


Narra menghela nafas. Dia semakin bingung dengan apa yang terjadi pada Andra.


Narra mencoba bersikap biasa karena dia tidak ingin para sahabatnya bertanya tentang dia dan Andra.


"semuanya baik-baik saja ?" tanya Imel.


Narra mengangguk lalu berjalan bersama menuju rumah Faya.


*


Semua tercengang. Penjelasan mama Maya membuat mereka sangat kaget bercampur sedih karena membayangkan apa Faya rasakan sekarang.


Papa Farid yang baru saja sampai setelah dari kantor terus keliling dulu mencari Faya sembari pulang kerumah hanya bisa mengusap punggung istrinya yang kini menangis di dadanya.


"jadi orang tua kami tau tentang Faya ?" tanya Sheva hati-hati.


Mama Maya dan papa Farid sama-sama mengangguk.


Friends saling pandang. Mereka tidak mampu berkata-kata lagi selain berharap Faya kuat menerima kenyataan ini.


Selama ini kebahagiaan mama Maya dan papa Farid adalah Faya tapi siapa yang menyangka kalau kebahagiaan mereka itu bukan milik mereka.


Faya adalah seorang bayi mungil yang dulu mereka adopsi dari sebuah perkampungan tepi kota.


Faya melengkapi mereka yang belum memiliki anak saat itu. Faya adalah jawaban doa mereka.

__ADS_1


Friends berharap Faya dapat lebih bijak menghadapi ini.


***


__ADS_2