FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 16.1


__ADS_3

Rayyan dan Narra pulang disaat orang tuanya sedang beres-beres tutup kedai.


"kalian pulang bersama ? motor Narra mana ?" tanya ayah Sasmita.


Ibu Flanella memandang kedua anaknya.


"motor Narra ada di bengkel Rayyan, masih di servis" jawab Rayyan.


"bukannya baru dua minggu lalu ayah bawa ke bengkel kamu untuk di servis bulanan ?!" ayah Sasmita mengingat.


Narra memandang kakaknya. Dia tidak tahu harus menjawab apa pada ayahnya. Tangannya terus memegang lengan kakaknya.


"sebaiknya kalian masuk kedalam, bersih-bersih dulu baru kita bicara" sahut ibu Flanella seakan mengerti arti tatapan Narra pada Rayyan.


Ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Pikir ibu Flanella.


Rayyan dan Narra mengangguk lalu masuk kedalam rumah.


"sepertinya ada yang mereka sembunyikan dari kita" ujar ayah Sasmita menyadari sesuatu.


"iya, aku merasa begitu tapi biarkan mereka bersih-bersih dulu baru kita bicara lagi pada mereka" sahut ibu Flanella.


Mereka pun melanjutkan beres-beresnya di bantu dua pegawai wanita dan satu pegawai pria yang bertugas sebagai kurir.


Ayah Sasmita dan ibu Flanella baru seminggu ini mempekerjakannya karena banyaknya pesanan yang datang dan meminta pengantaran sehingga mereka memutuskan untuk menambah karyawan lagi.


*


Narra masuk kedalam kamarnya.


Kejadian tadi buat dia sedikit kaget. Apalagi sepertinya Ardhan dan Andra saling kenal.


Narra mencoba menepis pikiran yang mengganggunya, dia meraih kimono mandinya dan segera mandi.


Setelah selesai berpakaian dan memoles wajah dengan sentuhan minimalis, Narra keluar kamar menemui ibunya untuk membantu menyiapkan makan malam.


"Na, apa betul yang kakakmu bilang kalo motormu di servis ?" tanya ibu.


Narra yang sedang mencuci piring menoleh kearah ibunya.


"iya bu, karena itu aku pulang dengan kak Rayyan" jawab Narra lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


"tapi ayah bilang motormu baru saja diservis, apa motormu rusak ?" tanya ibu lagi.


Narra mengangguk, "iya bu" ucapnya.


"kenapa ?" tanya ibu menatap putrinya.


"Narra mengalami kecelakaan tunggal bu" Rayyan datang ke dapur bersama ayah Sasmita.


"kamu tidak kenapa-napa Na ?" ibu Flanella menghampiri Narra khawatir.


"aku tidak apa bu, hanya motorku saja yang rusak" jawab Narra.


"syukurlah tapi kenapa ibu merasa masih ada yang kalian sembunyikan" sergah ibu Flanella.


Ayah Sasmita yang sudah tahu ceritanya dari Rayyan menghampiri istrinya, "nanti ayah ceritakan, sekarang kalian fokus saja masaknya. Ayah dan Rayyan sudah lapar" katanya.


"iya iya, kalian nonton tivi saja dulu" sahut ibu mengusir suami dan putranya dari dapur.


"aku minta teh hangat bu" Rayyan memelas.


"iya nanti adikmu buatkan" sahut ibu Flanella.


"ayah juga" seru ayah dari depan tivi.


"iya ayah" sahut ibu Flanella.


Ibu Flanella memberi kode pada Narra.


Narra tersenyum seraya mengangguk. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia segera membuat minuman untuk ayah dan kakaknya.


"kamu baik-baik saja Na ?" tanya ayah Sasmita saat Narra mengantar minuman.

__ADS_1


"iya yah, Narra tidak apa-apa" jawab Narra.


"semua akan baik-baik saja" ucap ayah.


Narra mengangguk, "Narra bantu ibu dulu yah" pamitnya.


Ayah Sasmita mengangguk. Narra pun kembali ke dapur.


*


Di rumah sakit,


Andra baru saja memasuki ruangannya setelah berkeliling memeriksa pasien.


Suara ketukan.


