FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 50.1


__ADS_3

Ayah Sasmita langsung ditangani di ruang khusus oleh ayah Hadinata, team dokternya dan Andra.


Narra dan keluarganya menunggu di luar dengan perasaan cemas.


Rania duduk memeluk ibu Flanella untuk menenangkannya.


Narra berada diantara bunda Serena dan Diandra.


Friends dan keluarganya berada tidak jauh dari mereka bersama Rayyan.


Sementara Alex berada di ruang kerja ayah Hadinata di rumah sakit. Dia mengawasi anak buahnya yang menjaga nyonya Heranata Wijaya dan tuan Armand Jaidi.


"kalian jaga dia sampai tuan besar kembali. Jangan sampai lolos bahkan ke kamar mandi pun kalian harus menjaganya" Alex memberi perintah.


"baik tuan Alex" penjaga itu membungkuk hormat bersamaan dengan teman-temannya yang lain.


"jangan sembarangan, aku wanita bagaimana bisa mereka masuk bersamaku ke toilet" nyonya Heranata tidak terima.


"itu masalah anda nyonya, saya permisi" kata Alex seraya berlalu meninggalkan ruangan.


"dasar asisten sialan, beraninya dia padaku" geram nyonya Heranata Wijaya.


"sudah diamlah, lebih baik sekarang kita pikirkan nasib kita" sergah suaminya.


"ini semua karena Raihan Kusuma, dia menjebak kita" balas Heranata Wijaya.


"aku sudah bilang dari awal kalo dia punya niat jahat tapi kamu tidak percaya karena di butakan uang" sahut Armand Jaidi.


"jangan menyalahkanku kamu juga menikmati uang Raihan Kusuma" balas Heranata Wijaya.


Armand Jaidi terdiam. Istrinya benar, mereka berdua berfoya-foya dengan uang yang diberikan Raihan Kusuma karena kerjasama mereka.


*


"bagaimana ayah ? aku pikir operasi jalan satu-satunya untuk membuat kondisi ayah Sasmita stabil" Andra mengungkapkan pendapatnya.


Ayah Hadinata melihat ayah Sasmita yang terbaring di brankar.


Mereka sedang rapat team dokter setelah memberi pertolongan pada pasien.


"saya rasa begitu dok, jantungnya tidak berfungsi dengan baik. Bisa jadi tidak akan kuat menahan serangan lagi" ujar salah satu rekan dokter ayah Hadinata.


Ayah Hadinata mangut.


"saya sudah mempelajarinya selama menangani beliau dan memang harus operasi tetapi pasien sampai sekarang belum mau melakukannya" jelasnya.


"kita bicara pada keluarga Sasmita yah, mereka pasti ingin yang terbaik untuk ayah Sasmita" saran Andra.


Ayah Hadinata Wijaya mengangguk.


*


Pintu ruangan khusus terbuka. Team dokter yang terdiri dari ayah Hadinata dan Andra mendekat pada ibu Flanella.


Semua beranjak berdiri. Mereka menunggu apa yang akan disampaikan oleh ayah Hadinata.


"kami sudah menangani pasien tapi sekarang pasien masih belum sadarkan diri. Melalui pemeriksaan kami, jantung pak Sasmita tidak berfungsi dengan baik. Selama ini beliau menjalani pengobatan dan rutin minum obat yang diberikan tapi itu tidak menyembuhkan secara keseluruhan. Pak Sasmita harus menjalani operasi" jelas ayah Hadinata.


"operasi dok ? jadi selama ini suami saya punya penyakit jantung ?" tanya ibu Flanella.


"saya minta maaf ibu, pak Sasmita pasien saya tetapi beliau yang meminta saya untuk tidak memberi tahu kalian tentang penyakitnya saat kita bertemu di ruang inap Narra lalu. Beliau tidak ingin kalian khawatir padanya, katanya kalian sudah mengalami kesusahan karena beliau dan beliau tidak akan menambahnya lagi" jelas ayah Hadinata mengulang apa yang dikatakan ayah Sasmita padanya.


