FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 46.1


__ADS_3

Rayyan dan Narra duduk di sofa ruang keluarga. Ayah, ibu serta Rania dan Adryan duduk memandangi mereka berdua.


Mereka seperti tersangka yang menjalani introgasi.


Rania bersama suami dan putranya sudah tiba di rumah ini sejak sore tadi karena mereka akan menginap untuk membantu mengurus persiapan acara lamaran Narra besok. Tapi begitu sampai, mereka mendapati ayah dan ibunya shock setelah melihat video yang tersebar dari salah satu pegawai kedai.


"sekarang jelaskan pada kami semua, apa yang terjadi ?" tanya ayah Sasmita.


Narra tertunduk. Semua yang terjadi karena dia menuruti perjanjian dengan Ardhan.


"sebaiknya kita biarkan Narra istirahat. Biarkan aku yang cerita semuanya" sergah Rayyan.


"iya yah, besok hari penting untuk Narra" sahut Rania.


"apa kalian pikir dengan semua yang terjadi, besok itu akan berjalan sesuai dengan rencana ?" balas ayah Sasmita pada kedua anaknya.


Rayyan dan Rania terdiam.


Ayah mereka benar, video rekaman itu sudah tersebar luas. Bagaimana perasaan Andra dan keluarganya, mereka pasti kecewa karena Narra bersama Ardhan. Walaupun kedua kakak beradik itu tahu pasti ada sesuatu di balik itu semua. Kenapa adik bungsu mereka bisa berbuat seperti itu.


"Na, besok acara lamaranmu. Andra akan mengikat cincin pertunangan padamu. Kenapa kamu melakukan ini, jelaskan pada kami" ucap ibu Flanella.


"maafkan Narra ibu, ayah, kakak.. Narra melakukan itu agar Ardhan tidak mengganggu hubungan Narra dan ka Nda. Dan juga demi perusahaan tempat Narra kerja" ucap Narra akhirnya.


"tapi seharusnya kamu berpikir dulu sebelum melakukan ini. Kamu tau, itu menyakiti banyak orang. Hati Andra, keluarganya, dan kami" sahut Rania.


Narra tertunduk.


"kita sudah tau karena apa ini terjadi, sekarang lebih baik kalian berdua makan trus istirahat. Semoga besok berjalan sesuai rencana" ayah Sasmita beranjak berdiri dan melangkah menuju kamarnya.


Narra memandang ayahnya. Terlihat jelasnya bagaimana ayahnya kecewa terhadap sikapnya.


Ibu Flanella segera menyusul suaminya dan diikuti Rania dan Adryan.


Setelah mereka semua masuk kamar, Rayyan mengajak adiknya menuju ruang makan.


*


Sebelumnya ...


Rayyan menghampiri Narra dan Ardhan yang hendak masuk kedalam restorant. Mereka sepertinya hendak makan malam berdua.


"Narra !" panggil Rayyan, dia menarik lengan adiknya.


Dia geram melihat pegangan tangan Ardhan pada Narra. Dan karena tarikannya, pegangan itu akhirnya terlepas.


"aku sudah bilang, jangan pernah ganggu adikku lagi !!" bentak Rayyan tepat di depan muka Ardhan.


Kejadian itu membuat semua orang memandangi mereka.


"aku mencintainya" balas Ardhan.


"apa dia mencintaimu ? sudah tidak Ardhan !" balas Rayyan.


"semua sudah selesai Ardhan" ucap Narra seraya melirik jam tangannya.


"sesuai perjanjian kita, jangan pernah ganggu hidupku lagi. Aku mohon" lanjut Narra.


"tapi sayang.." belum sempat Ardhan melanjutkan kalimatnya, terdengar suara Rayyan.


"jangan panggil adikku sayang !!!" bentak Rayyan.


"kita pergi kak. Aku muak dengan semuanya, aku merasa bersalah pada ka Nda" isak Narra.


"iya Na, kita pulang" ajak Rayyan.


Mereka meninggalkan Ardhan yang menatap marah dan kecewa.


*


Narra hanya memandang piringnya yang masih penuh.


"Na, makan" tegur Rayyan.


