
Andra datang menemui Narra seperti yang dia janjikan.
Dia membawa martabak telur sesuai pesanan Narra.
Andra tersenyum pada Narra yang berdiri di teras menyambut kedatangannya.
Narra lebih senang lagi karena melihat senyuman Andra. Dia sengaja meminta membawa martabak karena dia ingin memberi tahu Andra pelan-pelan apa saja yang dia suka dan tidak suka.
Narra mencoba mengerti sisi Andra.
Andra mencintainya, tapi cowok itu terlalu mencintainya sampai lupa tentang dirinya. Tapi dia tidak mempermasalahkan itu, baginya sikap Andra yang selalu memprioritaskan hubungan mereka itu yang penting.
"sayang, kamu baik-baik saja ?" tanya Andra seraya mengusap pipi Narra.
Mereka duduk di kursi teras seperti biasanya.
"iya, maaf ka Nda. Aku tidak mau ka Nda salah paham antara aku dan Sheva. Kami cuma makan siang. Itu saja" jelas Narra.
"ceritakan semua sama aku" ujar Andra seraya mengelus punggung tangan Narra.
Narra pun menceritakan pertemuannya dengan Sheva sampai dengan pertemuannya dengan Ardhan.
Satu hal yang Narra tidak ceritakan adalah tentang kecelakaan yang dia alami.
Selain dia baik-baik saja, dia juga tidak mau membuat Andra khawatir dan merasa bersalah. Hal itu akan memicu reaksi berlebihan Andra.
"kalo ada apa-apa, bilang sama aku" Andra menepuk punggung tangan Narra.
"tapi kakak janji, yang tentang Sheva tadi jadi rahasia kita ya" kata Narra.
"iya sayang, percaya sama aku" Andra meyakinkan.
Sebuah mobil pick up berhenti di depan rumah. Narra mengenali itu mobil bengkel Rayyan.
Rasta masuk ke halaman dengan mendorong motor Narra.
"hai Na" sapa Rasta.
"hai kak Rasta, aku panggil kak Rayyan dulu" Narra bergegas masuk kedalam.
Rasta mendorong motor Narra sampai bersebelahan dengan motor Rayyan di garasi.
Tak lama Rayyan keluar bersama kedua orang tua mereka.
"aku bawa motor Narra sekarang karena aku besok pagi sudah di bandara" jelas Rasta.
"seharusnya kamu tidak perlu repot begini, biar aku yang lanjutkan" ujar Rayyan.
"tidak apa Ray" kata Rasta.
"memangnya kamu mau kemana ?" tanya ibu Flanella.
"ibuku sakit di kota P bu, aku diminta segera pulang" jelas Rasta.
"semoga ibumu cepat sembuh ya" ucap ibu Flanella.
"terima kasih banyak" ucap Rasta.
Setelah melihat motor Narra bersama Rayyan, Rasta pamit pulang. Narra tidak lupa mengucapkan terima kasih pada rekan kerja kakaknya itu.
"terima kasih banyak kak Rasta" ucap Narra.
"sama-sama Na, harus lebih hati-hati lagi ya" pesan Rasta.
"iya kak" Narra tersenyum.
Andra memandang Narra.
Ada apa ini ? ada yang belum Narra ceritakan padanya.
Rayyan mengantar Rasta menuju mobil pick up bengkel.
Setelah Rasta pergi, Rayyan pun masuk kembali kedalam rumah bersama kedua orang tuanya.
Tinggallah Narra yang berusaha bersikap biasa, padahal Andra memandang dia dengan tatapan tanya.
"motor kamu kenapa ?" tanya Andra.
"aku... aku mau cerita tapi aku takut kakak khawatir" Narra tertunduk.
Andra menghela nafas.
Dia tahu Narra takut padanya. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya tentang apa yang terjadi pada kekasihnya itu.
Dia mau Narra selalu memberitahu apapun padanya.
*
__ADS_1
Taman kompleks rumah ...
Andra memandang Narra yang berjalan berdampingan dengannya, tangannya terus saja menggenggam erat jemari kekasihnya.
Mereka duduk di tempat lalu mereka singgah kesini, sepertinya Andra menyukai duduk disitu karena tidak terlalu dekat lapangan basket tapi bisa melihat jelas permainan basket.
"Hai Na" Imel melambaikan tangan.
Dia sedang bermain basket dengan teman-teman kompleks.
Narra membalas lambaian tangan Imel.
Tadi Imel sudah memberi tahu di grup kalau mau main basket di taman.
"sekarang ceritakan sama aku" ujar Andra.
Narra pun menceritakan peristiwa kecelakaan itu. Dan seperti dugaan Narra, Andra marah pada dirinya sendiri dan merasa bersalah.
"ka Nda, aku tidak apa-apa" Narra mencoba menenangkan Andra.
"andai saja aku tidak bersikap begitu, kamu tentu tidak kepikiran" katanya.
"iya, tapi aku baik-baik saja. Aku tidak mau kakak melukai diri kakak lagi. Aku tidak mau" Narra berlari meninggalkan Andra.
Dengan bergegas Andra mengejar Narra.
Andra menarik tangan Narra.
"jangan pergi, aku mohon" katanya.
"aku tidak sanggup liat ada luka lagi pada diri kakak" Narra terisak.
"iya iya, aku minta maaf. Aku akan baik-baik saja" Andra memeluk Narra.
"kakak janji ?" Narra melepaskan pelukannya.
"iya aku janji" ucap Andra akhirnya.