"ayah...." ibu Flanella jatuh luruh kelantai. Beliau menangis tersedu.


Narra dan Rania duduk memeluk ibu mereka.


"lakukan operasinya dokter, sebagai anak lelaki beliau.. saya yang akan menandatangani persetujuannya" kata Rayyan mantap.


Narra dan Rania memandang Rayyan. Mereka mengangguk setuju.

__ADS_1


"kami akan mempersiapkan semuanya, kalian bisa masuk untuk melihat beliau tapi satu-satu karena kondisi beliau yang belum stabil" kata ayah Hadinata lalu berlalu bersama teamnya.


Bunda Serena, Diandra, Indra dan Andra masih bertahan disana.


"maaf nyonya, semuanya sudah siap di ruang meeting" lapor Alex.


Bunda Serena meminta Alex untuk memesan makan malam untuk mereka semua.


"terima kasih, kamu susul suamiku bilang beliau untuk makan malam bersama kami" kata bunda Serena.


"baik nyonya" Alex pamit.


Bunda Serena menekuk lututnya dihadapan ibu Flanella.


"kita makan dulu bu" katanya.


Ibu Flanella menggelengkan kepalanya.


"ibu harus makan, ibu harus kuat demi pak Sasmita" bujuk bunda Serena.


"ibu, kita makan dulu ya. Kami semua akan disini bersama ibu" sahut Rania.


Dia sudah meminta izin pada suaminya untuk menjaga ayah Sasmita di rumah sakit dan Adryan mengizinkan. Dia membawa Rishi pulang karena bocah itu sudah keliatan lelah dan mengantuk.


Ibu Flanella memandang kedua putrinya. Beliau lalu mengangguk.


Rania dan Narra membantu ibu mereka berdiri. Hal yang sama juga dilakukan Diandra membantu bundanya untuk berdiri.


Mereka semua mengajak yang lainnya untuk menuju ruang meeting. Mereka akan makan malam disana.


Andra mendekati Narra. Dia berjalan bersebelahan dengan tunangannya itu. Sesekali dia melirik Narra dengan rasa khawatir.


*


Setelah makan malam, satu persatu dari Friends dan keluarganya pamit pulang. Tinggal Narra, ibu, kedua kakaknya dan keluarga Andra disana.


Ibu Flanella masuk kedalam menemui suaminya.


"mereka masih di ruangan ayah, di jaga ketat oleh anak buah Alex. Mereka juga sudah makan, bunda tenang saja" kata ayah Hadinata.


"mereka masih disini ?" tanya Rayyan yang mendengar pembicaraan suami istri tersebut.


"iya" jawab ayah Hadinata memandang Rayyan.


"aku ingin bertemu mereka" sahut Rayyan.


"Ray, kamu harus tenang dan jangan emosi" kata Rania.


"iya kak, mereka harus menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya" kata Rayyan.


Ayah Hadinata mengajak Rayyan keruangannya. Narra beranjak ingin menyusul tapi Andra mencegahnya.


"kamu mau kemana sayang ?" tanya Andra.


"menemui mereka" kata Narra seraya berjalan mendahului Andra.


Andra segera menyusul Narra.


Tinggallah bunda Serena dan Diandra yang menemani Rania.


*


Heranata dan Armand tertunduk mendapati tatapan tajam dari Hadinata Wijaya, Rayyan, Narra dan Andra.


"jelaskan padaku apa yang sudah kalian lakukan pada keluarga Sasmita ?" tanya ayah Hadinata.


"itu semua rencana Raihan Kusuma, kami tidak tahu apa-apa" sahut Heranata Wijaya.


"jelaskan kak !" bentak Hadinata Wijaya.

__ADS_1


"kamu berani membentakku Hadinata ?!" Heranata Wijaya menggeleng tidak percaya.


"aku yang akan menjelaskannya" sergah Armand Jaidi.


Dia lalu menghela nafas, kemudian menceritakan semua yang terjadi kepada mereka.


