FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 34.1


__ADS_3

Narra sedang membuat jus pesanan pelanggan ketika ponselnya berdering. Dia melirik melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Dari Ka Nda Sayang.


Narra menghentikan kegiatannya. Dia menjawab panggilan ponselnya.


"iya ka Nda" jawabnya.


"lima belas menit lagi aku sampai, aku isi bensin dulu" kata Andra di ujung sana.


"memangnya kita mau kemana ? ini hari libur" sahut Narra.


"kita jalan-jalan sayang" jawab Andra.


Narra menepuk jidatnya. Dia melupakan sesuatu.


"iya ka Nda, aku selesaikan pesanan dulu" balas Narra.


"ok, bye sayang" Andra mematikan panggilannya.


Narra segera menyelesaikan pesanan dan mengantarnya. Dia kemudian pamit pada ayah dan ibunya untuk bersiap-siap karena Andra akan menjemputnya.


"hmmm kamu kok bisa lupa sayang kalo ada janji sama Andra" tegur ibu Flanella.


"maaf bu, aku pikir semalam itu ka Nda jemput mau ke kantor tapi ini kan hari libur ternyata maksudnya pergi jalan-jalan" jawab Narra.


"sudah sana ganti baju dan dandan" sergah ayah Sasmita.


"ok yah" seru Narra seraya berlalu.


*


Andra mengajak Narra nonton. Mereka sepakat menonton film komedi romantis.


Andra mengantri tiket sementara Narra mengantri cemilan dan minuman untuk mereka.


"hey kamu ! cewek tukang selingkuh. Kamu duakan kakakku dan selingkuh dengan calon tunanganku" teriak seseorang dari arah belakang.


Narra menoleh, Arini memandang sinis kearahnya. Semua pandangan orang disekitar kini tertuju pada mereka.


"maaf, kamu bicara sama aku ?" Narra balas tanya.


"pura-pura lagi ! kakakku sayang sekali sama kamu kenapa kamu tega mengkhianati dia dan parahnya dengan calon tunanganku" seru Arini emosi.


"apa maksudmu Arini ! aku dan kakakmu sudah selesai. Tunangan ?! siapa calon tunanganmu ?" Narra mencoba tenang.


"Andra Hadinata Wijaya. Dia memutuskan perjodohan kami karena kamu !" balas Arini.


Narra terdiam. Jadi ini maksud dari semua tanya tentang hubungan Arini dan Andra.


Andra menghampiri mereka.


"jaga bicaramu Arini ! asal kamu tau, yang menginginkan perjodohan itu hanya ayahmu dan kamu. Aku dan keluargaku tidak pernah membahas apa-apa tentang itu. Jadi jangan pernah membuat cerita itu karena dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah menyukai kamu. Aku hanya mencintai Ranarra Sasmita yang akan menjadi istriku" tegas Andra.


Arini terdiam. Kata-kata Andra membuat dia malu.


"tapi aku mencintai kak Andra" ucap Arini.


"aku tidak !" bentak Andra.


Narra menatap Andra. Dia tidak tahu harus bicara apa.


"kita pergi dari sini sayang, kita cari tempat yang tidak ada pengganggu" ujar Andra dengan memberi penekanan pada kata pengganggu.


Andra menarik tangan Narra meninggalkan tempat itu.


Sesampainya di mobil, Narra masih saja terdiam. Andra menatap kekasihnya, dia memakaikan sabuk pengaman lalu melaju meninggalkan pelataran parkir mall.


Mereka tidak jadi nonton. Tapi Andra tidak ingin waktu kencannya berakhir. Dia akan menjelaskan pada Narra semuanya tentang Arini.


*


Mobil Andra memasuki gerbang rumahnya. Dia akan menjelaskan semuanya pada Narra di depan keluarganya agar keluarganya bisa ikut meyakinkan Narra kalau perjodohan itu tidak ada.


"kita masuk kedalam sayang" ajak Andra.


