FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 29.1


__ADS_3

Jam makan siang, Narra sudah terlihat merapikan meja kerjanya. Dia selesai pas pintu ruangan Arjuna terbuka.


"Na, aku pulang makan siang di rumah. Kamu bagaimana ?" tanya Arjuna.


"aku akan makan siang di kantin pak" jawab Narra.


"baiklah. Tolong beritahu Erick, aku menunggunya di lobby" ucap Arjuna lalu beranjak.


"baik pak" jawab Narra lalu bergegas menuju ruangan asisten Erick.


Narra masuk setelah mengetuk pintu dan Erick bersuara menyuruhnya masuk. Tampak Erick sedang merapikan berkas di atas meja kerjanya.


"pak Juna menunggu pak Erick di lobby" katanya.


"baik, aku akan bergegas" jawab Erick.


Narra pun pamit tapi Erick memanggilnya. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik berhadapan dengan asisten Erick.


"iya pak" jawab Narra.


"sebenarnya ada yang mau aku bicarakan dengan kamu, tapi sebaiknya setelah aku mengantar pak Arjuna pulang. Kamu makan siang dimana ?" tanya Erick.


"aku makan siang di kantin pak" jawab Narra.


"baiklah, aku nanti akan mencarimu ke kantin" ucap Erick.


Dia dan Narra keluar dari ruangan asisten bersama. Erick bergegas menuju lobby dimana bossnya sudah menunggu sementara Narra kembali duduk di kursinya. Panggilan ponsel dari Ardhan mencegah langkahnya menuju kantin.


Sebenarnya Narra menunggu telfon dari Andra tetapi siang ini Andra belum menghubunginya. Setelah mengantarnya tadi pagi, Andra bilang kalau dia akan melakukan operasi mata siang ini jadi mungkin tidak sempat mengajaknya makan bersama. Setelah operasinya selesai, Andra segera akan menemuinya.


Mungkin operasinya belum selesai, pikir Narra.


Ponselnya kembali berdering setelah tadi sempat terhenti.


Narra menjawabnya. Dia ingin tahu apa mau Ardhan kali ini.


"akhirnya, aku pikir aku akan langsung menuju ruanganmu" sahut suara di balik ponsel.


"ada apa lagi ?" tanya Narra ketus.


"jangan begitu sayang, aku hanya ingin bertemu" kata Ardhan lagi.


"aku tidak bisa Ardhan" tolak Narra.


"harus bisa karena aku ingin mengenalkanmu pada seseorang" paksa Ardhan.


"siapa ?" tanya Narra penasaran.


"temui aku sekarang di lobby, kita ke cafe bersama" Ardhan mematikan panggilannya.


Narra mendengus kesal, dia sangat penasaran dengan siapa yang akan di kenalkan Ardhan padanya.


Akhirnya dia meraih tasnya dan berlalu menuju lobby untuk menemui Ardhan.


Kedatangan Narra di sambut Ardhan dengan senyum khasnya. Dulu Narra menyukai senyum itu, sekarang dia membencinya karena itu seolah cara Andra untuk menunjukan kesombongannya.


"aku akan ikut tapi dengan satu syarat" ujar Narra.


"aku dengarkan sayang" kata Ardhan.


"aku tidak mau ruang VIP, kita berbaur dengan pelanggan yang lain" kata Narra.


Dia masih trauma dengan perlakuan Ardhan tempo hari. Dan untungnya dia tidak memberitahukan hal itu pada Andra karena dia yakin kekasihnya itu akan langsung memukuli Ardhan.


Narra tidak ingin nama baik Andra dan keluarganya rusak karena permasalahannya dengan Ardhan.


"baiklah sayang tapi mungkin kamu akan kecewa karena kita tidak hanya berdua. Kita akan bertemu seseorang" ucap Ardhan dengan senyum yang dibuat-buat untuk sengaja menggoda Narra.


Narra memandang Ardhan malas.


"kita jalan sekarang" katanya karena tidak ingin basa basi lagi.


Ardhan mempersilahkan Narra berjalan lebih dulu dengan gerakan tangannya sementara dia mengikuti di belakangnya.


*


Seorang wanita cantik dengan bentuk tubuh sempurna berjalan menghampiri Narra dan Ardhan.


Narra menerka dia model, artis, atau sosialita karena penampilannya yang branded dari bawah hingga atasannya.


Wanita itu menyapa Ardhan lalu menempelkan pipi kanan dan pipi kiri mereka kemudian duduk berdampingan dengan Ardhan.


"aku perkenalkan, Jeniffer ini Narra. Narra ini Jeniffer" sahut Ardhan.