Dia menyuruh si pengetuk untuk masuk.


"hai kak Andraaaaa" Arini muncul diambang pintu dengan senyum terbaiknya.


Andra memandangnya tidak suka. Dia tahu maksud putri sahabat ayahnya itu datang menemuinya.


"kenapa kamu kesini, keluar !" bentak Andra.


"kenapa kamu seperti itu kak, aku sengaja datang karena aku merindukanmu. Sepulang dari negara J kamu tidak pernah menemuiku" gadis itu memelas.


"aku tidak pernah mau dan tidak sudi" kata Andra.


Sebenarnya, Andra bisa saja bersikap sopan karena mengingat Arini sangat dekat dengan keluarganya tapi kelakuan Arini yang selalu menempel padanya membuat Andra gerah. Dia harus tegas karena dia tidak ingin Narra salah paham dan meninggalkannya.


Dia saja sangat tidak suka kalau ada yang mencoba mendekati Narra. Walaupun Narra masih bersikap biasa saja tapi ungkapan cinta Narra tempo hari sudah cukup untuk membuat Andra yakin kalau Narra juga memiliki rasa yang sama dengannya.


Arini mendekati Andra, dengan segera Andra berdiri.


"kita akan bersama, papaku sudah meminta om hadinata untuk menjodohkan kita" terang Arini seraya meraba dada Andra.


Andra menangkap tangan Arini.


"kamu pikir aku mau ? dan asal kamu tau.. ayahku tidak akan menerimanya karena aku sudah memperkenalkan calonku. Ayah dan bunda menyukai calonku" Andra menghempaskan tangan Arini.


"bukan urusanmu, sekarang keluar dari ruanganku" Andra menarik tangan Arini keluar.


"kalian dengar ! jangan pernah membiarkan dia masuk menemui aku, jangan pernah ! atau aku memecat kalian !" perintah Andra dengan nada tegas tapi tidak berteriak pada suster jaga didepan ruangannya lalu dia menghempaskan tangan Arini.


"baik dokter" kata mereka patuh.


"kak Andra, kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini. Aku calon istrimu" Arini tidak terima.


"calon istriku bukan kamu ! ingat itu" tegas Andra lalu masuk kedalam ruangannya dan mengunci pintunya dari dalam.


"kak Andra buka pintunya !" teriak Arini mengetuk pintu ruangan Andra.


"maaf nona, jangan membuat keributan. Suara anda bisa mengganggu pasien yang sedang beristirahat" tegur salah satu suster jaga.


"tutup mulutmu ! kamu tidak tahu aku siapa ?!!" bentak Arini.


Suster Marina yang baru saja datang dari kamar pasien menghampiri rekan jaganya.


"ada apa ?" tanyanya.


"nona ini di usir dokter Andra dari ruangannya, kami tidak di izinkan membiarkan dia masuk. Bahkan dokter Andra bilang jangan pernah membiarkan dia masuk atau kami akan dipecat" jelas rekannya.


"aku calon istrinya ! jaga bicaramu" bentak Arini pada suster itu.


Suster Marina kaget. Setahunya dokter Andra pacar Narra.


"maaf suster, dokter Andra bilang bukan" bisik rekan jaganya yang lain.


Suster Marina mengangguk paham. Dia juga lega, berarti dokter Andra tidak menghianati Narra. Dia kemudian meraih phone, dia menekan angka dan terhubung.


"security, tolong datang ke depan ruangan dokter Andra. Ada yang membuat dokter Andra marah" katanya.


"beraninya kalian" umpat Arini tidak terima.

__ADS_1


Tidak lama, dua orang security datang dan langsung menahan tangan Arini.


"maaf nona, silahkan ikut kami" ujar salah satu dari mereka.


"kamu mau di pecat ? aku calon istri dokter Andra" bentak Arini.


Security itu mulai ragu dan ingin melepaskan cekalan tangan Arini.


Mereka memandang kearah suster Marina, seakan bertanya kenapa mereka tidak diberitahu hal itu tadi lewat phone.


"bawa saja pak, jangan dengarkan kata-katanya. Dokter Andra sendiri yang mengusirnya" sahut suster Marina menepis keraguan kedua security itu.


