
Andra masuk kembali kedalam ruang kerjanya. Dia langsung menyapu pajangan di rak kaca dekat sofa tamu dengan kedua tangannya. Dia tidak bisa lagi mengendalikan emosinya.
Mia yang berada di luar dapat mendengar jelas apa yang terjadi karena pintu ruangan yang tidak tertutup sempurna. Dia segera menghubungi Alex untuk memberitahu dan agar asisten bossnya itu segera datang keruangan boss yang sepertinya sedang marah.
"ada apa ?" tanya Alex begitu dia sampai di meja sekretaris Andra itu.
Dia langsung bergegas begitu Mia menelfon.
"saya mendengar barang-barang pecah dari dalam ruangan pak Andra" jawab Mia.
Alex melihat pintu ruangan Andra yang sedikit terbuka. Dia tahu ruangan Andra itu kedap suara sehingga apapun yang terjadi di dalam tidak akan bisa terdengar keluar.
"Narra mana ?" tanya Alex.
"nona Narra masih bicara secara pribadi dengan pak Ardhan" jawab Mia lagi.
Alex mengerti. Andra pasti emosi karena hal itu. Dia menggelengkan kepalanya.
"baik, saya akan masuk kedalam. Kamu jangan bicara apa-apa tentang yang kamu dengar barusan. Mengerti ?" kata Alex.
"mengerti pak Alex" jawab Mia.
Alex pun masuk kedalam ruangan Andra dan menutup pintunya rapat. Dia tidak ingin apa yang terjadi pada Andra sampai terdengar keluar.
"bro, apa yang terjadi ?" tanya Alex.
"Narra tidak jujur padaku !!!" bentak Andra.
"bro, jangan seperti ini. Bicarakan dulu baik-baik dengan Narra. Kalian akan segera menikah, kalo terus seperti ini bagaimana nanti kalo kalian sudah bersama" nasehat Alex.
"seharusnya karena kami akan menikah, dia harus menceritakan semua hal padaku" balas Andra.
Alex menggelengkan kepalanya.
"kamu jangan begini, kalo Narra masuk dan melihat keadaanmu begini bagaimana ?" tanya Alex.
Andra terdiam. Dia duduk di sofa.
Alex meraih ponselnya, dia meminta Mia memanggil CS untuk membersihkan ruangan Andra sebelum Narra datang.
"kamu bicara baik-baik dengan Narra, aku yakin dia pasti punya alasan kenapa dia tidak eh bukan dia belum cerita sama kamu" kata Alex memperbaiki kalimatnya.
"Faya bilang, Narra tidak bahagia. Narra tersiksa karena aku membatasi ruang geraknya" ucap Andra.
Alex hanya diam karena Andra membatasi ruang gerak Narra, itu benar. Tapi kalau tentang Narra tidak bahagia dan tersiksa, dia tidak berani memberi pendapat.
"bro ! Apa aku begitu ?" tanya Andra seraya menoleh pada Alex.
"maaf, aku sudah pernah bilang kalo Narra hanya ingin dipercaya. Dengan kamu terlalu membatasi dia, itu bisa membuat dia merasa kamu tidak percaya sama dia. Saranku, coba kasih dia sedikit ruang untuk sendiri. Maksudnya, me timenya. Mau dia bersama dengan para sahabatnya atau dengan saudaranya, ya kamu berikan dia waktu" jelas Alex panjang.
"kalo berdua bersama orang yang suka sama dia atau seperti sekarang berdua mantannya yang masih cinta bagaimana ?" sergah Andra.
"yang penting hati Narra hanya untukmu. Terserah mereka mau suka sama Narra tapi mereka harus menerima kalo kalian akan bersama" balas Alex.
"kamu wajar cemburu tapi jangan berlebihan sampai emosi. Kamu harus bisa menahan emosimu. Aku yakin Narra selalu menjaga perasaanmu, dia tidak akan berbuat hal yang kamu tidak suka" lanjut Alex lagi.
Andra mengangguk paham. Dia beranjak.
"pekerjaanku sudah selesai, kamu lanjutkan kepada masing-masing kepala divisi" kata Andra.
"baik bro" sahut Alex.
"aku akan menjemput Narra di kantin karena aku tidak mau dia melihat kekacauan emosiku lagi. Aku tidak mau kehilangan dia" kata Andra.