Wanita itu tersenyum, sementara Narra hanya bisa memandangnya datar. Dia sekarang tahu siapa sosok di depannya.


Masa lalu Andra.


Sepertinya Ardhan sengaja mempertemukan mereka agar hubungannya dengan Andra bermasalah. Tapi Narra mencoba untuk tidak terpancing. Dia berusaha tenang.


"trus kenapa kamu mempertemukan kami ?" tanya Narra.


"agar kalian saling mengenal sesama kekasih Andra Hadinata Wijaya" balas Ardhan.


Jeniffer menoleh pada Ardhan lalu memandang Narra tidak percaya.


"kamu kekasih Andra ?!" tanyanya heran.


"iya, aku bukan hanya kekasihnya tapi kami akan menikah" ucap Narra penuh percaya diri.


"kamu akan menikah dengan dia ? orang itu akan menjadikanmu bonekanya. Kamu tidak berhak dengan kehidupanmu, dia yang mengatur segalanya" sergah Jeniffer.


"aku sudah memberitahunya tapi dia tetap memilihnya" balas Andra mendukung Jeniffer.


Narra hanya terdiam.


Tak lama pelayan datang membawa makanan pesanan mereka. Sebelum Jeniffer datang, Ardhan dan Narra sudah memesan lebih dulu.


Jeniffer pun memesan makanan dan minuman pada pelayan.


Narra bersikap acuh, dia memilih menikmati makan siangnya setelah itu pergi dari sana karena tidak ada gunanya pembahasan mereka. Tidak penting, menurutnya.


*


Andra memasuki lobby utama kantor Narra. Setelah menyelesaikan operasi, dia bergegas bersih-bersih dan menemui Narra untuk makan siang bersama. Dia sengaja tidak menghubungi kekasihnya itu karena ingin segera langsung bertemu.


Baru saja langkah kaki Andra hendak memasuki lift, Erick asisten Arjuna menyapanya.


"maaf pak Andra mencari Narra ?" tanya Erick.


"iya, dia ada di ruangannya ?" tanya Andra.


"tidak pak, tadi katanya dia akan makan siang di kantin saat aku tinggalkan mengantar pak Juna tapi aku kesana dia tidak ada. Ada hal penting tentang kerjaan yang mau aku bahas" jelas Erick.


"dimana dia ?" gumam Andra seraya meraih ponselnya.


"bapak tenang saja, aku sudah mengirim pesan. Narra sementara mengetik pesannya" ungkap Erick lagi.

__ADS_1


Andra mengangguk, dia kembali memasukan ponselnya kedalam saku jasnya.


Nada pesan masuk, Erick melihat ponselnya.


"Narra makan siang di cafe dekat kantor pak" Erick memberitahu.


"baiklah terima kasih, saya segera kesana. Anda ?" tanya Andra karena seingatnya asisten Arjuna itu mencari Narra juga.


"saya akan membicarakannya di kantor saja pak" jawab Erick.


"baiklah, permisi" pamit Andra yang dibalas anggukan hormat dari Erick.


*


Andra masuk kedalam cafe. Matanya mulai mencari-cari sosok Narra. Dia melihat Narra sedang menikmati makan siangnya bersama Ardhan dan seorang wanita yang tampak akrab dengan mantan pacar Narra itu.


Andra mendekat.


"sayang..." panggilnya.


Narra dan Jeniffer menoleh bersamaan.


Andra tersenyum kepada Narra dan kekasihnya itu membalas hal yang sama.


Lalu sebuah panggilan dari wanita di depannya membuatnya melepaskan pandangannya dari Narra.


"Andra" Jeniffer tersenyum.


Andra mematung seketika. Bayangan kisah masa lalu bagaikan kilat dalam benaknya. Bagaimana rasa cintanya pada Jeniffer dan bagaimana wanita itu meninggalkannya membuat Andra tidak bisa berkata-kata. Dia merasakan kembali traumanya.


Narra melihat keduanya saling menatap. Sementara Ardhan tersenyum licik, melihat Andra yang terus menatap mantan kekasihnya itu tanpa berkedip.


"selamat bertemu kembali An" seru Ardhan.


Andra tidak menanggapinya, matanya belum lepas dari Jeniffer.


Jeniffer lalu beranjak berdiri, dia mencium kedua pipi Andra dan memeluk pria itu. Hal itu membuat Narra yang berada disebelah Andra tidak suka. Dia cemburu sekarang.


Andra hanya terdiam di tempatnya berdiri, dia tidak menolak saat Jeniffer mencium kedua pipinya dan memeluknya bahkan sekarang Jeniffer belum melepaskan pelukannya. Sepertinya dia kehilangan akal sehatnya. Hingga suara Narra menahan amarah terdengar.