*
Narra tersenyum sendiri di depan cermin. Pagi ini Andra akan menjemputnya sama-sama ke kantor.
"semoga semuanya selalu baik-baik saja" ucap Narra berharap.
"Na, Andra sudah datang" teriak Rayyan.
Narra menemui Andra di ruang tamu.
"kita pergi sekarang, aku mau ajak kamu sarapan di luar" kata Andra.
Narra mengangguk.
Mereka pun pamit kepada orang tua Narra dan Rayyan.
Andra mengajak Narra sarapan bubur ayam di taman kota. Sebenarnya Narra tidak begitu suka bubur ayam tapi melihat Andra begitu senang, Narra memaksakan diri untuk menikmati buburnya.
"kamu kenapa sayang ?" tanya Andra.
Dia melihat Narra pelan-pelan menyendok bubur masuk kedalam mulutnya.
"tidak apa ka Nda" Narra mencoba tersenyum.
Andra pun melanjutkan makannya.
Sampai di kantor, Narra tidak bisa konsentrasi. Dari tadi perutnya sakit sekali, hingga harus bolak balik ke toilet.
Erick yang melintasi meja Narra menuju ruangan Arjuna hanya bisa geleng kepala melihat Narra.
"kamu sudah minum obat Na ?" tanya Erick.
Narra menggeleng.
"aku minta tolong OB dulu" Erick meraih ponselnya.
"pak Erick, tolong pak" Narra terjatuh dari kursinya. Tubuhnya luruh ke lantai.
Dengan segera Erick mengangkat tubuh Narra.
"pak Juna, maaf pak juna" panggil Erick di depan pintu ruangan Arjuna dengan posisi Narra sudah berada dalam gendongannya.
Arjuna keluar dari ruangannya.
"ada apa Rick, Narra kenapa ?" dia heran melihat Narra di gendongan Erick.
"Narra pingsan pak, saya izin bawa Narra ke klinik" ujar Erick.
"jangan, langsung ke rumah sakit A Medika saja. Aku tidak mau Narra kenapa-napa" kata Arjuna.
__ADS_1
"baik pak" Erick bergegas masuk kedalam lift.
Arjuna mengikuti Erick.
*
Andra yang sedang meeting dengan team keuangannya merasa gelisah, sepertinya ada sesuatu. Dia kepikiran Narra terus dari tadi.
"pak Andra, bapak baik-baik saja ?" tanya Alex.
Andra mengangguk. Dia meraih ponselnya lalu menghubungi ponsel Narra tapi tidak ada jawaban.
"baik, kita lanjutkan" ujar Andra akhirnya setelah meletakan ponselnya diatas meja.
Andra kembali melanjutkan meetingnya.
Sementara itu,
Arjuna dan Erick masih mengurus Narra yang masuk IGD.
"pak, apa kita beritahu hal ini pada keluarga Narra ?" tanya Erick.
Arjuna menggeleng, dia bingung. Pasti keluarga Narra sangat khawatir.
"aku akan menelfon pak Andra dulu. Sebagai calon suami, beliau saja yang beritahu keluarga Narra" terang Arjuna.
Arjuna menghubungi Andra tapi Andra tidak menjawab ponselnya.
Arjuna akhirnya menghubungi Indra.
"iya Juna" sahut Indra Hadinata.
"In, Narra ada di IGD A Medika sekarang"
"apa ? aku segera kesana" Indra segera keluar dari ruangannya. Dia menuju ruang IGD di lantai dasar.
"aku masuk dulu" kata Indra pada Arjuna dan Erick.
Arjuna dan Erick hanya mengangguk.
Andra yang baru saja selesai meeting melihat panggilan ponselnya. Tadi dia sengaja mengganti mode silent pada ponselnya karena akan memimpin meeting.
Ada panggilan dari boss Narra.
Andra pun menghubungi Arjuna.
"iya pak Andra" jawab Arjuna.
"pak Juna telfon saya, ada apa ?" tanya Andra.
"Narra sekarang ada di IGD rumah sakit A Medika. Kami belum menghubungi keluarganya karena masih bingung" jelas Arjuna.
"apa ? bagaimana keadaannya ?" tanya Andra.
"masih di tangani dokter pak, Indra juga barusan masuk kedalam" jelas Arjuna.
Andra segera menutup telfonnya.
"Lex, cancel semua urusanku hari ini. Narra masuk IGD" kata Andra seraya berjalan cepat keluar dari ruang meeting.
"baik pak Andra" ujar Alex.
Andra bergegas menuju lift. Pikirannya sekarang hanya Narra.
Dia menaiki mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Dia berusaha secepatnya sampai kerumah sakit.
Tadi pagi Narra baik-baik saja, kenapa sekarang Narra masuk IGD ? apa yang terjadi. Pikiran Andra terus berkecamuk, tapi dia berusaha untuk tetap konsen mengemudi.
"aku datang sayang, kamu harus baik-baik saja" ucap Andra khawatir.
Andra menekan tombol pada layar ponselnya, lalu menekan tombol pada headset dan memakainya di telinganya.
"iya Andra" suara Rayyan.
"Narra sekarang ada di IGD A Medika. Aku sedang menuju kesana"
"apa ? kenapa bisa ?"
"aku juga tidak tau, bossnya Narra yang memberitahu aku"
"baik, aku segera kesana" Rayyan mengakhiri panggilannya.
Untung saja Andra sudah menyimpan nomor telfon Rayyan dan Rania di ponselnya.
"kamu baik-baik ya sayang, aku datang" Andra kembali konsentrasi mengemudi.
***
__ADS_1