Alex mengacungkan jempolnya.
Andra bergegas keluar dari ruangannya. Dia menemui Narra di kantin.
Sementara Alex mengawasi CS yang membersihkan ruang kerja Andra setelah yang punya ruangan itu keluar menemui calon istrinya.
__ADS_1
Bukannya tidak percaya dengan pekerja bersih-bersih di kantor itu tapi Andra orangnya sangat rapi dan detail. Dia tidak suka barang-barangnya berpindah sembarang atau tidak tersusun seperti semula.
Alex yang memberitahu kepada CS bagaimana mengatur yang seharusnya karena sekian lama menemani Andra, dia cukup tahu selera sahabat sepermainannya dari kecil dan juga sekaligus bossnya itu.
Alex mengatur kembali pajangan yang masih layak dan mengganti pajangan yang hancur dengan yang baru tetapi dengan model yang sama. Untung saja segala piagam, piala dan medali kesuksesan Andra tertata rapi di dalam lemari kaca yang teletak tidak jauh dari meja kerjanya. Dan foto-foto kebersamaan Andra dan Narra masih rapi di atas meja kerja.
"kamu boleh pergi" katanya pada CS itu.
Pesuruh kantor itu membungkukan badan dan menundukan kepalanya pada Alex lalu keluar dari ruangan orang nomor satu di kantor itu.
Alex melihat sekelilingnya. Setelah merasa kalau semuanya sudah sempurna, dia keluar dari ruang kerja Andra dan menutup pintunya.
Dia menghampiri Mia yang tengah bersiap pulang.
"mau pulang bersama ?" kata Alex.
Mia memandang, "maaf pak Alex, nanti merepotkan bapak" katanya.
"tidak repot, saya keruangan saya dulu. Tunggu saya" kata Alex seraya berjalan menuju ruangannya.
Mia hanya terdiam. Dia menunggu Alex untuk pulang bersama dengan sedikit heran karena baru kali ini asisten bossnya itu menawarkan. Biasanya Alex hanya menyapanya saja dan mereka pergi bersama karena urusan pekerjaan.
*
Andra melajukan mobilnya memasuki pelataran parkir basement. Narra pun ikut keluar dari mobil ketika Andra turun. Mereka menuju ke unit apartement Andra.
"aku mandi dan ganti baju dulu" kata Andra.
Narra mengangguk.
Dia lalu menuju dapur mengambil botol air mineral di dalam lemari pendingin. Kemudian dia terpikir sesuatu. Kenapa dia tidak membuat minuman favorit Andra.
Narra mulai meracik lemon tea untuk Andra dan dirinya dan meletakannnya di meja ruang tamu.
Andra yang muncul di tangga tersenyum mendapati Narra tengah berbaring di sofa. Sepertinya Narra kecapean.
"sayang" Andra mengusap pipi Narra untuk membangunkannya.
"maaf ka Nda, aku ketiduran" kata Narra.
"maafkan aku sayang, kamu pasti kecapean menemaniku. Sekarang kamu bersih-bersih dulu di kamar" kata Andra.
Narra mengangguk. Dia pamit menuju kamar Andra.
*
Andra menyuapi Narra, mereka menghabiskan sore mereka di apartement dan Andra memasak untuk Narra.
"ka Nda, hmmmm aku mau bilang sesuatu" kata Narra.
Andra meletakan piring diatas meja. Dia masih mencoba menerka apa yang akan dibicarakan oleh Narra. Dia menyelipkan rambut Narra di telinga.
"aku senang kamu berbagi cerita sama aku karena aku tidak bisa kalo harus menerka apa yang terjadi saat melihat kamu berdua dengan pria lain seperti tadi" kata Andra.
Narra menatap mata Andra, dia memegang pipi calon suaminya itu.
"jangan bilang tadi ka Nda emosi karena melihatku bicara berdua dengan Ardhan ?!" tanya Narra.
Andra mengangguk perlahan. Dia takut Narra akan tersinggung karena menganggap kalau dia tidak percaya padanya.
"maafkan aku" ucap Andra pelan.
"aku yang minta maaf, aku seharusnya bilang sendiri pada ka Nda. Tidak melalui perantara Mia. Tapi asal ka Nda tau, pembicaraanku dengan Ardhan akan aku ceritakan pada ka Nda. Aku tidak akan menutupinya, aku hanya mencari moment yang pas karena aku tidak ingin ka Nda menerimanya dengan emosi" jelas Narra.
