FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 55.1


__ADS_3

Rayyan tersenyum begitu masuk kedalam ruang inap Narra. Dia melihat tunangan adiknya kembali menjaga setelah tadi izin untuk menyelesaikan jadwal prakteknya.


"bagaimana keadaanmu ?" tanya Rayyan seraya mengusap puncak kepala Narra.


"aku sudah baikan kak tapi kenapa aku masih diruangan ini ?" Narra cemberut.


"tidak apa, besok juga kalian akan pergi jadi lebih baik kamu istirahat saja disini. Semua barang-barangmu sudah beres" kata Rayyan.


Narra mengangguk.


"An, aku mau minta tolong sama kamu" kata Rayyan.


"apa Ray ?" tanya Andra.


"aku akan menemani ibu menjaga ayah karena aku meminta kak Rania untuk pulang. Kasian Rishi sudah lama ditinggal. Kamu jaga Narra malam ini ya, nanti kalo ayah tanya aku bilang kalo kak Rania yang menjaga" jelas Rayyan.


Andra mengangguk, "tidak masalah Ray, aku senang bisa menemani Narra disini" katanya.


"ingat, kalian belum menikah sebaiknya jangan berlebihan" Rayyan mengingatkan.


Andra dan Narra hanya tersenyum.


"ya sudah, aku kembali keruangan ayah" pamit Rayyan.


Dia mencium kening adiknya.


"barang-barang kamu ada di mobil. Besok kakak akan mengantarmu ke bandara" kata Rayyan.


"iya kak" jawab Narra.


Rayyan pun keluar dari ruang inap Narra.


Narra memandang Andra.


"kenapa sayang ?" tanya Andra.


"apa ka Nda sudah bicara pada Indra ?" tanya Narra.


Andra terdiam. Semenjak kejadian tadi, dia belum bicara lagi pada adiknya itu.


"sebaiknya ka Nda hubungi Indra, pasti sekarang perasaannya kacau" kata Narra.


"baiklah" Andra meraih ponselnya.


Dia menghubungi adiknya.


"iya kak" jawab Indra.


"kamu dimana ?" tanya Andra.


"aku di rumah kak" jawab Indra.


"hmmm kamu baik-baik saja ?" tanya Andra.


"sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja kak" balas Indra.


"mau bertemu untuk bicara ? tapi maaf aku tidak pulang karena menjaga Narra di rumah sakit" kata Andra.


"tidak apa kak, aku akan segera tidur lagipula besok kakak akan pergi. Sebaiknya istirahat saja" kata Indra.


"baiklah, hubungi aku kalo kamu butuh bantuan" kata Andra.


"iya kak, salam untuk Narra" kata Indra.


Andra menutup panggilannya.


"Indra sedang tidak baik-baik saja tapi dia akan berusaha mengatasinya. Dan dia juga mengirim salam untukmu" jelas Andra.


Narra mengangguk.


"sayang, kamu dan Faya...." Andra memutuskan untuk tidak melanjutkan kalimatnya karena dia benci mengingat ungkapan cinta Faya pada Narra.


"aku hanya menganggap Faya sahabatku, tidak lebih. Aku tidak tau kalo dia punya perasaan lebih padaku" kata Narra.


"aku mau kamu menjaga jarak sama dia, aku tidak suka kalo dia mencoba merebutmu dariku" kata Andra.

__ADS_1


Narra meraih tangan Andra.


"aku dan Faya hanya bersahabat dan ka Nda tunanganku. Aku akan mempertahankan hubungan kita karena aku cinta sama ka Nda" katanya.


"aku juga cinta sama kamu, seluruh hidupku" kata Andra.


Andra beranjak mendekat dan memeluk Narra yang duduk bersandar di tempat tidur.


"ka Nda.. ingat kita belum menikah" Narra mengingatkan kata-kata Rayyan tadi.


"hmmm" ucap Andra semakin mengeratkan pelukannya.


Narra tersenyum.


Andra kemudian melepas pelukannya. Dia menuju pintu lalu menguncinya.


"sebaiknya kita tidur sekarang sayang" katanya.


Narra mengangguk.


Andra membantu Narra untuk berbaring lalu dia ikut naik keatas tempat tidur.


"ka Nda..." tegur Narra.


"aku ingin tidur memelukmu" kata Andra.


"kalo ketahuan kak Rayyan bagaimana ?" tanya Narra.


"pintunya sudah di kunci, tidak ada yang bisa masuk kesini" kata Andra.


Andra merapatkan diri pada Narra lalu menaikan selimut batas dada mereka dan memeluk Narra erat.


"tidurlah sayangku" ucap Andra tepat di telinga Narra.


Narra mengangguk. Dia pun menutup matanya, tertidur dalam pelukan tunangannya.


*


Narra terbangun, dia sendirian diatas tempat tidur. Dia memandang sekelilingnya.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Andra keluar dengan penampilan rapi.