"aku kepikiran ka Nda kak" ucap Narra.

__ADS_1


Rayyan menghela nafas. Dia sudah tahu awalnya di balik perubahan Narra, kenapa dia bersama Ardhan. Narra sudah menjelaskannya tadi di taman kompleks sebelum mereka pulang kerumah.


"aku sudah beberapa kali bilang, jangan bertindak sendiri. Apa-apa bilang aku dulu. Sekarang, semua sudah terjadi" Rayyan menggeleng kuat.


"tapi aku melakukannya.." Narra mencoba membela diri tapi Rayyan menghentikan kalimatnya.


"iya kakak mengerti, seandainya kamu beritahu dulu pada kakak sebelum ambil keputusan.. kakak bisa mencegahnya. Mengenai perusahaan, itu bukan hanya tanggungjawabmu. Yang seharusnya kamu pikirkan itu perasaan Andra, calon suamimu lebih dari orang lain" jelas Rayyan.


"maafkan Narra kak" isak Narra.


"besok pagi kakak antar kamu temui Andra. Jelaskan padanya, bawa bukti surat perjanjian itu. Setelah semua penjelasanmu, kita hanya akan menunggu keputusan Andra tentang hubungan kalian" kata Rayyan lagi.


Narra mengangguk.


"makanlah setelah itu istirahat, kita akan selesaikan masalah ini besok" Rayyan mengusap kepala adiknya.


"apa ka Nda bisa memaafkanku ?" ucap Narra lirih.


"Andra sangat mencintaimu, itu yang kakak tau" kata Rayyan.


"berarti kakak tidak yakin ka Nda akan memberiku maaf" Narra menatap sendu.


Rayyan terdiam. Dia tidak bisa memberi jawaban pada adiknya karena sebagai pria, dia pastinya akan sangat kecewa jika berada di posisi Andra.


"tidak usah di jawab kak, Narra sudah tau jawabannya" Narra melanjutkan makannya.


*


Narra masuk kedalam kamarnya. Dia duduk bersandar di tempat tidur.


Dia meraih ponselnya di dalam tas dan mengaktifkannya. Dia sengaja tidak mengaktifkan ponselnya ketika tadi bersama Ardhan karena dia tidak bisa berbohong kalau tiba-tiba Andra menelfon.


Kekasihnya itu akan langsung menyusulnya dan dia tidak bisa memenuhi perjanjian yang sudah dibuatnya.


Terdapat banyak panggilan dan beberapa pesan dari Andra, Friends dan keluarganya.


Narra membuka pesan dari Andra.


[sayang, kamu dimana ? aku bawa es cream coklat mocca favoritmu. Tadinya aku mau makan berdua saling suap, ternyata kamu tidak ada 😞 aku menitipkan es cream untukmu pada ibu]


[kamu ada kerjaan di kantor Ardhan ? pegawai Rayyan melihatmu masuk kesana. Kamu sudah cuti, jadi tidak perlu mengambil alih kerjaan dulu]


[aku kesana sekarang, jemput kamu]


Kalimat terakhir itu terasa mengiris hati Narra. Dia tidak pulang bersama kekasihnya itu tetapi dia malah memilih bertahan disana dengan Ardhan.


"maafkan aku ka Nda.. maaf" isak Narra.


*


Friends datang kerumah Narra setelah Narra selesai sarapan. Mereka terlihat sangat khawatir setelah melihat bagaimana posisi Narra dalam video itu.


Mereka semua berkumpul di kamar Narra.


"jadi apa rencanamu selanjutnya ?" tanya Sheva.


"kak Rayyan akan mengantarku menemui ka Nda" kata Narra.


"Indra bilang dia dan kak Alex terpaksa menginap di depan pintu apartement karena khawatir dengan kondisi kak Andra" jelas Rea.


Narra juga sangat khawatir, dia sangat takut terjadi sesuatu dengan Andra.


Rayyan masuk kedalam kamar.


"sudah siap ? kita pergi sekarang" kata Rayyan.


Narra mengangguk. Dia meraih tasnya lalu memasukan ponselnya kedalam tas.