"maafkan aku sayang" ucap Andra.
Narra lalu menceritakan semua isi pembicaraannya dengan Ardhan. Tidak ada yang dia tutupi karena dia sadar Andra harus tahu apapun tentang dia.
"jadi apa kamu ingin memberi Faya kenangan berdua denganmu ?" tanya Andra.
__ADS_1
Narra menggeleng.
"aku perlu bicara berdua dengan Faya. Semoga dia mengerti karena kami akan selamanya bersahabat. Tidak lebih" jawab Narra.
"kapan kamu akan menemuinya ?" tanya Andra karena dia tahu seminggu kedepan mereka berdua tidak akan bertemu.
"mungkin nanti setelah pernikahan kita karena aku yakin sekerasnya Faya, dia pasti datang ke pernikahan kita" kata Narra.
"baiklah sayang, maafkan aku kembali tidak bisa menahan diri" ucap Andra.
Narra kembali tersenyum. Dia memeluk Andra.
"aku mengerti" ucapnya.
Andra memeluk Narra erat.
"jangan pernah tinggalkan aku" katanya.
"aku tidak pergi kecuali ka Nda yang mengecewakanku" kata Narra.
"itu tidak akan terjadi. Aku tidak mau kehilanganmu" kata Andra.
Narra melepaskan pelukannya.
"kita pulang ka Nda" katanya.
"iya sayang, ayo" Andra beranjak berdiri dan membantu Narra berdiri.
Narra membawa piring kotor mereka ke dapur.
"sudah sayang, besok ada yang akan membersihkannya" tegur Andra.
Narra mengangguk.
Mereka pun keluar dari apartemen bersama. Sebelum pulang mereka masih menyempatkan diri singgah ke kedai es cream, mereka membungkus es cream untuk dimakan bersama di rumah Narra bersama dengan keluarga Narra.
*
Sementara itu.
Faya memasuki studio tempat rekaman label yang menaungi bandnya. Dia sudah ditunggu dari tadi untuk merekam lagu terbaru mereka.
"Fay, kamu kemana saja ?" tanya Keenan, manajer Classic band.
"maaf bang, aku lagi bad mood" jawab Faya.
Keenan menepuk pundak Faya, "tapi kalian harus take lagu ini sekarang. Ini sudah deadline dari produser Fay" katanya menjelaskan.
"baik bang, saya akan berusaha" kata Faya seraya beranjak masuk kedalam ruangan dimana teman-teman bandnya sedang bersiap-siap.
Keenan hanya menggelengkan kepalanya. Sebagai manajer, dia sangat tahu sifat anak-anak asuhnya. Dia tahu banyak hal yang Faya coba hadapi sendiri, dia hanya bisa menunggu Faya untuk bercerita sendiri masalah yang dia hadapi.
"bang, kita mulai sekarang ?" tanya kru studio menemui Keenan.
"iya, vocalistnya sudah datang. Tolong persiapkan semuanya" kata Keenan pada kru itu.
"oke bang" sahut kru itu kembali masuk kedalam.
Keenan pun menyusul masuk kedalam. Dia selalu mendampingi anak-anak asuhnya dalam setiap penampilan. Hubungan mereka bukan hanya sekedar manajer dan bandnya tapi sudah seperti keluarga.
"kalian siap ?" tanya Keenan.
"siap bang !" seru personil Classic band.
"Fay, kamu sudah siap ?" ulang Keenan pada Faya.
"siap bang" kata Faya seraya mengacungkan kedua jempolnya. Dia segera meraih gitar kesayangannya.
Dia menghela nafas panjang sebelum kru memberi tanda bahwa musiknya akan mengalun. Faya kembali mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Faya bernyanyi dengan penuh penghayatan. Bagaimana tidak, lirik lagu ini ditulisnya sendiri dan menjadikan Narra sebagai inspirasinya. Lirik lagu ini tentang kisah cinta yang tidak berbalas. Kisah sahabat yang menyimpan cinta kepada sahabatnya sendiri. Ya, Faya menjadikan kisah cintanya kedalam sebuah lagu yang romantis tapi menyayat hati.
***