"selamat pagi" sapa Andra pada tunangannya.


Narra tersenyum.


"aku mau mandi" katanya seraya turun dari tempat tidur.


Andra mendekat pada Narra.


"jawab dulu sapaanku trus beri morning kiss" katanya seraya menarik Narra dalam pelukannya.


"selamat pagi ka Nda sayang" ucap Narra dalam pelukan Andra.


Andra perlahan melepaskan pelukannya, lalu mencium bibir Narra lembut.


Narra membiarkan perlakuan tunangannya.


"kamu mandilah, setelah itu kita sarapan bersama" kata Andra setelah menyelesaikan tautan mereka.


Narra mengangguk. Dia pun bergegas masuk kedalam kamar mandi setelah terlebih dulu mengambil kimono mandi serta pakaian dalam dan pakaian gantinya di dalam tas.


*


Setelah bersiap dan sarapan bersama, Narra dan Andra keluar dari ruang inap. Narra akan menuju ruang ICU tempat ayahnya dirawat. Dia ingin berpamitan pada ayahnya.


"kalian sudah mau pergi ?" tanya ayah Hadinata ketika mereka berpapasan.


"iya ayah, Narra akan berpamitan dulu pada ayah Sasmita. Aku akan menunggunya di mobil" jelas Andra.


"ayah minta maaf, kamu tidak bisa pergi sekarang. Pasien gagal ginjal kamar kelas tiga perlu untuk dilakukan tindak lanjut. Kamu harus ikut dengan tim dokter untuk mengetahui kondisinya" jelas ayah Hadinata.


"tapi ayah, aku..."


Belum selesai Andra melanjutkan kalimatnya, ayah Hadinata kembali meminta maaf pada putranya itu.

__ADS_1


"ayah tau ini bukan saat yang tepat, tapi kita tidak bisa membiarkan pasien begitu saja. Mereka butuh pertolongan kita" kata ayah Hadinata.


"ka Nda, sebaiknya ka Nda ikut ayah Hadinata dulu. Aku akan menemui ayahku setelah itu langsung ke bandara. Kita akan bertemu disana, aku akan tunggu sampai ka Nda datang. Bila perlu kita pesan tiket penerbangan selanjutnya" kata Narra mengusap lengan Andra.


Andra memandang Narra.


"baiklah, kamu hati-hati dan tunggu aku" katanya.


Narra mengangguk.


Andra mencium kening Narra lalu pergi bersama ayah Hadinata.


*


Narra masuk kedalam ruang ICU dimana ayahnya masih terbaring lemah disana pasca operasi.


"kamu sudah bersiap ?" tanya ayah Sasmita seraya mengenggam jemari putrinya.


Narra mengangguk.


"pergilah, ayah akan baik-baik saja kalo kamu menjauh dari mereka" kata ayah Sasmita.


Narra menghela nafas, dia berusaha mengerti sikap ayahnya.


"Narra pergi yah" ucap Narra.


Setelah mencium pipi dan punggung tangan ayahnya Narra keluar.


Di luar, dia menghampiri ibunya.


"Narra pergi bu" pamitnya.


"ibu minta maaf Na, ayahmu masih keras hati" kata ibu Flanella.


"Narra tidak apa-apa ibu, semua akan baik-baik saja" kata Narra.


"kita berangkat sekarang ?" tanya Rayyan.


"iya kak" sahut Narra.


Ibu Flanella memeluk putrinya.


"hati-hati, kabari ibu sesampainya disana" ucapnya.


"iya ibu" ucap Narra.


*


Rayyan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka menuju bandara. Dia akan menemani adiknya menunggu Andra datang setelah urusannya selesai.


Tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah truk kontainer menuju arah mereka.


"kak awas !" teriak Narra.


Rayyan membanting stir kemudi kekiri untuk menghindari bahaya di depannya.


Mobil mereka masuk jauh kedalam hutan dengan tidak terkendali.


Rayyan mencoba memutar kembali kemudi dan menginjak rem tapi percuma, mobilnya mereka semakin jauh masuk kedalam hutan.


"remnya blong Na" teriak Rayyan.


"bagaimana ini kak ?" Narra panik.


"kita tidak tau ujung hutan ini, kita harus menabrak sesuatu agar mobil ini berhenti atau kita melompat keluar dari mobil" jelas Rayyan dengan berteriak.


"kita tabrakkan mobil ini pada pohon kak tapi sebelumnya kita melompat keluar dulu" sahut Narra.


"ok, kamu ikuti aba-aba kakak. Hitungan ketiga kita lompat bersama"


Narra mengangguk.


Rayyan mengarahkan mobil pada sebuah pohon besar, dia mulai menghitung dan tepat pada hitungan ketiga mereka berdua melompat keluar dari mobil.


***

__ADS_1


__ADS_2