Berawal dari Raihan Kusuma yang meminta mereka untuk menjadi investor restorant milik keluarga Sasmita. Tetapi Setelah mereka berhasil mendapatkan perjanjian kerjasama itu, Raihan Kusuma meminta mereka pergi dari negeri ini dengan berkas-berkas semuanya ditangan Raihan Kusuma. Setelah lama menghilang, Raihan Kusuma menelfon dan bilang kalau mereka bisa kembali. Saat mereka kembali, restorant keluarga Sasmita sudah rata dengan tanah.


"Raihan Kusuma !!!" Rayyan geram.


"maafkan aku kak, ini semua karena aku" ucap Narra.


Rayyan menggeleng, "bukan salah kamu, ini karena kesombongan mereka" sergahnya.


Mereka tidak menyadari sedari tadi ada yang mendengar dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.


Sosok itu mengepal kuat. Dia sangat marah saat pada orang yang menyebabkan kehancuran keluarga Narra dan orang itu tidak lain adalah papanya sendiri.


"kakak.. papa tidak mungkin sampai sejahat itu" kata Arini mencoba menenangkan Ardhan. Dia juga ikut mendengar penjelasan tuan Armand Jaidi.


"jangan membelanya Arini ! kamu sangat tahu, segala cara bisa dia lakukan untuk mencapai tujuannya. Termasuk menghancurkan orang lain" kata Ardhan marah.


Pandangannya kini beralih pada Arsen yang berada dibelakang Arini.


"kamu kenapa bisa ada disini ?" tanya Ardhan. Dia tahu Arsen pernah menjadi anak buah papanya.


"aku berada di acara itu sebagai bawahan tuan Desta" kata Arsen.


"kalian bersama ?" tanyanya pada Arini karena dia tahu kenapa Arsen dipecat papanya.


Karena lelaki itu berani jatuh cinta pada adiknya.


"dia yang mencegahku masuk ketempat acara itu kak" Arini memberi alasan.


Tiba-tiba semua yang berada di ruangan ayah Hadinata keluar.


Mereka terkejut dan saling pandang.


Narra mendekati Ardhan dan memukuli dadanya bertubi-tubi. Ardhan tidak melawan, dia membiarkan Narra melampiaskan emosinya.


"ini semua karena kamu, seharusnya aku tidak pernah bertemu kamu, seharusnya kita tidak pernah bersama. Aku benci !!!!" teriak Narra.


Andra segera menarik Narra. Dia memeluk tunangannya itu erat.


"sudah sayang, tenangkan dirimu" katanya seraya mengusap belakang Narra.


"maafkan aku Na, aku tidak menyangka papaku setega itu pada kalian" ucap Ardhan lirih.


"sekarang kamu sudah tau bagaimana papamu, sekarang jauhi kehidupan kami. Pergi sejauh-jauhnya dari kami" sahut Rayyan.


Ardhan menggeleng kuat.


"aku tidak bisa Ray, aku mencintai Narra. Aku tidak ingin jauh dari dia" tolaknya.


"kita sudah berakhir !!!!" bentak Narra seraya melepaskan pelukan Andra.


Semua kaget. Mereka tidak menyangka Narra akan sangat emosi seperti itu.


"aku harus bagaimana agar kamu berhenti hah ! aku lelah, aku muak, aku benci" Narra terisak.


"na, kamu menyalahkan aku dan pertemuan kita akibat semua ini. Apa sebegitu bencinya kamu sampai tidak ada sedikitpun kenangan indah kita di hatimu" Ardhan menatap Narra sendu.


"semua kenangan indah itu hilang saat kamu pergi, saat papamu dan orang-orangnya perlahan menghancurkan pencapaianku. Aku menerima semua itu tapi aku tidak terima ternyata papamu membuat ayahku hancur sehancur-hancurnya Ardhan. Kenapa harus ayahku, kenapa bukan aku saja" balas Narra.


"Na, aku akan membalas semuanya pada papaku" sahut Ardhan.


"tidak perlu, itu urusanku" sahut Rayyan.


"kami tidak ingin berhutang apa-apa denganmu" lanjutnya lagi.

__ADS_1


"yang kamu lakukan hanya tinggalkan aku, biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang" ucap Narra.


***


__ADS_2