Narra hanya terdiam. Dia ingin menolak tapi begitu melihat bunda Serena menghampiri mereka. Narra akhirnya turun dari mobil.


"Narraaaa, bunda senang kamu kesini. Katanya kalian mau nonton ?" bunda Serena melihat kearah Andra.


"tidak jadi bunda, kacau gara-gara Arini" sahut Andra.


Bunda Serena menatap Narra. Walaupun Narra tersenyum kepadanya, tapi dia tahu kalau Narra memendam sesuatu.


"kita bicara di dalam sayang" ajak bunda Serena. Dia merangkul Narra masuk kedalam rumah.


Sementara Andra mengikuti dibelakang mereka.


"halo calon menantu" sapa dokter Hadinata Wijaya.


Narra tersenyum.


Bunda Serena meminta Narra untuk duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Andra meminta ayah dan bunda untuk membantu menjelaskan pada Narra tentang hubungan Andra dan Arini karena tadi Arini marah-marah pada Narra di mall. Dia bilang kalo aku adalah tunangannya" terang Andra.


"tega sekali dia membuat calon mantu bunda malu. Trus apa yang kamu lakukan ?" tanya bunda Serena pada Andra.


"aku membalas Arini, aku jelaskan semua tentang perjodohan omong kosong itu. Tapi sepertinya calon mantu ayah dan bunda tidak percaya padaku" Andra memandang Narra.


"Na, dengarkan ayah. Jangan kamu dengarkan apa yang di katakan Arini. Itu semua omong kosong" sahut ayah Hadinata Wijaya.


Ayah Hadinata Wijaya lalu menceritakan semuanya. Mereka membuat Narra mengerti.


"sekarang kamu jangan pernah kepikiran apa-apa lagi. Arini hanya pengganggu" jelas bunda Serena.


"Arini adalah calon menantu keluarga ini untuk Andra"


Semua menoleh kearah sumber suara.


Tampak wanita paruh baya dengan penampilan elegan sosialita dengan tas tangan mahal di genggamannya.


"kak Hera ?!" ayah Hadinata Wijaya kaget.


Wanita itu mendekat, dia memandang sinis kearah Narra.


"aku akan mengatur semuanya untuk pertunangan mereka" katanya.


"aku tidak mau tante ! tante Hera tidak punya hak untuk mengaturku" balas Andra.


"kak Hera, aku tidak mau kakak memaksa putraku" sahut bunda Serena.


"sudah cukup tante Hera melakukannya padaku, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada adikku" Diandra muncul di anak tangga bersama Smith suaminya.


"Hadinata, lihat istri dan anak-anakmu.. mereka menentangku" tante Heranata Wijaya memandang ayah Hadinata.


"mereka benar kak, aku tidak mau kakak merusak keluargaku. Biarkan kami bahagia dengan cara kami sendiri" ucap ayah Hadinata Wijaya.


"kamu berani bicara seperti itu pada kakakmu satu-satunya ?" tante Heranata seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"iya bahkan aku rela kalo kakak tidak menganggap kami keluarga lagi. Aku sudah punya perusahaanku sendiri, kakak bisa sepenuhnya mengurus perusahaan ayah kalo tidak menganggapku adik" ayah Hadinata memandang tajam kakaknya.


Bunda Serena memandang suaminya. Dia tahu ancaman suaminya itu akan membuat kakak iparnya tidak bisa apa-apa karena selama ini kakak iparnya hanya menikmati transferan dari suaminya setiap bulannya.


Walaupun suami Heranata Wijaya juga bekerja di perusahaan keluarga mereka tetapi semua keputusan ada di tangan Hadinata Wijaya. Dan tentu saja Heranata tidak bisa mempercayakan sepenuhnya perusahaan orang tuanya pada suaminya. Karena suaminya pernah melakukan kesalahan sehingga menyebabkan kerugian untuk perusahaan. Semenjak itu dia lebih percaya kepada adiknya walaupun adiknya sudah mempunyai perusahaan sendiri.