"ka Nda masih ingin terus memeluknya ?! baiklah, aku pergi" Narra meletakan lembaran uang untuk membayar makanan dan minumannya diatas meja dengan kasar.


Dia berlalu pergi menuju pintu keluar dengan berlari.


Sontak Andra tersadar lalu mendorong Jeniffer, dia berlari menyusul Narra tapi terlambat. Narra sudah masuk kedalam taksi. Andra bergegas menuju mobilnya lalu tancap gas mengejar taksi yang membawa Narra.


Dalam taksi Narra menangis, dia kecewa karena Andra masih terpesona dengan Jeniffer. Bahkan Kekasihnya itu tidak menolak perlakuan mantan kekasihnya itu.


"maaf nona, kita kemana ?" tanya supir taksi sopan.


Narra membuka layar ponselnya lalu mencari-cari kemudian memperlihatkan pada supir taksi.


"dan satu lagi kalo bapak bisa membuat orang itu tidak mengikuti kita, ada bonus untuk bapak" ucap Narra meyakinkan.


"oke, pasang sabuk pengaman nona" kata supir taksi dengan memperbaiki posisi duduknya tapi tetap fokus mengemudi.


Dengan segera Narra memasang sabuk pengamannya. Mobil taksi itu melaju kencang berusaha meninggalkan mobil Andra di belakangnya.


Sementara itu..


Andra merutuki kebodohannya. Kenapa bisa dia terdiam pada Jeniffer dan membiarkan wanita itu mencium dan memeluknya di depan kekasihnya. Wajar kalau Narra sekarang teramat marah dan sakit hati padanya.


Andra memasang earphonenya, dia terus menghubungi ponsel Narra tapi kekasihnya itu tidak menjawabnya. Semakin membuatnya frustasi.


Ketakutannya semakin menjadi, dia tidak mau Narra meninggalkannya.


Sampai di sebuah lampu merah, laju mobil Andra terhenti tapi tidak dengan taksi yang ditumpangi Narra. Taksi itu lolos sebelum lampu menyala merah.


Andra memukul setir mobilnya. Dia kehilangan jejak.


Ditengah kekalutannya, Andra menghubungi Alex.


"bro, Narra pergi dengan taksi sky. Aku kehilangan jejaknya, tolong cari tahu keberadaannya sekarang. Aku tunggu di rumah" Andra lalu mematikan panggilannya.


"aku tidak akan membiarkanmu pergi sayang, aku tidak akan sanggup" ucap Andra.


Dia kembali melaju setelah lampu warna hijau menyala, dia menuju pulang kerumah.


*


Indra dan Rea yang sedang duduk di ruang tengah bersama bunda Serena dan Vinand menoleh kearah Andra yang masuk dengan tampang kacau.


"sayang, kamu kenapa ?" tanya bunda Serena beranjak berdiri dengan raut khawatir.


Andra hanya menoleh sekilas lalu berlari menaiki tangga.


"ada yang tidak beres" Indra mengumam lalu berlari menyusul kakaknya.


"bibik.. " panggil bunda Serena.


Seorang pelayan mendekat.


"tolong bawa Vinand ke kamarnya untuk tidur siang" pintanya.


"baik nyonya" jawab pelayan itu.


"Vinand sayang, sama bibik dulu ya. Tidur siang dulu nanti sore papa mama pulang kantor, Vinand main sama mereka" ucap bunda Serena pada cucunya.


Bocah empat tahun itu mengangguk pelan dan mengikuti pelayan yang menjaganya.


Bunda Serena dan Rea pun segera menyusul Andra dan Indra kelantai atas.


Andra kembali menghancurkan pajangan di dalam kamarnya. Semuanya, tidak terkecuali bingkai fotonya bersama Narra padahal kemarin Indra sudah mengganti semua bingkai yang pecah dengan yang baru. Kini semuanya kembali pecah, hancur berantakan. Yang tersisa hanya pigura slide kado anniversary dari Narra untuknya.


"aku bodoh !!!!!" Andra memukuli tembok dengan tinjunya. Bahkan dia hendak membenturkan kepala tapi Indra mencegahnya.


"kakak...." Indra langsung memeluk kakaknya dari belakang.


Andra mencoba berontak tapi Indra menahannya.


"pergi In, aku bodoh ! aku sudah membiarkan Narraku pergi" bentaknya.


Rea yang datang bersama bunda Serena terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia terdiam diambang pintu. Sementara bunda Serena membantu menenangkan Andra.


