
Ayah Sasmita berhasil ditangani dengan baik karena shock mendengar berita musibah Rayyan dan Narra.
Ayah Hadinata, bunda Serena serta Diandra menemani ibu Flanella masuk kedalam ruang inap.
"seharusnya aku tidak membiarkan Narra pergi. Seharusnya aku tidak memisahkan mereka" isak ayah Sasmita.
Dia menyesal.
Ibu Flanella mendekat. Dia memeluk suaminya.
"ini sudah takdir, tapi aku mohon setelah ini jangan pisahkan mereka lagi. Andra pria yang baik untuk Narra" ucap ibu Flanella.
"maafkan aku, karena keegoisanku membuat kedua anak kita celaka" kata ayah Sasmita lagi.
Ibu Flanella melepas pelukannya.
Ayah Sasmita memandang ayah Hadinata Wijaya.
"dokter, maafkan saya yang terlalu keras kepala. Maafkan saya yang tidak mengerti perasaan putra anda" ucap ayah Sasmita menangkup kedua tangannya di depan dada.
Ayah Hadinata mendekat lalu memegang tangan calon besannya itu dengan kedua tangannya.
"pak Sasmita, kami sekeluarga mengerti. Kita lupakan saja semua, yang terpenting sekarang Narra cepat sadar" kata ayah Hadinata.
"apa ?! ahhhh... Narra belum sadar ?" ayah Sasmita memegang dadanya.
"tenang pak Sasmita, bapak harus tenang dan bisa mengontrol emosi anda. Ingat jantung anda" ayah Hadinata mengingatkan.
"saya ingin bertemu Narra" ucap ayah Sasmita.
Ibu Flanella memandang dokter Hadinata. Seakan meminta persetujuan dari dokter yang menangani suaminya itu.
"baiklah, kita akan bersama-sama kesana. Saya akan menyiapkan semuanya" ujar ayah Hadinata lalu pamit.
*
Ayah Sasmita meneteskan air mata melihat Narra yang terbaring lemah di ICU. Dia mendorong kursi rodanya agar mendekat pada putrinya.
"maafkan ayah sayang, maafkan ayah" katanya dengan mengenggam jemari putrinya.
"ayah, sudah.. kita berdoa untuk putri kita" kata ibu Flanella.
Ayah Sasmita mengangguk.
"kita keluar sekarang ?" tanya ibu Flanella.
Ayah Sasmita mengangguk.
Ibu Flanella lalu mendorong kursi roda suaminya keluar dari ruang ICU.
Di luar, ayah Sasmita bertemu mata dengan Andra yang baru datang dari toilet yang tidak jauh dari koridor ICU. Tadi mereka datang, Andra tidak berada disana.
"An...." panggil ayah Sasmita.
Andra mendekat dan jongkok di depan calon ayah mertuanya.
"ayah minta maaf karena memisahkan kamu dengan Narra. Sekali lagi ayah minta maaf" ucap ayah Sasmita.
Andra menggeleng, "ayah tidak salah, Andra mengerti" katanya.
Rayyan mendorong kursi rodanya kearah Andra. Tadi sebelum mereka keruang ICU, mereka menemui Rayyan dulu di ruang rawat inapnya. Rania menemani adiknya disana, dia mengambil cuti agar dapat mengurusi keluarganya.
"bagaimana hasil penyelidikan polisi ?" tanyanya.
Andra beranjak berdiri. Semua memandangnya menunggu penjelasan.
__ADS_1
"polisi sudah menuju satu titik, hari ini dalang dari musibah ini akan segera ditangkap setelah surat perintahnya keluar" kata Andra.
"jadi ini bukan kecelakaan murni, ada sabotase ?" tanya ayah Sasmita.
Andra mengangguk.
"ada yang merusak rem mobil ayah. Karena Rayyan mengemudi mobil dengan kecepatan sedang, mereka mengirim truk tronton yang melewati jalur agar Rayyan kehilangan fokus mengemudi sehingga terjadi kecelakaan itu. Dan Jeniffer.." Andra memandang keluarganya.
"apa hubungannya dengan Jeniffer ?" tanya bunda Serena.
"Jeniffer orang yang tepat di waktu yang salah" kata Andra.
"maksudnya ?" tanya Diandra.
"Jeniffer datang kerumah sakit dengan alasan menemuiku tapi tidak jadi, orang suruhan pelaku melakukan rekayasa seolah mereka ingin melecehkan Jeniffer. Saat security fokus membantu Jeniffer, mereka bisa leluasa mengutak atik mobil ayah" jelas Andra.
"siapa pelaku sebenarnya ?" tanya ayah Sasmita tidak sabar.
Andra menghela nafas.
"Raihan Kusuma" kata Andra akhirnya.
Ayah Hadinata menggelengkan kepalanya.
Belum cukup dia menghancurkan usaha keluarga Narra sekarang dia ingin menghancurkan Narra. Pikirnya.
"semoga dia membusuk di penjara" umpat ayah Sasmita geram.
Ibu Flanella mengusap punggung suaminya.
Diandra merangkul bunda Serena yang tampak masih shock.
"dia sungguh tega" bunda Serena terisak.
Andra mendekat pada bundanya, dia memeluk bundanya.