Security itu mengangguk, mereka membawa Arini yang meronta tidak terima.


*


Di lobby utama rumah sakit, kedua security yang membawa Arini bertemu dengan dokter Hadinata Wijaya yang baru keluar dari lift khusus hendak pulang.


"ada apa ini ?" tanya dokter Hadinata Wijaya kaget melihat Arini bersama security.


Kedua security itu melepaskan tangan Arini dan membungkuk hormat.


"om Hadinata, tolong aku. Pecat saja mereka, mereka semua berlaku tidak sopan padaku" Arini mengadu.


"jelaskan padaku" dokter Hadinata Wijaya memandang kedua security itu.


Mereka menjelaskan semua yang mereka tahu pada direktur rumah sakit yang tidak lain adalah pemilik rumah sakit ini.


Dokter Hadinata Wijaya mangut. Dia mengerti. Dia melihat pada Arini yang tetap bersikap angkuh.


"kamu sebaiknya pulang, jangan pernah kembali kesini untuk bertemu Andra" setelah berkata begitu, dokter Hadinata Wijaya berlalu menuju pintu keluar.


Kedua security itu kembali membungkuk hormat saat dokter Hadinata Wijaya melewati mereka lalu pergi meninggalkan Arini disana sendiri.


Arini memandang tidak percaya. Dokter Hadinata Wijaya tidak mendukungnya. Tadinya dia berpikir, om Hadinata Wijaya akan murka dan memarahi mereka semua. Tapi ternyata dokter Hadinata Wijaya malah memintanya pergi.


Jangan-jangan apa yang dikatakan kak Andra benar, kalau orang tuanya menyukai calonnya. Pikir Arini.


"aku harus mencari tau siapa wanita tidak tau malu itu" Arini marah.


Dia menghentakkan kakinya lalu beranjak pergi dari situ, yang ada dalam kepalanya sekarang adalah melaporkan kejadian tadi pada papanya.


Arini tersenyum licik, "aku tidak akan melepaskan kak Andra" gumamnya.


*


Ardhan memandang keluar jendela kamarnya.


Kenapa Narra harus memiliki hubungan dengan Andra, saingannya sejak dulu. Walaupun orang tua mereka dekat tetapi Ardhan selalu di banding-bandingkan dengan Andra karena Andra selalu unggul segalanya dari dia.


"akhirnya dia bisa melupakan Jeniffer" gumam Ardhan.


Tapi tunggu, Jeniffer ?! terpikir sesuatu pemikiran yang dia harap sangat menguntungkan untuk dirinya.


Ardhan menarik laci nakas, dia mengambil buku agenda yang tersimpan disana. Dia mulai membuka lembaran pada agenda sampai menemukan apa yang dia cari.


Foto selfie polaroid bersama seorang wanita yang tidak sengaja bertemu di negara P tempat pelariannya.


Ardhan membalikkan foto itu, terdapat nomor telfon dan alamat.


"aku akan membuat dia kembali" Ardhan menimang foto yang di pegangnya.


Dia meraih ponselnya.


Walpaper ponselnya menampilkan potret kebersamaannya dengan Narra. Tampak raut bahagia keduanya saat itu, sampai akhirnya orang tuanya tahu hubungan mereka dan menentangnya. Bahkan mereka melakukan cara kasar untuk membuat Ardhan melepaskan Narra.


"aku selalu mencintaimu Na" ucap Ardhan lirih seraya mengusap wajah Narra pada layar ponselnya.


Kemudian dia menelfon seseorang, "aku ingin kamu menemui seorang wanita. Bilang padanya untuk segera kembali kesini, bilang aku yang meminta" Ardhan lalu menutup panggilannya.


Setelah itu dia mengirimkan foto beserta alamat kepada orang yang ditelfonnya tadi.


"aku tidak akan membiarkan Narra bersamamu An, dia milikku" Tangan Ardhan mengepal.

__ADS_1


Persaingannya dengan Andra semenjak dahulu sekarang akan semakin menarik karena Narra berada didalamnya. Dia tidak mau kehilangan Narra lagi, dia ingin kembali bersama Narra, merajut kisah mereka seperti dulu lagi.


***


__ADS_2