"Andra tenang sayang, apa yang terjadi ? ceritakan sama bunda. Jangan begini An" ucap bunda Serena mengusap kepala Andra.


"Narra pergi bunda, dia pergi dari Andra karena kebodohan Andra" Andra berteriak.


Indra mendorong Andra ketempat tidur sehingga kakaknya terduduk di tepi tempat tidur. Bunda Serena lalu duduk disamping Andra dan menggenggam tangan anak keduanya itu.


"Re, tolong ambilkan air minum sayang" pinta bunda Serena.


"baik bunda" dengan bergegas Rea beranjak.


Setelah meminum segelas air putih yang di bawa Rea, Andra duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.


"ceritakan pada bunda" ucap bunda Serena.

__ADS_1


Andra lalu menceritakan kejadian di cafe dengan pelan. Tak hentinya dia menyesali kebodohannya.


Indra dan Rea saling pandang, hati siapa yang tidak sakit melihat kekasihnya di depan mata hanya terdiam dan membiarkan mantannya mencium dan memeluknya. Pikir mereka.


"kamu masih mencintai Jeniffer ?" tanya bunda Serena.


Andra menggeleng, "tidak bunda, Andra hanya kaget saja dia ada disitu bersama Narra. Trauma Andra tiba-tiba datang bagai kilat di kepala. Pasti baj****n itu sudah merencanakan ini" geramnya mengingat kehadiran Ardhan disana.


"tapi kalo kakak bersikap biasa saja walaupun Ardhan melakukan ini sengaja, Narra tidak akan pergi" sergah Indra. Dia bukannya membela Ardhan tapi kenyataannya juga karena kesalahan kakaknya.


Rea mengusap lengan Indra. Dia sebenarnya berpendapat hal yang sama. Hanya saja dia merasa kasihan dengan keadaan Andra sekarang. Andra sangat frustasi.


Andra terdiam, dia mengakui kesalahannya.


Tak lama Alex datang, dia membawa informasi yang Andra butuhkan.


"taksi itu membawa Narra ke pinggiran kota sebelah timur. Katanya dia hanya mengantar Narra di jalan besar saja. Setelah itu Narra menaiki ojek" jelas Alex.


Rea mencoba mengingat sesuatu tentang pingiran kota sebelah timur, tiba-tiba dia teringat Erga.


"sirkuit balap Erga" gumam Rea.


Semua mata kini menoleh pada Rea.


"kita harus kesana, sebelum Narra melakukannya lagi" sergah Rea tampak khawatir.


"jelaskan padaku kenapa Re" ucap Andra.


Rea lalu duduk disebelah bunda Serena. Dia memulai ceritanya.


"dulu, Narra pernah marah besar pada teman SMA kami karena jualan jus Narra di acak-acak hingga tidak layak jual. Narra sangat marah, dia memukuli anak itu dengan semua kekuatan yang dia punya. Walaupun lawannya cowok tapi Narra tidak takut. Cowok itu babak belur, mereka masuk ruang BK dan Narra diskors selama seminggu sebagai peringatan walaupun dia tidak bersalah, dia hanya membela haknya sementara cowok itu selama tiga minggu karena mendapat perawatan di rumah sakit. Ayah dan ibu serta kak Rayyan tidak bisa menenangkan amarah Narra walaupun hari itu persoalan selesai. Hingga Erga berhasil mengajak Narra pergi. Ternyata Erga meminta Narra menemani dia latihan. Dan Narra mencoba mobil balap Erga. Sampai di rumah Narra tersenyum lagi, gembira lagi seperti semula tapi Erga mendapat kemarahan dari ayah Sasmita, kak Rayyan dan kami. Kami mengikat tangan dan kaki Erga lalu menggantungnya di pohon mangga depan rumah Desta setengah hari" cerita Rea.


"dari situ Narra selalu bisa mengontrol emosinya karena dia tidak mau Erga mendapat masalah. Narra berpikir balapan di sirkuit bisa membuat emosinya stabil. Sekarang Narra sedang marah besar, dia bisa saja ingin balapan lagi" lanjut Rea.


"tidak !! itu berbahaya, aku tidak mau Narra kenapa-napa" sergah Andra.


"sebaiknya kita pergi sekarang, sebelum Narra benar-benar balapan" sahut Alex.


Semua mengangguk.


Mereka beranjak menuju sirkuit balap Erga. Andra semobil dengan Alex dan Indra dengan Rea sementara bunda Serena menunggu kabar di rumah.


Dalam mobil, Rea mencoba menelfon Erga tapi panggilan ponsel Erga sibuk. Indra menggenggam jemari Rea untuk memintanya tenang.


