FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 39.1


__ADS_3

Narra turun dari mobil dan Andra pun mengikutinya. Mereka kemudian berjalan mendaki bukit menuju tujuan mereka.


"hati-hati sayang, kamu pegangan sama aku" kata Andra seraya meraih tubuh Narra.


"iya ka Nda, tapi ka Nda tenang saja aku sudah sering kesini jadi tidak kenapa-napa" sahut Narra.


"aku ingin melindungimu sayang" balas Andra.


Narra tidak berkata apa-apa lagi. Dia mengerti Andra khawatir padanya.


Mereka mendaki bukit dengan saling berpegangan.


Sesampainya diatas, Narra berjalan mendahului Andra. Langkahnya berhenti di bawah pohon rindang, dia segera duduk dengan menjulurkan kakinya. Andra pun mengikutinya.


"tempatnya bagus" komen Andra.


Narra mengangguk.


"ini tempat favorit aku dan kak Rayyan. Kalo kami berdua sedang sedih, merayakan sesuatu pasti kesini. Kami menyalakan kembang api disini" jelas Narra.


"jadi setelah kalian berdua, siapa lagi yang kamu ajak kesini ?" tanya Andra ingin tahu.


"ka Nda, Friends tidak tau tempat ini. Mereka taunya kalo aku sedih, aku ke sirkuit Erga" Narra terkekeh.


Andra memandang Narra.


"aku tidak mau kejadian di sirkuit Erga terjadi lagi, aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Aku bisa gila" katanya.


"iya ka Nda, aku tidak akan membuat semua orang khawatir lagi. Hanya saja ada yang menganggu pikiranku" lanjut Narra.


"apa sayang ?" tanya Andra.


"apa maksud perkataan ka Nda tadi di butik ? maaf ka Nda, aku mendengarnya sangat jelas" ujar Narra.


Andra memandang Narra, dia harus mencari kalimat yang sebisanya diterima oleh kekasihnya itu.


"aku ingin selalu bersama kamu, kita akan segera pulang kerumah kita begitu pekerjaan kita selesai" jelasnya.


"bukan karena ka Nda tidak percaya sama aku ?" tanya Narra.


"tidak sayang, hanya saja aku merasa cemburu setiap kamu dekat dengan pria manapun. Aku tidak suka, emosiku meledak. Aku harap kamu mengerti aku" Andra meraih jemari Narra.


"baiklah tapi aku tidak mau ka Nda langsung marah-marah tidak jelas. Kita akan saling mendengarkan. Aku juga akan melakukan itu demi hubungan kita" ucap Narra.


"iya sayang, terima kasih" Andra tersenyum.


Narra menyandarkan kepalanya di pundak Andra. Andra merapatkan jarak mereka dan merangkul Narra erat.


"aku sangat cinta sama kamu, hanya kamu sayang" ucap Andra.


"ka Nda selalu bilang itu, aku juga. Aku harap itu tidak akan pernah berubah" kata Narra.


"kita selamanya bersama" ucap Andra.


Narra lalu duduk tegak, "apa ka Nda yakin dengan aku ? aku tidak mau nanti ka Nda malu bersamaku"


"kenapa aku harus malu ?" Andra tidak mengerti.


"perbedaan kita terlalu jelas ka Nda, aku hanya anak pemilik kedai. Walaupun banyak orang berpikir aku punya segalanya karena tinggal di kawasan elit tapi ka Nda harus tau, hanya rumah itu yang kami punya setelah kejadian lalu. Aku takut dengan perkataan orang-orang tentang perbedaan kita" jelas Narra.


"kejadian lalu itu apa ?" tanya Andra ingin tahu.


Narra terdiam sejenak lalu dia melanjutkan kalimatnya.


"aku tidak ingin membahasnya sekarang, itu terlalu berat untuk keluargaku. Khususnya ayah" Narra tertunduk.


Andra meraih jemari Narra, "baiklah aku tidak akan memaksamu dan satu hal lagi, aku tidak perduli orang lain. Aku hanya mau kamu selalu ada bersamaku" Andra lalu memeluk Narra.


Narra balas memeluk Andra dengan erat. Mereka berpelukan lama sampai mereka saling melepaskan dan saling menatap. Entah siapa yang memulai, mereka berciuman mesra di bawah pohon rindang itu.


*


Sementara itu ...

__ADS_1


"papa, mama"


Sepasang suami istri yang sedang duduk berdua menonton televisi menoleh kearah suara. Sang istri tidak mampu menahan linangan air matanya, dia berlari memeluk seseorang yang sedari tadi berdiri diambang pintu.


"Faya..." isaknya.


"maafkan Faya ma.. maaf" ucap Faya memeluk mamanya.


"maafkan mama sayang" balas mama Maya.


"maafkan papa juga Fay" papa Farid menepuk pundak Faya.


"Faya pulang ma, pa" ucap Faya.


"iya sayang, ini rumah kamu. Tempat kamu pulang" ucap mama Maya terus terisak.


Kini Faya dalam pelukan kedua orang tua adopsinya.


*


Faya memasuki kamarnya. Sudah lama sekali dia meninggalkan kamar ini tetapi kamarnya masih seperti semula, sepertinya hanya dibersihkan saja.


Faya kembali karena pembicaraannya dengan Narra. Sahabatnya itu meminta satu permintaan padanya, dia hanya meminta Faya untuk pulang.


Entah kenapa dari dulu setiap Narra meminta, Faya selalu tidak bisa menolak. Apalagi dia sebenarnya sudah lama ingin pulang, hanya dia takut papa dan mamanya tidak menerimanya karena kecewa dengan penolakannya.


