FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 63.1


__ADS_3

Narra menerima tante Melani di ruang tamu.


"maaf tante, Narra baru selesai mandi" kata Narra yang merasa tidak enak membuat istri dari pengusaha Telekomunikasi dan beberapa perusahaan besar lainnya itu menunggu.


"tidak apa Na, bagaimana keadaanmu ?" tanya tante Melani.


"aku sudah merasa lebih baik tante" jawab Narra.


Tak lama bik Minah membawakan minuman untuk tamunya. Akhirnya pelayan rumah Narra itu kembali bersama mereka setelah beberapa tahun pulang kampung karena kebangkrutan keluarga Sasmita.


Sebenarnya bik Minah ingin terus bersama keluarga Narra walaupun tidak digaji juga tidak masalah karena dia sudah mengganggap keluarga Sasmita seperti keluarganya sendiri, hanya saja ayah Sasmita dan ibu Flanella tidak ingin lebih menyusahkan bik Minah karena wanita paruh baya itu mempunyai anak yang masih bersekolah dan juga kuliah. Mereka pun memutuskan untuk memberi uang pesangon dan gaji agar bik Minah bisa membuka usaha di kampungnya.


Dan sekarang karena memikirkan kondisi ayah Sasmita dan Narra yang masih dalam tahap pemulihan, ibu Flanella merasa kelelahan kalau harus sendirian mengurus semuanya sehingga dia meminta bik Minah untuk kembali bekerja. Dan beruntungnya bik Minah menerima kembali bekerja di rumah keluarga Sasmita.


"terima kasih bik" kata Narra.


"sama-sama non" jawab bik Minah lalu pamit kembali kebelakang.


"tante sudah bertemu ibumu di kedai, ayahmu katanya ada dalam kamar" terang tante Melani.


"iya tante, ayah harus banyak istirahat" kata Narra.


Tante Melani kelihatan gelisah, sepertinya ada yang ingin dia katakan tapi tertahan.


"ada apa tante ?" tanya Narra.


"hmmm teman-teman kamu tidak kesini ?" tanya tante Melani.


"mereka sedang sibuk tante, kalo ada waktu luang baru kesini. Kenapa tante menanyakan mereka ?" tanya Narra.


"ah tidak, tante hanya bertanya saja soalnya mereka selalu ada saat kamu di rawat di rumah sakit" kata tante Melani.


"oo iya tante" sahut Narra.


Setelah hampir sejam tante Melani dan Narra berbincang, tak dirasa sudah hampir jam makan siang. Narra mengajak tante Melani makan siang bersama.


Awalnya tante Melani menolak secara halus dengan alasan hendak ke kantor suaminya tapi setelah kedatangan ketiga sahabat cowok Narra yang membawa menu makan siang agar bisa makan bersama Narra, wanita itu membatalkan kepulangannya. Dia akan makan bersama Narra dan para sahabatnya.


"suatu kehormatan untuk kami, nyonya bisa makan bersama kami" kata Faya.


"jangan panggil nyonya, panggil tante Melani saja. Sama seperti Narra memanggil tante" kata tante Melani.


"aku sangat kagum loh dengan tuan Richard Davidson, beliau sangat pintar berinvestasi" komen Erga.


"iya, aku juga banyak tau tentang sepak terjang beliau di dunia bisnis" sahut Sheva.


"kalian terlalu melebihkan, suamiku orang yang beruntung punya tekad yang kuat dan pekerja keras" sahut tante Melani.


"dan beruntung punya istri cantik yang selalu mendukungnya" sahut Narra.

__ADS_1


"kamu bisa saja Na, terima kasih loh ya" sahut tante Melani.


Tante Melani terlihat sumringah berada di tengah Narra dan para sahabatnya.


Seperti sekarang, setelah selesai makan siang mereka bermain kartu remi. Tante Melani serasa seumuran dengan mereka.


"Na, ada tamu" ujar ibu Flanella.


Tampak Richard Davidson masuk kedalam rumah bersama ibu Flanella. Tante Melani dan semua beranjak berdiri.


"kalo begitu saya kembali ke kedai dulu, permisi" pamit ibu Flanella.


"terima kasih" ucap Richard Davidson seraya menunduk.


Tante Melani mendekati suaminya.


"maaf sayang, aku masih bersama Narra" katanya.


"kita pulang sekarang ? Aku datang menjemputmu" kata Richard Davidson.