Sementara di perusahaan otomotif, Erga menerima telfon dari pengawai sirkuit balap yang memberi tahu kalau Narra berada disana sekarang. Dia ingin meminjam mobil balap milik Erga.


"jangan kasih kuncinya, aku akan segera kesana" ujar Erga.


Sean yang berada disebelahnya memandang rekan kerjanya itu.


"ada apa ?" tanyanya.


"kamu tau Narra kan ?!" Erga balas tanya.


Sean mengangguk, dia mengenal sahabat-sahabat Erga.


"Narra ada di sirkuit sekarang, dia mau memakai mobil balapku" jelas Erga.


"apa ? kamu akan mendapat masalah lagi Ga" Sean mengingatkan kejadian yang dulu.


Dia berada disana saat pertama dan menjadi terakhir Erga mengenalkan balapan pada Narra.


"nah itu, aku tidak mau hal itu kejadian lagi. Cukup sekali itu saja ! Aku pergi Sean" pamit Erga bergegas meninggalkan Sean.


*


Di sirkuit Narra merasa frustasi karena pegawai sirkuit meminta untuk menunggu Erga. Mereka tidak mau ambil resiko.


Narra mengikuti pegawai itu, dia yakin kunci mobil balap Erga ada padanya. Setelah lama mengintip, dia melihat pegawai itu memegang perutnya lalu bergegas masuk kedalam toilet.


Narra tersenyum, ini kesempatannya untuk mencari apa yang dia mau. Setelah membuka semua laci di ruangan itu, Narra tersenyum senang karena dia melihat kunci di gantungan belakang pintu tertutup sebuah jaket.


Narra segera keluar lalu masuk kedalam mobil balap Erga. Dia mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Narra meluapkan seluruh emosinya dengan berkeliling sirkuit.


Rea, Indra, Andra dan Alex tiba lebih dulu dari Erga. Tanpa bicara hanya saling memandang Erga langsung masuk kedalam dan mereka mengikutinya. Disaat bersamaan pegawai Erga menghampiri.


"mana Narra ?" tanya Erga.


"nona Narra sudah melaju di sirkuit tuan, tadi saya tinggal ke toilet" jelas pegawai itu.


Erga menarik rambutnya kasar lalu menghempaskannya, dia segera berlari menuju sirkuit.


"ambilkan kunci mobil biru" perintah Erga.


Pegawai itu memberi kunci mobil balap Erga yang warna biru. Mobil yang di pakai Narra berwarna merah. Erga memiliki tiga mobil balap. Yang dua untuk latihan sedangkan yang berwarna hitam untuk balapan yang sebenarnya.


Andra menghentikan Erga.


"biar aku yang menyusulnya" katanya.


Erga mengangguk. Dia memberikan kunci mobil pada Andra.


"aku ikut" sahut Alex.


Andra dan Alex segera masuk kedalam mobil biru Erga.


Andra duduk mengemudi dan Alex duduk disebelahnya, mereka melaju masuk jalur sirkuit menyusul Narra.


"kalo sampai Friends tahu hal ini, kamu akan tergantung di pohon mangga semalaman" ancam Rea.


"aku tidak tau apa-apa Re" bela Erga.


"sayang, jangan begitu. Erga saja tidak tau masalahnya apa" Indra merangkul Rea.


"sekarang jelaskan padaku" Erga memandang Rea dan Indra bergantian.


Secara tidak langsung dia jadi ikut terbawa dalam masalah Narra dan Andra.


Indra akhirnya menjelaskan semuanya pada Erga.


Erga hanya menggelengkan kepalanya. Dia berharap Narra dan Andra bisa menyelesaikan masalah mereka. Dan semoga saja Narra berhenti, dia merasa khawatir karena Narra sendirian dalam mobil. Dulu waktu pertama kali Narra mengemudikan mobil balapnya, dia ada disebelah Narra jadi dia bisa mengontrol Narra untuk berhenti.


"Re, aku takut Narra tidak mau berhenti" gumam Erga.


Rea menoleh, "maksud kamu ?" tanyanya tidak mengerti.


"saat itu aku ada disebelahnya, sekarang dia sendirian dalam mobil" ucap Erga pelan.


"astaga..." Rea menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu berjalan tidak tentu arah sekitar mereka.


"tenang sayang, mudah-mudahan kak Andra bisa menghentikan Narra" ujar Indra.


Rea berhenti, "kamu tidak mengerti sayang, Narra itu kalo sudah marah tidak perduli apapun juga karena itu kami semua tidak pernah membiarkan Narra marah seperti itu" jelasnya.


Indra terdiam. Dia jadi khawatir, semoga semuanya baik-baik saja. ucapnya dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2