Faya membuka album warna merah di laci meja kerja dalam kamarnya. Didalamnya terdapat beberapa fotonya bersama Friends dan Narra. Diantara yang lainnya, Faya dekat sekali dengan Narra. Hingga Faya merasakan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi diantara mereka.


Mama Maya masuk kedalam kamar Faya, dia tidak mengetuk karena pintu kamar dalam keadaan terbuka.


"dia akan bertunangan sayang" kata mama Maya.


Faya menoleh lalu mengangguk.


"Faya bahagia kalo dia bahagia ma, walaupun sakit" ucapnya.


"kenapa kamu tidak pernah bilang sama dia dari dulu sayang ?" kata mama Maya, dia tahu apa yang dirasakan putranya.


"Narra sahabat Faya ma, itu saja sudah cukup" jawab Faya seraya memeluk mamanya.


"sudah sayang, mama papa mengerti karena itu kami tidak pernah bisa memberi tahu kamu. Ini begitu sulit untuk kami apalagi untuk kamu" jelas mama Maya.


"tapi maafkan aku ma, aku akan tetap mencarinya. Aku harus tau kenapa orang tuaku membuangku" Faya berkeras.


Mama Maya mengangguk. Dia beranjak lalu menepuk pundak Faya.


"mama mau masak makanan favoritmu, kamu istirahat saja dulu" pamit mama Maya.


Faya mengangguk.


*


Setelah makan malam berdua, Andra mengantar Narra pulang kerumah dan langsung berpamitan setelahnya.


Narra masuk kedalam kamarnya. Dia meletakan tas selempangnya, mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu berbaring di tempat tidur.


Dia mengirim pesan.


[Fay, kamu sudah pulang kerumah ?]


Tak lama Faya membalas.


[iya Na, seperti yang kamu mau]


[tapi aku ingin itu juga atas kemauanmu Fay]


[iya, aku mengerti. Aku senang bisa pulang kerumah. Mama lagi masak makanan favoritku]


pesan Faya.


[pasti enak.. sudah lama aku tidak makan masakan mama]


pesan Narra.

__ADS_1


[kamu mau aku antarkan ?]


Faya senyum sendiri setelah mengirimkan pesannya.


[aku sudah makan Fay, lain kali saja ya]


balas Narra.


"padahal kalo kamu mau, aku bisa bawakan untuk kamu Na" gumam Faya seraya memandang keluar jendela kamarnya.


Dari situ bisa terlihat jelas rumah Narra yang hanya terpisah beberapa rumah saja dari rumahnya.


*


Narra sarapan bersama kedua orang tuanya dan Rayyan. Menu sederhana buatan kolaborasi ayah dan ibunya.


"kamu mau mengundang siapa di acara lamaranmu ?" tanya ibu Flanella.


Narra berpikir, "tidak ada selain Friends dan orang tuanya. Aku hanya mau keluarga inti dan mereka saja. Yang lain, kita bisa mengundang mereka nanti saat hari pernikahan" jelasnya.


"iya, kalo orang tua Friends sudah ayah dan ibu beritahu" jawab ibu Flanella.


"ayah juga sudah menghubungi saudara pihak ayah dan ibu. Kita mengundang mereka nanti saat hari pernikahan" jelas ayah Sasmita.


"aku juga hanya mengundang Rasta saja" sahut Rayyan.


Narra mengangguk.


"something spesial ?" tanya ibu Flanella dengan bahasa inggris yang lancar.


"blum ada. Ibu dan ayah tenang, setelah Narra.. aku akan mencari calon pengantinku" sahut Rayyan.


"ayah dan ibu selalu menunggu. Kami berharap anak-anak kami selalu berbahagia" sahut ayah Sasmita.


"terima kasih ayah, ibu" ucap Rayyan.


"aku punya berita baik, Faya sudah pulang kerumahnya" kata Narra.


"syukurlah, ayah senang dengarnya" sahut ayah Sasmita.


"ibu juga, semoga mereka selalu berbahagia" sahut ibu Flanella.


"jadi dia sudah menemukan apa yang dia cari ?" tanya Rayyan.


Narra menggeleng tetapi dalam kepalanya terlintas peristiwa kebetulan yang belum sempat dia cari tahu kebenarannya karena sibuk dengan persiapan acara lamarannya.


Mungkin setelah ini, aku akan bicara pada kak Rayyan. Aku harus merahasiakan hal ini dulu dari Friends sampai aku dapat kebenarannya. Ucap Narra dalam hati.


"semoga Faya bisa mendapatkan apa yang dia cari" sahut ayah Sasmita.


"Aamiin" koor semuanya.


Tiba-tiba ponsel Rayyan berdering.


Rayyan memandang Narra yang terlihat biasa saja.


Ya, adiknya mengirimkan pesan padahal jarak mereka sangat dekat. Dia segera membacanya tanpa menimbulkan curiga karena dia mengerti kalau Narra pasti tidak ingin ayah dan ibu mereka tahu sampai harus bicara lewat pesan.


[nanti siang kakak sibuk ?]


[tidak, ada apa ?]


tanya Rayyan.


[aku ingin bicara, kita ketemu makan siang bersama bagaimana ?]


balas Narra lagi.


[baiklah, nanti kakak jemput kamu di kantor nanti siang]


[iya kak]


Rayyan memandang Narra, dia melihat Narra kembali menghabiskan sarapannya. Dia pun melakukan hal yang sama, tetapi pikirannya dipenuhi pertanyaan apa yang hendak adiknya bicarakan sehingga harus ditutupi dari kedua orang tua mereka.

__ADS_1


Rayyan tidak sabar menunggu.


***


__ADS_2