"kami akan disini sampai kamu pulang" ucap Imel seraya memegang tangan Narra.


Faya mengusap kepala Narra.


"terima kasih semuanya" ucap Narra pada para sahabatnya.


Dia pun pamit pergi dengan Rayyan.

__ADS_1


*


Dengan informasi dari Alex, Rayyan tahu kemana harus membawa Narra menemui Andra.


Mereka tiba di depan unit apartemen Andra. Masih ada Indra dan Alex disana menunggu Andra membuka pintu.


"pulang dari mall dia langsung masuk apartement dan tidak keluar bahkan membuka pintu. Dia melewatkan makan siang, makan malam bahkan sekarang sarapannya" jelas Indra sedih.


Narra mulai khawatir.


"kalian sudah menghubungi pengelola apartement ?" tanya Rayyan.


"sudah tapi mereka tetap tidak bisa memberi kartu masuknya tanpa izin dari pemilik unit" sahut Alex.


"tapi ini darurat" Rayyan mulai khawatir.


"kata mereka, kita harus membuat laporan polisi terlebih dulu baru mereka bisa bertindak agar aman dari segi hukum" jelas Alex lagi.


"aku punya kuncinya" ucap Narra memecah percakapan mereka.


Ketiganya membelalakan mata.


"ka Nda yang memberikannya padaku" kata Narra.


"cepat buka Na" sergah Indra.


Narra segera mendekati panel kunci, dia mengeluarkan kartu dengan nama dan logo apartement. Dia menggesekan kartu itu lalu menekan angka sandi pada panel kunci.


Tak lama pintu terbuka. Indra langsung menerobos masuk lalu diikuti Alex dibelakangnya.


Keadaan apartement berantakan, sangat berantakan. Semua hancur berserakan. Andra sepertinya melampiaskan seluruh emosinya pada benda-benda di sekitarnya.


Indra dan Alex hanya bisa menghela nafas, ini lebih parah dari kejadian lalu. Terlihat jelas Narra membuatnya sangat terluka melebihi Jeniffer.


Mereka menemukan Andra dalam keadaan tidak sadarkan diri di tangga. Indra segera memeriksa pergelangan tangan kakaknya.


"dia melemah" kata Indra.


Dengan gerak cepat, Indra dan Alex mengangkat Andra dan membawanya keluar apartement.


Rayyan mengajak Narra menyusul tapi terlebih dulu Narra menutup pintu dengan sempurna agar terkunci otomatis.


Mereka membawa Andra menuju rumah sakit A Medika.


Narra duduk di belakang dengan posisi pahanya sebagai sandaran kepala Andra. Alex menyetir dengan kecepatan tinggi dan menghidupkan lampu hazard sebagai tanda keadaan darurat. Indra yang duduk disebelah Alex sesekali menoleh kebelakang, memandang khawatir pada kakaknya.


Sementara Rayyan melaju di belakang mereka dengan motornya.


"ka Nda, bangun kak" ucap Narra, air mata menetes di pipinya.


Andra bergerak lemah.


"kakak... kuat kak, kita sekarang menuju rumah sakit" kata Indra, dia senang kakaknya mulai bergerak.


Andra membuka matanya, dia melihat samar pada Narra yang memandangnya dalam keadaan menangis.


Tangan Andra terulur membelai lembut pipi Narra. Dia mengusap air mata Narra dengan jarinya.


"maafkan aku ka Nda, aku akan menjelaskan semuanya" ucap Narra.


"aku tidak bisa membencimu sayang, tidak bisa" ucap Andra dengan suara terbata.


Perlahan matanya mulai terpejam, "aku mencintaimu" tangannya perlahan melorot turun dari pipi Narra.


"kakak !!" teriak Indra.


"ka Nda.. ka Nda..." Narra terus memanggil sambil memegang kedua pipi Andra.


Tidak ada respon. Andra terus terdiam dengan mata terpejam.


Alex panik dan menambah laju kendaraan, mereka harus tiba di rumah sakit secepatnya.


"bertahan bro... bertahanlah" ucap Alex dari balik kemudi.


***

__ADS_1


__ADS_2