"iya, semuanya tante pulang dulu" pamit tante Melani.


"terima kasih banyak tante" Narra memeluk tante Melani.


"cepat pulih ya Na, main-main kerumah tante" katanya seraya melepas pelukannya.


Para sahabat Narra pun menyalami tante Melani dan tuan Richard Davidson. Mereka mengantar pasangan suami istri itu sampai kedepan pintu pagar.


"kami permisi" ucap tuan Richard Davidson.


*


Dalam mobil, Tante Melani bersandar di pundak suaminya. Dia terus terbayang Faya. Entah kenapa dia merasa punya keterikatan dengan sahabat Narra itu. Ada sesuatu yang membuat dia merindukannya tapi tidak bisa mengatakannya pada suaminya karena tidak ingin suaminya berpikiran lain.


Mereka sudah sangat banyak melalui rintangan cinta mereka. Berawal dari ketidak setujuan orang tua Richard Davidson, kehilangan putra mereka, dan dirinya sempat kehilangan penglihatan. Karena itu Melani sangat menjaga perasaan suaminya.


"kamu senang ?" tanya Richard seraya mengusap pipi istrinya.


"iya, Narra anak baik" kata Melani.


"bukan hanya Narra, aku melihat kamu senang bersama mereka" sergah Richard Davidson. Dia sebenarnya cemburu istrinya begitu lepas tertawa bersama Narra dan sahabatnya.


Melani memperbaiki posisi duduknya.


"mereka semua anak baik" katanya lagi.


"hmmm" hanya itu yang terucap dari Richard.


"sayang, apa orang suruhanmu masih belum mendapatkan hasil tentang putra kita ?" tanya Melani.

__ADS_1


Richard Davidson menggeleng.


Dia sebenarnya heran kenapa bisa semua orang di desa M tempat terjadi peristiwa itu tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi waktu itu. Mereka seakan memilih untuk bungkam.


Richard curiga, orang suruhan orang tuanya yang berada dibalik itu semua, hanya saja dia tidak memberitahunya pada Melani.


Beruntung di waktu keterpurukan mereka itu, Melani memiliki tabungan yang di jadikan modal oleh Richard bermain saham. Dan keberuntungan berpihak pada mereka. Richard berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan dan mendirikan perusahaan sendiri sampai berkembang pesat seperti sekarang.


Sampai sekarang hubungannya dan kedua orang tuanya masih belum baik. Bahkan kedua orang tuanya itu memilih tinggal di luar negeri setelah mereka menghapus Richard dari daftar keluarga Atmaja.


"seandainya dia masih hidup, dia pasti bergaul seperti Narra dan para sahabatnya" gumam Melani.


Richard menoleh pada istrinya dan memeluk istrinya.


"kita pasti menemukannya" ucap Richard.


*


Sementara itu..


Di ruang kerja CEO perusahaan HW Farma, Andra sangat sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya. Dia harus menyelesaikan tanggung jawabnya segera karena minggu depan dia dan Narra akan menjalani pinggitan dan beberapa prosesi jelang pernikahan.


Mengingat itu, dia sebenarnya ingin menghabiskan waktu beberapa hari ini bersama Narra sebelum mereka tidak di izinkan untuk bertemu.


Alex masuk kedalam ruangan Andra. Dia membawa laporan yang sudah disusunnya untuk di serahkan pada Andra agar di verifikasi.


"bro, ini laporan yang kamu minta" katanya.


"hmmm taro disitu saja, ini masih banyak Lex" kata Andra tanpa menoleh, matanya fokus membaca berkas di depannya.


"kamu sudah makan siang ?" tanya Alex.


Andra menggeleng.


Alex menghela nafas, dia meraih ponsel lalu memesan makanan untuk mereka berdua.


"kamu harus memikirkan kesehatanmu, ingat kamu akan menikah dalam waktu dekat" nasehat Alex.


Andra bersandar pada kursi kerjanya.


"aku sekarang memikirkan Narra. Aku ingin menghabiskan hari bersamanya sebelum seminggu tersiksa tidak bertemu" katanya.


Alex menggelengkan kepalanya, "setelah itu kan kalian bisa bersama terus" katanya.


"beda bro, aku merindukannya. Aku tidak konsen dari tadi" kata Andra.


"baiklah, aku akan ke lobby untuk mengambil makanan kita" Alex pamit.


***

__ADS_1


__ADS_2