"kamu ?! kalian semua... aaaarrrrggggghhh" tante Heranata Wijaya pergi dengan kekesalan yang memuncak.


Bunda Serena memeluk Narra. Sementara Diandra mengusap punggung Narra.


"kami tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaan kalian" ucap bunda Serena.


"kami semua mendukung kalian" ucap Diandra.


Narra melepaskan pelukan bunda Serena. Dia memandang ayah Hadinata Wijaya lalu beralih memandang Andra.


"bagaimana sayang, kamu setuju ?" tanya Andra.


Narra terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"tolong pikirkan sayang" ucap bunda Serena.


"kalian pergilah bicara berdua, kami berharap mendapat kabar baik" ujar ayah Hadinata.


Andra mengulurkan tangannya, Narra menyambutnya dengan sedikit ragu-ragu. Mereka pun beranjak menuju ke balkon atas. Andra merasa disana tempat yang tenang untuk bicara dari hati ke hati dengan Narra.


*


Narra duduk diam di sofa. Semua terasa campur aduk di kepalanya. Bagaimana tidak, dia mendapat shock terapy bertubi-tubi.


"hey, apa yang kamu pikirkan ?" tanya Andra seraya mengusap kepala Narra.


Narra menggeleng lemah.


Tak lama pelayan datang membawa minuman untuk mereka berdua.


"minum dulu supaya kamu tenang" Andra menyodorkan gelas berisi ice lemon tea pada Narra.


"aku tidak tau harus bagaimana ka Nda, aku bingung" ucap Narra setelah meletakan kembali gelasnya.


"aku cinta sama kamu dan kamu cinta sama aku, itu cukup sayang" ucap Andra.


"tapi keluarga ka Nda begitu tinggi untuk aku" sergah Narra.


Penolakan tante Heranata Wijaya mengganggu pikirannya.


"apa kami mempermasalahkan itu ?" tanya Andra.


Narra terdiam.


Andra mengenggam tangannya erat.


"aku ingin kamu menjadi istriku, bersamaku selamanya" ucapnya.


Narra menatap mata Andra. Ada ketulusan disana.


"aku takut, aku tidak sepadan untuk ka Nda" ucap Narra.

__ADS_1


Kenapa selalu saja perbedaan strata menjadi jurang pemisah untuk percintaannya. Pikir Narra.


Andra memeluk kekasihnya.


"jangan bicara begitu, kamu segalanya untukku. Aku mohon bertahan untukku. Kita hadapi ini bersama, berdua" ucapnya lirih.


Narra menjatuhkan air matanya. Dia menangis dalam pelukan Andra.


"jangan menangis sayang, aku tidak mau kamu bersedih" Andra melepaskan pelukannya, dia mengusap air mata Narra.


"maafkan aku membuatmu menangis" ucap Andra lagi.


Narra menggeleng lemah.


"jadi bagaimana dengan permintaan ayah, apa kamu mau pernikahan kita dilangsungkan secepatnya ?" tanya Andra seraya meraih jemari Narra.


"aku akan bicara dulu sama ayah dan ibu" jawab Narra.


"baiklah, aku yang akan bilang pada ayah dan bunda" ucap Andra seraya mencium tangan Narra.


Dia kemudian mencium kening, kedua pipi dan bibir Narra sekilas lalu mengusap pipi kekasihnya itu.


Narra tersenyum senang.


Nada tanda pesan masuk berbunyi dari ponsel Narra.


Dia melihat ponselnya. Alex mengirimkan foto Narra dan Rasta saat teman kakaknya itu datang kerumahnya untuk membawa oleh-oleh dari kampung untuk keluarganya. Alex bilang kalau Arini yang mengirim padanya.


"kenapa ?" tanya Andra.


"aku mau kasih tau kakak sesuatu tapi kakak janji, kakak tidak marah dan emosi berlebihan" ucap Narra.