*
Dia tidak menyangka pria itu yang kenyataannya ada papanya sangat kejam hingga berusaha menghilangkan nyawa wanita yang dia cintai.
Tidak lama menunggu, Raihan Kusuma keluar dari sel dan duduk di bangku kunjungan. Mereka saling memandang sinis.
"anda sangat keterlaluan ! anda mencelakai Narra" kata Ardhan.
"wanita itu menghancurkan keluargaku" balas Raihan Kusuma.
"keluarga anda ? keluarga yang selalu anda tinggalkan dengan alasan bisnis ? keluarga yang hanya anda jadikan pajangan ? keluarga yang anda manfaatkan menuruti semua kemauan anda tanpa memikirkan perasaan kami" balas Ardhan.
"jaga bicaramu ! papa melakukan itu demi kalian, agar kalian bisa hidup enak" balas Raihan Kusuma.
"tapi tidak dengan menghancurkan hidup orang lain !" balas Ardhan.
"karena wanita itu kamu jadi membantah papa !" bentak Raihan Kusuma.
"karena apa yang anda lakukan itu salah" balas Ardhan.
Dia tidak sekalipun menyebut pria yang berada di depannya dengan panggilan papa.
Raihan Kusuma beranjak berdiri.
"pak, saya mau masuk kedalam" katanya pada penjaga.
Ardhan hanya memandang papanya, dia pun beranjak pergi dan diikuti Mike.
*
__ADS_1
Faya menemani papa Farid dan mama Maya mengunjungi Narra. Kemarin Rayyan sudah diperbolehkan pulang.
Papa Farid dan mama Maya menemui Andra. Pria itu mempersilahkan orang tua Faya itu masuk.
"akhirnya pelaku kejadian ini tertangkap" kata Faya membuka pembicaraan. Dia tidak ikut masuk kedalam bersama orang tuanya.
Andra hanya mengangguk. Dia duduk di kursi tunggu. Sejujurnya dia sangat lelah karena menghabiskan waktunya di rumah sakit tapi itu adalah keinginannya sendiri. Dia yang tidak mau jauh dari Narra, dia ingin berada dekat Narra saat kekasihnya itu membuka mata.
"bro" sapa Alex.
"Lex, semuanya baik-baik saja ?" tanya Andra.
Biasanya asistennya itu datang siang hari untuk urusan berkas pekerjaan, tapi kali ini Alex datang malam hari.
"aku datang untuk menemanimu. Ini ada makanan dan minuman, sebaiknya kamu makan dan istirahat. Aku akan menjaga Narra saat kamu istirahat" jelas Alex.
"terima kasih Lex, aku sudah makan tadi di kantin rumah sakit. Aku ingin tidur sebentar, kamu disini ya" kata Andra menunjuk kursi kosong disebelahnya.
Alex menurut. Dia meletakan bungkusan yang dibawanya di kursi kosong sebelahnya.
Andra pun memejamkan matanya. Dia ingin sejenak melepaskan lelahnya.
Faya yang melihat hal itu merasa begitu besar cinta Andra untuk Narra. Tapi salahkah dia bila dia juga memiliki cinta untuk Narra.
Alex melihat Faya terus memandang Andra mencoba bersikap biasa. Dia hanya membalas Faya dengan senyuman saat pandangan mereka bertemu.
Tak lama Desta datang. Dia duduk disebelah Faya, mereka duduk bersama tanpa adanya percakapan. Masih canggung.
Setelah mama Maya dan papa Farid keluar, Desta masuk kedalam dan hanya menyapa kedua orang tua Faya saja.
"kita pulang ma, pa" ajak Faya.
"kamu tidak ingin melihat Narra ?" tanya mama Maya.
"aku bisa kesini lagi besok" jawab Faya. Padahal dia tidak ingin bertemu dengan Desta.
"sepertinya Andra sangat lelah" kata mama Maya melihat Andra yang tertidur di kursi.
"dia tidak mau beranjak sebentar dari rumah sakit ini" kata Alex.
"biarkan dia istirahat, kami pulang. Sampaikan salam kami saat dia bangun. Permisi" kata papa Farid.
"baik, terima kasih kedatangannya" balas Alex.
Faya pun beranjak bersama kedua orang tuanya. Mereka tidak menunggu hingga Desta keluar.
*
Desta memandang Narra. Selama mereka bersahabat, bisa dibilang Narra selalu bersikap netral dan mendamaikan para sahabatnya yang berselisih.
"Na, maafkan aku. Karenaku semua jadi berantakan. Persahabatan kita seperti tidak ada lagi. Mereka semua membenciku" kata Desta.
"padahal aku hanya ingin kita saling melepaskan satu sama lain tapi kenapa jadi canggung begini" lanjutnya lagi.
Desta menghela nafas. Dia sangat merindukan kebersamaan mereka.
"Na, cepat bangun. Bantu aku menyelesaikan ini semua"
Air mata Desta menetes.
Perlahan Desta mengusap kepala Narra, "aku akan berada disini malam ini. Cepatlah bangun, kami semua menunggumu" katanya.
Desta menghapus air matanya lalu beranjak keluar.
Tanpa dia sadari, Narra meneteskan air mata.
__ADS_1
Ya, Narra bangun dari komanya saat Desta mulai bercerita.
***