Andra menatap kekasihnya, dia penasaran apa yang akan disampaikan oleh Narra.


"ada apa ?" tanya Andra.


Narra menyodorkan ponselnya, dia ingin Andra melihat sendiri isi chatnya dengan Alex.


Andra memandang Narra.


"jadi kamu sering chat sama Alex ?" tanya Andra.


"ka Nda bukan itu masalahnya" sergah Narra.


"jawab sayang" balas Andra. Dia tidak memperdulikan keberatan Narra. Dia cemburu dan emosinya memuncak.


"iya dan aku pernah ketemu kak Alex di mall. Hadiah anniversary itu rekomendasi kak Alex" jawab Narra.


Dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya karena bukan itu maksud dan tujuannya memperlihatkan isi chatnya dan Alex pada Andra.


Andra beranjak berdiri.


"kamu kenapa tidak pernah cerita sama aku ? tentang chat kalian, pertemuan kalian dan kenapa Rasta menemuimu" nadanya mulai meninggi.


"pantas saja waktu di club basket kamu tidak membiarkan aku masuk karena ada Ardhan disana" lanjut Andra.


Narra menghela nafas, kekasihnya itu semakin berlebihan mencurigainya.


"Ardhan datang kesana untuk latihan dan aku sudah berusaha menjaga jarak dengan dia tapi dia tetap tidak mengerti. Kenapa aku tidak kasih tau ka Nda ? karena aku tau ka Nda akan emosi saat itu juga" balas Narra.


Narra menatap Andra.


"tentang Arini karena aku merasa bisa mengatasinya, tentang hadiah anniversary karena itu kejutan dan aku ketemunya juga tidak sengaja. Aku kesana niat beli hadiah pas saat itu kak Alex sedang belanja bulanan" lanjut Narra seraya beranjak berdiri.


"dan satu lagi, tentang kak Rasta.. dia datang membawa oleh-oleh dari kampung untuk kami sekeluarga" jelas Narra.


Dia memberi penekanan pada kata sekeluarga karena memang Rasta itu sudah dianggap keluarga oleh keluarganya.


Narra kini berhadapan dengan Andra.


"jadi apa yang ka Nda permasalahkan ? aku bertemu Ardhan, aku dan kak Alex atau aku dan kak Rasta ? Ka Nda curiga aku ada apa-apa dengan mereka ? ka Nda tidak percaya sama aku ?" balas Narra seraya menggelengkan kepalanya tidak mengerti.


Andra terdiam.


"kalo ka Nda terus bersikap begini, bagaimana bisa aku merasa nyaman bersama ka Nda" balas Narra.


"hubungan itu di landasi dengan kepercayaan. Ka Nda mengutamakan cemburu dan emosi. Ka Nda janji sama aku untuk mengatasi trauma ka Nda tapi yang ada sikap ka Nda selalu berubah ubah" Narra beranjak pergi meninggalkan Andra.


Tak lupa dia mengambil ponselnya diatas meja.


"sayang" panggil Andra tapi Narra tidak memperdulikannya.


"sayang, jangan pergi !" teriak Andra tapi Narra terus berjalan bahkan tidak menoleh sama sekali.


Narra berlari menuruni tangga. Karena tidak ada siapa-siapa di ruang tengah, Narra langsung menuju keluar rumah. Yang ada dalam kepalanya hanyalah segera pergi dari rumah Andra.


Dia sangat kecewa dengan sikap Andra.


Untung ada taksi melintas. Narra segera menyetopnya, dia melihat Andra tengah berlari menyusulnya. Tapi dia tidak perduli dan tetap masuk kedalam taksi.


Andra memandang taksi yang membawa Narra. Dia menyadari kebodohannya tapi sudah terlambat. Dia melihat kekecewaan Narra padanya.


Andra hanya bisa mengacak kasar rambutnya. Dia segera berlari masuk kembali kedalam menuju mobilnya. Dia segera menyusul Narra.

__ADS_1


***


__ADS_2